Oleh: Ramadhan | Oktober 1, 2009

PENUAAN PADA SISTEM NEUROLOGIS

Disusun Oleh :
DWI LESTARI MULIYANI

07.40.061/3B

PENUAAN PADA SISTEM NEUROLOGIS

PROSES PENUAAN (AGEING PROCESS)

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki dari atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang di derita (CONSTANTINIDES, 1994)

Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara ilmiah. Dimulai sejak lahirdan umumnya dialami pada semua makhluk hidup.

Proses menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Adakalanya orang belum tergolong lanjut usia (masih muda) tetapi kekurangan – kekurangannya yang menyolok (deskripansi)

TEORI TEORI PROSES PENUAAN

Sebenarnya secara individu :

Tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda.

Masing-masing lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda.

Tidak ada satu faktor pun ditemukan untuk mencegah proses menua.

TEORI-TEORI BIOLOGI

Teori genetik dan Mutasi(Somatic Mutatie Theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul/DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin. (Terjadi penurunan kemampuan fungsional sel).

“Pemakaian dan Rusak”

kelebihan usaha dan stess menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh, yang disebut teori akumulasi dari produk sisa. Sebagai contoh adanya pigmen Lipofuchine di sel otot jantung dan sel susunan saraf pusat pada orang lanjut usia yang mengakibatkan mengganggu fungsi sel itu sendiri.

Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.

Tidak ada perlindungan terhadap: radiasi, penyakit, dan kekurangan gizi.

Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto Immune Theory)

Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jarinagan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa berinvolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan auto imun. (Menurut GOLDTERIS & BROCKLEHURST,1989).

Teori “Immunologi Slow Virus” (Imunology Slow Virus Theory)

Sistem imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

Teori Stress

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh telah terpakai.

Teori Radikal Bebas

Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.

Teori Rantai Silang

Sel-sel yang tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan, dan hilangnya fungsi.

Teori Program

Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENUAAN

Meliputi :
BATASAN BATASAN LANJUT USIA

Mengenai kapankah orang disebut lanjut usia, sulit dijawab secara memuaskan. Di bawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Lanjut usia

meliputi :
Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.

Lanjut usia (elderly)

ialah antara 60 dan 74 tahun.
Lanjut usia tua (old)

ialah antara 75 dan 90 tahun.
Usia sanagt tua (very old) ialah di atas 90 tahun..

Menurut Prof. Dr. Ny, Sumiati Ahmad Mohamad

Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad mohamad (alm) Guru Besar Universitas Gajah Mada pada Fakultas Kedokteran, membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai berikut.

0 – 1 tahun = masa bayi

1 – 6 tahun = masa prasekolah

6 -10 tahun = masa sekolah

10-20 tahun = masa pubertas

40-65 tahun = masa setengah umur(Prasenium)

65 tahun keatas=masa Lanjut Usia(Senium)

Menurut Dra.Ny.Jos Masdani (Psikolog UI)

Mengatakan lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian. Pertama= fase iuventus, antara 25 dan 40 tahun, kedua = fase verilitas, antara 40 dan 50 tahun, ketiga = fase prasenium, antara 55 dan 65 tahun, dan keempat = fase senium, antara 65 tahun hingga tutup usia.

Menurut Prof. Dr. koesoemato Setyonegoro

Pengelompokkan lanjut usia sebagai berikut: Usia Dewasa Muda (elderly adulthood) antara usia 18 atau 20 – 25 tahun. Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas antara usia 25 – 60 atau 65 tahun. Lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 atau 70 tahun. Terbagi untuk umur 70 – 75 tahun (young old), 75 – 80 tahun (old), dan lebih dari 80 tahun (very old).

Menurut Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1965

Bantuan penghidupan orang jompo/lanjut usia yang termuat dalam pasal 1 dinyatakan sebagai berikut : “Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain. (INI SUDAH DIPERBARUI KARENA SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI). Saat ini berlaku Undang-Undang No.13/th. 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia yang berbunyi sebagai berikut : BAB I pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut Usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas.

Sebenarnya lanjut usia merupakan suatu proses alami yang tidak dapat ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Umur manusia sebagai makhluk hidup terbatas oleh suatu peraturan alam. Umur manusia maksimal sekitar 6x umur masa bayi sampai (6×20 tahun =120 tahun). Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, yang pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental, dan sosial sedikit demi sedikit sampai tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi sehingga sehingga bagi kebanyakan orang, masa tua itu merupakan masa yang kurang menyenangkan.

Birren and Jenner (1997)

mengusulkan untuk membedakan antara: usia biologis, usia psikologis, dan usia social.
Usia biologis:

yang menunjuk kepada jangka waktu seseorang sejak lahirnya berada dalam keadaan hidup tidak mati.
Usia psikologis:

yang menunjuk kepada kemampuan seseorang untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian kepada situasi yang dihadapinya.
Usia sosial:

yang menunjuk kepada peran-peran yang diharapkan atau diberikan masyarakat kepada seseorang sehubungan dengan usianya.
Ketiga jenis usia yang dibedakan oleh Birren dan Jenner itu saling mempengaruhi dan proses-prosesnya saling berkaitan. Oleh karena itu, secara umum tidak akan terdapat perbedaan yang terlalu menyolok antara kelangsungan ketiga jenis usia tersebut.

Dalam batas-batas tertentu seseorang sudah tua dilihat dari keadaan fisiknya namun tetap bersemangat muda. Yang pertama ada hubungan dengan usia biologisnya dan kedua dengan usia psikologisnya.

PERUBAHAN NEUROLOGIS YANG TERJADI PADA PROSES LANJUT USIA

Berat otak menurun 10 – 20 %. (setiap oarng berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya)

Cepatnya menurun hubungan persarafan.

Lambat dalam respon dan waktuuntuk bereaksi, khususnya dengan stress.

Mengecilnya saraf panca indera.

Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.

Kurang sensitive terhadap sentuhan.

PERUBAHAN ANAYOMIS PADA SISTEM SYARAF PUSAT:

1.Otak

Berat otak ≤ 350 gram pada saat kelahiran, kemudian meningkat menjadi 1,375 gram pada usia 20 tahun,berat otak mulai menurun pada usia 45-50 tahun penurunan ini kurang lebih 11% dari berat maksimal. Berat dan volume otak berkurang rata-rata 5-10% selama umur 20-90 tahun. Otak mengandung 100 million sel termasuk diantaranya sel neuron yang berfungsi menyalurkan impuls listrik dari susunan saraf pusat.

Pada penuaan otak kehilangan 100.000 neuron / tahun. Neuron dapat mengirimkan signal kepada beribu-ribu sel lain dengan kecepatan 200 mil/jam. Terjadi penebalan atropi cerebral (berat otak menurun 10%) antar usia 30-70 tahun. Secara berangsur angsur tonjolan dendrite dineuron hilang disusul membengkaknya batang dendrit dan batang sel. Secara progresif terjadi fragmentasi dan kematian sel. Pada semua sel terdapat deposit lipofusin (pigment wear and tear) yang terbentuk di sitoplasma, kemungkinan berasal dari lisosom atau mitokondria. RNA, Mitokondria dan enzyme sitoplasma menghilang, inklusi dialin eosinofil dan badan levy, neurofibriler menjadi kurus dan degenerasi granulovakuole. Corpora amilasea terdapat dimana-mana dijaringan otak.

Berbagai perubahan degenerative ini meningkat pada individu lebih dari 60 tahun dan menyebabkan gangguan persepsi, analisis dan integrita, input sensorik menurun menyebabkan gangguan kesadaran sensorik (nyeri sentuh, panas, dingin, posisi sendi). Tampilan sesori motorik untuk menghassilakan ketepatan melambat.

Gangguan mekanisme mengontrol postur tubuh dan daya anti gravitasi menurun, keseimbangan dan gerakan menurun. Daya pemikiran abstrak menghilang, memori jangka pendek dan kemampuan belajar menurun, lebih kaku dalam memandang persoalan, lebih egois, dan introvert.

2. Saraf Otonom.

Pusat penegndalian saraf otonom adalah hipotalamus. Beberapa hal yang dikatakan sebagai penyebab terjadinya gangguan otonom pada usia lanjut adalah penurunanasetolikolin, atekolamin, dopamine, noradrenalin.

Perubahan pada “neurotransmisi” pada ganglion otonom yangberupa penurunan pembentukan asetil-kolin yang disebabkan terutama oleh penurunan enzim utama kolin-asetilase.

Terdapat perubahan morfologis yang mengakibatkan pengurangan jumlah reseptor kolin. Hal ini menyebabkan predisposisi terjadinya hipotensi postural, regulasi suhu sebagai tanggapan atas panas atau dingin terganggu, otoregulasi disirkulasi serebral rusak sehingga mudah terjatuh.

Perubahan penuaan pada sistem saraf

Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penuaan menyebabkan penurunan persepsi sensorik dan respon motorik pada susunan saraf pusat dan penurunan reseptor proprioseptif.

Perubahan sistem saraf pada penuaan

Atropi serebrum

Peningkatan cairan serebrospinal

Neuronal loss

Kematian dendrite

Peningkatan granula lipofosin

Penurunan keefektifan sistem neurotransmitter

Penurunan sirkulasi darah otak

Penurunan gangguan glukosa

Penurunan pada EEG

Berkurangnya serabut saraf motorik

Penurunan kecepatan konduksi saraf

Perubahan tersebut mengakibatkan penurunan kognitif, koordinasi, dan keseimbangan kekakuan otot, reflek, propioseptif, perubahan postur dan peningkatan waktu reaksi.

REFERENSI

Nugroho,Wahjudi.2000.Keperawatan Gerontik.Jakarta:EGC

http://www.proses

penuaan pada sistem neurologis.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: