Oleh: Ramadhan | Oktober 2, 2009

TUGAS RIA FAIZAH

TUGAS KEPERAWATAN GERONTIK

Oleh :

RIA FAIZAH M

III-B

07.40.086

PROGRAM DIPLOMA III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KABUPATEN MALANG

Di susun oleh:

RIA FAIZAH M : 07.40.086

Pembimbing:Erfandi

ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA DENGAN KEADAAN TIDAK ADA HARAPAN SEMBUH (YANG MEGHADAPI SAAT KEMATIAN)

Seorang perawatan professional dalam merawat lanjut usia yang tidak ada harapan mempunyai ketrampilan yang multi komplek. sesuai dengan peran yang dimiliki, perawatan harus mampu memberikan pelayanan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien lanjut usia dan harus menyelami perasaan-perasaan hidup dan mati.

Dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia yang sedang menghadapi sakarotul maut tidaklah selamanya muda, klien lanjut usia akan memberikan reaksi-reaksi yang berbeda –beda, bergantung kepada kepribadian dan cara klien lanjut usia menghadapi hidup. tetapi bagaimanapun keadaan, situasi dan kondisinya perawat harus dapat menguasai keadaan terutama terhadapkeluarga klien lanjut usia. Biasanya, anggota keluarga dalam keadaan krisis ini memerlukan perhatian perawatan karena kematian pada seseorang dapat dating dengan berbagai cara, dapat terjadi secara tiba-tiba dan dapat pula berlangsung berhari-hari. kadabg –kadang sebelum ajal tiba klien lanjut usia ke hilangan kesadarannya terlebih dahulu.

Terminologi

1. Pengertian sakit gawat

Satuan keadaan sakit yang menurut akal sehat klien lanjut usia itu tidak dapat lagi atau tiada harapan lagi untuk sembuh.

2. Pengertian kematian/mati

Seseorang yang dianggap sudah mati ialah ia tidak lagi mempunyai denyut nadi, tidak bernafas selama beberapa menit dan ketiadaan segala refleks, serta ketiadaan kegiatan otak.

Sebab-sebab kematian

1. Penyakit

Ø Keganasan, misalnya:

· Carnisoma (C)

· Carnisoma Hati

· Carnisoma Paru

· Carnisoma Mammae

Ø Penyakit kronis,misalnya :

· CVD (Cerebro Vasculair Diseases)

· CRF (Chronic Renal Failure = Gangguan Ginjal

· DM Gangguan Edokrin

· MCI (Myocard Infarc)= Gangguan Kadiovaskuler

· COPDM (Chronic Obstruction Pulmo Diesases)

2. Kecelakaan, misalnya : Epidurat Haematoma

Ciri-ciri/tanda-tanda pada klien lanjut usia menjelang kematian

  1. Gerakan dan penginderaan menghilang secara berangsur-angsur. biasanya dimulai pada anggota badan, khususnya kaki dan ujung kaki.
  2. Gerakan peristaltic usus menurun.
  3. Tubuh klien lanjut usia tampak mengembang.
  4. badan dingin dan lembab terutama pada kaki, tangan, dan ujung hidungnya.
  5. kulit nampak pucat, berwarna kebiru-biruan/kelabu.
  6. denyut nadi mulai tidak teratur.
  7. nafas dengkur berbunyi keras (stridor) yang disebabkan oleh adanya lender pada saluran pernafasan yang tidak dapat dikeluarkan oleh klien lanjut usia.
  8. tekanna darahnya menurun.
  9. terjadi gangguan kesadaran (ingatan menjadi kabur).

Tanda-tanda kematian

  1. Pupil (bola matanya) tetap membesar atau melebar dan tidak berubah-ubah.
  2. Hilangnya semua refleks dan ketiadaan kegiatan otak yang tampak jelas dalam hasil pemeiksaan EEG yang menunjukkan mendatar dalam waktu 24 jam.

Tahap-tahap menuju kematian

Tahap –tahap untuk itu tidak selamanya berurutan secara tetap tetapi dapat saling tindih kadang-kadang seorang klien lanjut usia melalui satu tahap tertentu untuk kemudian kembali lagi ke tahap itu. Lamanya setiap dapat bervariasi mulai dari beberapa jam sampai beberapa bulan, Aapbila suatu tahap tertentu berlangsung sangat singkat, bisa timbul kesan seolah-olah klien lanjut usia melompati satu tahap jika perawat memperhatikan secara seksama dan cermat.

  1. Tahap pertama (tahap penolakan)

Tahap ini adalah kejutan dan penolakan. Biasanya sikap itu ditandai dengan komentar : Saya? tidak mungkin. selama tahap ini klien lanjut usia sesungguhnya mengatakan bahwa maut menimpa semua orang kecuali dia. klien lanjut usia biasanya terpengaruh oleh penolaknnya sehingga ia tidak memperhatikan fakta-fakta yang mugkin sedang dijelaskan kepadanya oleh perawat. ia malahan dapat menekan apa yang telah ia dengar atau mungkin akan minta pertolongan dari berbagai macam sumber profesional dan non professional dalam upaya melarikan diri dari kenyataan bahwa maut sudah ada di ambang pintu.

  1. Tahap kedua (tahap marah)

Tahap ini ditandai oleh rasa amarah dan emosi yang tidak terkendalikan. klien lanjut usia itu berkata : Mengapa saya ? seringkali klin lanjut usia akan selalu mencela setiap orang dalam segala hal. ia mudah marah terhadap perawat dan petugas –petugas kesehatan lainnya terhadap apa saja yang mereka lakukan. pada tahap ini bagi klin lanjut usia lebih merupakan hikmah daripada kutukan . kemarahan di sini merupakan mekanisme pertahanan diri klin lanjut usia . akan tetapi, kemarahan yang sesungguhnya tertuju kepada kesehatan dan kehidupan. Pada saat ini perawat kesehatan harus hati-hati dalam memberikan penilaian dalam mengenali kemarahan dan emosi yang tak terkendalikan sebagai reaksi uyang terhadap kematian yang perlu diungkapkan.

  1. Tahap ketiga (tahap tawar-menawar)

Pada tahap ini klien lanjut usia pada hakekatnya berkata: ya. benar, Aku, tetapi,… Kemaraahan biasanya mereda dank lien lanjut usia dapat menimbulkan kesana sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi dengan sendirinya . akan tetapi, pada tahap tawar-menawar inilah banyak orang cenderung untuk menyelesaikan urusan rumah tangga mereka sebelum maut tiba, dan akan menyiapkan hal-hal seperti membuat surat dan mempersiapkan jaminan hidup bagi orang –orang tercinta yang ditinggalkan.

selam tawar-menawar segala permohonan yang dikemukakan hendaknya dapat dipenuhi karena merupakan bagian dari urusan-urusan yang belum selesai dan harus dibereskan sebelum mati. misalnya klien lanjut usia mempunyai satu permintaan terakhir untuk melihat pertandingan olahraga , mengunjungi seorang kerabat, melihat cucu terkecuali, pergi makan di restorant, dan sebagainya. perawat dianjurkan memenuhi permohonan itu karena tawar menawae membantu klien lanjut usia memasuki tahap-tahap berikutnya.

  1. Tahap keempat (tahap sedih)

Tahap ini klien lanjut usia pada hakekatnya berkata : “ya, benar aku”, ini biasanya merupakan saat-saat yang sedih, karena klien lanjut usia sedang dalam suasana berkabung karena di masa lampau ia sudah kehilangan orang yang dicintainya dan sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri ,bersama dengan itu harus harus meninggalkan semua hal yang menyenangkan yang telah dinikmatinya . selama tahap ini klien lanjut usia cenderung untuk tidak banyak bicara dan sering menangis. saatnya bagi perawat untuk duduk dengan tenang di samping klien lanjut usia yang sedang melalui masa sedihnya sebelum mati.

  1. Tahap kelima (tahap akhir/tahap menerima)

tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian. Menjelang saat ini klien Lanjut Usia telah membereskan urusan-urusan yang belum selesai dan mungkin tidak ingin berbicara lagi oleh karena ia sudah menyatakan segala sesuatunya. tawar-menawar sudah lewat dan tibalah saat kedamaian dan ketenanagan. seseorang mungkin saja berada lama sekali dalam tahap menerima tetapi bukanlah tahap pasrah yang berarti kelelahan. Dengan kata lain, pasrah kepada maut tidak berarti menerima maut.

Pengaruh kematian

  1. Pengaruh kematian terhadap keluarga klien lanjut usia

Ø Bersikap kritis terhadap perawatan

Ø Keluarga dapat menerima keadaan keluarganya

Ø Terputusnya komunikasi dengan orang menjelang maut

Ø Penyesalan keluarga dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak dapat mengatasi rasa

Ø Pengalihan tanggung jawab dan beban ekonomi

Ø keluarga menolak diaknosa, penolakan tersebut dapat memperbesar beban emosi keluarga.

Ø Mempersoalkan kemampuan tim kesehatan

  1. Pengaruh kematian terhadap tetangga/teman

Ø Simpati dan dukungan moril

Ø Meremehkan / mencela kemampuan tim kesehatan

Pengertian saat kematian

Satuan proses berlanjut kematian, meliputi 5 tahap.

(LIHAT TAHAP-TAHAP KEMATIAN DI ATAS)

Pengertian umum ,tujuan dan tindakan

  1. Kebutuhan –kebutuhan jasmaniah

Untuk mengambarkan gejala-gejala fisik serta mengatasinya. kemampuan terhadap rasa sakit itu berbeda pada setiap orang. tindakan –tindakan yang memungkinkan rasa nyaman bagi klien lanjut usia ( misalnya sering mengubah posisi tidur, perawatan fisik dan sebagainya).

  1. Kebutuhan – kebutuhan emosi

Untuk mengambarkan ungkapan sikap dan perasaan klien lanjut usia dalam menghadapi kematian.

Ø Mungkin klien lanjut usia mengalami ketakutan yang hebat (ketakutan yang timbul akibat menyadari bahwa dirinya tak mampu mencegah kematian)

Ø Mengkaji hal –hal yang diinginkan penderita selama mendampinginya. Misalnya lanjut usia ingin memperbincangkan tentang kehidupan di masa lalu dan kemudian hari, bila pembicaraan tersebut berkenan, luangkan waktu sejenak, ingat bahwa tidak semua orang senang membicarakan tentang kematian. Apabila anda merasa tidak dapat membicarakan hal tersebut dan yang disenangi oleh lanjut usia .

Ø Mengkaji pengaruh kebudayaan atau agama terhadap klien lanjut usia.

Pertimbangan khusus dalam p[erawatan, tujuan, dan tindakan –tindakan :

1. Tahap I penolakan dan rasa kesendirian

Untuk mengenal atau mengetahui bahwa proses ini umumnya kematiannya terjadi karena menyadari akan datangnya kematian atau ancaman maut.

Ø Berikan kesempatan klin lanjut usia mengunakan caranya sendiri dalam menghadapi kematian sejauh tindakan merusak.

Ø Memfasilitasi klien lanjut usia dalam menghadapi kematian, luangkan waktu setidak-tidanya 10 menit sehari, baik dengan bercakap-cakap ataupun sekedar bersamanya.

2. Tahap II kemarahan

Untuk mengenal atau meamahami tingkah laku serta tanda-tandanya.

Ø Berikan kesempatan klien lanjut usia mengungkapan kemarahannya dengan kata-kata.

Ø Ingatlah, bahwa dalam benaknya bergrjolak pertanyaan mengapa hal ini terjadi pada diriku ?”

Ø Sering kali perasaan ini dialihkan kepada orang lain atau anda sebagai cara klien lanjut usia bertingkah laku.

3. Tahap III tawar menawar

Mengambarkan proses seseorang yang berusaha menawarkan waktu.

Ø Klien lnjut usia akan mempengaruhi unjkapan-ungkapan , seperti seandainya saya………….

Ø Berikan kepa klien lanjut usia menghadapi kematian dengan tawar menawar.

Ø Tabyakan kepada klien lanjut usia kepentingan-lepentingan apakah yang masih ia inginkan. Dengan cara demikian dapat menunjukkan kemampuan perawatan untuk mendengarkan keluh kesa perawatannya.

4. Tahap IV depresi

Untuk memahami bahwa tidak lam lagi lanjut usia tal mungkin lagi menolak lagi kematian yang tak dapat dihindarkan itu, dan kini kesedihan akan kematian ini sudah membayanginya.

Ø Jangan menolong menyenangkan klien lanjut usia ingatlah bahwa tindakan ini sebenarnya hanyalah memenuhi kebutuhan petugas, jangan takut menyaksikan klien lanjut usia atau keluarganya menangis. hal ini merupakan ungkapan pengekspresian kesedihannya. Anda boleh saja ikut berduka cita.

Ø “Apakah saya akan mati?” Sebab sebetulnya pertanyaan klien lanjut usia tersebut hanyalah sekedar mengisi dan menghabiskan waktu untuk memperbincangkan sesuatu, ia sebenarnya sudah tahu jawabannya. Apakah anda akan meninggal dunia?

5. Tahap V

Untuk membedakan antara sikap menerima kematian dan penyerahan terhadap kematian yang akan terjadi.

Sikap menerima : klien lanjut usia telah menerima, dapat mengatakan bahwa kematian akan tiba dan ia tak boleh menolak..

Sikap menyerah : Sebenernya klien lanjut usia tidak menghendaki kematian ini terjadi. jadi klien lanjut usia tidak merasa tenang dan damai.

Ø Luangkan waktu untuk klien lanjut usia (mugkin beberapa hari dalam sekali). setiap keluarga akan berbeda dengan sikap klien lanjut usia.Oleh karena itu, sedia kan waktu mendiskusikan perasaan mereka.

Ø Berikan kesempatan klien lanjut usia mengarahkan perhatian sebanyak mungkin. Tindakan ini akan memberikan ketenangan dan perasaan aman.

HAK-HAK ASASI PASIEN YANG MENJELANH AJAL (MENINGGAL)

  1. Berhak diperlakukan sebagai manusia yang hidup sampai mati.
  2. Berhak untuk merasa punya harapan, meskipun fokusnya dapat saja berubah-ubah.
  3. Berhak dirawat oleh mereka yang dapat menghidupkan terus harapan itu, walupun dapt berubah-ubah.
  4. Berhak untuk merasakan perasaan dan emosi mengenai kematian yang sudah dekat dengan cara sendiri.
  5. Berhak untuk berpatisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai perawatannya.
  6. Berhak untuk mengharapakan akan terus mendapat perhatian medis dan perawatan walaupun tujuan penyembuhan harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa nyaman.
  7. Berhak unutu tidak mati dalam kesepian.
  8. Berhak untu bebas dalam rasa nyeri.
  9. Berhat untuk memperoleh jawaban yang jujur atas pertanyaan-pertanyaan.
  10. Berhak untuk tidak tertipu.
  11. Berhak untu mendapatkan bantuan dari dan untuk keluarganya dalam menerima kematian.
  12. Berhak untuk mati dengan benar dan terhormat.
  13. Berhak untuk mempertahankan individualitas dan tidak dihakimi untuk keputusan –keputusan yang mungkin saja bertentrangan dengan orang lain.
  14. Membicarakan dan memperluas pengalaman-pengalaman keagamaan dan kerohaniaan.
  15. Behak untuk mengharapakan bahwa kesucian tubuh manusia akan dihormati sesudah mati.

Daftar pustaka:

NUGROHO, Wahjudi Perawatan lanjut usia/ Wahjudi Nugroho; editor, Silvana Evi Linda; Desain cover, Yulli M. – Jakarta : EGC, 1995

NUGROHO, Wahjudi Perawatan lanjut usia/ Wahjudi Nugroho; editor, Silvana Evi Linda; Desain cover, Yulli M. – Jakarta : EGC, 2000
ria faizah.doc


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: