Oleh: Ramadhan | Oktober 5, 2009

Penuaan Sistem Pulmonal

Nama : Diah Purwaning Rahayu

NIM : 07.40.013

Pembimbing : Erfandi S.Kep.Ners

PENUAAN SISTEM PULMONAL

Pendahuluan

Dengan pertambahan umur, ditambah dengan adanya faktor-faktor lingkungan yang lain, terjadilah perubahan anatomik-fisiologik tubuh. Pada tingkat awal perubahan itu mungkin merupakan homeostatis normal, kemudian bisa timbul homeostatis abnormal atau reaksi adaptasi dan paling akhir terjadi kematian sel (Kumar et al, 1992). Salah satu organ tubuh yang mengalami perubahan anatomik-fisiologik akibat bertambahnya usia seseorang adalah sistem pernafasan.

Pada usia lanjut, selain terjadi perubahan anatomik-fisiologik dapat timbul pula penyakit-penyakit pada sistem pernafasan. Umumnya, penyakit-penyakit yang diderita kelompok usia lanjut merupakan : (1) kelanjutan penyakit yang diderita sejak muda (2) akibat gejala sisa penyakit yang pernah diderita sebelumnya (3) penyakit akibat kebiasaan-kebiasaan tertentu di masa lalu (misalnya kebiasaan merokok, minum alkohol dan sebagainya) dan (4) penyakit-penyakit yang mudah terjadi akibat usia lanjut. Penyakit-penyakit paru yang diderita kelompok usia lanjut juga mengikuti pola penyebab atau kejadian tersebut (Mangunegoro, 1992.)

Pada kesempatan ini akan diuraikan mengenai gangguan sistem respirasi pada usia lanjut, meliputi aspek enatomik-fisiologik, aspek epidemiologik, serta aspek klinik.

Perubahan Anatomik-Fisiologik Sistem Pernafasan

Pada usia lanjut terjadi perubahan-perubahan anatomik yang mengenai hampir seluruh susunan anatomik tubuh, dan perubahan fungsi sel, jaringan atau organ yang bersangkutan.

  1. Perubahan Anatomik Sistem Pernafasan

Yang mengalami perubahan adalah :

  1. Dinding dada : tulang-tulang mengalami osteoporosis, tulang-tulang rawan mengalami osifikasi, terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relatif mengecil dan volume rongga dada mengecil.
  2. Otot-otot pernafasan : mengalami kelemahan akibat atrofi.
  3. Saluran nafas : akibat kelemahan otot, berkurangnya jaringan elastis cincin bronkus dan alveoli menyebabkan lumen bronkus mengecil. Cincin-cincin tulang rawan bronkus mengalami perkapuran (Widjayakusumah, 1992; Bahar, 1990).
  4. Struktur jaringan parenkim paru : bronkiolus, duktus alveolaris dan alveolus membesar secara progresif, terjadi emfisema senilis (Bahar, 1992). Struktur kolagen dan elastin dinding saluran nafas perifer kualitasnya mengurang sehingga menyebabkan elastisitas jaringan parenkim paru mengurang. Penurunan elastisitas jaringan parenkim paru pada usia lanjut dapat karena menurunnya tegangan permukaan akibat pengurangan daerah permukaan alveolus (Taylor et al, 1989; Levinzky, 1995; Bahar, 1990).
  1. Perubahan-perubahan fisiologik sistem pulmonal

Perubahan fisiologik fungsi) pada sistem pernafasan yang terjadi antara lain :

  1. Gerak pernafasan : adanya perubahan bentuk, ukuran dada, maupun volume rongga dada akan merubah mekanika pernafasan, amplitudo pernafasan menjadi dangkal, timbul keluhan sesak nafas. Kelemahan otot pernafasan menimbulkan menimbulkan penurunan kekuatan gerak nafas, lebih–lebih apabila terdapat deformitas rangka dada akibat penuaan (Bahar, 1990)
  2. Distribusi gas. Perubahan strukturanatomik salurannafas akan menimbulkan penumpukan udara dalam alveolus (air trapping) ataupun gangguan pendistribusian udara nafas dalam cabang-cabang bronkus.
  3. Volume dan kapasitas paru menurun. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor: (1) kelemahan otot nafas, (2) elastisitas jaringan parenkim paru menurun, (3) resistensi saluran nafas (menurun sedikit). Secara umum dikatakan bahwa pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru (Bahar, 1990; Widjajahkusumah, 1992).
  4. Gangguan transport gas.

Pada usia lanjut terjadi penurunan PaO2 secara bertahap, yang penyebabnya terutama disebabkan oleh ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (Mangunegoro, 1992). Selain itu diketahui bahwa pengambilan O2 oleh darah dari alveoli (difusi) dan transport O2 ke oleh jaringan-jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olah raga. Penurunan pengambilan O2 maksimal disebabkan antara lain karena : (1) berbagai perubahan pada jaringan paru yang menghambat difusi gas, dan (2) karena berkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnya curah jantung (Widyakusumah, 1992).

  1. Gangguan perubahan ventilais paru.

Pada usia lanjut terjadi pengaturan ventilasi paru, akibat adanya penurunan kepekaan kemoreseptor perifer, kemoreseptor sentral ataupun pusat-pusat pernafasan dimedulla oblongata dan pons terhadap rangsangan berupa penurunan PaO2, peninggianPaCO2, perubahan pH darah arteri dan sebagainya (Bahar, 1990).

Faktor-Faktor Yang Memperburuk Fungsi Sistem Pulmonal

Selai penurunan fungsi paru akibat proses penuaan, terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk fungsi paru (Silverman dan Speizer, 1996: Tim Pneumobil Indonesia, 1994). Faktor-faktor yag memperburuk fungsi paru antara lain :

  1. Faktor merokok

Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi penyempitan saluran nafas. Pada tingkat awal, saluran nafas akan mengalami obstruksi dan terjadi penurunan nilai VEP1 yang besarnya tergantung pada beratnya penyakit paru tadi. Pada tingkat lanjut dapat terjadi obstruksi yang iereversibel, timbul penyakit baru obstruktif menahun (PPOM) (Silverman dan Speizer, 1996; Burrows, 1990).

  1. Obesitas

Kelebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru seseorang. Pada obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak pada leher, dada, dan dinding perut yang akan mengganggu compliance dinding dada, berakibat penurunan volume paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernafasan (restriksi) dan timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif (Taylor et al, 1989; Levinxky, 1995.

  1. Imobilitas

Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital paksa atau volume paru akan “relatif” berkurang. Imobilitas karena kelelahan otot-otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk fungsi paru (ventilasi paru). Faktor-faktor lain yang menimbulkan imobilitas (paru), misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992). Perbaikan fungsi paru dapat dilakukan dengan menjalankan olahraga secara intensif (Rahmatullah, 1993).

  1. Operasi

Tidak semua operasi (pembedahan) mempengaruhi faal paru. Dari pengalaman para ahli diketahui bahwa yang pasti memberikan pengaruh faal paru adalah : (1) pembedahan toraks (jantung dan paru); (2) pembedahan abdomen bagian atas; dan (3) anestesi atau jenis obat anestesi tertentu. Perubahan fungsi paru yang timbul, meliputi perubahan proses ventilasi, distribusi gas, difusi gas serta perfusi darah kapiler paru. Adanya perubahan patofisiologik paru pasca bedah mudah menimbulkan komplikasi paru : atelektasis, infeksi atau sepsis dan selanjutnya mudah terjadi kematian karena timbulnya gagal nafas (Rahmatullah, 1997).

Patogenesis Penyakit Paru Pada Usia Lanjut

Mekanisme timbulnya penyakit yang menyertai usia lanjut dapat dijelaskan atau dapat dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan-perubahan tersebut adalah :

  1. Perubahan anatomik-fisiologik

Dengan adanya perubahan anatomik-fisiologik sistem pernafasan ditambah adanya faktor-faktor lainnya dapat memudahkan timbulnya beberapa macam penyakit paru : bronkitis kronis, emfisema paru, PPOM, TB paru, kanker paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992; Davies, 1985; Widjayakusumah, 1992; Rahmatullah, 1994; Suwondo, 1990 a, 1990 b; Yusuf, 1990).

  1. Perubahan daya tahan tubuh

Pada usia lanjut terjadi penurunan daya tahan tubuh, antara lain karena melemahnya fungsi limfosit B dan T (Subowo, 1993; Roosdjojo dkk, 1988), sehingga penderita rentan terhadap kuman-kuman patogen, virus, protozoa, bakteri atau jamur (Haryanto dan Nelwan, 1990).

  1. Perubahan metabolik tubuh

Pada orang usia lanjut sering terjadi perubahan metabolik tubuh, dan paru dapat ikut mengalami perubahan. Penyebab tersering adalah penyakit-penyakit metabolik yang bersifat sistemik : diabetes mellitus, uremia, artritis rematoid dan sebagainya. Faktor usia peranannya tidak jelas, tetapi lamanya menderita penyakit sistematik mempunyai andil untuk timbulnya kelainan paru tadi (Davies, 1988).

  1. Perubahan respons terhadap obat

Pada orang usia lanjut, bisa terjadi bahwa penggunaan obat-obat tertentu akan memberikan respons atau perubahan pada paru dan saluran nafas, yang mungkin perubahan-perubahan tadi tidak terjadi pada usia muda. Contoh, yaitu penyakit paru akibat idiosinkrasi terhadap obat yang sedang digunakan dalam pengobatan penyakit yang sedang dideritanya, yang mana proses tadi jarang terjadi pada usia muda (Davies, 1985).

  1. Perubahan degeneratif

Perubahan degeneratif merupakan perubahan yang tidak dapat dielakkan terjadinya pada individu-individu yang mengalami proses penuaan. Penyakit paru yang timbul akibat proses (perubahan) degeneratif tadi, misalnya terjadinya bronkitis kronis, emfisema paru, penyakit paru obstruktif menahun, karsinoma paru yang terjadinya pada usia lanjut dan sebagainya (Davies, 1985).

Pencegahan Penyakit Paru Pada Usia Lanjut

Proses penuaan pada seseorang tidak bisa dihindari. Perubahan struktur anatomik maupun fisiologik alami juga tidak dapat dihindari. Pencegahan terhadap timbulnya penyakit-penyakit paru pada usia lanjut dilakukan pada prinsipnya dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan memperbaiki keadaan gizi, menghilangkan hal-hal yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, misalnya menghentikan kebiasaan merokok, minum alkohol dan sebagainya.

Pencegahan terhadap timbulnya beberapa macam penyakit dilakukan dengan cara yang lazim.

  1. Usaha pencegahan infeksi paru / saluran nafas

Usaha untuk mencegahnya dilakukan dengan jalan menghambat, mengurangi atau meniadakan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi. Hal positif yang dapat dilakukan misalnya dengan melakukan vaksinasi dengan vaksin pneumokok untuk menghindari timbulnya pneumoni, tetapi sayangnya pada usia lanjut vaksinasi ini kurang berefek (Mangunegoro, 1992).

  1. Usaha mencegah timbulnya TB baru

Yang bisa dilakukan ialah menghindari kontak person dengan penderita TB paru atau menghindari cara-cara penularan lainnya

  1. Usaha pencegahan timbulnya PPOM atau karsinoma paru

Sejak usia muda, bagi orang-orang yang beresiko tinggi terhadap timbulnya kelainan paru (PPOM dan karsinoma paru), perlu dilakukan pemantauan secara berkala : (1) pemeriksaan foto rontgen toraks, dan (2) pemeriksaan faal paru, paling tidak setahun sekali. Sangat dianjurkan bagi mereka yang beresiko tinggi tadi (perokok berat dan laki-laki) menghindari atau segera berhenti merokok (Mangunegoro, 1992).

Kesimpulan

Pada usia lanjut terjadi perubahan anatomik-fisiologik paru dan saluran nafas, antara lain berupa pengurangan elastic recoil paru, kecepatan arus ekspirasi, tekanan oksigen arteri serta respons pusat reflek pernafasan terhadap rangsangan oksigen arteri atau hiperkapnia. Hal-hal tersebut berpengaruh pada mekanisme pertahanan tubuh terhadap timbulnya penyakit paru.

Penyakit paru yang sering ditemukan pada usia lanjut adalah infeksi saluran nafas akut bagian bawah (khususnya pneumoni), tuber-kulosis paru, PPOM dan karsinoma paru.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk pencegahan terhadap timbulnya infeksi pernafasan akut bagian bawah (pneumoni), tuberkulosis paru, PPOM dan karsinoma paru pada usia lanjut.

Untuk mencegah melanjutnya penurunan fungsi paru, antara lain dapat diatasi dengan melakukan olahraga atau latihan fisik yang teratur, selain meningkatkan taraf kesehatan usia lanjut. Laju penurunan fungsi paru dapat diketahui dengan pemeriksaan faal paru secara berkala.

Daftar Pustaka

Darmojo, Budhi R, dkk, 2000. Geriatri Ilmu Kesehatan Edisi 2. FKUL : Jakarta

Nugroho, Wahyudi, 2000. Keperawatan Gerontik Edisi 2. EGC : Jakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: