Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

TUNAWISMA PADA LANSIA

DISUSUN OLEH : MASRUROH ( 07.40.030 )

PEMBIMBING : ERFANDY

tunawisma pada lansia.doc

  1. Pengertian Tunawisma pada lansia

Tunawisma pada lansia adalah orang atau lansia yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagai pembatas wilayah dan milik pribadi, tunawisma sering menggunakan lembaran kardus, lembaran seng atau aluminium, lembaran plastik, selimut, kereta dorong pasar swalayan, atau tenda sesuai dengan keadaan geografis dan negara tempat tunawisma berada.Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seringkali hidup dari belas kasihan orang lain atau bekerja sebagai pemulung.

Gelandangan adalah istilah dengan konotasi negatif yang ditujukan kepada orang-orang dan lansia yang mengalami keadaan tunawisma.

Adapun secara spesifik ciri-ciri tunawisma pada lansia yaitu sebagai berikut:
• Para tunawisma  lansia tidak mempunyai pekerjaan
• Kondisi pisik para Tunawisma lansia tidak sehat.
• Para Tunawisma lansia biasanya mencari-cari barang atau makanan disembarang tempat demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
• Para Tunawisma  lansia hidup bebas tidak bergantung kepada orang lain ataupun keluarganya.

Tunawisma pada lansia di bagi menjadi tiga, yaitu:
• Tunawisma biasa, yaitu mereka mempunyai pekerjaan namun tidak mempunyai tempat tinggal tetap.
• Tunakarya, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai tempat tinggal tetap.
• Tunakarya cacat, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai tempat tinggal, juga mempunyai kekurangan jasmani dan rohani:

  1. Faktor-faktor yang mengakibatkan munculnya Tunawisma pada lansia

Ada berbagai alasan yang menjadikan seseorang atau lansia memilih untuk menjalani hidupnya sebagai seorang Tunawisma. Mulai dari permasalahan psikologis, kerenggangan hubungan dengan orang tua, atau keinginan untuk hidup bebas. Namun alasan yang terbanyak dan paling umum adalah kegagalan para perantau dalam mencari pekerjaan.

Cerita-cerita di kampung halaman tentang kesuksesan perantau kerap menjadi buaian bagi putra daerah untuk turut meramaikan persaingan di kota besar.

Beberapa di antaranya memang berhasil, namun kebanyakan dari para perantau kurang menyadari bahwa keterampilan yang mumpuni adalah modal utama dalam perantauan. Sehingga mereka yang gagal dalam merengkuh impiannya, melanjutkan hidupnya sebagai tunawisma karena malu bila pulang ke kampung halaman.

Masalah kependudukan di Indonesia pada umumnya telah lama membawa masalah lanjutan, yaitu penyediaan lapangan pekerjaan. Dan bila kita meninjau keadaan dewasa ini, pemerataan lapangan pekerjaan di Indonesia masih kurang. Sehingga kota besar pada umumnya mempunyai lapangan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih besar daripada kota-kota kecil.

Hal inilah yang menjadi penyebab keengganan tunawisma untuk kembali ke daerahnya selain karena perasaan malu karena berpikir bahwa daerahnya memiliki lapangan pekerjaan yang lebih sempit daripada tempat dimana mereka tinggal sekarang. Mereka memutuskan untuk tetap meminta-minta, mengamen, memulung, dan berjualan seadanya hingga pekerjaan yang lebih baik menjemput mereka.

Selain itu, masalah yang sampai saat ini belum teratasi yaitu kemiskinan yang sangat mempengaruhi munculnya tunawisma pada lansia. Permasalahan yang sangat dirasakan oleh kaum miskin yaitu permasalahan sosial ekonomi mereka, yakni karena mereka tidak mempunyai ekonomi yang cukup mereka tidak bisa membeli rumah sehingga mereka memutuskan untuk menjadi tunawisma (gelandangan)

  1. Dampak dari Tunawisma pada lansia

Salah satu penyebab mengapa tunawisma pada lansia di Permasalahkan yaitu karena kebanyakan Para tunawisma tinggal di permukiman kumuh dan liar, menempati zona-zona publik yang sebetulnya melanggar hukum, biasanya dengan mengontrak petak-petak di daerah kumuh di pusat kota atau mendiami stren-stren kali sebagai pemukim liar.

Selain itu adanya para tunawisma pun, pemandangan indah suatu kota menjadi terganggu dan tidak tertib. Hal tersebut berhubungan dengan pekerjaan para tunawisma seperti, menjadi pengemis, pemulung sampah, pengamen, dan lian-lain sehingga sangat mengganggu kesejahteraan suatu kota tersebut.

  1. Penanganan yang dilakukan terhadap Tunawisma pada lansia

Permasalahan tunawisma pada lansia sampai saat ini merupakan masalah yang tidak habis-habis, karena berkaitan satu sama lain dengan aspe-aspek kehidupan. Namun pemerintah juga tidak habis-habisnya berupaya untuk menanggulanginya. Dengan berupaya menemukan motivasi melalui persuasi dan edukasi terhadap tunawisma supaya mereka mengenal potensi yang ada pada dirinya, sehingga tumbuh keinginan dan berusaha untuk hidup lebih baik.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) selama ini cenderung kurang menyentuh stakeholdernya, atau pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan dalam peraturan. Salah satu contoh penanganan Mengenai tunawisma pada lansia yang dilakukan oleh pemda DKI Jakarta pada tahun 2007 yaitu telah membuat Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum.

Perda yang merupakan revisi dari Perda No. 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum ini antara lain berisi larangan penduduk untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, pengelap mobil, maupun menjadi orang yang menyuruh orang lain melakukan aktivitas itu.

Perda ini secara langsung memberikan dampak besar bagi kaum tunawisma mengingat para Tunawisma belum dikenai mekanisme mengenai pelangsungan hidup mereka. Mekanisme yang mungkin agak baik adalah dibangunnya Panti Sosial penampung para tunawisma (gelandangan). Namun sekali lagi, efektifitasnya dirasa kurang karena Panti Sosial ini sebenarnya belum menyentuh permasalahan yang sebenarnya dari para tunawisma lansia, yaitu keengganan untuk kembali ke kampung halaman. Sehingga yang terjadi di dalam praktek pembinaan sosial ini adalah para tunawisma yang keluar masuk panti sosial

Penanganan terhadap kaum Tunawisma pun di atur dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 34 Ayat (1) yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” sebenarnya menjamin nasib kaum ini. Namun Undang-Undang belum dapat terlaksanakan di seluruh lapisan masyarakat, dikarenaka bahwa kebijakan pemerintah selama ini hanyalah kebijakan yang menyentuh dunia perkotaan secara makroskopis dan bukan mikroskopis. Pemerintah daerah cenderung menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak memberikan mekanisme lanjutan kepada para stakeholder sehingga terkesan demi menjadikan sesuatu lebih baik, mereka mengorbankan hak-hak individu orang lain

Adapun dalam sebuah penelitian cara penanggulangan terhadap tunawisma pada lansia  diterapkan dalam beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Karena tunawisma biasanya tidak mempunyai tempat tinggal, maka suatu hal yang esensial bila mereka ditanggulangi dengan memotivasi mereka untuk bersama-sama dikumpulkan dalam duatu tempat, seperti asrama atau panti sosial. Tujuan dalam tahap ini yaitu untuk berusaha memasuki atau mengenal aktivitas atau kehidupan para Tunawisma.
b. Tahap Penyesuaian diri
Setelah para tunawisma dikumpulkan , kemudian mereka harus belajar menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru, dimana berlaku aturan-aturan khusus.
c. Tahapan pendidikan yang berkelenjutan
Setelah beberap para tunawisma dalam lingkungan tersebut diadakan evaluasi mengenai potensi mereka untuk belajar dengan maksud supaya mendapatkan pendidikan yang lebih layak.

Selain itu, dibawah ini terdapat solusi dalam menangani Tunawisma yaitu:
– Tugas pemerintah untuk menangani masalah perkotaan pada umumnya dan tunawisma pada khususnya adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak di kota-kota kecil.
– Rencana pembangunan pemerintah seharusnya mengedepankan pembangunan secara merata sehingga tidak timbul “gunung dan lembah” di negara, pembangunan hendaknya dilakukan dengan pola “dari desa ke kota” dan bukan sebaliknya. Sehingga, masing-masing putra daerah akan membangun daerahnya sendiri dan mensejahterakan hidupnya.
– Melakukan Pembinaan kepada para Tunawisma dapat dilakukan melalui panti dan non panti, tetapi pembina harus mengetahui asal usul daerahnya serta identifikasi penyebab yang mengakibatkan mereka menjadi penyandang masalah sosial itu.
– Kalau para Tunawisma disebabkan faktor ekonomi atau pendapatan yang kurang memadai, mereka bisa diberi bekal berupa pelatihan sesuai potensi yang ada padanya, di samping bantuan modal usaha.
– Mengembalikan para tunawisma ke kampung mereka masing-masing.
– Pemerintah atau masyarakat mengadakan Program Pendidikan non formal bagi para tunawisma, sehingga dengan cara ini Para Tunawisma mendapatkan pengetahuan.

Dengan mekanisme yang lebih menyentuh permasalahan dasar para Tunawisma tersebut diharapkan masalah tunawisma di kota besar dapat teratasi tanpa menciderai hak-hak individu mereka dan malah dapat membawa para gelandangan kepada kehidupan yang lebih baik.

Namun, mekanisme di atas merupakan tindakan jangka panjang dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat terealisasi, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar generasi kepemerintahan agar hal tersebut dapat terwujud dan pada akhirnya kesejahteraan bangsa dapat lebih mudah dicapai

  1. Kendala dalam penanganan Tunawisma Pada Lansia.

Kendala-kendala yang menyulitkan upaya penanganan gelandangan adalah:
1. Alokasi dana untuk penanganan Tunawisma relatif kecil.
2. Upaya penanganan terhadap Tunawisma seringkali hanya berhenti pada pendekatan punitif-represif.
3. Upaya penanganan sering tidak didukung oleh kebijakan Pemerintah Daerah.
4. Kurangnya partisipasi dan perhatian dari pemerintah.
5. belum teratasinya kemiskinan

DAFTAR PUSTAKA

http://www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2008-apriyantit-9457&PHPSESSID=c93183f95319426ec15e64c509cc07ca. 25 mei 2009.

http://www.hupelita.com/baca.php?id=13773. 28 Mei 2009.

http://m.infoanda.com/readnewsasia.php. 26 September 2009.

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

DEMENSIA PADA LANSIA

TUGAS KEPERAWATAN GERONTOLOGI

DEMENSIA PADA LANSIA”

Di Bimbing Oleh: Ervandy, S. Kep.Ns

Disusun Oleh:

Nama :miswaroh

Tingkat :IIIA

NIM:0704032

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

KABUPATEN MALANG

Tahun Akademik 2009-2010

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Demensia

Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.

Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara abnormal.Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit otak degeneratif yang progresif. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi terjejas bila mengalami demensia. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai latarbelakang pendidikan mahupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat sebarang rawatan untuk demensia, namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi.

Epidemiologi

Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 – 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 –1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau sekitar 3 – 4 juta orang.

Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.

Klasifikasi

  • Menurut Umur:
  1. Demensia senilis (>65th)
  2. Demensia prasenilis (<65th)
  • Menurut perjalanan penyakit:
  1. Reversibel
  2. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
  • Menurut kerusakan struktur otak
    Tipe Alzheimer
  1. Tipe non-Alzheimer
  2. Demensia vaskular
  3. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)
  4. Demensia Lobus frontal-temporal
  5. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)
  6. Morbus Parkinson
  7. Morbus Huntington
  8. Morbus Pick
  9. Morbus Jakob-Creutzfeldt
  10. Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker
  11. Prion disease
  12. Palsi Supranuklear progresif
  13. Multiple sklerosis
  14. Neurosifilis
  15. Tipe campuran
  • Menurut sifat klinis:
  1. Demensia proprius
  2. Pseudo-demensia

Etiologi Demensia

Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain.

Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.

Gejala Klinis

Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe Alzheimer dan Vaskuler.

  1. Demensia Alzheimer

Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat, dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. Kematian sel-sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. Hal ini disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti, Wahan (curiga, sampai menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran atau penglihatan, agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan dan gangguan aktifitas psikomotor, berkelana.

Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :

  • Stadium I

Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. “Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami

  • Stadium II

Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara lain,

  • Disorientasi
  • gangguan bahasa (afasia)
  • penderita mudah bingung
  • penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.
  • Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,”

.Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala klinisnya antara lain:

  • Penderita menjadi vegetatif
  • tidak bergerak dan membisu
  • daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri
  • tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil
  • kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain
  • kematian terjadi akibat infeksi atau trauma
  1. Demensia Vaskuler

Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. “Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,”. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler.

Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya:

  1. Kelainan sebagai penyebab Demensia :
  • penyakit degenaratif
  • penyakit serebrovaskuler
  • keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO
  • trauma otak
  • infeksi (Aids, ensefalitis, sifilis)
  • Hidrosefaulus normotensif
  • Tumor primer atau metastasis
  • Autoimun, vaskulitif
  • Multiple sclerosis
  • Toksik
  • kelainan lain : Epilepsi, stress mental, heat stroke, whipple disease
  1. Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensi
  1. Gangguan psiatrik :
  • Depresi
  • Anxietas
  • Psikosis
  1. Obat-obatan :
  • Psikofarmaka
  • Antiaritmia
  • Antihipertensi
  1. Antikonvulsan
  • Digitalis
  1. Gangguan nutrisi :
  • Defisiensi B6 (Pelagra)
  • Defisiensi B12
  • Defisiensi asam folat
  • Marchiava-bignami disease
  1. Gangguan metabolisme :
  • Hiper/hipotiroidi
  • Hiperkalsemia
  • Hiper/hiponatremia
  • Hiopoglikemia
  • Hiperlipidemia
  • Hipercapnia
  • Gagal ginjal
  • Sindromk Cushing
  • Addison’s disesse
  • Hippotituitaria
  • Efek remote penyakit kanker

Tanda dan Gejala Demensia

Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.

Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.

Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.

Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.

Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998).

Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb:

  1. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
  2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada
  3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali
  4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
  5. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah

Diagnosis

Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:

  • Pembedaan antara delirium dan demensia
  • Bagian otak yang terkena
  • Penyebab yang potensial reversibel
  • Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
  • Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
  • Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
  • Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
  • Pencitraan otak amat penting CT atau MRI

Peran Keluarga

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.

Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.

Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak akan pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia.

Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.

Tingkah Laku Lansia

Pada suatu waktu Lansia dengan demensia dapat terbangun dari tidur malamnya dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk ditenangkan. Untuk mangatasi hal ini keluarga perlu membuat Lansia rileks dan aman. Yakinkan bahwa mereka berada di tempat yang aman dan bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Duduklah bersama dalam jarak yang dekat, genggam tangan Lansia, tunjukkan sikap dewasa dan menenangkan. Berikan minuman hangat untuk menenangkan dan bantu lansia untuk tidur kembali.

Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka dapat saja menyalakan kompor dan meninggalkannya begitu saja. Mereka juga merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat atau mungkin mengalami kecelakaan. Memakai pakaian yang tidak sesuai kondisi atau menggunakan pakaian berlapis-lapis pada suhu yang panas.

Seperti layaknya anak kecil terkadang Lansia dengan demensia bertanya sesuatu yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang sama disampaikan. Menciptakan lingkungan yang aman seperti tidak menaruh benda tajam sembarang tempat, menaruh kunci kendaraan ditempat yang tidak diketahui oleh Lansia, memberikan pengaman tambahan pada pintu dan jendela untuk menghindari Lansia kabur adalah hal yang dapat dilakukan keluarga yang merawat Lansia dengan demensia di rumahnya.

Pencegahan & Perawatan Demensia

Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak,
seperti :

  1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan
  2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.
  3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
    • Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
    • Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi
  4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA

Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur diatas 60 tahun dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500.000 penduduk indonesia mengalami demensia dengan berbagai penyebab, yang salah satu diantaranya adalah alzeimer.
Berdasarkan hasil pengkajian pada daerah paska bencana alam tsunami ternyata ditemukan kasus lansia dengan alzeimer.

Pengkajian

Demensia adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir tanpa adanya penurunan fungsi kesadaran. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, diperoleh data bahwa demensia sering terjadi pada usia lanjut yang telah berumur di atas 60 tahun. Sampai saat ini diperkirakan sekitar 500.000 penderita demensia di indonesia.

Tanda dan Gejala

  1. Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari
  2. Pelupa
  3. Sering mengulang kata-kata
  4. Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan
  5. Cepat marah dan sulit di atur.
  6. Kehilangan daya ingat
  7. kesulitan belajar dan mengingat informasi baru
  8. kurang konsentrasi
  9. kurang kebersihan diri
  10. Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
  11. Mudah terangsang
  12. Tremor
  13. Kurang koordinasi gerakan.

Cara melakukan pengkajian

  1. Membina hubunga saling percaya dengan klien lansia

Untuk melakukan pengkajian pada lansia dengan demensia, pertama-tama saudara harus membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia.
Untuk dapat membina hubungan saling percaya, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti: selamat pagi / siang / sore / malam atau sesuai dengan konteks agama pasien.
  2. Perkenalkan nama saudara (nama panggilan) saudara, termasuk menyampaikan bahwa saudara adalah perawat yang akan merawat pasien.
  3. Tanyakan pula nama pasien dan nama panggilan kesukaannya.
  4. Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang akan dilakukan.
  5. Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa lama aktivitas tersebut.
  6. Bersikap empati dengan cara:
    • Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri sentuhan dan menunjukkan perhatian
    • Bicara lambat, sederhana dan beri waktu klien untuk berpikir dan menjawab
    • Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik
    • Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien.
  1. Gunakan kalimat yang singkat, jelas, sederhana dan mudah dimengerti (hindari penggunaan kata atau kalimat jargon)
  2. Bicara lambat , ucapkan kata atau kalimat yang jelas dan jika betranya tunggu respon pasien
  3. Tanya satu pertanyaan setiap kali bertanya dan ulang pertanyaan dengan kata-kata yang sama.
  4. Volume suara ditingkatkan jika ada gangguan pendengaran, jika volume ditingkatkan, nada harus direndahkan.
  5. Sikap komunikasi verbal disertai dengan non verbal yang baik
  6. Sikap berkomunikasi harus berhadapan, pertahankan kontak mata, relaks dan terbuka
  7. Ciptakan lingkungan yang terapeutik pada saat berkomunikasi dengan klien:
    • Tidak berisik atau ribut
    • Ruangan nyaman, cahaya dan ventilasi cukup
    • Jarak disesuaikan, untuk meminalkan gangguan.

Mengkaji pasien lansia dengan demensia Untuk mengkaji pasien lansia dengan demensia, saudara dapat menggunakan tehnik mengobservasi prilaku pasien dan wawancara langsung kepada pasien dan keluarganya. Observasi yang saudara lakukan terutama untuk mengkaji data objective demensia. Ketika mengobservasi prilaku pasien untuk tanda-tanda seperti:

  • Kurang konsentrasi
  • Kurang kebersihan diri
  • Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
  • Tidak mengenal waktu, tempat dan orang
  • Tremor
  • Kurang kordinasi gerak
  • Aktiftas terbatas
  • Sering mengulang kata-kata.

Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu dikaji oleh perawat : apakah lansia mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan afek yang labil, datar atau tidak sesuai.
Bila data tersebut saudara peroleh, data subjective didapatkan melalui wawancara:

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada saat pengkajian, maka ditetapkan diagnosa keperawatan:

  1. Gangguan Proses Pikir
  2. Risiko Cedera: jatuh

Tindakan Keperawatan

Diagnosa I “Lansia depresi dengan gangguan proses pikir; pikun/pelupa.”

  • Tindakan keperawatan untuk pasien:
    Tujuan agar pasien mampu:
    a. Mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan temapat
    b. Meklakukan aktiftas sehari-hari secara optimal.
    Tindakan

    1. Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya tempat tidur, lemari, pakaian dll.
    2. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan jam besar, kalender yang mempunyai lembar perhari dengan tulisan besar.
    3. Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota keluarga terdekat
    4. Beri kesempatan kepada klien untuk mengenal dimana dia berada.
    5. Berikan pujian jika pasien bila pasien dapat menjawab dengan benar.
    6. Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari
    7. Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya.
    8. Bantu pasien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilihnya
    9. Beri pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
    10. Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
    11. Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari.
  • Tindakan untuk keluarga
    Tujuan
  • Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat
  • Menyediakan saran yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas
  • Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari.

Tindakan

  1. Diskusikan dengan keluarga cara-cara mengorientasikan waktu, orang dan tempat pada pasien
  2. Anjurkan keluarga untuk menyediakan jam besar, kalender dengan tulisan besar
  3. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang pernah dimiliki pasien
  4. Bantu keluarga memilih kemampuan yang dilakukan pasien saat ini.
  5. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan terhadap kemampauan yang masih dimiliki oleh pasien
  6. Anjurkan keluarga untuk memantu lansia melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
  7. Anjurkan keluarga untuk memantau kegiatan sehari-hari pasien sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
  8. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih dimiliki pasien
  9. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
  10. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

Diagnosa IILansia demensia dengan risiko cedera”

  • Tindakan pada pasien.

Tujuan

  1. Pasien terhindar dari cedera
  2. Pasien mampu mengontrol aktifitas yang dapat mencegah cedera.

Tindakan

  1. Jelaskan faktor-faktor risiko yang dapa menimbulkan cedera dengan bahasa yang sederhana
  2. Ajarkan cara-cara untuk mencegah cedera: bila jatuh jangan panik tetapi berteriak minta tolong
  3. Berikan pujian terhadap kemampuan pasien menyebutkan cara-cara mencegah cedera.

Tindakan untuk keluarga

Tujuan: Keluarga mampu:

  1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien
  2. Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera

Tindakan

  1. Diskusikan dengan keluarga faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien
  2. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman seperti: lantai rumah tidak licin, jauhkan benda-benda tajam dari jangkauan pasien, berikan penerangan yang cukup, lampu tetap menyala di siang hari, beri alat pegangan dan awasi jika pasien merokok, tutup steker dan alat listrik lainnya dengan plester, hindarkan alat-alat listrik lainnya dari jangkauan klien, sediakan tempat tidur yang rendah
  3. Menganjurkan keluarga agar selalu menemani pasien di rumah serta memantau aktivitas harian yang dilakukan

Evaluasi

Untuk mengukur keberhasilan asuhan keperawatan yang saudara lakukan, dapat dilakukan dengan menilai kemampuan klien dan keluarga:
1. Gangguan proses pikir: bingung

Kemampuan pasien:

  1. Mampu menyebutkan hari, tanggal dan tahun sekarang dengan benar
  2. Mampu menyebutkan nama orang yang dikenal
  3. Mampu menyebutkan tempat dimana pasien berada saat ini
  4. Mampu melakukan kegiatan harian sesuai jadual
  5. Mampu mengungkapkan perasaannya setelah melakukan kegiatan

Kemampuan keluarga

  1. Mampu membantu pasien mengenal waktu temapt dan orang
  2. Menyediakan kalender yang mempunyai lembaran perhari dengan tulisan besar dan jam besar
  3. Membantu pasien melaksanakan kegiatan harian sesuai jadual yang telah dibuat
  4. Memberikan pujian setiap kali pasien mampu melaksanakan kegiatan harian

2.Risiko cedera

Kemampuan pasien:

  1. Menyebutkan dengan bahasa sederhana faktor-faktor yang menimbulkan cedera
  2. Menggunakan cara yang tepat untuk mencegah cedera
  3. Mengontrol aktivitas sesuai kemampuan

Kemampuan keluarga

  1. Keluarga dapat mengungkapkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan cedera pada pasien
  2. Menyediakan pengaman di dalam rumah
  3. Menjauhkan alat-alat listrik dari jangkauan pasien
  4. Selalu menemani pasien di rumah
  5. Memantau kegiatan harian yang dilakukan pasien

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999

Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

PENUAAN PADA SISTEM PERKEMIHAN

PENUAAN SISTEM PERKEMIHAN

DI SUSUN OLEH:

DOHIRIYAH ALMUSOFFA

II A/07.015

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN

2008-2009

PENUAAN SISTEM PERKEMIHAN

  1. PENGERTIAN

Penuaan sistem perkemihan atau dalam bahasa medis disebut juga inkontenensia urine atau orang awam menyebut dengan beser adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau sosial.Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses).

  1. ETIOLOGI

Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.

Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya. Nah, obat-obatan ini bisa sebagai ‘biang keladi’ mengompol pada orang-orang tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat. Golongan obat yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein dan alcohol juga berperan dalam terjadinya mengompol. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

  1. KLASIFIKASI

Inkontenensia urine diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Inkontenensia urine akut

Penanganan IU akut pada usia lanjut berbeda tergantung kondisi yang dialami pasien. Penyebab IU akut antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet.

IU akut juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai se­bab. Misalnya gangguan metabolik, se­perti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi de­ngan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein. Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor pe­nyebab produksi urin meningkat dan ha­­rus dilakukan terapi medis yang sesuai.

Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi nonfarmakologik atau farmakologik yang tepat.

  1. Inkontenensia urine persisiten

Mengompol juga ada yang bersifat me­netap dan tidak terkait dengan penyakit akut, disebut IU persisten. stress, urgensi, overflow, dan gangguan fungsional adalah faktor penyebabnya. Tipe stress didefinisikan sebagai keluarnya urin involunter tatkala terdapat peningkatan tekanan intraabdomen, seperti batuk, tertawa, olahraga, dan lain-lain. Sedangkan urgensi adalah keluarnya urin akibat ketidakmampuan menunda berkemih tatkala timbul sensasi keinginan untuk berkemih.. Overflow adalah keluarnya urin akibat kekuatan mekanik pada kandung kemih yang overdidtensi atau factor lain yang berfek pada retensi urin dan fungsi sfingter.

  1. PATOFISIOLOGI

Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:
• Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin. Bisa juga disebabkan oleh kelainan di sekeliling daerah saluran kencing.
• Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih.
• Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebihan.

Inkontinensia urine dapat timbul akibat hiperrefleksia detrusor pada lesi suprapons dan suprasakral. Ini sering dihubungkan dengan frekuensi dan bila jaras sensorik masih utuh, akan timbul sensasi urgensi. Lesi LMN dihubungkan dengan kelemahan sfingter yang dapat bermanifestasi sebagai stress inkontinens dan ketidakmampuan dari kontraksi detrusor yang mengakibatkan retensi kronik dengan overflow Ada beberapa pembagian inkontinensia urin, tetapi pada umumnya dikelompokkan menjadi 4:

1. Urinary stress incontinence

2. Urge incontinence

3. Total incontinence

4. Overflow incontinence

Stress urinary incontinence terjadi apabila urin secara tidak terkontrol keluar akibat peningkatan tekanan di dalam perut. Dalam hal ini, tekanan di dalam kandung kencing menjadi lebih besar daripada tekanan pada urethra. Gejalanya antara lain kencing sewaktu batuk, mengedan, tertawa, bersin, berlari, atau hal lain yang meningkatkan tekanan pada rongga perut. Pengobatan dapat dilakukan secara tanpa operasi(misalnya dengan Kegel exercises, dan beberapa jenis obat-obatan), maupun secara operasi (cara yang lebih sering dipakai).

Urge incontinence timbul pada keadaan otot detrusor yang tidak stabil, di mana otot ini bereaksi secara berlebihan. Gejalanya antara lain perasaan ingin kencing yang mendadak, kencing berulang kali, kencing malam hari, dan inkontinensia. Pengobatannya dilakukan dengan pemberian obat-obatan dan beberapa latihan. *Total incontinence, di mana kencing mengalir ke luar sepanjang waktu dan pada segala posisi tubuh, biasanya disebabkan oleh adanya fistula (saluran abnormal yang menghubungkan suatu organ dalam tubuh ke organ lain atau ke luar tubuh), misalnya fistula vesikovaginalis (terbentuk saluran antara kandung kencing dengan vagina) dan/atau fistula urethrovaginalis (saluran antara urethra dengan vagina). Bila ini dijumpai,dapat ditangani dengan tindakan operasi.

Overflow incontinence adalah urin yang mengalir keluar akibat isinya yang sudah terlalu banyak di dalam kandung kencing akibat otot detrusor yang lemah.Biasanya hal ini dijumpai pada gangguan saraf akibat penyakit diabetes, cedera pada sumsum tulang belakang, atau saluran kencing yang tersumbat. Gejalanya berupa rasa tidak puas setelah kencing (merasa urin masih tersisa di dalam kandung kencing), urin yang keluar sedikit dan pancarannya lemah. Pengobatannya diarahkan pada sumber penyebabnya.

  1. PENATALAKSANAAN

Sejauh ini, penatalaksanaan inkontinensia urine terdiri atas tiga kategori utama, yaitu terapi nonfarmakologis (intervensi perilaku), farmakologis, dan pembedahan. Terapi farmakologis umumnya memakai obat-obatan dengan efektivitas dan efek samping berbeda. Strategi pengelolaan optimal amat bergantung pada pasien, tipe inkontinensia, dan manfaat tiap intervensi, serta ketepatan identifikasi penyebab inkontinensia urine. Terapi yang sebaiknya pertama kali dipilih adalah terapi nonfarmakologis sebelum menetapkan menggunakan terapi farmakologis atau terapi pembedahan.Teknik ini hanya sedikit mengandung risiko pada pasien dan bermanfaat menurunkan frekuensi inkontinensia urine. Terapi utama dalam kelompok terapi non farmakologis dikenal sebagai Behavioral Therapies, yaitu berbagai intervensi yang diajarkan kepada pasien untuk memodifikasi perilaku kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih. Di sini termasuk:

• Pengaturan diet dan menghindari makanan/minuman yang mempengaruhi pola berkemih (seperti cafein, alkohol).

• Program latihan berkemih yaitu latihan penguatan otot dasar panggul (pelvic floor axercise, latihan fungsi kandung kemih (blandder training) dan program katerisasi intermitten.

• Latihan otot dasar panggul menggunakan biofeedback.

• Latihan otot dasar panggul menggunakan vaginal weight cone therapy. Selain behavioral therapies, dikenal pula intervensi lain, yaitu dan pemanfaatan berbagai alat bantu terapi inkontinensia.

Kombinasi antara terapi medikamentosa dan intervensi non farmakologis memberikan hasil pemulihan inkontinensia lebih baik. Penyulit terapi non farmakologis adalah perlunya kooperasi pasien untuk bekerjasama. Bila kerjasama tak terjalin, maka terapi tak akan berhasil. Oleh karenanya, diperlukan kecermatan dan ketelatenan tenaga medis dan paramedis untuk meyakinkan pasien dengan memberikan informasi yang benar dan mendampingi serta mengevaluasi secara teratur, sampai pemulihan maksimal tercapai.

Latihan Otot Dasar Panggul ( Plevic Floor Exercise )/ Kegel Exercise Latihan otot dasar panggul yaitu latihan dalam bentuk seri untuk membangun kembali kekuatan otot dasar panggul. Otot dasar panggul tak dapat dilihat dari luar, sehingga sulit untuk menilai kontraksinya secara langsung. Oleh karena itu, latihannya perlu benar-benar dipelajari, agar otot yang dilatih adalah otot yang tepat dan benar. Keberhasilan akan dicapai bila:

1. Pastikan bahwa pengertian pasien sama dengan yang anda maksud

2. Latihan dilakukan tepat pada otot dan cara yang benar

3. Lakukan secara teratur, beberapa kali per hari

4. Praktekkan secara langsung pada setiap saat dimana fungsi otot tersebut diperlukan

5. Latihan terus, tiada hari tanpa latihan Sebagian pasien, sulit mengerjakan latihan ini. Mereka mengasosiasikan kontraksi otot dasar panggul sebagai gerakan mengejan dengan konsentrasi pada otot dasar panggul. Hal ini salah, dan akan menimbulkan inkontinensia lebih parah lagi. Ada lagi yang mengartikannya sebagai gerakan mendekatkan kedua bokong, mengencangkan otot paha dan saling menekankan kedua lutut di sisi tengah. Gerakan ini takakan menghasilkan penguatan otot dasar panggul, melainkan menghasilkan bokong yang bagus dan paha yang kuat.

Program Latihan Dasar Kontraksi otot dasar panggul dilakukan dengan:

a. Cepat : Kontraksi-relaks-kontraksi-relaks-dst

b. Lambat : Tahan kontraksi 3-4 detik, dengan hitungan kontraksi 2-3-4-relaks, istirahat-2-3-4, kontraksi-2-3-4 relaks-istirahat-dst. Latihan seri gerakan cepat disusul dengan gerakan lambat dengan frekuensi sama banyak. Misalnya, 5 kali kontraksi cepat, 5 kali kontraksi lambat. Latihan ini pun dikerjakan pada berbagai posisi, yaitu sambil berbaring, sambil duduk, sambil merangkak, berdiri, jongkok, dll. Harus dirasakan bahwa pada posisi apapun otot yang berkontraksi adalah otot dasar panggul. Jangan harapkan keberhasilan akan segera muncul, karena otot dasar panggul dan otot sfingter yang lemah, serta tak biasa dilatih, cenderung cepat lelah. Bila keadaan letih (fatig) tercapai, maka inkontinensia akan lebih sering terjadi. Oleh karena itu perlu dicari titik kelelahan pada setiap individu. Caranya, dilakukan dengan “trial and error”. Lakukan kontraksi dengan frekuensi tertentu cepat dan lambat, misalnya 4 kali atau 5 kali atau 6 kali dan tentukan frekuensi sebelum mencapai titik lelah dan otot menjadi lemah. Yang terakhir ini dapat dites dengan melakukan digital vaginal self asessment (vaginal toucher) yaitu, memasukkan dua jari tangan setelah dilumuri jelly, ke dalam vagina. Coba buka kedua jari arah antero-posterior dan minta pasien melawan gerakan tersebut dengan mengkontraksikan otot dasar panggul. Pada jari pemeriksaan akan terasa tekanan, ini berarti kekuatan otot positif, sekaligus dinilai, kekuatan tersebut lemah, sedang, atau kuat. Dapat diajarkan kepada pasien agar dia mampu melakukan sendiri digital vaginal self asessment.. Bila fasilitas memenuhi, kekuatan otot dasar panggul dapat diukur dengan suatu alat tertentu. Awali latihan dengan frekuensi latihan kecil, yaitu 3, 4 dan 5 kali kontraksi setiap seri. Frekuensi kontraksi ini disebut dosis kontraksi dasar. Lakukan pada dosis awal, 10 seri perhari, sehingga bila kontraksi dasar adalah 4 kali, maka perhari dilakukan kontraksi 4 cepat, 4 lambat, 10 kali = 80 kali kontraksi per hari. Ingat, tiada hari tanpa latihan. Dosis kontraksi dasar ditingkatkan setiap minggu, dengan menambahkan frekuensi kontraksi 1 atau 2, tergantung kemajuan. Lakukan semua dengan perlahan, tak perlu cepat-cepat. Pada akhir minggu ke IV, sebaiknya telah dicapai 200 kontraksi perhari. Pada awalnya, latihan terasa berat, tetapi kemudian akan terbiasa dan terasa ringan. Sebagai parameter keberhasilan, dapat dipakai:

• Stop test

• Frekuensi miksi perhari

• Volume vaginal assessment

Bladder Training Adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kencing yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik (UMN atau LMN), dapat dilakukan dengan pemeriksaan refleks-refleks:

1. Refleks otomatik Refleks melalui saraf parasimpatis S2-3 dansimpatis T12-L1,2, yang bergabung menjadi n.pelvikus. Tes untuk mengetahui refleks ini adalah tes air es (ice water test). Test positif menunjukkan tipe UMN sedangkan bila negatif (arefleksia) berarti tipe LMN.

2. Refleks somatic Refleks melalui n.pudendalis S2-4. Tesnya berupa tes sfingter ani eksternus dan tes refleks bulbokarvernosus. Jika tes-tes tersebut positif berarti tipe UMN, sedangkan bila negatif berarti LMN atau tipe UMN fase syok spinal Langkah-langkah Bladder Training: 1. Tentukan dahulu tipe kandung kencing neurogeniknya apakah UMN atau LMN 2. Rangsangan setiap waktu miksi

3. Kateterisasi:

a. Pemasangan indwelling cathether (IDC)=dauer cathether IDC dapat dipasang dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping). Dengan pemakaian kateter menetap ini, banyak terjadi infeksi atau sepsis. Karena itu kateterisasi untuk bladder training adalah kateterisasi berkala. Bila dipilh IDC, maka yang dipilih adala penutupan berkala oleh karena IDC yang kontinu tidal fisiologis dimana kandung kencing yang selalu kosong akan mengakibatkan kehilangan potensi sensasi miksi serta terjadinya atrofi serta penurunan tonus otot kk

b. Kateterisasi berkala Keuntungan kateterisasi berkala antara lain: o Mencegah terjadinya tekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang mengakibatkan aliran darah ke mukosa kandung kencing dipertahankan seoptimal mungkin o Kandung kencing dapat terisi dan dikosongkan secara berkala seakan-akan berfungsi normal o Bila dilakukan secara dini pada penderita cedera medula spinalis, maka penderita dapat melewati masa syok spinal secara fisiologis sehingga feedback ke medula spinalis tetap terpelihara o Teknik yang mudah dan penderita tidak terganggu kegiatan sehari-harinya

Latihan Otot Dasar Panggul dengan Biofeedback Biofeedback sering dimanfaatkan untuk membantu pasien mengenali ketepatan otot dasar panggul yang akan dilatih. Caranya adalah dengan menempatkan vaginal perineometer dan dapat dimonitor melalui suara atau tampak kontraksi otot di kaca monitor. Pada penelitian, dibuktikan oleh Shepherd bahwa kombinasi latihan otot dasar panggul dengan biofeedback, meningkatkan keberhasilan penatalaksanaan inkontinensia (91 persen) dibandingkan kelompok kontrol tanpa biofeedback (55 persen). Penyempurnaan biofeedback saat ini, dapat sekaligus memonitor kontraksi dan relaksasi otot dasar panggul dan otot abdomen. Bahkan biofeedback dapat digunakan di rumah, untuk latihan pasien inkontinensia.

Latihan Otot Dasar Panggul Menggunakan Vaginal Weight Cone Therapy Vaginal weight cone therapy adalah alat pemberat dengan berat antara 20 gr – 70 gr yang dimasukkan ke dalam vagina. Pasien diminta berdiri, berjalan normal, selama 15 menit dan harus menegangkan otot dasar panggul agar beban tersebut tidak jatuh. Dimulai dengan beban ringan dan kemudian ditingkatkan latihan dilakukan dua kali perhari. Latihan dievaluasi dibandingkan dengan pemulihan inkontinensianya. Tentu saja pada saat menstruasi, latihan ini jangan dilakukan. Electrical stimulation (ES) Terapi stimulasi listrik untuk inkontinensia mulai diperkenalkan pada masa kini, terutama untuk multiple lower urinary tract disorders. Stimulasi ditujukan kepada syaraf sacral otonomik atau syaraf somatik yang secara spesifik. Hasil terapi tergantung dari utuh tidaknya jaras syaraf antara sacral cord dan otot dasar panggul. Secara umum manfaat ES cukup baik, namun masih perlu penelitian lebih lanjut.

Alat Bantu Terapi Inkontinensia Banyak alat yang dirancang untuk membantu mengatasi inkontinensia, antara lain:

• Urinary Control Pad.

• Continence Shield.

• Urethral Occlusion Insert.

• Bladder Neck Prothesis.

• Vaginal Pessaries.

• Penile Cuffs and Clamps.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999
  2. Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002
Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

LANSIA DALAM KEPENDUDUKAN

KEPERAWATAN GERONTIK I

LANSIA DALAM KEPENDUDUKAN”

Disusun oleh :

Asri Wuria Ningrum (07.40.05)

Dicky Nurul H (07.40.014)

Ika Fitri Aprilianti (07.40.023)

Miswaroh (07.40.032)

Riska Riwayati (07.40.041)

Wuriana Fitri Dewi (07.40.050)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN MALANG

Oktober 2009/2010

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Penduduk yang usianya menua, menurut demografi tidak termasuk dalam kelompok angkatan kerja atau kelompok penduduk yang tidak produktif tetapi sekarang banyak dijumpai orang yang sudah berusia 55 tahun atau 65 tahun keatas yang masih bekerja secara paroh waktu, artinya mereka itu bekerja tidak seperti kelompok usia produktif (15-54 tahun) yang malahan banyak bekerja serabutan dan menganggur. Keadaan itu memperlihatkan bahwa rasio ketergantungan dari kelompok usia <15>55 tahun terhadap usia produktif harus dirubah, karena untuk saat ini kurang sesuai dengan kenyataan kependudukan. Lansia akan meningkat jumlah dan potensinya di masa mendatang.

Angka mortalitas pada lansia tidak begitu mempengaruhi harapan hidup waktu lahir, karena ternyata menurut angka-angka yang terkumpul, harapan hidup waktu usia 60 tahun, dinegara-negara kurang berkembang (14,9 tahun) dan negara-negara yang sudah berkembang (18,5 tahun), tidaklah berselisih banyak (World Population, United Nations, 1980). Jadi tegasnya disuatu negara sedang berkembang seperti di Indonesia ini. Angka harapan hidup seseorang yang dapat mencapai usia 60 tahun adalah rata-rata 15 tahun, berarti ia dapat rata-rata mencapai usia 75 tahun.

Bahwa jumlah orang lansia akan naik lebih cepat dari pada anak atau jumlah pertumbuhan penduduk keseluruhan, dapat pula di hitung dengan rumus geometrik, ini menghasilkan bahwa golongan lansia di Indonesia akan naik 3,96% setahunnya, sedangkan angka pertumbuhan anak di bawah 15 tahun hanya angka naik 0,49 % per tahun. Angka pertumbuhan lansia yang berumur 70 tahun ke atas bahkan akan naik 5,6% setahunnya dalam kurun waktu 1985-1995 (angka-angka dihitung dari BPS, Supas 1985).

  1. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang kami buat dan akan kami bahas, antara lain:

  1. Definisi/pengertian dari Lansia dalam Kependudukan?
  2. Bagaimana dengan Lansia dalam Kependudukan Indonesia?
  3. Mitos-mitos apa sajakah yang ada pada lansia?
  4. Apa saja Masalah-Masalah Lansia?
  5. Pekerjaan dan Penghasilan bagaimana?
  6. Adakah Program Posyandu Lansia?
  1. TUJUAN

1.3.1Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan makalah ini diharapkan agar hasil kajian pustaka kami ini dapat bermanfaat sebagai sumber pengetahuan bagi semua mahasiswa STIKES KEPANJEN MALANG serta untuk masyarakat luas yang ingin mengetahui atau mempelajari tentang “Lansia dalam Kependudukan”. Selain itu kami juga mengharapkan makalah ini bisa digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa yang ingin membuat kajian lebih lanjut tentang hal tersebut.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari tugas akhir ini :

  1. Untuk memenuhi syarat penilaian mata Keperawatan Gerontik I.
  2. Untuk bahan evaluasi dalam menguji seberapa besar pengetahuan kami tentang “Lansia dalam Kependudukan”.
  1. MANFAAT

Untuk mengetahui tentang beberapa hal yang telah kami cantumkan pada rumusan masalah, yaitu:

  1. Definisi/pengertian dari Lansia dalam Kependudukan
  2. Lansia dalam Kependudukan Indonesia
  3. Mitos-mitos pada lansia
  4. Masalah-Masalah Lansia
  5. Pekerjaan dan Penghasilan Lansia
  6. Program Posyandu Lansia

BAB II

LANSIA DALAM KEPENDUDUKAN

2.1 Definisi

Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Pada Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process. Ilmu yang mempelajari fenomena penuaan meliputi proses menua dan degenerasi sel termasuk masalah-masalah yang ditemui dan harapan lansia disebut gerontology (Cunningham & Brookbank, 1988).

Penduduk Lansia adalah orang-orang yang berumur 60 tahun ke atas.

Definisi Lansia: seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, karena faktor2 tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosialnya. Status Perkawinan dibedakan menjadi: a.Belum kawin b.Kawin c.Cerai hidup d.Cerai mati. mnurut: http://www.humanitarianinfo.org/

Kependudukan dalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi, kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan penduduk tersebut

Lansia dalam kependudukan adalah mereka yang berumur 60 tahun ke atas, yang mana berkaitan dengan hal-hal yang berbau kependudukan seperti yang dijelaskan di atas.

  1. Lansia dalam Kependudukan Indonesia

Pada tahun 2000 jumlah lansia di Indonesia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada tahun 2020 menjadi sebesar 11,34% (BPS, 1992). Bahkan Amerika Serikat memperkirakan Indonesia akan mengalami pertambahan penduduk terpesat mulai tahun 1990-2025.

Seiring dengan berkembangnya Indonesia sebagai negara yang perkembangannya cukup baik, maka makin tinggi pula angka harapan hidup penduduknya. Diproyeksikan harapan hidupnya bisa mencapai 70 tahun pada tahun 2000. Perlahan tapi pasti masalah lansia mulai mendapat perhatian lebih dari masyarakat.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk lansia dan makin panjangnya usia harapan hidup sebagai akibat yang telah dicapai dalam pembangunan selama ini, maka mereka yang memiliki pengalaman, keahlian dan kearifan perlu diberi kesempatan untuk ikut serta dalan pembangunan. Kesejahteraan usia lanjut yang memiliki kondisi fisik dan atau mentalnya mengalami gangguan, maka hal ini pemerintah harus ikut serta mencari solusi dan mengayomi mereka.

Perancangan Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN) pada tanggal 29 Mei 1996 di Semarang oleh Presiden merupakan bukti dan penghargaan masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan lansia.

Pada sebuah propinsi di Cina di sebutkan terdapat populasi lansia yang sebagian besar berusia 100 tahun dan mereka masih dalam kondisi sehat dan sedikit sekali prevalensi kepikunannya. Menurut mereka rahasianya adalah menghindari makanan modern, banyak mengkopnsumsi sayur dan buah, aktivitas yang tinggi, sosialisasi dengan warga lainnya dan hidup di tempat yang bersih serta jauh dari polusi udara.

Hal ini merupakan tantangan untuk kita semua untuk dapat menjadikan para lansia dapat mempertahankan kesehatan secara mandiri dan tidak menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga serta masyarakat sekitarnya.

  1. Mitos Terhadap Lansia
  1. Kedamaian dan ketenangan

Lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payahnya dimasa muda dan dewasanya, badai dan berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewati.
Kenyataan :
*Sering ditemui stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan serta penderitaan karena penyakit
*Depresi
*Kekhawatiran
*Paranoid
*Masalah psikotik

  1. Konservatif dan kemunduran

Lansia sering dinilai :

  1. Konservatif
  2. Tidak kreatif
  3. Menolak inovasi
  4. Berorientasi ke masa silam
  5. Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya akan tampak bahagia, tidak murung,takut,atau sedih karena Ia dijanjikan dengan surga
  6. Merindukan masa lalu
  7. Kembali ke masa anak-anak
  8. Susah berubah
  9. Keras kepala dan cerewe

Bingung dan tidak peduli terhadap lingkungan Penyakitan Kesepian dan tidak bahagia Tidak berminat dengan seks dan seksualitas Tidak berguna di masyarakat

  1. Masalah-Masalah Lansia

Lansia merupakan salah satu masalah sosial yang membutuhkan perhatian dan penanganan dari semua fihak di dalam masyarakat. Prediksi kependudukan menunjukkan bahwa pada 2005 akan terdapat lansia sebanyak 18,4 juta jiwa atau 8,4% dari jumlah penduduk Indonesia (Kalla, 2002). Di Jawa Barat pada 2002 terdapat 5,9 juta lansia atau 17,9% dari penduduk (Buldansyah, 2002). Diberitakan di beberapa media cetak, bahwa ada 211.000 orang lansia di Jawa Barat yang mengalami ketelantaran; sementara jumlah panti wredha yang ada sebanyak 26 panti hanya mampu menampung 1000 orang lansia (Republika, 30 Mei 2002).

Data tersebut baru menunjukkan jumlah lansia yang telantar secara sosial-ekonomi, yaitu mereka yang berada dalam kondisi kehidupan rendah (miskin); dan menuruh Kadin Sosial Jawa Barat, tidak semua lansia telantar terdeteksi. Selain itu jumlah lansia yang mengalami ketelantaran sosial tidak terdeteksi, padahal jumlahnya sangat mungkin tidak sedikit. Lebih jauh, persoalan lansia bukan sekedar persoalan jumlah orang tua yang membutuhkan santunan, melainkan menyangkut nilai-nilai budaya masyarakat yang menjadi landasan kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri.
Orang lanjut usia dalam kultur Timur dan Islam, bukan sekedar ‘orang yang sudah tua’, melainkan golongan masyarakat yang menjadi figur pemegang nilai-nilai sosial budaya sehingga posisinya sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat.
Akhir bulan Mei, secara internasional telah ditetapkan sebagai hari Lansia dan diperingati oleh dunia. Namun apakah peringatan itu terarah pada penempatan posisi orang tua di tempat seharusnya ataukah baru sekedar keperdulian terhadap lansia dari segi demografis ?. Berbagai media cetak pada Kamis, 30 Mei 2002 memuat data bahwa 21.000 lansia di Jawa Barat terlantar secara mutlak.

Dalam kultur masyarakat Timur *, orang tua menempati posisi yang sangat terhormat di dalam lingkungan sosialnya. Dalam budaya Jawa (termasuk Jawa Barat), ada tiga golongan warga masyarakat yang menempati posisi terhormat dan menjadi sumber keteladanan bagi warga masyarakat banyak, yaitu “guru, ratu, wong atua karo” (guru, pemimpin, dan orang tua). Orang tua menjadi salah satu sumber keteladanan karena sejalan dengan pertambahan usia, kearifan mereka bertambah sehingga menjadi tempat generasi muda berkonsultasi tentang berbagai hal. Dalam ajaran Islam yang dianut sebagian besar warga masyarakat Indonesia, sangat tegas diperintahkan untuk menghormati orang tua; bahkan jikapun orang tua melakukan kesalahan, generasi muda harus tetap menjaga adab perilaku mereka kepada orang tua walaupun tidak perlu meneladani kesalahannya.

Dengan demikian, dalam kultur Timur dan ajaran Islam yang menjadi sumber nilai-nilai sosial masyarakat Indonesia; seseorang memiliki kewajiban selain interaksi horisontal (dengan istri, kerabat, teman), juga vertikal ke bawah dan ke atas. Ke bawah, ia berkewajiban memelihara generasi penerus (anak-anak), sementara ke atas ia berkewajiban menyantuni orang tua. Demikian jaringan rantai sosial terjalin erat antar generasi sebagai cerminan dari masyarakat (dan keluarga) harmonis.

Mengingat urgensi masalah lansia seperti dikemukakan terdahulu, maka sekali lagi, masalah lansia ini membutuhkan perhatian dan penanganan dari semua fihak di dalam masyarakat. Selama ini model penanganan yang dilakukan dan banyak dikenal masyarakat adalah penampungan para lansia di panti-panti wredha. Dengan perubahan pandangan terhadap orang tua, muncul pertanyaan, apakah model panti tersebut akan dapat menanggulangi masalah lansia telantar, atau malah akan mendorong warga masyarakat untuk lebih mudah ‘menelantarkan’ para lansia tersebut ?, dengan segala dampak yang ditimbulkannya. Sudah dibutuhkan model penanganan masalah lansia yang berbasis nilai-nilai masyarakat kita sendiri, namun adaptif terhadap perubahan dan tuntunan jaman. Rangkaian diskusi di Laboratorium (Jurusan) Kesejahteraan Sosial FISIP UNPAD sedang terus mengembangkan model termaksud.

  1. Pekerjaan dan Penghasilan

Menurut biro pusat statistik (1990), tingkat partisipasi angkatan kerja pada Lanjut Usia 60 hinga 64 tahun besarnya 59,9% dan pada usia 65 tahun 40,5%. Di perkotaan bahkan tingkat pengangguran penduduk lanjut usia yang berusia 65 tahun ke atas hanya 2.2%. Tingkat partisipasi angkatan kerja di pedesaan lebih tinggi darin pada diperkotaan dan pada penduduk lanjut usia pria, tingkatnya lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Tingginya tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk lanjut usia ini disebakan oleh beberapa faktor, antara lain proses penuaan, struktur penduduk tingkat sosial ekonomi masyarakat yang membaik, umur harapan hidup penduduk lanjut usia yang bertambah panjang, jangkauan pelayanan kesehatan serta status kesehatan penduduk lanjut usia yang bertambah baik.

Alasan penduduk lanjut usia untuk bekerja antara lain adalah karena disebabkan oleh jaminan sosial dan kesehatan yang masih kurang. Disamping hal itu, desakan ekonomi merupakan hal yang mendorong untuk bekerja dan mencari pekerjaan.Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya keadaan kesehatan fisik, mental dan emosional mereka masih baik. Banyak diantara mereka bekerja untuk aktualisasi diri.

Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1996), jenis sektor pekerjaan yang dipilih penduduk lanjut usia diperkotaan adalah sebagai berikut :

  • Perdagangan :38,4%
  • Pertanian : 27,1%
  • Jasa : 17,3%
  • Industri : 9,3%
  • Angkutan : 3,3%
  • Bangunan : 2,8%

Sedangkan di desa sebagai berikut :

  • Pertanian : 78,9%
  • Perdagangan : 9,1%
  • Industri ; 6,3 %
  • Jasa: 4,1 %

Penghasilan yang diterima oleh angkatan kerja lanjut usia, sayangnya tidaklah tinggi. Berdasarkan data yang dikumpulkan sakernas (1991), ternyata masih banyak amhkatan kerja lanjut usia yang menerima gaji atau upah sebanyak Rp. 10 ribu sebulan dan lebih dari separo angkatan kerja lanjut usia diperkotaan dan pedesaan menerima gaji atau upah sebesar Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu.

  1. Posyandu Lansia

Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lansia, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lansia untuk mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan kelu-arga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya.

Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada kelompok usia lanjut ini, pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lansia melalui beberapa jenjang. Pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat adalah Posyandu lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit.

Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.

Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :
meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia dan mendekatkan pelayanan serta meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Lansia dalam kependudukan adalah mereka yang berumur 60 tahun ke atas, yang mana berkaitan dengan hal-hal yang berbau kependudukan, seperti hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi, kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan penduduk tersebut.

Pada tahun 2000 jumlah lansia di Indonesia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada tahun 2020 menjadi sebesar 11,34% (BPS, 1992). Bahkan Amerika Serikat memperkirakan Indonesia akan mengalami pertambahan penduduk terpesat mulai tahun 1990-2025.

Seiring dengan berkembangnya Indonesia sebagai negara yang perkembangannya cukup baik, maka makin tinggi pula angka harapan hidup penduduknya. Diproyeksikan harapan hidupnya bisa mencapai 70 tahun pada tahun 2000. Perlahan tapi pasti masalah lansia mulai mendapat perhatian lebih dari masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Darmojo, Boedhi,et al.2000.Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Hardywinoto, dkk. 1999. Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai Aspek (Menjaga Keseimbangan Kwalitas Hidup pada Lanjut Usia). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Maryam, R. Siti. dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika

www.google.com. Keyword: Lansia, Kependudukan, Lansia dalam Kependudukan. Diakses tanggal 24 September 2009 pukul 09.20 WIB

LANSIA DALAM KEPENDUDUKAN_3A.doc

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

DEPRESI DAN BUNUH DIRI PADA LANSIA

OLEH: MUJIAN CHANDRA

NIM: (07,40,034)

DEPRESI DAN BUNUH DIRI PADA LANSIA

A. LATAR BELAKANG

Depresi merupakan suatu gangguan keadaan tonus perasaan yang secara umum sitansai oleh rasa ksedihan, apatis, pesimisme, dan kesepian yang mengganggu aktivitas social dalam sehari – hari. Depresi biasanya terjadi pada saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, sebagian besar diantara kita pernahmerasa sedih atau jengkel, kehidupan yang penuh masalah, kekecewaan, kehilangan , dan frustasi yang muah menimbulkan ketidakbahagiaan dan keputus asaan. Namun secara umum perasaan demikian itu normal dan merupakan reaksi sehat yang berlangsung cukup singkat dan mudah dihalau (Gred Wikinson, 1995).

Depresi dan lanjut usia sebagai tahap akhir siklus perkembangan manusia. Masa dimana semua orang berharapakan menjalani hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pension bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih saying. Pada kenyataannya tidak semua lanjut usia mendapatkannya. Berbagai persoalan hisup yang menimpa lanjut usia sepanjang hayatnya seperti : kemiskinan, kegagalan yang beruntun, stress yang berkapanjangan, ataupun konflik dengan kluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki keturunan yang bias merawatnyan dan lain ebagainya. Kondisi – kondisi hidup seperti ini dapat memicu terjadinya depresi. Tidak ada media bagi lanjut usia untuk mencurahkan segala perasaan dan kegundahannya merupakan kondisi yang akan memprtahankan depresinya, karma dia akan terus menekan segala bentuk perasaan negatifnya kealam bawah sadar (Rice Philip I, 1994).

Menurut Organiosasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat depresi adalah gangguan mental yang umum terjadi diantara populasi. Diperkirakan 121 juta manusia dimuka bumi ini depresi. Dari jumlah itu 5,8 % Laki – laki dan 9,5 % Perempuan, dan hanya sekitar 30 % penderita depresi yang benar – benar mendapat pengobatan yang cukup, sekalipun telah tersedia teknologi pengobatan depresi yang efektif, ironisnya, mereka yang menderita depresi berada dalam usia produktif, yakni cenderung pada usia kurang dari 45 tahun tidaklah mengherankan, bila diperkirakan 60 % dari seluruh kejadian Bunuh Diri terkait dengan depresi (Ahmad Djojosugito, 2002).

Depresi dialami oleh 80 % mereka yang berupaya atau melakukan bunuh diri pada penduduk yang di diagnosis mengalami gangguan jiwa. Bunuh diri adalah suatu pilihan untuk mengakhiri ketidak berdayaan, keputusan dan kemarahan diri akibat gangguan mood. Angka bunuh diri meningkat 3 kali lipat pada populasi remaja (usia 15 -24) karena terdapat peningkatan insiden depresi pada populadsi ini. Pria yang berusia 64 tahun memiliki angka bunuh diri 38/100.000 dibandingkan dengan angka 17/100.000 untuk semua pria di amerika serikat (Roy, 2000).

Menurut Sebuah penelitian di amerika, hamper 10 juta orang amerika mendeerite depresi dari semua kelompok usia, kelas social ekonomi, ras dan budaya. Angka depresi meningkat secara drastic diantara Lansia yang berada di instiitusi, dengan sekitar 50 % sampai 75 % menghuni perawatan jangka panjang memiliki gejala depresi ringan sampai sedang. Dari jumlah itu, angka yang signifikan dari orang dewasa dan tidak terganggu secara kognitif (10 – 20 %) mengalami gejala- geajla yang cukup parah untuk memenuhi criteria diagnostic depresi klinis. Oleh karena itu, depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disignifikan merupakan gangguan psikiatri yang paling banyak terjadi pada lansia, tetapi untungnya dapat diobati dan kembali sehat (Hermana, 2006).

Selain itu prevalensi depresi pada lansia didunia berkisar sekitar 8 – 15 % dan hasil meta analisis dari laporan – laporan Negara didunia mendapatkan pada lansia adalah 13,5 % dengan perbandingan waniti sampai pria 14,1 : 8,6. Adapun prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di RS dan Panti Perawatan sebesar 30 – 45 %. Perempuan lebih banyak menderita depresi (Chaplin dan Prabova Royanti, 1998).

Depresi pada lansia seringkali lambat terdeteksi karena gambaran klinisnya khas. Depresi pada lansia lebih banyak tampil dalam keluhan somatic, seperti ; kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan berat badan dan sebagainya. Depresi pada lansia juga tampil dalam bentuk pikiran agitatif, ansietas, atau penurunan fungsi kognitif. Sejumlah factor pencetus depresi pada lansia, antara lain factor biologic, psikologik, stress kronik, penggunaan obat.

Faktor Biologik misalnya factor genetic, perubahan structural otak, factor resiko vaskuler, kelemahan fisik, bahkan factor psikologik pencetus depresi pada lansia, yaitu tipe kepribadian, relasi, interpersonal ( Frank J.Bruno, 1997).

Frank J.Bruno dalam bukunya mengatasi depresi (1997) mengemukakan bahwa ada beberapa tanda dan gejala depresi, yakni ;

  1. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan.
  2. Distorsi dalam prilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika kondisinya telah parah seseorang cenderungakan kehilangan nafsu makan.
  3. Gangguan tidur. Tergantung tiap orang dan barbagai factor penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru banyak tidur.
  4. gangguan dalam aktifitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami depresi mungkin mencoba kelakuannya lebih dari kemampuannya dalam usaha untuk mengkomonikasikan idenya.
  5. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan “saya selalu merasa lelah”.
  6. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak efekti. Orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri.
  7. kapasitas menurun untuk bias berfikir dengan jernih dan untuk memecahkan masalah secara afektif. Orang yang mengalami depresi merasa kesulitan untuk mengfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah dalam jangka waktu tertentu. Keluhan umum yang sering terjadi adalah, “Saya tidak bias berkonsentrasi ?”/
  8. perilaku merusak diri tidak langsung, contohnya : penyalahgunaan alcohol / narkoba, nikotin, dan obat – obat lainnya. makan berlebihan, terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti diabetes, hypoglycemia, bias juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung.
  9. mempunyai pemikiran bunuh diri,merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung frank menambahkan bahwa tidak ada aturan yang pasti untuk setiap orang, tetapi merupakan konvensi untuk menyatakan bahwa kalau 5 atau lebih dari tanda – tanda atau gejala itu ada dan selalu terjadi, maka sangat mungkin seseorang mengalami depresi. Lain halnya jika seseorang mengalami gejala pada nomer 9, yakni punya keinginan untuk bunuh diri, maka Frank menganjurkan seseorang untuk segara mencari bantuan profesional secepat mungkin.
Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

model pendidikan kesehatan pada lansia

TUGAS KEPERAWATAN GERONTIK

MODEL PENDIDIKAN KESEHATAN PADA LANSIA

Disusun oleh:

Asri Wuria N.

Nim:07.005

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KABUPATEN MALANG

PROGAM DIII KEPERRAWATAN

2009

Model Pendidikan Kesehatan pada Lansia

1. Definisi manusia

Manusia adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan setruktur dan fungsi normalnya sehimgga tidak dapat bertahan terhadap infeksi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. (constantinildes,1994).

Dengan begitu manusia secara progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menumpuk makin banyak distorsi metabolic dan strukyural yang disebut sebagai penyakit degeneratif (seperti hipertensi,aterosklerosis, diabetes militus,dan kangker)

Adanya yang menganalogikan menuanya manusia seperti ausnya suku cadangan suatu mesin yang bekerja sangat kompleks yang bagian-bagiannya sangat komplek dan saling mempengaruhi. Analisis tidak setuju dengan hal ini karena manusia mempunyai jiwa dsan budaya yang banyak mempengaruhi fisiknya.

ASPEK PEMBINA KESEHATAN

2.PEDOMAN PEMBINA KESEHATAN

Tujuan pembinaan kesehatan bagi kaum lanjut usia adalah meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyrakat.

Mereka yang berusia 40-45 tahun (menjelang usia lanjut/masa virilitas) memerlukan informasi pengetahuan sebagai berikut;

  1. mengetahui sedini mungkin adanya akibat proses penuaan, misalnya adanya keluhan-keluhan :

mudah jatuh atu jatuh berulang kali,

mudah lelah,

nyeri dada,

berdebar-debar,

sesak nafas waktu melakukan kerja fisik dan lain-lain.

  1. mengetahui pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
  2. melakukan latihan kesegaran jasmani.
  3. melakukan diet dengan menu yang seimbang.
  4. Meningkstksn kegiatan sosial di masyarakat.
  5. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka yang berusia 55-64 tahun (masa presenium) memerlukan informasi pengetahuan mengenai hal-hal sebagai berikut :

  1. Pemeriksaan kesehatan secara berkala.
  2. Perawatan gizi/diet seimbang.
  3. Kegiatan olahraga/kesegaran jasmani.
  4. Perlunya berbagai alat bantu untuk tetap berdayaguna.
  5. Pengembangan hubungan sosial di masyarakat.
  6. Peningkatan hubungan sosial di masyarakat.
  7. Peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka yang berusia 65 tahun ke atas dan kelompok risiko tinggi memerlukan informasi pengetahuan sebagai berikut:

  1. Pembinaan diri sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi,aktuvitas di dalam maupun di luar rumah.
  2. Pemakaian alat bantu sesuai dengan kebuthan gan kemampuan yang ada pada mereka.
  3. Pemeriksaan secara berkala.
  4. Pearwatan Fisioterapi di rumah sakit terdekat.
  5. Latihan kesegaran jasmani.
  6. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Secara umum, tindakan-tindakan pencegahan praktis yang kiranya dapat dijalankan adalah sebagai berikut:

  1. Hindari berat badan yang telalu berat (obesitas atau overweight).
  2. Kurangi makanan dan pilihan makanan yang sesuai.
  3. Olahraga yang ringan dan teratur harus dilakukan.
  4. Faktor-faktor risiko penyakit jantung iskemik perlu dihindari. Ada tiga macam faktor:

faktor resiko yang tak dapat dihindari :umur, jenis kelamin,faktor keturunan.

faktor resiko yang sukar dihindari :kepribadian.

faktor resiko yang dapat dihindari/ diabatasi: merokok, hipertensi, diabetes melitus, kelebihan berat badan,hiperkolesterolemia.

  1. Menghindari timbulnya kecelakaan-kecelakaan.
  2. Tindakan-tindakan mengisi kehidupan
  3. Persiapan menghadapi pensiun.
  4. Pemeriksaan kesehatan secara periodik.

3. PROGRAM PEMELIHARAAN KESEHATAN

Tentunya kita semua sependapat bahwa tujuam pembinaan Lanjut Usia adalah agar mereka mandiri, berguna dan sejahtera. Oleh karena itu tentunya kemandirian, kegunaan dan kesejahteraan dapat dijadikan kriteria akan kualitas hidupnya. Untuk dapat menjalani hidup yang berkualitas diperlukan bekal. Bagi seorang lanjut usia bekal ini dapat berupa pengalaman ,pengetahuan dan keahlian, kearifan dan kesehatannya. Seseorang yang menjalani hidup secara normal dapat diasumsikan bahwa semakin tua, pengalaman juga semakin banyak, pengetahuannya akan luas, keahlianya semakin mendalam dan kearifanya semakin mantap. Namun demikian, kebugaran dan kesehatannya biasanya semaikn menurun. Bersama an dengan itu, menjelang memasuki saatnya memasuki lanjut usia bagi sebagian orang akan menimbulkan masalah-masalah yang berkaitan dengan hilangnya kedudikan formal dengan segala konsekwensinya serta perubahan-perubahan yang terjadi yang dirasakan sebagian hilangnya teman-teman dalam arti kata yang sesungguhnya.

Kesehatan yang dimaksud disini adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, sosial dan tidak sekedar bebas penyakit atau cacat. Kondisi kesehatan inilah yang pada hakikatnya menjadi penompang untuk mengamalkan pengalaman, ilmu, keahlian dan kearifan secara optimal. Kesehatan pada dasarnya dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu faktor keturunan, lingkungan upaya kesehatan dan perilaku. Terhadap faktor keturunan tuntunya kita tidak bisa bebuat apa-apa, dalam arti bahwa sesuatu yang diturunkan akan melekat pada diri kita untuk selama-lamanya.dalam hal yang berkaitan dengan lingkungan , dalam banyak hal kita sering tidak mempunyai pilihan kecuali kita bisa memperbaikinya sendiri-sendiri maupun secara kolektif. Upaya kesehatan terutama menjadi tanggung jawab instintusi kesehatan. Tetapi menyangkut masalah perilaku sepenuhnya terletak di tangan orang masing-masing.

Dengan perilaku yang sehat , interaksi orang dengan limgkungannya maupun upaya kesehatan dapat menghasilkan kualitas hidup yang memadai dan mungkin juga umur panjang. Program tiga sehat pada hakikatnya adalah sebuah program perilaku. Disebut tiga sehat oleh karena mempunyai tiga komponen, yaitu mental, olahraga dan gizi, ketiganya merupakan tritunggal. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal ketigannya harus dijalankan tanpa mengabaikan salah satu. Sebagai program perilaku, keberhasilan program ini akan sangat tergantung pada niat dan ketentuan yang menjalaninya.

Pokok-pokok kegiatannya sebagai berikut:

  1. Olahraga secara teratur minimal 3 kali dalam seminggu yakni berjalan kaki, kalau bisa dengan kecepatan 6 km/jam selama 45 menit sampai 1 jam setiap kalinya. Kecepatan ini disesuaikan dengan kemampuan, yang terpenting adalah teraturnya olahraga tersebut dijalankan.
  1. Diet dengan pedoman sebagai berikut :
  1. Susunan makanan yabg beraneka ragam,
  2. Mengurangi konsumsi gula,
  3. Mengurangi konsumsi garam,
  4. Membatasi konsumsi lemak,
  5. Meningkatkan serat dan pati sebagai sumber kalori
  6. Untuk menjaga disiplin, kiat yang dapat dijalankan adalah 3 kali seminggu pada hari senin, Rabu, Jumat tidak mengkonsumsi sama sekali makanan hewani. Sedangkan pada hari-hari lainnya berpedoman kepada apa ang disebutkan di atas.

Dalam kaitanya dengan mental, diusahakan:

  1. Tetap aktif secara mental,
  2. Tetap aktif dalam kehidupan sosial,
  3. Menerima proses menjadi tua dengan ikhlas dan menyesuaikan diri dengan realitas,
  4. Menjahui polusi mental,
  5. Meningkatkan kehidupan spiritual.

Dalam konteksnya dengan program tiga sehat ini, kegiatan olahraga dilakukan di luar tempat yang rutin, untuk lebih meningkaykan kegairahan fisik maupun mental.selanjutnya, sekali dalam sebulan, yaitu setiap hari rabu pertama pada sore hari, dilaksanakan pertemuan sosial yang diisi ceramah-ceramah dengan yang bervariasi.

Semua kegiatan diatas dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan berkala yang dilakukan sekali dsalam setahun. Evaluasi sementara memberikan kesehatan berikut:

  1. Program tiga sehat yang diterapkan kepada purnawirawan dan warakawuri dirasakan dengan mengairahkan kehidupannya serta menjdi cara untuk menghilangkan stres.
  2. Dirasakan meningkatnya kebugaran serta menurunnya frekwensi keluhan sakit yang tidak jelas (masuk angin).
  3. Menurunya kebutuhan akan obat-obatan bagi mereka yang menderita penyakit tertentu.

4.PENGOBATAN BAGI KAUM LANSIA

Sudah barang tertentu kelainan di atas sebaiknya dicegah agar sampai berkeanjutan. Sering kali kelainan ini dirasakan sebagai suatu pukulan hebat. Berat ringannya penderitaan yang dialami ini ditentukan oleh kepribadian ,faktor lingkungan seperti faktor sosio-budaya setempat serta faktor kewajiban dan orang-orang yang brada di sekitarnya.

WHO menekankan perlunya pelatuhan dan informasi bagi keluarga, teman dan tetangga yang memberi perawatan dan bantuan bagi kaum lanjut Usia secara informal. Ada beberapa bidang tindakan pencegahan penyakit bagi kaum lanjut Usia. Mulai dari imunisasi flu dan radang paru-paru serta penghentian rokok dapat dikurangi risikon terserang kangker paru-paru maupun penyakit jantung, walaupun usia mereka sudah 70-an, Bentuk pencegahan yang lain adalah screening untuk penglihatan, pendengaran, kangker, kolesterol darah dan lain-lain.

Kaum lanjut usia perlu terus melakukan kegiatan sehari-hari ,mencegahterjadinya peristiwa yang kurang baik atau berbahaya, juga meningkatkan dan mempertahankan aktivitas mental serta fisik semaksimal mungkin.

Anggapan bahwa usia 70 tahun sekaramg ini belum terlalu tua jika dibanding 40 tahun lalu, karena sekarang banyak orang merasa bahwa lanjut Usia bukanlah sesuatu yang harus disesali tetapi disyukuri dan dinikmati. Yang menyesali usia tua adalah oerang-orang yang tidak bahagia,tidak dinamis dan tidak kreatif-produktif. Sebalinya, ada orang tua yang merasa ”tidak pernah tua”tapi terus ” berjiwa muda”. Golongan ini adalah mereka yang karena kecintaanya kepada profesi tetap aktie dan tetap mengetahui apa yang terjadi.

Orang yang semasa mudanya aktif tentuakan merasa sangat tertekan jika diusia lanjutnya tidak mepunyai aktivitas lagi. Oleh karena itu perlu ada aktivitas ringan umtuk kesehatan jiwa dan fisiknya. Yang terpenting bagi para lanjut Usia adalah mengenal dirinya sendiri, sehingga hal yang dianggapsebagai gejala awal dari”ketegangan yang berlebihan” dapat dideteksi secara awal.

Ternyata kebiasaan hidup merupakan cara yang paling tepat untuk menghindari penyakit jantung koroner, dan kegiatanya mencakup mengurangi perilaku buruk yang sudah terlanjur menjadi kebiasaaan, misalnya : kebiasaan merokok, kebiasaan makan/jajan yang berlebihan. Dianjurkan berolahraga secara teratur, mengurangi berat badan, cara makan dan diet perluh diubah, dan pengecekan medik secara teratur(laboratorium dan X ray dan sebagainya). masih ada lagi cara relaksasi yang mudah yang dapat dilaksanakn oleh mereka yang mau melatih diri, antara lain meditasi atau latihan untuk relaks dengan membayangkan tempat yang paling indah dan paling aman di dunia ini.

fungsi alat-alat tertentu pada Lanjut Usia sangat berbeda, misalnya proses enzim, fungsi pencernaan, ginjal dan lain-lain, sehingga mengunakan obat juga sangat berbeda dibandingkan orang muda. kita perlu berhati-hati mengunakan obat. misalnya dengan menghindarkan obat dosis tinggi. Namun,bukan berarti kita tidak boleh menggunakan dosis tinggi. Infeksi yang serius tepat dan biasanya berdosis lebih tinggi.

Jadi, yang perlu diperhatikan adalah :

  1. Efek dari obat yang diberikan.
  2. Selalu memakai dosis terendah namun efektif.
  3. Memakai obat-obat dengan sedikit mungkin variasi, karena daya kaum lanjut usia mulai berkurang terutama hal-hal yang baru terjadi, sehingga tidak jarang salah makn obat, luoa, atau keliru dosisnya.
  4. Jangan sekali –kali mengunakan obat untuk menghilangkan gejala sakit tanpa mengetahui terlebih dulu penyakitnya, sebab sering sekali seorang penderita yang sudah terbiasa meminum suatu obat, walaupun sebenarnya tidak berguna, merasa tergantung bila pemakaian obat ini dihentikan.
  5. jangan sekali makan obat tertentu untuk mengairahkan hidup secara terus-menerus, sebab hal ini justru akan bertentangan dengan prinsip pengobatan.
  6. bila setelah memakan suatu obat tambahan ternyata gejala bertambah buruk, sebainya dihentikan. kita harus selalu waspada akan efek samping yang mungkin masih belum diketahui dari suatu obat.
  7. Semua obat harus segera dihentikan pemakaianya bila sudah tidak perlu. sebab itu sebaiknya dianjurkan untuk sering mengadakan review pada pemakain obat.

5.PENGOBATAN TRADISIONAL

Para lanjut usia cenderung memiliki kondisi yang kurang baik dibanding ketika muda, sehngga mud terserang berbagai penyakit seperti jantung koroner, pengerasan pembulu darah, tekanan darah tinggi , diabetes, gangguan persendian,alat gerak , pikun,depresi dan sebagaianya. untuk mengatasi berbagai penyakit itu dapat dipakai bahan-bahan alamiah yang berkhasiat. misalnya, penderita tekanan darah tinggi dapat menggodok daun sambiloto dan seledri atau boleh juga mengkonsumsi acang cuka, rumput laut, jamur hioko, kucai atau seledri. Penderita kencing manis (diabetes) dapat mengkonsumsi labu parang,pare, kangkung, cuka hitamdan sambiloto untuk untuk meningkatkan fungsi pangkreas untuk memproduksi insulin. sedangkan untuk meningkatkan gairah hidup atau para lanjut usia yang kurang tenaga dapat mengunakan biji kucai dan biji pare. jika ingin meningkatkan stamina agar kelihatan segar dan berseri sebaiknya lebih banyak mengkonsumsi cuka hitam dan cuka hitam dalam makanan sehari-hari, karena cuka hitam sangat bekhasiat terutama untuk para lanjut Usia yang sering mengalami pengerasan pembuluh darah, rematik,jantung koroner , stroke dan sebagainya. Heh hijau pun sangat cocok bagi para Lanjut Usia.

Selain memilih makanana yang berkasiat, diperlukan juga strategi pencegahan dan pengobatan, yakni menghindari stres, istirahatnya yang cukup dan bersyukur akan nikmat yang telah diberikan Tuhan. Cara ini sangat efisien, aman, efektif dan tentu saja ekonomis. Strategi pencegahan dan pengobatan yang dapat dilakukan adalah akupuntut, akupteser, pijat, pijat refleksi, kop, kerikakupuntur stamina yang letih, lesu , lemah , kurang bergairah hingga hidup penuh keseimbangan ! Olahraga juga perlu diiringi dengan makanan bergizi tetapi tidak perlu mahal, jamur, asparagus, royal jeli dan tumbuhan lain yang berkasiat sebagai obat (food therapy)

DAFTAR PUSTAKA

Hardywinoto,dkk.Panduan Gerontologi Tinjauan Dari Berbagai Aspek (Menjaga Keseinbangan Kualitas Hidup Para Lanjut Usia).Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

Model Pendidikan Kesehatan pada Lansia.doc

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

tren dan isu keperawatan gerontik

DISUSUN OLEH:

ANI RISALATUL M 07.40.003

DELLA CRISTIANTO 07.40.012

HENY SUSANTI 07.40.021

MASRUROH 07.40.030

RIKA LUTFIATI 07.40.039

VIKY ILHAM 07.40.048

PEMBIMBING: ERFANDI

TREN DAN ISU KEPERAWATAN GERONTIK

  1. DEFINISI

Kerawatan gerontik adalah serangkaian kegiatan yang diberi via praktek keperawatan kepada keluarga untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.. Keberhasilan keperawatan di R.S dapat menjadi sia – sia jika dilanjutkan oleh keluarga di rumah. Keluarga sebagai titik sentral pelayanan kesehatan. Keluarga yang sehat akan mempunyai anggota yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat. Askep yang diberikan berdasarkan pada masalah kesehatan dari setiap anggota keluarga.

  1. AGAR PELAYANAN KESEHATAN YANG DIBERIKAN DAPAT DITERIMA OLEH KELUARGA

– harus mengerti & memahami tipe & struktur keluarga
– tahu tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya
– perlu pemahaman setiap tahap perkembangan dan tugas perkembangan

C. TINDAKAN PENGKAJIAN YANG DILAKUKAN UNTUK MENGETAHUI SEJAUH MANA KELUARGA MEMENUHI TUGAS PERKEMBANGANNYA
Tind promosi : Jika keluarga belum memenuhi seluruh tugas perkembangannya.
Tind prefentif : Agar keluarga mampu mencegah munculnya masalahpada perkembangan berikutnya.

D. TAHAP UNTUK PASANGAN BARU/KELUARGA BARU

  • Saat masing –masing individudan membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluuk mendarga masing-masing.
  • Mempersiapkan keluarga yang baru
  • Membutuhkan peran dan fungsi sehari-hari
  • Belajar hidup bersama, beradaptasi dengan kebiasaan sendiri & pasangannya.
  • Anggota dari 3 keluarga yaitu :keluarga suami, istri & keluarga sendiri.
  • Masing –masinkan menghadapi perpisahan dengan keluarga orang tuanya , mulai membina hubungan baru dengan keluarga & kelompok sosial pasangan .
  • Yang perlu diputuskan yaitu : kapan waktu yang tepat untuk mdapatkan/ & jumlah yang diharapkan.

E. TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA

* membina hubungan intim yang memuaskan.
* menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.
* Mendiskusikan rencana memiliki anak / KB.

Tugas 1 : Membina hubungan intim yang memuaskan :

  • Akan menyiapkan kehidupan bersama yang baru
  • Sumber-sumber dari 2 orang digabungkn.
  • Peran berubah.
  • Fungsi baru diterima.
  • Belajar hidup bersama sambil memenuhi kebutuhan kepribadian yang mendasar.
  • Saling menyesuaikan diri terhadap hal yang kecil yang bersifat rutinitas

Keberhasilan dlm mengembangan hubungan tergantung :

  • Saling me~kn diri
  • Kecocokan dari kebutuhan & minat pasangan.

Dalam hubungan yang sehat dapat memecahkan masalah:berhubungan dengan kemampuan pasangan umtuk saling empati,saling mendukumg,komunikasi terbuka,sopan, pendekatan terhadap konflik atas saling menghormati.

Tgs 2 : Menjalin persaudaraan secara harmonis.

Pasangan menghadapi tugas memisahkan diri dari keluarga asal & mengupayakan hubungan dengan orang tua pasangan, sanak saudara,ipar.
- loyalitas utama harus dirubah untuk kepentingan perkawinannya.
 menuntut p’tukan hubungan baru dengan setiap orang tua masing – masing.

Tgs 3 : Perencanaan memiliki Anak / KB.

Masalah kesehatan : penyesuaian seksual & peran perkawinan.
Pendidikan kesehatan & contoh KB, prenatal, komunikasi.
Info : seksual, emosional, ketakutan, rasa bersalah, kehamilan yang direncanakan.

Keluarga child bearing : Klg yang menantikan kelahiran , dimulai dari kehamilan sampai kelahiranan/ pertama & berlanjut sampai dengan usia 30 bln.Kehamilan & kelahiran bayi perlu dipersiapkan oleh pasangan suami istri untuk menyiapkan beberapa tugas perkembangan yang penting.

Persiapan menjadi Orang tua

  • Adaptasi dg perubahan anggt klg peran, interaksi, hubungan seksual & peran..
  • Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.

Kelahiran bayi pertama memberi perubahan yang besar dalam keluarga, sehingga pasangan harus beradaptasi dengan perannya untuk memenuhi kebutuhan bayi.
Ibu & ayah sering berselisih, peran tersebut sulit karena perasaan ketidakadekuatan orang tua baru, kurang bantuan dari teman / keluarga, ibu letih secara fisik & psikologis. Sikap orang tua mengasuh, berinteraksi, respon bayi tersebut, dampak penting dari sentuhan & kehangatan awal post melahirkan, stimulasi bayi, biasanya ayah tetap netral seperti biasanya, sedang wanita secara cepat menyesuaikan diri dengan struktur keluarga yang baru. Orang tua melewati tahap selama masa bayi ( mempelajari arti dari isyarat ekspresi bayi ).

Belajar untuk menerima tumbang anak.

Pada orang tua dengan anak pertama : perlu bimbingan dan dukungan.
Orang tua harus : menguasai kebutuhan anak akan keselamatan, latihan BAK, saat tepat mengajari mereka, bimbimgan dalam tugas – tugas yang mereka hrarus kuasai.
Konflik dengan orang luar yang mencoba membantu pengasuhan anak.
Meliputi : walau kakek nenek kadang jadi sumber pertolongan, tetap ada perbedaan nilai & harapan – harapan antar generasi tersebut.

Masalah – masalah kesehatan pada tahap ini :

  • Pendidikan maternitas yang terpusat pada keluarga.
  • Perawatan bayi yang baik.
  • Pengenalan & penanganan masalah – masalah kesehatan fisik secara dini.
  • Imunisasi.
  • KB.
  • Interaksi keluarga & gaya hidup ( bidang – bidang kesehatan umum).
  • Ketidakadekuatan fasilitas – fasilitas perawatan anak untuk ibu yang kerja.
  • Hub orang tua dan anak.
  • Pengasuhan anak
  • Masalah transisi peran orang tua.

1. PENGKAJIAN SESUAI TAHAP PERKEMBANGAN.

Fokus : siklus kehidupan keluarga  stres yang menimpa keluarga & masalah – masalah yang actual.

Area – area pengkajian :

  • Tahap perkembangan keluarga saat ini.
  • Sejauh mana keluarga memenuhi tugas – tugas perkembangan saat ini.
  • Riwayat keluarga sejak lahir .
  • Keluarga asal kedua orang tua ( seperti apa keluarga asal,hubungan masa lalu & sekarang).
  • Pengalaman & persepsi keluarga dalam melewati siklus kehidupan keluarga.

Riwayat perkembangan keluarga :

  • Tanya pengalaman – pengalaman & tugas – tugas umum, bagaimana hal tersebut dicapai,dirasakan.
  • Masalah pengalaman keluarga yang unik.
  • Data mereka tentang hubungan di masa lalu & sekarang dengan orientasi kkeluarga mereka & bentuk kehidupannya  memberi Perawat : pemahaman tentang orang tua mereka selama tahun – tahun pertumbhuhan mereka.

Gali Riwayat Keluarga:

pertemuan pertama pasangan, hubungan sebelum menikah, bagaimana memutuskan untuk menikah.
Halangan – halangan terhadap perkawinannya, respon terhadap perkawinan.
Bagaiman membuat tugas & peran sebelum ada anak.
Kehidupan keluarga asal.
Siapa orang lain yang tinggal di rumah tersebut.
Deskripsi orang tua & hubungannya.
Rencana untuk punya anak.
Berapa lama berkumpul bersama.
Rutinitas keluarga sehari – hari.

Intervensi :

Tujuan : membantu keluarga & anggotanya bergerak ke arah penyelesaian tugas – tugas perkembangan individu & keluarga.

Penguasaan satu kumpulan tugas – tugas perkembangan keluarga memunginkan keluarga  bergerak maju ke arah tahap perkembangan berikutnya.Jadi, tugas – tugas perkembangan keluarga tidak terpenuhi  hasil keluarga disfungsional.

Membantu keluarga mencapai & mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan pertumbuhan pribadi dari anggota keluarga secara individual & fungsi yang optimum ( kebutuhan pertumbuhan keluarga).

Dengan keluarga yang sehat  bimbingan antisipasi & penyuluhan  untuk mencapai tujuan prevensi primer.

Membantu keluarga mengantisipasi & melewati transisi normatif yang beda dalam kehidupan keluarga.

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

harapan lansia terhadap para pemuda

DISUSUN OLEH : VIKI ILHAM. F (07.40.048)

PEMBIMBINNG : ERFANDI, SKep.Ns

MINI RISET TENTANG

HARAPAN LANSIA TERHADAP PARA PEMUDA

PERTANYAAN YANG DIAJUKAN:

  1. Bagaimana tanggapan anda tentang pemuda jaman sekarang ?
  2. Bagaiman tanggapan anda tentang anda pada jaman dahulu ?
  3. Apa perbedaan pemuda jamn sekarang dan jaman dahulu ?
  4. Harapan anda pada para pemuda ?
  5. Pesan – pesan anda pada para pemuda !

JAWABAN RESPONDEN :

  • RESPONDEN 1 ( Tn. B / 60th / L / kawin )
  1. Menurut saya pemuda jaman sekarang sangat menghawatirkan sekali, karena maraknya berbagai alat – alat yang sangat canggih sehingga mengakibatkan para pemuda mengikuti dan meniru apa – apa yang sudah dilihatnya.
  2. Kalau pemuda jaman dahulu itu sangat menghargai dan menghormati kepada yang lebih tua, karena pada jaman dahulu masih belum ada alat – alat yang canggih seoerti saat ini.
  3. Perbedaan pemuda jaman sekarang dan dulu sangat terlihat sekali, misalnya saja mengenai peralatan jaman sekarang yang sangat canggih, sedangkan jaman dulu masih belum ada peralatan – peralatan seperti saat ini.
  4. Harapan saya pada para pemuda adalah agar dapat memanfaatkan fasilitas yang ada sekarang untuk kepentingan yang positif, tidak dipergunakan untuk kepentingan yang negative.
  5. Pesan – pesan saya kepada para pemuda :
  • Agar para pemuda dapat memanfaatkan semua peralatan sekarang yang sangat canggih ini tetapi juga harus pandai – pandai menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
  • RESPONDEN 2 ( Tn. SR / 63th / L / kawin )
  1. Menurut saya pemuda jaman sekarang kurang menghormati pada orang tua, karena mereka para pemuda tidak mempunyai rasa takut, mereka mengikuti gaya bergaul yang ada di tv.
  2. Pemuda jaman dulu sangat menghargai dan menghormati orang tua karena mereka masih mempunyai rasa takut.
  3. Perbedaan pemuda jaman sekarang dan dahulu dapat dilihat dengan sangat jelas sekali, misalnya saja mengenai budi pekerti.
  4. Harapan saya pada pemuda adalah agar budi pekerti jauh lebih diperbaiki, karena itu sangat penting sekali bagi kehidupan ini.
  1. Pesan – pesan saya pada para pemuda :
  • Agar para pemuda menghargai dan menghormati dan menghargai semua orang.
  • RESPONDEN 3 ( Tn. JM / 66th / L / kawin )
  1. Pemuda jaman sekarang banyak yang terjerumus pada pergaulan bebas, misalnya saja narkoba.
  2. Kalau pemuda jaman dulu mengikuti semua yang dikatakan orang tua ya walaupun ada yang melanggar, tetapi tidak seperti saat ini.
  3. Perbedaan pemuda sekarang dengan pemuda dulu sangat bisa dilihat dengan kasat mata, misalnya saja dari segi pergaulannya.
  4. Harapan saya pada pemuda adalah agar para pemuda tidak terjerumus pada pergaulan bebas dan narkoba.
  5. Pesan – pesan saya pada pemuda :
  • Agar para pemuda tidak terjerumus pada pergaulan bebas, bisa memilah dan memilih mana pergaulan yang benar dan mana yang salah.
  • RESPONDEN 4 ( Tn. S / 59th / L / kawin )
  1. Pemuda jaman sekarang memang banyak yang berlaku negative, tetapi jangan dipandang dari segi negatifnya saja. Masih banyak hal positif yang bisa diberikan pemuda, misalnya saja pemuda kita yang menjadi atlet pada cabang – cabang olahraga.
  2. Pemuda jaman dahulu perilakunya juga tidak semuanya positif, yang negative juga banyak. Tetapi mmemang yang tersorot adalah peilaku pemuda jaman sekarang..
  3. Perbedaannya banyak sekali, salah satunya pada perkembangan IPTEKnya.. Jaman sekarang peralatannya sangat canggih dan modern.
  4. Harapan saya pada pemuda, agar pemuda bisa meningkatkan prestasi – prestasi yang sudah diraih. Dan membuktikan pada semua orang kalau pemuda sekarang jangan hanya dilihat sisi negatifnya saja.
  5. Pesan saya pada pemuda :
  • Agar tidak terjerumus pada pergaulan – pergaulan yang dapt merusak moral mereka.
  • Agar pemuda meningkatkan prestasi yang sudah diraih sekarang.
  • RESPONDEN 5 ( Tn. MS / 78th / L / duda )
  1. Tanggapan saya pada pemuda adalah, pemuda jaman sekarang pandai – pandai, banyak sekali prestasi yang sudah diraih oleh para pemuda. Tetapi banyak juga yang terjerumus pada pergaulan yang negative.
  2. Pemuda jaman dulu kurang berkembang, karena mereka kurang percaya diri mengapresiasikan kemampuan dan bakatnya.
  3. Perbedaannya bisa dilihat dari perkembangan peralatan – peralatan yang sangat canggih, misalnya saja HP.
  4. Harapan saya pada pemuda bisa mengambil manfaat yang baik dari peralatan yang modern, menjadi pemuda yang berprestasi.
  5. Pesan untuk pemuda :
  • Menghindari ajakan yang bersifat negative dan menjerumuskan.
  • Meningkatkan prestasinya disegala bidang terutama yang menjadi kompetensinya.
  • Lebih meningkatkan kepercayaan dirinya.
  • RESPONDEN 6 ( Tn. J / 87th / L / duda )
  1. Tanggapan saya tentang pemuda jaman sekarang adalah rendahnya moral mereka sehingga rasa menghormati terhadap orang tua sudah tidak ada lagi.
  2. Kalau pemuda jaman dulu, rasa menghormati kepada orang tua itu llebih bagus daripada sekarang. Mereka mempunyai rasa takut terkena azab jika tidak menghormati orang lain.
  3. Perbedaanya sangat jelas, yaitu mengenai rendahnya moral pemuda jaman sekarang.
  4. Harapan saya pada pemuda adalah agar lebih menghormati orang lain terutama orang tua.
  5. Pesan untuk pemuda :
  • Agar lebih menghormati orang tua.
  • Agar moralnya lebih diperbaiki lagi.
  • RESPONDEN 7 ( Tn. Z / 63th / L / kawin )
  1. Tanggapan saya tentang pemuda jaman sekarang : banyak sekali pemuda – pemuda sekarang yang berprestasi di segala bidang, tetapi banyak juga yang terjerumus ke pergaulan bebas.
  2. Kalau pemuda jaman dulu juga banyak yang berprestasi tapi, fasilitasnya kurang mendukung jadi hanya menjadi bakat terpendam saja.
  3. Perbedaan pemuda sekarang dan dulu, kalau sekarang bisa dengan mudah mengembangkan bakat yang dimiliki karena fasilitas yang memadai, tetapi kalau dulu hanya menjadi bakat terpendam saja karena fasilitasnya yang belum mencukupi.
  4. Harapan saya pada pemuda : agar bisa memanfaatkan fasilitas yang serba mencukupi sekarang untuk mengembangkan prestasi yang dimiliki masing – masing.
  5. Pesan saya pada para pemuda :
  • Lebih meningkatkan prestasinya karena fasilitasnya sekarang sangat canggih dan modern.
  • RESPONDEN 8 ( Tn. A / 69th / L / kawin )
  1. Menurut saya pemuda jaman sekarang kebanyakan hanya hura – hura saja, main sana main sini dan kurang sopan kepada orang tua.
  2. Pemuda jaman dulu lebih banyak membantu orang tua karena kehidupan dulu serba kekurangan.
  3. Perbedaan pemuda dulu dan sekarang sangat jelas sekali, mengenai kesopanan salah satunya.
  4. Harapan saya pada pemuda : agar menjadi pemuda yang berguna bagi semua orang jangan hanya hura – hura dan main – main saja.
  5. Pesan pada pemuda :
  • Agar lebih sopan pada orang tua
  • Meningkatkan prestasi bukan hanya main – main saja.
  • RESPONDEN 9 ( Ny. H / 77th / L / janda )
  1. Pemuda jaman sekarang kurang menghormati orang tua.
  2. Pemuda dulu kurang percaya diri.
  3. Perbedaan pemuda dulu dan sekarang, kalau sekarang fasilitasnya serba canggih sedangkan dulu fasilitasnya masih sangat kurang.
  4. Harapan saya pada pemuda agar menjadi pemuda yang berguna.
  5. Pesan pada pemuda :
  • Agar lebih menghormati orang tua dan bisa memanfaatkan fasilitas yang ada.
  • RESPONDEN 10 ( Ny. K / 60th / P /kawin )
  1. Pemuda sekarang hanya bermain – main saja kurang inisiatif.
  2. Pemuda dulu lebih banya diam dan kurang percaya diri.
  3. Perbedaan pemuda dulu dan sekarang, pemuda dulu bakatnya hanya bisa terpendam kalau sekarag bisa dengan mudah dikembangkan karena fasilitasnya yang memadai.
  4. Harapannya pada pemuda, agar menjadi pemuda yang mandiri dan bisa membantu orang tuanya.
  5. Pesan pada pemuda :
  • Aga lebih bisa menghargai orang lain dan bisa memanfaatkan fasilitas yang ada sekarang.
  • RESPONDEN 11 ( Ny. W / 64th / P / kawin )
  1. Pemuda sekarang banyak yang berprestasi tetapi ada juga yang terjerumus pada narkoba.
  2. Pemuda dulu kurang percaya diri.
  3. Perbedaannya pada fasilitas yang ada, sekarang lebih canggih daripada dulu.
  4. Harapan saya pada pemuda, agar menjadi pemuda yang bisa dibanggakan dan berprestasi.
  5. Pesan :
  • Agar lebih menghormati orang tua dan bisa menjadi panutan bagi generasi penerusnya.
  • RESPONDEN 12 ( Ny. S / 63th / P / kawin )
  1. Pemuda sekarang, sangat berprestasi.
  2. Pemuda dulu kurang percaya diri.
  3. Perbedaannya, mungkin bisa diambil salah satu yaitu dari segi fasilitasnya.
  4. Harapan saya pada pemuda, agar menjadi pemuda yang berguna bagi semua orang.
  5. Pesan :
  • Agar lebih meningkatkan prestasinya.
  • RESPONDEN 13 ( Ny. P / 79th / P / janda )
  1. Pemuda sekarang kurang menghormati orang yang lebih tua.
  2. Pemuda dulu kurang mengembangkan bakatnya.
  3. Perbedaannya, fasilitas dulu kurang memadai sedangkan sekarang sangat canggih.
  4. Harapan pada pemuda, agar meningkatkan prestasinya.
  5. Pesan :
  • Agar lebih menghormati orang tuanya dan meningkatkan prestasinya.
  • RESPONDEN 14 ( Ny. WG / 84th / P / janda )
  1. Pemuda sekarang kurang sopan dengan orang tua.
  2. Pemuda dulu kurang mengembangkan prestasinya.
  3. Perbedaannya, perkembangan peralatannya dulu sangat kurang, tetapi kalau sekarang sangat maju dan modern.
  4. Harapan pada pemuda, menjadi pemuda yang berguna bagi semua orang.
  5. Pesan :
  • Agar lebih sopan pada orang tua dan bisa memanfaatkan yang ada sekarang.
  • RESPONDEN 15 ( Tn. D / 77th / L / duda )
  1. Pemuda sekarang, banyak yang berprestasi tetapi banyak juga yang terjerumus pada pergaulan bebas.
  2. Pemuda dulu, juga banyak yang berprestasi tetapi tanpa didukung fasilitas yang memadai.
  3. Perbedaannya, dari segi fasilitas yang ada sekarang dan dulu.
  4. Harapan pada pemuda, menjadi pemuda yang lebih berprestasi.
  5. Pesan :
  • Agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas.
  • RESPONDEN 16 ( Tn. SD / 63th / L / kawin )
  1. Pemuda jaman sekarang sangat menghawatirkan, banyak yang terjerumus pada pergaulan bebas dan narkoba. Tetapi banyak juga yang sukses dan berprestasi.
  2. Pemuda dulu juga begitu, ada yang terjerumus pada pergaulan yang salah, tetapi ada juga yang berprestasi.
  3. Perbedaannya, mungkin dari segi fasilitas. Dulu masih minim sekali dan belum canggih seperti sekarang ini.
  4. Harapan saya pada pemuda, agar lebih berprestasi dan tidak mudah tergoda pada pergaulan yang salah.
  5. Pesan :
  • Agar lebih hati – hati dan tidak mudah percaya ajakan orang lain.
  • RESPONDEN 17 ( Tn. P / 70th / L / kawin )
  1. Menurut saya pemuda sekarang sangat kreatif, karena bisa memanfaatkan barang – barang yang sudah tidak digunakan menjadi barang yang berguna.
  2. Pemuda dulu, sebbenarnya juga kreatif tapi terganjal pada peralatan yang belum memadai.
  3. Perbedaannya, mungkin pada peralatan sekarang yang serba canggih ini.
  4. Harapan pada para pemuda, agar lebih meningkatkan kreatifitasnya karena sudah didukung oleh peralatan yang memadai dan canggih.
  5. Pesan :
  • Lebih mengembangkan kreatifitasnya.
  • RESPONDEN 18 ( Tn. SH / 70th / L / kawin )
  1. Pemuda sekarang pintar dan kreatif, tetapi banyak juga yang terjerumus pada narkoba.
  2. Pemuda dulu, juga kreatif tapi kurang percaya diri mengapresiasikannya.
  3. Perbedaannya, munkin saya lihat dari segi tata kramanya.
  4. Harapan saya pada pemuda, menjadi pemuda yang berguna bagi semua.
  5. Pesan :
  • Kesopanannya lebih ditingkatkan lagi.
  • Agar menjauhi narkoba supaya tidak ikut terjerumus.
  • RESPONDEN 19 ( Tn. G / 66th / L / kawin )
  1. Pemuda sekarang terlalu manja, jadi tidak mau kalau disuruh kerja yang susah – susah.
  2. Pemuda dulu, pekerja keras.
  3. Perbedaannya, mungkin dari keuletan bekerjanya.
  4. Harapan saya pada pemuda, menjadi pemuda yang berguna.
  5. Pesan :
  • Agar tidak mudah putus asa..
  • RESPONDEN 20 ( Tn. M / 69th / L / kawin )
  1. Pemuda sekarang mudah putus asa, kurang ulet kalau bekerja.
  2. Pemuda dulu, sangat tekun dan pantang menyerah.
  3. Perbedaannya, pemuda dulu tekun dan pantang menyerah, pemuda sekarang mudah putus asa.
  4. Harapan pada pemuda, menjadi pemuda yang tekun dan ulet dalam bekerja dan tidak mudah menyerah.
  5. Pesan :
  • Lebih semangat lagi kalau bekerja dan tidak mudah menyerah.
  • RESPONDEN 21 ( Tn.MT / 63th / L / kawin )
  1. Pemuda sekarang kurang menghormati orang tua, mudah putus asa, banyak yang terjerumus pada pergaulan bebas dan narkoba. Tetapi banyak juga yang berprestasi.
  2. Pemuda dulu, tekun dan ulet dalam bekerja tetapi banyak juga yang salah dalam pergaulannya.
  3. Perbedaannya, mungkin bisa diambil salah satu, yaitu mengenai fasilitasnya. Sekarang lebih canggih dari dulu.
  4. Harapan pada pemuda, menjadi pemuda yang mandiri dan ulet dalam bekerja. Agar menjadi pemuda yang berguna bagi semua.
  5. Pesan :
  • Agar lebih menghormati oaring tua.
  • Agar tidak mudah menyerah.
  • Menghindari pergaulan yang salah.
  • RESPONDEN 22 ( Tn. SP / 60th / L / kawin )
  1. Menurut saya pemuda sekarang, sangat kreatif dan bisa memanfaatkan fasilitas yang ada untuk kepentingan semua. Tetapi ada juga yang memanfaatkan fasilitas untuk perbuatan yang salah.
  2. Pemuda dulu, rasa kekeluargaannya masih tinggi dan ulet dalam bekerja.
  3. Perbedaannya, sekarang rasa individualisnya lebih tinngi sedangkan dulu rasa kebersamaannya masih sangat dijaga dengan kuat.
  4. Harapan pada pemuda, agar menjadi pemuda yang mandiri dan menjadi pemuda yang berprestasi sehingga dapat bermanfaat bagi semua.
  5. Pesan :
  • Mengurangi rasa individualisnya.
  • Agar tidak mudah terpengaruh pada ajakan – ajakan yang menjerumuskan.
  • RESPONDEN 23 ( Ny. T / 76th / P / kawin )
  1. Pemuda sekarang, rasa hormat pada orang tua sangat rendah.
  2. Pemuda dulu, tidak mudah putus asa dan tekun dalam bekerja.
  3. Perbedaannya, pemuda sekarang mudah putus harapan kalau dulu tekun dalam bekerja dan pantang menyerah.
  4. Harapan pada pemuda, menjadi pemuda yang sukses dan mandiri.
  5. Pesan :
  • Agar lebih menghormati orang tua.
  • Agar lebih tekun lagi kalau bekerja dan tidak mudah menyerah.
  • RESPONDEN 24 ( Ny.N / 65th / L / kawin )
  1. Pemuda sekarang, pintar kreatif tapi kadang kurang sopan.
  2. Pemuda dulu, rasa percaya dirinya kurang.
  3. Perbedaannya, pemuda sekarang kekreatifannya bisa terwujud karena didukung oleh fasilitas yang modern, kalau pemuda dulu hanya bisa berandai – andai saja.
  4. Harapan pada pemuda, menjadi pemuda yang kuat dan berguna.
  5. Pesan :
  • Agar lebih sopan pada orang tua.
  • Agar lebih giat bekerja.
  • RESPONDEN 25 ( Ny. L / 70th / L / janda )
  1. Pemuda sekarang bisa berprestasi disemua bidang, tetapi banyak juga yang salah memanfaatkan fasilitas yang ada.
  2. Pemuda dulu, sebenarnya keinginan untuk maju itu sangat besar, tetapi fasilitas yang kurang mendukung.
  3. Perbedaannya, dari segi fasilitasnya. Sekarang sangat canggih dibandingkan dulu.
  4. Harapan pada para pemuda, agar menjadi pemuda yang sukses dan berhasil.
  5. Pesan :
  • Agar lebih meningkatkan prestasinya.
Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

masalah legal yang berpengaruh pada lansia

ANI RISALATUL MU’AWANAH/07.40.003

PEMBIMBING:

ERFANDI

MASALAH LEGAL YANG BERPENGARUH PADA LANSIA

Tujuan perawatan klien lanjut usia

Tujuan perawatan meliputi:

  1. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan jalan perawatan,pencegahan.
  2. Membantu mempertahankanserta membesarkan gaya hidup atau emangat hidup klien lanjut usia.
  3. Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut).
  4. Merangsang para petugas kesehatan (dokter,perawat) untuk dapat mengenal dan meneggakkan diagnose yang tepat dan dini,bila mereka menjumpai suatu kelainan tertentu.
  5. Mencari upaya semaksimal mungkin,agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakut/gangguan,masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal).

LANDASAN PENANGANAN LANJUT USIA

Landasan penanganan lanjut usia meliputi:

  1. Filsafat Negara/P4.
  2. UNDANG-Undang Dasar 1945,pasal 27 ayat 2 dan pasal 34.
  3. Undang-Undang No.9 tahun 1960, tentang Pokok-Pokok Kesehatan Bab 1 pasal 1 ayat 1.
  4. Undang-Undang No.4 tahun 1965, tentang Pemberian Bantuan Penghidupan Orangtua.
  5. Undang-Undang no.5 tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Pemerintah di daerah.
  6. Undang-Undang No.6 tahun 1974, tentang ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial.
  7. Keputusan Presiden RI No.44 tahun 1974.
  8. Program PBB tentang lanjut usia, anjuran Kongres Internasional WINA tahun 1983.
  9. GBHN 1983/ Pelita IV.
  10. Keputusan Menteri Sosial RI No.44 tahun 1974, tentang Organisasi dan Tata Kerja departemen sosial Propinsi.
  11. Undang-undang No.10 tahun 1992, tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
  12. Undang-Undang no.11 tahun 1992 tentang dana Pensiun.
  13. Undang-undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan.entang Garis-Garis besar Haluan Negara
  14. Ketetapan MPR No.II/MPR/1993 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara.
  15. Keputusan Menteri Sosial RI No.27 tahun 1995 tentang Organisasi dan Tata Kerja Depertemen Sosial.
  16. Delapan jalur pemerataan dan pelayanan kesehatan.
  17. Hari Lanjut Usia Nasional yang dicanangkan oleh Bapak Presiden tanggal 29 Mei 1996 di semarang.
  18. Undang-Undang Kesejahteraan No. 13 tahun 1998, tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.
  19. Tahun Lanjut usia Internasional tahun 1999.
  20. Sasaran WHO tahun 2000.

BEBERAPA ALASAN TIMBULNYA PERHATIAN KEPADA LANJUT USIA

Meliputi:

  1. Pensiunan dan masalah-masalahnya.
  2. Kematian mendadak karena penyakit jantung dan sroke.
  3. Meningkatnya lanjut usia.
  4. Pemerataan pelayanan kesehatan.
  5. Kewajiban Pemerintah terhadap orang cacat dan jompo.
  6. Perkembangan ilmu:
  • Gerontology
  • Geriatric
  1. Program PBB.
  2. Konferensi internasional di WINA tahun 1983.
  3. Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit.
  4. Mahalnya obat-obatan
  5. Tahun Lanjut Usia Internasional 1 oktober 1999.

KEGIATAN ASUHAN KEPERAWATAN DASAR BAGI LANJUT USIA

Kegiatan ini menurut Depkes (1993 Ib), dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan, pengawasan, perlindungan, dan pertolongan kepada lanjut usia secara indovidu maupun kelompok. Seperti di rumah/lingkungan keluarga, Panti werda maupun puskesmas, yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang bukan tenaga keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau bimbimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhn keperawatan di rumah atau panti (Depkes,1993 1b).

PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA

PENDEKATAN FISIK

Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni:

  • Klien lanjut usia yang masih aktif, dimana keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain, sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri.
  • Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun, dimana keadaan fisiknya mengalmi kelumpuhan atau sakiy. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien lanjut usia ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan perorangan untukmempertahankan kesehatannya.

PENDEKATAN PSIKIS

Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala segala sesuatu yang asing sebagai penampung rahasia yang pribadii dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhhan agar mereka merasa puas.

PENDEKATAN SOSIAL

Menadakan diskusi dan tukar pikiran serta bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan sosial. Memberikan kesempatan untuk berkumpul bersama sesame klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi pendekatan sosial ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapi adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

PENDEKATAN SPIRITUAL

Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan tuhan atau agama yang dianutnya, terutama bila klien lanjut usia dalam keadaan sakit,atau mendekati kematian.

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

harapan lansia terhadap hubungan antar manusia

DISUSUN OLEH :

( RIKA LUTFIATI / 07.40.039 )

PEMBIMBING : ERFANDI, SKep.Ns

MINI RISET TENTANG

HARAPAN LANSIA TERHADAP HUBUNGAN ANTAR MANUSIA

Pertanyaan yang diajukan :

  1. Bagaimana hubungan anda dengan keluarga anda ?
  2. Hubungan yang seperti apa yang anda inginkan dengan keluarga anda ?
  3. Kalau dengan masyarakat sekitar, bagaimana hubungan anda ?
  4. Pada masyarakat sekitar anda, adakah perbedaan hubungan atau bisa dikatakan kesenjangan hubungan antara lansia dengan orang dewasa lanjut atau dewasa muda?
  5. Pada daerah tertentu biasanya lansia lebih banyak dikurung atau diam dirumah, bagaimana pendapat anda tentang hal tersebut ?
  6. Bagaimana harapan anda mengenai hubungan antar manusia ?

JawabanResponden :

  • RESPONDEN 1 ( Tn. B / 77th / L / kawin )
  1. Sejauh ini hubungan saya dengan keluarga baik – baik saja tetapi kadang ada perbedaan pendapat dan menimbulkan konflik, tetapi setelah dimusyawarahkan kembali dan diberi pengertian hubungan kami akan seperti semula.
  2. Saya kira hubungan saya dengan keluarga sudah menjadi harapan saya karena kami selalu menyempatkan diri untuk berkumpul untuk berbicara jika ada permasalahan yang harus dipecahkan bersama. Meskipun kadang terjadi sedikit salah faham diantara kami.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar cukup baik, hal itu bisa saya buktikan dengan saya mengikuti acara pengajian bersama setiap minggu, dan saya juga mengikuti kalau didaerah saya ada kegiatan.
  4. Kalau didaerah saya tidak ada perbedaan yang menonjol antara lansia dengan dewasa lanjut atau dewasa muda karena disetiap acara pasti kami semua mengikuti, misalnya saja pengajian.
  5. Kalau mengenai lansia yang dikurung atau berdiam diri dirumah, saya sangat tidak setuju karena melanggar haknya sebagai manusia.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia adalah, saya mengharapkan hubungannya tidak ada kesenjangan, maksudnya yaitu agar menghormati hak – hak para lansia dan tidak mengurungnya dirumah.
  • RESPONDEN 2 ( Tn. S / 68th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga baik karena saya tidak serumah dengan anak – anak saya yang telah berkeluarga, saya hanya berdua dengan istri saya.
  2. Hubungan yang saya inginkan dengan keluarga adalah saya menginginkan hubungan yang lebih banyak berkumpul, tidak seperti saat ini anak – anak saya sibuk dengan pekerjaan mereka. Memang materi kami terpenuhi tapi batin kami sebagai orang tua rasanya kok nelangsa.
  3. Kalau hungan saya dengan masyarakat sekitar cukup baik, karena saya orangnya mudah bergaul dan tidak pilih – pilih.
  4. Pada masyarakat sekitar saya, ada sedikit perbedaan hubungan antara lansia dan dewasa muda, karena para lansia lebih banyak di rumah sedangkan para dewasa muda waktu mereka lebih banyak tersita ditempat kerja.
  5. Saya tidak setuju jika lansia dikurung saja didalam rumah, karena mereka masih butuh sosialisasi dengan masyarakat sekitar.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia adalah agar hubungannya harmonis, tidak saling cek cok, jika terjadi beda pendapat lebih baik dibicarakan bersama daripada saling menjelek – jelekkan dibelakang.
  • RESPONDEN 3 ( Tn. A / 60th / L / kawin
  1. Hubungan saya dan keluarga agak kurang baik karena kami tidak dapat berkumpul semua karena saya dan istri saya sudah bercerai dan kami menikah lagi. Dua anak saya ikut ibunya dan satu orang ikut saya.
  2. Meskipun saya sudah bercerai, saya tetap menginginkan hubungan keluarga kami tetap terjalin dengan baik.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar cukup baik, kami saling menghormati hubungan antar masyarakat, dan saling menghargai hak – hak antar masyarakat.
  4. Pada masyarakat sekitar saya tidak ada perbedaan hubungan, karena di daerah saya sangat menghormati dan menjunjung tinggi hak – hak masing – masing.
  5. Kalau menurut saya mereka keluarga dari lansia tersebut pasti mempunyai alasan tertentu kenapa lansia tersebut harus didalam rumah saja, misalnya saja lansia yang mengalami pikun. Jika lansia tersebut dibiarkan keluar rumah, bukannya akan tambah merepotkan semua orang.
  6. Harpan saya tentang hubungan antar manusia, agar hubungannya dapat terjaga dengan baik, dan saling menghormati hak – hak antar manusia.
  • RESPONDEN 4 ( Ny. W / 74th / P / janda )
  1. Hubungan saya dengan keluarga baik, tetapi memang kadang – kadang ada salah faham tetapi Cuma sebentar.
  2. Saya kira hubungan seperti ini sudah cukup bagi saya yang sudah tua ini, berkumpul bersama anak dan cucu.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar cukup baik, kami saling menghormati satu sama lain.
  4. Disekitar saya ada sedikit perbedaan hubungan antar masyarakat, karena ada sekelompok orang yang cukup berada kurang bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya yang kurang mampu.
  5. Saya sangat tidak setuju sekali kalau lansia dikurung saja dirumah karena lansia juga butuh berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.
  6. Harapan saya mengenai hubungan antar sesama manusia adalah agar dalam hubungan tersebut tidak ada kesenjangan agar terjalin hubungan antar masyarakat yang rukun.
  • RESPONDEN 5 ( Ny. T / 69th / P / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga baik, memang kadang ada sedikit pertengkaran. Tetapi itu hanya sebentar, kemudian hubungan kami akan membaik lagi.
  2. Saya kira hubungan saya dengan keluarga seperti saat ini sudah menjadi harapan saya, berkumpul bersama anak cucu.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sudah cukup baik, tetapi kadang ada selisih faham.
  4. Dimasyarakat sekitar saya tidak ada kesenjangan hubungan karena kami saling menghargai dan menghormati antar masyarakat.
  5. Saya tidak setuju kalau lansia dikurung saja didalam rumah, karena menurut saya lansia juga butuh berinteraksi dengan tetangga. Dan jika itu dilakukan maka melanggar hak kebebasan dari lansia tersebut.
  6. Harapan saya mengenai hubungan antat manusia adalah aga terjalin hubungan masyarakat yang rukun dan tidak ada perbedaan.
  • RESPONDEN 6 ( Ny. K / 76th / P / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga kurang baik karena saya sering bertengkar dengan anak dan suami saya. ( alasannya dirahasiakan oleh narasumber )
  2. Saya mengharapkan hubungan yang rukun dengan keluarga saya, tidak seperti saat ini.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar kurang baik, karena tetangga saya banyak yang tidak suka dengan anak dan suami saya.
  4. Dimasyarakat sekitar saya sangat kelihatan sekali kesenjangan hubungan antara yang kaya dan miskin.
  5. Saya setuju sekali, karena jika lansia itu pikun atau tuli dia akan merepotkan keluarganya yang lain.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia adalah tidak ada kesenjangan hubungan antar masyarakat agar tidak terjadi saling permusuhan.
  • RESPONDEN 7 ( Ny. N / 69th / P / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga cukup baik, tetapi kadang – kadang ada pertengkaran namun tidak berlangsung lama, setelah dibicarakan dan dicari jalan keluarnya maka hubungan kami membaik lagi.
  2. Saya pikir hubungan saya dengan keluarga sudah menjadi harapan saya meskipun kadang terjadi pertengkaran, tetapi menurut saya itu adalah hal yang wajar terjadi dalam berkeluarga.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar juga cukup baik, karena setiap ad kegiatan didaerah saya menyempatkan diri untuk mengikutinya. Misalnya saja pengajian rutin tiap minggu yang diadakan di daerah saya.
  4. Pada masyarakat sekitar saya tidak ada perbedaab yang mencolok, tetapi memang frekuensi bertemu para lansia lebih sering dibandingkan dengan dewasa muda atau dewasa tua.
  5. Saya setuju jika alasannya mendukung, misalnya jika lansianya pikun. Jika dibiarkan saja kewluar rumah maka akan mengakibatkan lansianya itu bisa hilang karena tidak tahu jalan pulang dan akan merepotkan semua keluarga bahkan para tetangga.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia adalah agar saling menghargai dan menghormati, meskipun para lansia mereka juga masih mempunyai hak- hak yang harus dihargai dan dihormati.
  • RESPONDEN 8 ( Tn. D / 80th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga cukup baik walaupun kadang – kadang ada perbedaan pendapat satu sama lain.
  2. Yang saya inginkan adalah hubungan yang harmonis dan tidak ada pertengkaran.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar cukup baik.
  4. Dimasyarakat sekitar saya ada perbedaan hubungan, karena para dewasa muda dan dewasa tua masih aktif bekerja sehingga waktu untuk berinteraksi denagan tetangga itu lebih sedikit, sedangkab para lansia seperti saya waktu kami lebih banyak dirumah jadi kita bisa sering berinteraksi dengan tetangga.
  1. Saya tidak setuju jika lansia dikurung atau hanya berdiam diri dirumah, karena meskipun sudah lanjut usia kami masih membutuhkan interaksi.
  2. Harapan saya tentang hubungan antar sesame manusia adlah agar tidak ada perbedaan antara para lansia dengan dewasa muda atau lanjut agar tercipta kerukunan antar manusia.
  • RESPONDEN 9 ( TN. P / 66th / L / duda )
  1. Hubungan saya dengan keluarga cukup baik.
  2. Hubungan yang saya inginkan dengan keluarga adalah hubungan yang rukun dan harmonis dan berkumpul bersama anak dan cucu.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat juga cukup baik,karena jika ada kegiatan dimasyarakat saya juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu.
  4. Pada masyarakat sekitar tempat tinggal saya tidak ada kesenjanga hubungan antar sesama.
  5. Saya kurang setuju karena melanggar hak kebebasan dari lansia yang dikurung didalam rumah saja.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia agar saling menghormati hak – hak orang lain, meskipun hak lansia juga tetap harus dihormati.
  • RESPONDEN 10 ( Tn. J / 60th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga kurang baik, sering terjadi pertengkaran diantara kami.
  2. Hubungan yang saya harapkan adalah hubungan tang rukun dan tidak terjadi pertengkaran.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat cukup baik, meskipun saya lebih banyak berdiam diri dirumah.
  4. Dimasyarakat sekitar saya tidak perbedaan hubungan antara lansia,dewasa tua ataupun dewasa muda.
  5. Saya setuju sekali karena jika dibiarkan keluar rumah maka akan merepotkan keluarga yang lain.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar masyarakat adalah hubungan yang tidak ada kesenjangan dan saling menghormati dan menghargai hak – hak orang lain.
  • RESPONDEN 11 ( Tn. M / 84th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga cukup baik, memang kadang terjadi pertengkaran.
  2. Hubungan yang saya inginkan dengan keluarga adalah hubungan keluarga yang utuh dan rukun.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar kurang baik, karena saya menyadari saya kurang berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
  4. Pada masyarakat sekitar saya tidak ada perbedaan yang Nampak, tetapi didaerah saya banyak yang ‘ngeblok’ atau kata kerennya ‘ngegank’. Tetapi itu terjadi pada kalangan – kalangan tertentu saja.
  5. Saya setuju dengan hal tersebut, karena jika para lansia tersebut dibiarkan keluar rumah sendiri dan ternyata pikun maka akan mengakibatkan merepotkan keluarganya..
  6. Harapan saya mengenai hubungan antar manusia adalah agar tercipta hubungan yang rukun dan saling menghormati antar sesama manusia, tidak peduli pada lansia, remaja, anak – anak ataupun orang dewasa.
  • RESPONDEN 12 ( Tn. G / 66th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dengn keluarga cukup baik, tetapi memang kadang saya kurang dapat mengontrol emosi saya, sehingga memicu pertengkaran.
  2. Harapan saya pada hubungan dikeluarga adalah agar keluarga kami rukun dan tidak terjadi pertengkaran lagi.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar saya rasa cukup baik, tetapi memang saya kurang bersosialisasi dengan tetangga saya.
  4. Saya rasa tidak ada perbedaan yang mencolok di daerah saya, karena masyarakat sekitar saya sangat menghargai dan menghormati satu sama lain. Jadi saya pikir tidak ada kesenjangan hubungan didaerah saya.
  5. Saya tidak setuju, karena menurut saya hal tersebut melanggar hak – hak para lansia.
  6. Harapan saya stentang hubungan antar manusia adalah agar tercipta hubungan yang rukun dan damai, tidak terjadi permusuhan dan keributan.
  • RESPONDEN 13 ( Ny. L / 70th / P / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga cukup baik walaupun kadang ada pertengkaran kecil tetapi itu Cuma sebentar saja.
  2. Saya rasa hubungan saya dengan keluarga saat ini sudah menjadi harapan saya, meskipun tidak ada yang sempurna didunia ini.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar juga cukup baik, kami saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
  4. Pada masyarakat sekitar saya juga tidak ada kesenjangan hubungan karena kami menghargai hak – hak masing – masing.
  5. Saya tidak setuju kalau lansia dikurung didalam rumah, karena meskipun sudah lansia kami masih membutuhkan hiburan, masih butuh bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia adalah agar semua menghormati hak orang lain dan agar semua bisa hidup rukun dan tidak terjadi permusuhan.
  • RESPONDEN 14 ( Ny. N / 60th / P / kawin )
  1. Hubungan saya dan keluarga cukup baik, tetapi saya sering tidak bisa mengendalikan diri sehingga menimbulkan pertengkaran.
  2. Saya mengharapkan hubungan yang rukun dan saling jujur dan [ercaya satu sama lain.
  3. Hubungan saya dengan masyarakay sekitar cukup baik.
  4. Pada masyarakat sekitar tidak ada perbedaan atau kesenjangan hubungan.
  5. Saya tidak setuju jika lansia dikurung didalam rumah saja karena melanggar hak kemerdekaan untuk bebas menentukan pilihan.
  6. Harapan saya pada hubungan antar manusia adalah agar terciptanya hubungan yang saling menghormati dan rukun satu sama lain.
  • RESPONDEN 15 ( Ny .T / 66th / P / janda )
  1. Hubungan saya dan keluarga cukup baik.
  2. Saya menginginkan hubungan dengan keluarga yang rukun dan berkumpul semua anak dan cucu.
  3. Dengan masyarakat sekitar hubungan saya cukup baik.
  4. Pada masyarakat sekitar saya tidak ada kesenjangan hubungan karena kami saling menghormati antar masyarakat.
  5. Saya tidak setuju jika lansia dikurung saja didalam rumah karena para lansia juga butuh hiburan yaitu salah satunya dengan keluar rumah tersebut.
  6. Harapan saya pada hubungan antar manusia, agar manusia semua hidup rukun dan damai, tidk ada permusuhan dan pertengkaran.
  • RESPONDEN 16 ( Ny. W / 77th / P / janda )
  1. Hubungan saya dengan keluarga kurang baik, karena anak saya tidak setuju kalau ada seseorang yang akan menikahi saya.
  2. Saya sebenarnya menginginkan hubungan dengan keluarga itu rukun tidak ada saling permusuhan dan pertengkaran.
  3. Hubungan saya dan masyarakat sekitar cukup baik, hanya saja ada sebagian kecil tetangga saya yang tidak suka dengan saya. Mereka masih beranggapan kalau janda itu mempunyai nilai negative dihadapan semua orang.
  4. Oada masyarakat sekitar saya tidak ada kesenjangan hubungan, semuanya sama.
  5. Saya tidak setuju kalau lansia hanya dikurung didalam rumah saja, karena para lansia masih butuh bersosialisasi dengan tetangganya yang lain.
  6. Harapan saya pada hubungan antar manusia, agar semuanya bisa hidup rukun dan damai, tidak ada pertengkaran ataupun permusuhan.
  • RESPONDEN 17 ( Ny. M / 61th / P / kawin )
  1. Hubungan saya dan keluarga cukup baik, tetapi kadang saya bertengkar dengan suami dan anak saya.
  2. Yang saya harapkan adalah hubungan yang rukun dan tidak saling bertengkar, tetepi hubungan saya seperti saat ini sudah menjadi keinginan saya.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar sudah cukup baik, saya juga mengikuti kegiatan yang ada didaerah saya walaupun saya sudah tua seperti ini.
  4. Pada masyarakat sekitar saya tidak ada perbedaan hubungan atau tidak ada kesenjangan anatra masyarakat satu dengan lainnya.
  1. Saya tidak setuju jika lansia dikurung saja didalam rumah, karena itu melanggar hak kebebasan para lansia tersebut.
  2. Harapan saya tentana hubungan antar manusia adalah agar semua dapat hidup rukun dan tidak membeda – bedakan hubungan dengan masyarakat agar tidak terjadi kesenjangan.
  • RESPONDEN 18 ( Tn. D / 76th / L / duda )
  1. Hubungan saya dengan keluarga cukup baik, saya senang karena saya bisa berkumpul bersama anak dan cucu.
  2. Hubungan seperti ini sudah lebih dari cukup menurut saya, karena diusia saya yang tidak muda lagi ini saya bisa berkumpul dengan anak dan cucu.
  3. Saya rasa hubungan saya dengan masyarakat cukup baik, karena saya mengikuti kegiatan yang ada di daerah saya misalnya saja pengajian setiap hari kamis.
  4. Didaerah saya tidak ada perbedaan hubungan ataupun kesenjangan hubungan antar masyarakat.
  5. Saya tidak setuju kalau para lansia dikurung saja didalam rumah, karena biarpun sudah tua para lansia seperti saya ini masih butuh bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.
  6. Harapan saya pada hubungan antar manusia adalah agar terciptanya masyarakat yang rukun dan tidak terjadi perpecahan.
  • RESPONDEN 19 ( Tn. N / 66th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dan keluarga cukup baik, memang kadang – kadang terjadi pertengkaran diantara kami.
  2. Hubungan seperti ini sebenarnya sudah cukup saya inginkan, tetapi memang didunia ini tidak ada yang sempurna.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar juga cukup baik, terbukti dengan saya mengikuti kegiatan yang ada didaerah saya misalnya pengajian dan ronda malam.
  4. Pada masyarakat sekitar saya tidak ada perbedaan hubungan, karena kami saling menghormati satu sama lain walaupun kami sama – sama mempunyai perbedaan, misalnya perbedaan agama.
  1. Saya tidak setuju jika para lansia dikurung daja didalam rumah, karena kami semua mempunyai untuk bebas dan berinteraksi satu sama lain.
  2. Harapan saya tentang hubungan antar manusia adalah agar semua saling menghormati dan menghargai satu sama lain agar tercipta saling kerukunan antar masyarakat.
  • RESPONDEN 20 ( Tn. SR / 65th / L / duda )
  1. Hubungan saya dan keluarga cukup baik karena saya dapat berkumpul dengan keluarga saya, kadang memang terjadi pertengkaran.
  2. Hubungan seperti saat ini sudah menjadi harapan saya dimasa tua ini.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar saya rasa sudah cukup baik.
  4. Dimasyarakat sekitar saya tidak ada perbedaan hubungan ataupun kesenjangan hubungan.
  5. Saya tidak setuju jika para lansia dikurung saja didalam rumah karena melanggar hak kebebasan lansia untuk berinteraksi dengan sekitarnya.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia, agar semua dapat hidup rukun dan damai, tidak terjadi perselisihan dan permusuhan.
  • RESPONDEN 21 ( Tn. SM / 62th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga baik, tetapi kadang terjadi perdebatan diantara kami.
  2. Mungkin hubungan seperti saat ini sudah cukup menjadi harapan saya dan keluarga.
  3. Hubungan saya dengan masyarakat sekitar agak kurang baik karena didaerah saya ada yang hanya mau berteman dengan yang selevel atau memilih – milih bergaulnya.
  4. Didaerah saya ada sedikit perbedaan atau kesenjangan hubungan antara masyarakat satu dengan lainnya.
  5. Saya tidak setuju kalau lansia dikurung saja didalam rumah karena lansia juga butuh berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar masyarakat adalah agar tidak terjadi perbedaan atau kesenjangan hungan, karena hal tersebut dapat menimbulkan perpecahan antar masyarakat.
  • RESPONDEN 22 ( Tn. AS / 77th / L / duda )
  1. Hubungan saya dan keluarga cukup baik.
  2. Hubungan seperti ini sudah menjadi harapan saya.
  3. Hubungan dengan masyarakat sekitar sudah jauh lebih baik dari yang dahulu.
  4. Dimasyarakat saya tidak ada perbedaan atau kesenjangan, karena semua saling menghormati satu sama lain.
  5. Saya tidak setuju jika para lansia dikurung saja didalam rumah karena dapat membuat lansia stress, karena lansia juga memerlukan hiburan.
  6. Harapan saya tentang hubungan antar manusia, agar semua saling menyayangi dan menghormati satu sama lain.
  • RESPONDEN 23 ( Tn. MS / 80th / L / duda )
  1. Hubungan saya dan keluarga baik sekali, karena semua anak dan cucu berkumpul dan sayang sama kakeknya.
  2. Hubungan seperti ini sudah menjadi harapan saya sejak lama.
  3. Hubungan dengan masyarakat baik, mereka semua menghormati hak – hak saya.
  4. Pada masyarakat sekitar tidak ada perbedaan hubungan. Mereka semua saling menghormati hak masing – masing.
  5. Saya tidak setuju jika lansia dikurung saja didalam rumah karena melanggar hak dari lansia tersebut.
  6. Harapan saya pada hubungan antar manusia agar manusia saling memghormati hak masing – masing agar tercipta hubungan antar masyarakat yang rukun dan damai.
  • RESPONDEN 24 ( Tn. SH / 63th / L / kawin )
  1. Hubungan saya dengan keluarga cukup baik dan kadang terjadi pertengkaran tetapi masih dalam batas kewajaran.
  2. Saya rasa hubungan seperti ini sudah menjadi harapan saya.
  3. Hubungan saya dan masyarakat sekitar cukup baik karena kami saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
  4. Dimasyarakat sekitar saya tidak ada perbedaan atau kesenjangan hubungan, karena kami saling menghargai hak orang lain, dan saling membantu jika ada masyarakat yang memerlukan bantuan.
  5. Saya tidak setuju jika lansia dikuring didalam ruma saja, karena melanggar hak kebebasan para lansia.
  6. Harapan saya pada hubungan antar manusia agar semua saling hidup rukun dan saling menghormati agar tidak terjadi permusuhan.
  • RESPONDEN 25 ( Tn. KS / 79th / L / duda )
  1. Hubungan saya dan keluarga baik – baik saja, karena disisa – sisa hidup saya bisa berkumpul bersama anak dan cucu saya.
  2. Hubungan seperti ini sudah menjadi harapan saya sejak lama, yaitu berkumpul bersama keluarga.
  3. Hubungan dengan masyarakat sudah cukup baik, mereka semua menghormati hak saya sebagai lansia.
  4. Pada masyarakat sekitar, tidak ada kesenjangan hubungan antar masyarakat.
  5. Saya tidak setuju jika lansia dikurung didalam rumah saja karena melanggar hak kebebasan para lansia tersebut.
  6. Harapan saya pada hubungan antar manusia, agar semua dapat saling menghargai dan menghormati agar tidak terjadi perpecahan.

Dari data yang diambil dari 25 responden diatas dan semua responden diberi 6 pertanyaan yang sama maka dapat ditarik kesimpulan bahwa,harapan lansia tentang hubungan antar manusia adalah :

  • Agar masyarakat dapat hidup rukun.
  • Agar masyarkat saling menghargai satu sama lain.
  • Agar masyarakat saling menghormati hak – hak orang lain.
  • Agar tidak terjadi perpecahan antar masyarakat.
  • Agar tidak terjadi kesenjangan hubungan.
  • Agar tidak membeda – bedakan status.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.