Oleh: Ramadhan | Oktober 2, 2009

Lansia pada Masyarakat

PENDAHULUAN

Menjadi tua merupakan suatu fase kehidupan yang dialami oleh manusia. Makin panjang usia seseorang, sejalan dengan pertambahan usia tubuh akan mengalami kemunduran secara fisik maupun psikologis. Secara fisik orang lanjut usia yang selanjutnya disebut lansia, mengalami kemunduran fungsi alat tubuh, atau disebut juga dengan proses degeneratif. Orang lansia akan terlihat dari kulit yang mulai keriput, berkurangnya fungsi telinga dan mata, tidak dapat bergerak cepat lagi, cepat merasa lelah, rambut menipis dan memutih, mudah terserang penyakit karena daya tahan tubuh berkurang. Secara psikologis orang lansia menjadi mudah lupa, serta berkurangnya kegiatan dan interaksi (baik dengan anak-anak, saudara atau teman), mengalami rasa kesepian, kebosanan dan sebagainya. Apalagi jika ia kehilangan pekerjaan, menderitapost power syndrome, berkurangnya peranan dalam keluarga atau masyarakat, atau kondisi ekonominya buruk.

Adanya peningkatan jumlah orang lansia, menyebabkan perlunya perhatian pada orang lansia tersebut, agar orang lansia tidak hanya berumur panjang, tetapi dapat menikmati masa tuanya dengan bahagia, serta meningkatkan kualitas hidup diri mereka. Meskipun banyak orang lansia dalam kesehatan yang baik. Namun, golongan ini tetap merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit karena terjadinya perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat proses degeneratif. Perubahan sosial di masyarakat, misalnya adanya kecenderungan perubahan struktur keluarga dari keluarga luas (extended family) ke keluarga inti (nuclear family) ikut membawa perubahan terhadap orang lansia dimana sebelumnya orang lansia tinggal bersama dalam satu rumah dengan anggota keluarga lainnya. Namun, perubahan itu menyebabkan orang lansia tinggal terpisah dengan anak-anak mereka. Kondisi ekonomi orang lansia juga mengalami perubahan apabila dibandingkan ketika masih muda. Maka orang lansia hendaknya mampu beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. Penduduk lansia secara individual merupakan penduduk yang potensial menjadi “beban” keluarga dan masyarakat terutama bagi mereka yang memasuki usia tuanya tidak dipersiapkan sejak dini.

PENGERTIAN

Orang yang berusia lanjut ada yang menyebut dengan istilah lansia (lanjut usia, manula (manusia usia lanjut), dan usila (usia lanjut). Tidak ada keseragaman dalam menetapkan standar usia lansia. Umumnya seseorang dianggap memasuki kelompok lanjut usia di Indonesia terjadi pada usia 55 tahun, saat seseorang memasuki masa pensiun Sedangkan penduduk lansia dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia bahwa lanjut usia adalah laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun atau lebih.

Ada beberapa negara menetapkan usia kronologis yang berbeda bagi orang lansia. Di Indonesia, seseorang dianggap lanjut usia, ketika ia pensiun dari pekerjaannya pada usia 55 tahun. Namun, di Amerika Serikat, seseorang dikategorikan sebagai lansia pada usia 77 tahun, yang didahului masa pra lansia yaitu usia 69-76 tahun. Bagi orang Jepang kesuksesan justru dimulai pada usia 60 tahun. Dan banyak wanita Jepang yang masih bekerja pada usia 60 tahun ke atas. Sedangkan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menetapkan usia 60 tahun sebagai titik awal seseorang memasuki masa lansia. Karena itu tidak ada tolok ukur yang jelas kapan seseorang memasuki masa lansia.

Bernice Neugarden mengelompokkan orang lanjut usia berdasarkan perbedaan usia yaitu; (1) lanjut usia muda yaitu orang yang berumur antara 55-75 tahun; (2) lanjut usia tua yaitu orang yang berumur lebih dari 75 tahun. Levinson membagi lagi orang usia lanjut muda menjadi tiga kelompok yaitu; (1) orang lanjut usia peralihan awal (antara 50-55 tahun); (2) orang lanjut usia peralihan menengah (antara 55-60 tahun); dan (3) orang lanjut usia peralihan akhir (antara 60-65) (Oswari 1997;9).

Definisi orang lansia tidak dapat dititikberatkan kepada umur seseorang saja. Namun, diperhatikan pula faktor kesehatan, psikologis, dan sosial. Faktor kesehatan tubuh lansia, dapat tetap sehat dan bugar walaupun umurnya sudah 60 tahun. Begitu pula secara psikologis, kesehatan mental terjaga, tidak pikun pada usia tua dan tidak tergantung kepada orang lain terutama secara ekonomis. Beberapa diantaranya, dapat tetap berkreatifitas menciptakan sesuatu, seperti seniman Affandi yang masih mencipta pada usia 80 tahun.

PANDANGAN YANG MENGHORMATI LANSIA

Peran dan kedudukan lansia dalam keluarga dan masyarakat sangat dipengaruhi oleh pandangan kebudayaan mengenai orang lanjut usia. Perbedaan pandangan terhadap usia lanjut akan membuat sikap dan penghargaan terhadap orang lansia akan berbeda dalam keluarga dan masyarakat.

Menurut Swasono (1989) berbagai kehidupan kebudayaan menetapkan usia tua dan peranan serta fungsi sosialnya menuntut nilai-nilai, anggapan dan ukuran yang berbeda-beda. Namun, demikian secara universal terdapat pandangan bahwa seorang lansia dianggap sebagai sumber terkumpulnya kebijaksanaan dan kearifan. Dengan demikian penduduk lansia dianggap memiliki kelebihan, keahlian tertentu dan dengan pengalaman yang demikian luas sehingga mereka harus dihormati.

Masyarakat Indonesia

Deskripsi etnografi suku bangsa di Indonesia memberi gambaran tentang kedudukan orang tua dalam sistem kekerabatan dan masyarakatnya. Orang lansia merupakan kelompok sosial yang dihormati dan dihargai. Sikap dan perlakuan terhadap orang-orang tua dinyatakan secara simbolik dalam upacara perkawinan (Swasono, 1989).

Pada masyarakat tradisional yang umumnya terdiri dari keluarga luas, memasuki usia lanjut tidak perlu dirisaukan. Mereka memiliki jaminan sosial yang paling baik yaitu anak dan saudara-saudara lainnya. Anak masih merasa berkewajiban dan mempunyai loyalitas menyantuni orang tua mereka yang sudah tidak dapat megurus dirinya sendiri. Nilai yang masih berlaku dalam masyarakat bahwa anak wajib memberikan kasih sayang kepada orangtuanya sebagaimana pernah mereka dapatkan sewaktu mereka masih kecil.

Masyarakat Nias

Pada suku bangsa Nias, masa tua dalam keluarga dianggap saatnya menjadi penasehat, dihormati oleh segenap anggota keluarga dan komunitas dan menjadi seorang yang dalam legenda suku bangsa Nias disebut Todo Hia. Nasehatnya selalu dipatuhi karena dianggap sebagai orang yang patut dipercayai dan bijaksana. Seseorang yang telah berumur tua memiliki banyak pengalaman dan menjadi sumber cerita, legenda dan mitos (Laiya 1983:54).

Masa tua diistilahkan di Nias bawa lewato yang berarti pintu gerbang kuburan. Menurut mereka, kematian telah dekat bagi mereka. Karena itu anak-anak dan keturunannya selalu memelihara mereka dengan baik dan hati-hati. Anak-anak akan menyuguhkan makanan yang baik dan pakaian yang baik dan pantas dan mematuhi perintah mereka serta melayani mereka dengan hormat (Laiya 1983: 55).

Masyarakat Jawa

Pada suku bangsa Jawa orang-orang tua dipandang berhak atas penghormatan yang tinggi dan banyak yang hidup menghabiskan umurnya semata-mata dengan menerima penghormatan, karena kelebihan pengetahuan mereka akan masalah kebatinan dan masalah praktis. Tetapi bagi mereka yang jompo dan pikun penghormatan bisa menjadi berkurang (Geertz 1985:149). Hubungan penghormatan dapat dilihat dalam penggunaan bahasa yang tinggi (krami) ketika berbicara kepada orang tua, dan dalam keluarga priyayi tradisional orang malahan menyembah dahulu sebelum berbicara (Koentjaraningrat 1994 :273). Kehidupan orang tua pada umumnya tenang. Mereka sangat berguna untuk mengasuh anak-anak di dalam keluarga, dan biasanya terdapat hubungan yang hangat dan tidak canggung antara mereka yang lebih tua dan yang lebih muda di rumah.

Suku Minangkabau

Pada suku bangsa Minangkabau, orang tua dalam keluarga luas matrilineal dipandang sebagai orang yang patut dihormati. Orang tua laki-laki memperoleh gelar kehormatan dan menjadi pemimpin bagi keluarga luasnya atau kampungnya. Laki-laki tua (mamak) memberikan nasehat untuk semua masalah terutama masalah adat (Navis 1984). Sebagaimana dinyatakan dalam ungkapan kok pai tampek batanyo, kok pulang tampek babarito (jika pergi tempat bertanya, jika pulang tempat mengadu.

Kedudukan dan Peranan orang lansia dalam keluarga dan masyarakat dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan dihargai apalagi dianggap memiliki prestise yang tinggi dalam masyarakat menjadikan lansia secara psikologis lebih sehat secara mental. Perasaan diterima oleh orang lain akan mempengaruhi tanggapan mereka dalam memasuki hari tua, dan berpengaruh pula kepada derajat kesehatan lansia. Berbeda halnya jika lansia dianggap peranan yang tidak diinginkan dalam masyarakat.

Penelitian Edi Indrizal (2005) mengenai orang lansia di Minangkabau, menunjukkan bahwa dalam tatanan ideal masyarakat matrilineal Minangkabau, hubungan struktur keluarga, ikatan solidaritas sosial, dan tradisi merantau kesemuanya fungsional sebagai jaminan sosial bagi orang lansia sehingga orang lansia tidak boleh hidup tersia-sia di hari tuanya, maka hal itu dapat menjadi aib malu anak-kemenakan, keluarga, kerabat atau bahkan orang sekampung. Namun, dalam kondisi yang berubah dalam masyarakat Minangkabau kotemporer, diantaranya perubahan struktur keluarga luas ke keluarga inti, pola menetap neolokal, membawa konsekuensi perubahan fungsi struktur keluarga dan hubungan sosial dalam masyarakat Minangkabau. Perubahan-perubahan fungsi struktur keluarga membawa implikasi terhadap kehidupan orang lansia. Orang lansia tanpa anak memperoleh masalah tersendiri di dalam masyarakat Minangkabau, tampaknya lebih dominan masalah sosial dibandingkan masalah menurunnya kondisi fisik akibat usia yang bertambah tua.

PANDANGAN YANG TIDAK MENGHORMATI LANSIA

Seiring berkembangnya jaman, pandangan terhadap lansia dan kedudukan lansia dalam masyarakat pun mengalami perubahan yang cukup signifikan. Di sebagian besar negara khususnya negara maju, lansia tidak lagi dianggap sebagai orang yang harus dihormati dan dihargai. Lansia cenderung dianggap menjadi beban hidup bagi mereka yang menanggungnya. Lansia menjadi beban hidup karena kemampuan mereka yang sudah menurun dan tidak produktif lagi. Ditambah karena penurunan fisik yang menyebabkan mereka sakit-sakitan menyebabkan lansia dianggap sebagai pemboros uang dan menambah beban ekonomi keluarga yang menanggungnya. Walaupun masih banyak negara-negara yang masih menjunjung tinggi rasa hormat pada lansia, tetapi ada juga beberapa negara yang memiliki pandangan berlawanan dengan pandangan negara yang menghormati lansia khususnya negara yang menganut kebudayaan timur.

Di Korea misalnya, orang percaya bahwa manusia diberi Tuhan jangka hidup selama 60 tahun. Orang yang hidup lebih lama berarti mengambil umur orang lain. Lansia yang hidup hingga usia 60 tahun ke atas akan dianggap sebagai orang yang mengambil jatah umur orang lain dan mereka akan cenderung diabaikan dan tidak lagi dihormati.

Di Amerika Serikat, usia tua adalah peranan yang tidak banyak diinginkan, dan kemungkinan kehormatan dan penghargaan lebih sering diimbangi oleh kurangnya perhatian kepentingan dan perhatian dari keluarga dan masyarakat. Laki-laki dan perempuan tua seringkali hidup dan meninggal “dalam keputusasaan’, merasa kekosongan semata-mata, mereka bukan apa-apa dan matipun bukan apa-apa (Foster & Anderson 1986). Sebagian besar lansia di Amerika tinggal di panti-panti jompo dan jarang sekali mereka yang ikut pada anaknya. Hal ini disebabkan budaya Amerika sendiri yang mengharuskan anak yang usianya sudah menginjak 18 tahun untuk hidup mandiri dan bebas dari orangtua. Sehingga pada akhirnya anak tersebut merasa tidak bertanggung jawab terhadap orangtua mereka lagi.

PENUTUP

Perubahan sistem dan struktur dalam masyarakat, membawa implikasi terhadap peran dan kedudukan lansia dalam keluarga dan masyarakat. Misalnya perubahan dari bentuk keluarga luas pada masyarakat tradisional ke keluarga inti (nuclear family) berimplikasi bahwa orang lansia akan mengalami hidup sendiri. Kondisi hidup sendiri jauh dari perhatian keluarga akan membawa masalah terhadap orang lansia, terutama orang lansia yang tidak memiliki ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang lansia yang hidup miskin, akan menganggu kondisi kesehatannya yang telah mengalami kemunduran fisik, sehingga memunculkan berbagai penyakit.

REFERENSI

Fitriani, Erda. 2005. Pola Kebiasaan makan Penderita Hipertensi lanjut Usia pada Orang Minangkabau di Jakarta. Tesis tidak diterbitkan. Depok: Universitas Indonesia.

___________. 2009. Lansia dalam Keluarga dan Masyarakat. [Online]. Diambil tanggal 3 April 2009. Diambil dari http://erdafitriani.wordpress.com/author/erdafitriani/

Foster, George M dan Barbara Gallatin Anderson. 1986. Antropologi Kesehatan. Terjemahan, Priyanti Pakan Suryadarma dan Meutia F. Hatta Swasono. Jakarta. Universitas Indonesia Press.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: