Oleh: Ramadhan | Agustus 29, 2009

PENYAKIT MENULAR SEXSUAL

OLEH :
ENI ROIHATUL JANNAH
NIM    : 07017

PEMBIMBING : ERFANDI

A. PENGERTIAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS)

PMS adalah singkatan dari Penyakit Menular Seksual, yang berarti suatu infeksi atau penyakit yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal atau lewat vagina).
PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin, atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak, dan organ tubuh lainnya.

B. RANTAI PENULARAN PMS

Virus, bakteri, protozoa, parasit dan jamur
Manusia, bahan lain yang tercemar kuman
Penis, vagina, lubang pantat, kulit yang terluka, darah, selaput lendir.
Yang paling umum adalah hubungan seks (penis-vagina, penis-lubang pantat, mulut-lubang pantat, mulut-vagina, mulut-penis).
Hubungan seks, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama dari orang yang terkena PMS ke orang lainnya (obat suntik terlarang, transfusi darah yang tidak steril, jarum tato dan lainnya).
Orang yang berperilaku seks tidak aman. Makin banyak pasangan seks, makin tinggi kemungkinan terkena PMS dari orang yang sudah tertular.

C. PENCEGAHAN

Patahkan salah satu rantai penularan
Pakailah kondom saat berhubungan seksual dengan orang yang beresiko?telah terkena PMS
.
D. JENIS-JENIS PMS

1.Gonorrhea
Gonorrhea biasa disebut “GO” disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Masa inkubasi pada pria : 3-30 hari sedangkan pada wanita 3 sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.
Pada pria diagnosa ditentukan dengan adanya gram ( gram +) pada pemeriksaan smear terhadap pengeluaran melalui penis. Untuk menentukan diagnosa GO pada wanita, selanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan kultur dari serviks, uretra, tenggorokan dan anus.
Tanda dan gejala:
Pria : Pengeluaran cairan purulen melalui uretra, disuria, epididymitis dan prostatitis.
Wanita : Pada tahap dini asimptomatis selanjutnya servisitis dengan pengeluaran yang purulen, gartolinitis.
Terapi pada GO:
Procaine penicillin G (IM) dan Progenetid (PO) atau Ampicilline dan probenecide ( PO ).Sebelum pemberian terapi ini,kita perlu untuk melakukan tes terlebih dahulu, karena dapat menyebabkan syok anapilaksis setelah 30 menit injeksi penicilline.

2. Syphillis
Syipilis disebabkan oleh Spirochete treponema pallidum yamg masuk kedalam tubuh melalui membrane mukosa atau kulit selama melakukan hub seksual.
Tanda dan gejala:
Tahap primer :adanya luka pada vulva atau penis sangata nyeri, ulkus primer baik tunggal maupun kelompok, mungkin terjadi juga pada bibir, lidah tangan, rectum atau putting susu.
Tahap sekunder :yaitu 2-4 minggu setelah timbulnya ulkus sampai 2-4 tahun. Pasien merasa demam, sakit kepala, tidak nafsu makan, hilang berat badan, anemia, sakit pada tenggorokan, kemerahan dan sakit pada mata, kuning dengan atau tanpa hepatitis, sakit pada otot persendian dan tulang panjang. Pada umumnya tubuh lemah, kemerahan serta adanya condylomata pada rectum dan genitalia.
Pada tahap laten :5-20 tahun tidak ada tanda-tanda klinik, sedangkan pada tahap lanjut yaitu terminal tidak diobati akan terlihat tumor/massa/gumma pada bagian tubuh, kerusakan pada katup jantung dan pembuluh-pembuluh darah, meningitis, paralysis, kurang koordinasi, parese, insomnia, binggung, dilusi, gangguan pikir dan bicara tidak jelas.

Terapi pada sipilis
Yaitu semua jenis Penicillin, dianjurkan penicillin G benzathine karena jenis long acting.

3. Herpes Genitalis
Herpes genitalis disebabkan karena terinfeksi oleh : Herpes virus hominis tipe 2 (HVH-2)
Tanda dan gejala:
- Adanya rupture vesicle
- Ulserasi nyeri serta pembengkakan pada kelenjar limpe inguinal
- Disuria serta merasakan gejala flu.
Terapi simtomatik
Untuk lesi dicuci dengan cairan Burow’s, H2O2, atau sabun dan air selamjutnya keringkan dengan baik.
Pencegahan dan Pengawasan
Pencagahan terhadap STD mencangkup 3 tingkatan pencegahan yaitu:
1. Pencegahan primer, ditujukan untuk mencegah penyakit mencangkup hal-hal sebagai berikut:
- Memberikan pendidikan kepada individu-individu yang tidak terinfeksi sehingga dapat menghindar dari individu yang terinfeksi.
- Identifikasi dan mengobati individu yang terinfeksi tanpa gejala.
- Wawancara pasien yang terinfeksi untuk identifikasi kontak.
- Melakukan pemeriksaan dan pengobatan pencegahanpada individu yang kontak.
- Anjurkan untuk berpatisipasi pada program pengawasan.
2. Pencegahan sekunder yaitu: untuk mencegah terjadinya komplikasi STD seperti : PID pad waktu dengan GO.

3. Pencegahan tertier, berfokus untuk menurunkan efek dari komplikasi seperti : steril atau mandul.
Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan terhadap individu yang tidak terinfeksi sangat efektif dilakukan melalui sekolah-sekolah dan kelompok masyarakat remaja dan dewasa muda
Di klinik, untuk pasien yang pertama kali mengalami STD akan merasa takut, berdosa dan tidak aman, sehingga perlu pendekatan psikologis sosial. Pendidikan kesehatan yang diberikan di klinik mencangkup : cara kerja obat, durasi, efektif, efek samping, keuntungan dan kunjungan ulang, kegagalan pengobatan akan menyebabkan remfeksi juga diberi informasi tentang : cara transmisi penyakit, proses reinfeksi, hentikan hubungan seksual jika mungkin, jika tidak bisa mengamankan kondom.
Untuk perawatan diri perlu diinformasikan tentang hal-hal sebagai berikut:
1. cuci tangan dan mandi dalam frekuensi sering.
2. Jangan lakukan (kotraindikasi) douching kecuali untuk pemberian obat-pbatan.
3. Pergunakan pakaian dalam dari katun.
4. Jangan mempergunakan lotion, cream, minyak pada luka kecuali diprogramkan.

4. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yaitu HIV (Human Immunodeficiency Virus) ditandai dengan sindroma menurunnya sistem kekebalan tubuh.Penyebab utama AIDS adalah HIV. HIV dapat ditransmisi melalui kontak seksual, darah atau produk darah dari ibu kepada bayinya. HIV tidak dapat ditransmisi melalui kontak didalam rumah, sekolah atau tempat kerja.
Gejala pertama AIDS muncul rata-rata 10 tahun dari saat terinfeksi HIV, yang selanjutnya menunjukan gejala berbagai penyakit dan menyebabkan kematian dalam waktu 1-3 tahun.
Dalam masa 10 tahun dari saat terinfeksi HIV, sipengidap tampak “sehat” namun berkemampuan untuk menularkan HIV kepada orang lain melalui hubungan seksual (berganit-ganti pasangan),melalui darah atau produk darahnya(secara suntikan, tranfusi dan transplantasi organ dari sipengidap HIV) dan melalui proses melahirkan dari ibu sipengidap HIV kepada janin atau bayinya.

Gejala-gejala AIDS
Gejala Mayor
a. Pada prang dewasa terdiri dari:
1. Penurunan berat badan lebih dari 10%
2. Diare kronik lebih dari satu bulan.
3. Demam lebih dari satu bulan (kontinyu atau intermiten)
b. Pada anak terdiri dari:
1. Penurunan berat badan atau pertumbuhan lambat yang abnormal.
2. Diare kronik lebih dari satu bulan.
3. Demam lebih dari satu bulan.

Gejala Minor
a.Pada orang dewasa terdiri dari:
1. Batuk lebih dari satu tahun.
2. Dermatitis pruritus umum.
3. Herpes Zoster rekurens.
4. Candidiasis orofarings

b. Pada anak terdiri dari:
1. Limfadenopati umum.
2. Candidiasis oroforings.
3. Infeksi umum yang terulang (otitis, faringitis)

ASUHAN KEPERAWATAN

1.PENGKAJIAN FOKUS

a. Aktivitas / istirahat

Gejala: Mudah lelah, progresi kelelahan / malaise, perubahan pola tidur

Tanda : Kelemahan otot, masa otot mrnurun, respon fisiologis terhadap aktivitas

b. Integritas Ego

Gejala : Faktor stress berhubungan dengan kehilangan, missal dukungnan keluarga, hubungan dengan orang lain, menguatirkan penampilan, mengingkari diagnosa, putus asa, krhilangan control diri dan depresi

Tanda : mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, mgagal menepati janji untuk periksa dengan gejala yang sama.

c. Eliminasi

Gejla : Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

Tanda : Lesi / abses rectal dan perianal, perubahan jumlah warna, jumlah dan karakteristik urin

d. Makanan / Cairan

Gejala : tidak nafsu makan, mual dan muntah

Tanda : Penurunan BB yang cepat / progresif, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna, kesehatan gigi/ gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal. Sdema ( umum, dependen )

e. Higiene

Gejala : tidak dapat menyelesaikan AKS

Tanda : memperlihatkan penampilan yang tidak rapi, kekurangan dalam banyak / semua perawatan diri

f. Nyeri / Kenyamanan

SSP )

Tanda : Nyeri pada kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan, gerak otot melindungi bagian yang sakit

g. Seksualitas

Gejala : riwayat perilaku beresiko tinggi yakni mengadakan hubungan seksualitas dengan pasangan yang positif HIV dan pasangan multiple, menurunkan libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seksual, penggunaan kondom yang tidak konsisiten

Tanda : kehamilan / resiko terhadap kehamilan, genetalia : manifestasi kulit misalnya herpes.

h. Interaksi Sosial

Gejala : masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis misalnya kerabat / orang terdekat, isolasi, kesepian, teman dekat / paangan seksual, mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana.

Tanda : Perubahan pada interaksi keluarga / orang terdekat, aktivitas yang tidak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan.

  1. Keluhan utama / penyakit utama yang mencakup beberapa gejala
  2. Riwayat kesehatan yang lalu, apakah pasien pernah mendapatkan yranfusi darah
  3. Riwayat kesehatan keluarga
  4. Pola sexual dan riwayat Sexual Transmition Disease
  5. Riwayat obat-obatan
  6. Tingkat penegtahuan pasien dan keluarga

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Nyeri bd inflamasi atau kerusakan jaringan: infeksi, lesi, ekskoriasi rectal, penularan nekrosis.
  2. Gangguan integritas kulit bd deficit immunologis AIDS dihubungkan dengan infeksi virus dan jamur ( herpes pseudomonas candida).
  3. Isolasi social bd perubahan status kesehatan, perubahan pada penampilan fisik, perubahan pola seksual.

3.INTERVENSI DAN RASIONALISASI

  1. Nyeri bd inflamasi atau kerusakan jaringan: infeksi, lesi, ekskoriasi rectal, penularan nekrosis

Tujuan :

Keluhan hilang/terkontrolnya rasa sakit, menunjukan posisi/ekspresi wajah rileks, dapat tidur/beristirahat adekuat.

· Kaji keluhan nyeri, intensitas ( skala 1-10) frekuensi dan waktu

Ras : Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan tanda-tanda perkembangan/ resolusi komplikasi

· Dorong mengungkapkan perasaan

Ras : Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, sehingga mengurangi persepsi akan intensitas rasa sakit

· Instruksikan pasien untuk menggunakan bimbingan imajinasi, relaksasi progresif, teknik nafas dalam

Ras : Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat.

· Berikan analgetik sesuai indikasi

Ras : Memberikan penurunan nyeri atau tidak nyaman.

· Anjurkan klien untuk menghindari terpaparnya infeksi sedapat mungkin

· Ajarkan klien tentang metode sex yang aman yang mana tdak hanya untuk pencegahan terjadi transmisi tetapi juga perlindungan bagi klien itu sendiri

· Pedoman untuk sex yang aman mencakup menghindari berganti-ganti pasangan, menghindari hubungan sexual yang mengakibatkan pertukaran cairan tubuh ( semen, urin, sekresi vagina, darah dan feces ) dengan pasangan yang terinfeksi.

2. Gangguan integritas kulit bd deficit immunologis AIDS dihubungkan dengan infeksi virus dan jamur ( herpes pseudomonas candida)

Tujuan : Teknik untuk mencegah kerusakan kulit/meningkatkan kesembuhan, menunjukan kemajuan pada luka/penyembuhan.

· Pertahankan/intruksikan dalam hygiene kulit, missal membasuh kemudian mengeringkannya dengan hati-hati dan menggunakan losion atau krim

Ras : Mempertahankan kebersihan, kulit yan gkering dapat menjadi barier infeksi

· Pertahankan seprei bersih, kering dan tidak berkerut

Ras : Friksi kulit disebabkan oleh kain yang yang berkerut dan basah yang menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi

· Gunakan /berikan obat-obatan topical/sistemik sesuai indikasi

Ras : Digunakan pada perawatan lesi kulit (Jika menggunakan salep multidosis, perawatan harus dilakukan untuk menghindari kontaminasi silang)

· Lindungi lesi atau ulkus dengan balutan basah atau salep antibiotic dan balutan nonstick (Telfa) sesuai petunjuk.

Ras : Melindungi area ulserasi dari kontaminasi dan meningkatkan penyembuhan.

3. Isolasi social bd perubahan ststus kesehatan, perubahan pada penampilan fisik, perubahan pola seksual.

Tujuan : Menunjukkan peningkatan perasaan harga diri, berpartisipasi dalam aktivitas/program pada tingkat kemampuan/hasra.

· Menentukan persepsi pasien tentang situasi

Ras : Isolasi sebagian dapat mempengaruhi pasien saat penolakan / reaksi orang lain

· Mengidentifikasi system pendukung yang tersedia bagi pasien termasuk adanya hubungan dengan keluarga. Ras : Pasien mendapat bantuan darim orang terdekat, perasan kesepian dan dirolak akan berkurang

· Mendorong adanya hubungan yang aktif dengan orang terdekat

Ras : Membantu memantapkan partisipasi pada hubungan social

DAFTAR PUSTAKA

Brooker, Cristian. 2001. Kamus Saku Keperawatan. edisi bahasa Indonesia . EGC: Jakarta

Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan . EGC : Jakarta

Djuanda,Adi. 1993. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. FKUI: Jakarta

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: