REGULASI KEPERAWTAN (REGRISTRASI & PRAKTIK KEPERAWATAN)

DI SUSUN OLEH:

IKA WIDYA UTAMI 08.40.069

KRISTIE ALUNUARI 08.40.073

LITA ROSDIANA 08.40.074

MARTIWI 08.40.076

UMI HANIEF 08.40.093

PEMBIMBING: ERFANDI S.Kep.Ns

A. DEFINISI

Regulasi keperawatan (regristrasi & praktik keperawatan) adalah kebijakan atau ketentuan yang mengatur profesi keperawatan dalam melaksanakan tugas profesinya dan terkait dengan kewajiban dan hak. Beberapa regulator yang berhubungan dengan perawat dan keperawatan Indonesia.

Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada badan resmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah. Perawat yang telah terdaftar diizinkan memakai sebutan registered nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat harus telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan pendaftaran dengan nilai yang diterima. Izin praktik maupun registrasi harus diperbaharui setiap satu atau dua tahun.

B. KLASIFIKASI

Dalam masa transisi professional keperawatan di Indonesia, sistem pemberian izin praktik dan registrasi sudah saatnya segera diwujudkan untuk semua perawat baik bagi lulusan SPK, akademi, sarjana keperawatan maupun program master keperawatan dengan lingkup praktik sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Pengaturan praktik perawat dilakukan melalui Kepmenkes nomor 1239 tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat, yaitu setiap perawat yang melakukan praktik di unit pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta diharuskan memiliki Surat Izin Praktik (SIP) dan Surat Izin Kerja (SIK). Pengawasan dan pembinaan terhadap praktik pribadi perawat dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat Propinsi, Kabupaten sampai ke tingkat puskesmas. Pengawasan yang telah dilakukan selama ini oleh pemerintah (Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur) belum sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1239 tahun 2001.

SIP adalah suatu bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan keperawatan diseluruh wilayah indonesia oleh departemen kesehatan.

SIK adalah bukti tertulis yang diberikan perawat untuk melakukan praktek keperawatan disarana pelayanan kesehatan.

SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk menjalankan praktik perwat perorangan atau bekelompok, Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan dalam bentuk kunjungan rumah.

Standar profesi yaitu pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik.

C. (penjelasan)

Aspek legal atau hukum, legal=sah, aspek legal dalam keperawatan =sah, perawat mempunyai hak & tindakan keperawatan yang sesuai dengan standar yang berlaku perlu ada ketetapan hukum yang mengatur hak & kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakannya perawat sebagai tenaga kesehatan diatur dalam:

1. UU No. 23 Tentang Kesehatan

2. PP Nomor 32 Tentang Tenaga Kesehatan

3. Perda Kab. Kudus No. 11 Tahun 2004 Tentang Retribusi Pelayanan Tenaga Kesehatan

4. SKB MENKES-KABKN NO.733-SKB-VI-2002 NO.10 th 2002 Tentang Jabatan

5. UU No. 43 Th. 1999 Tentang POKOK2 KEPEGAWAIAN

6. PERPRES No. 54 Th. 2007 Tentang Tunjangan Fungsional Tenaga Kesehatan

7. PERPRES No. 26 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Struktural

8. PP No. 12 Tahun 2002 Tentang Kenaikan Pangkat PNS

9. PP No. 13 Tahun 2002 Tentang Pengangkatan PNS Dalam Jab. Struktural

10. PP No. 13 Tahun 2007 Tentang Penetapan Pensiun Pokok

11. PP No. 43 Tahun 2007 Tentang PHD Menjadi PNS

12. PP No. 099 Tahun 2000 Tentang Kenaikan Pangkat PNS

13. PP No. 12 Tahun 2002 Tentang Perubahan PP 99 Th 2000 Kenaikan Pangkat PNS

14. PP Nomor 09 Tahun 2003 Tentang Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian

PNS

15. KEPMENPAN No. 138 Tahun 2002 Tentang Penghargaan Pegawai Negeri Sipil

Teladan.

Pengaturan penyelenggaraan praktik keperawatan bertujuan untuk:

  • memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima dan pemberi jasa pelayanan keperawatan.
  • Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat.
  • Mendorong para pengambil kebijakan dan elemen-elemen yang terkait lainnya untuk memberikan perhatian dan dukungan pada model praktik keperawatan komunitas.
  • Mendorong pemerintah mengeluarkan regulasi yang dapat memberikan jaminan pada penyelenggaraan praktik keperawatan komunitas yang profesional
  • Mendorong terbentuknya sistem monitoring dan evaluasi yang efisien dan efektif

Lingkup praktik keperawatan meliputi:

  • Memberikan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan sederhana dan kompleks.
  • Memberikan tindakan keperawatan langsung, pendidikan, nasehat, konseling, dalam rangka penyelesaian masalah kesehatan melalui pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam upaya memandirikan sistem klien.
  • Memberikan pelayanan keperawatan di sarana kesehatan dan tatanan lainnya.
  • Memberikan pengobatan dan tindakan medik terbatas, pelayanan KB, imunisasi, pertolongan persalinan normal dan menulis permintaan obat/resep.
  • Melaksanakan program pengobatan secara tertulis dari dokter.

D. DAFTAR PUSTAKA:

http:\www.dinkes ngawi.netindex.modelkemitraan dalampengarahan masy&catid.com

http:\regulasi kepperawat_ima.blogspot.com

http:\regulasi kepsistem legislasi tenaga keperawatan(PDF file)

http:\www.bondankomunitas.blogspot.com

http:\www.hukum regulasi kep.com

http:\regulasi kepmodel kemitraan kep komunitas dalam pengembangan kesehatan

masyarakat.htm

http:\regulasi keplihat materi.htm

http:\regulasi kepaspek legal perawat.htm

keperawatan profesi.doc

DISUSUN OLEH:

CICI KUSUMA P. (08.007)

KELVIN KELCES (08.019)

LITA CHUZATUL B.(08.021)

MUJISARI TRI R. (08.029)

PEMBIMBING: P.ERFANDI S,Kep,Ns

PENGERTIAN

Model praktik keperawatan adalah diskripsi atau gambaran dari praktik keperawatan yang nyata dan akurat berdasarkan kepada filosofi, konsep dan teori keperawatan.Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik keperawatan profesional (MPKP).

TUJUAN MODEL KEPERAWATAN

1.Menjaga konsistensi asuhan keperawatan

2.Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawata.

3.Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.

4.Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan.

5.Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota tim keperawatan.

PELAYANAN KESEHATAN PRIMER(PHC)

Dalam penilainan tahunannya tentang kesehatan dunia, para delegasi yang menghadiri pertemuan ke 28 World Health Assembly di Geneva telah memutuskan bahwa situasi global sekarang ini tidak sehat. Sejumlah contoh dari berbagai belahan dunia telah meyakinkan mereka bahwa penggunaan suatu pendekatan yang disebut PHC, dapat berkontribusi sangat besar dalam membebaskan seluruh masyarakat dari penderitaan yang terabaikan, nyeri, ketidakmampuan dan kematian. Masyarakat global dapat terjamin, banyak beban berat dari berbagai penderitaan dan kematian yang tidak diinginkan oleh jutaan orang diseluruh dunia dapat dicegah melalui penerapan konsep PHC (Bryant,1969;Newell,1975).

Metode Keperawatan Primer

Metode ini pertama kali diperkenalkan di Inggris oleh Lydia Hall (1963) ini merupakan sistem dimana seorang perawat bertanggung jawab selama 24 Jam sehari, 7 hari per minggu,ini merupakan metode yang memberikan perawatan secara komprehensif, individual dan konsisten. Metode keperawatan primer membutuhkan pengetahuan keperawatan dan keterampilan manajemen. Perawat primer mempunyai tugas mengkaji dan membuat prioritas setiap kebutuhan pasien, mengidentifikasi diagnosa keperawatan, mengembangkan rencana keperawatan, dan mengevaluasi keefektivitasan perawatan. Sementara perawat yang lain menjalankan tindakan keperawatan, perawat primer mengkoordinasi perawatan dan menginformasikan tentang kesehatan pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Keperawatan Primer melibatkan semua aspek peran profesional, termasuk pendidikan kesehatan, advokasi, pembuatan keputusan, dan kesinambungan perawatan. Perawat primer merupakan manager garis terdepan bagi perawatan pasien dengan segala akuntabilatas dan tanggung jawab yang menyertainya.

DAFTAR PUSTAKA

Priharjo, Robert.1995.Praktik Keperawatan Profesional Konsep Dasar Dan Hukum.Jakarta:EGC

Ali, Zaidin,Haji.2001.Dasar-Dasar Keperawatan Profesional.Jakarta:Widya Medika

Ali, Zaidin,Haji.2001.Pengantar Keperawatan Profesional.Jakarta:Widya Medika

Anderson, T Elizabeth Judith Mc Farlane.2006.Buku Ajar Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik.Jakarta:EGC

Oleh: Ramadhan | Oktober 5, 2009

Penuaan Sistem Pulmonal

Nama : Diah Purwaning Rahayu

NIM : 07.40.013

Pembimbing : Erfandi S.Kep.Ners

PENUAAN SISTEM PULMONAL

Pendahuluan

Dengan pertambahan umur, ditambah dengan adanya faktor-faktor lingkungan yang lain, terjadilah perubahan anatomik-fisiologik tubuh. Pada tingkat awal perubahan itu mungkin merupakan homeostatis normal, kemudian bisa timbul homeostatis abnormal atau reaksi adaptasi dan paling akhir terjadi kematian sel (Kumar et al, 1992). Salah satu organ tubuh yang mengalami perubahan anatomik-fisiologik akibat bertambahnya usia seseorang adalah sistem pernafasan.

Pada usia lanjut, selain terjadi perubahan anatomik-fisiologik dapat timbul pula penyakit-penyakit pada sistem pernafasan. Umumnya, penyakit-penyakit yang diderita kelompok usia lanjut merupakan : (1) kelanjutan penyakit yang diderita sejak muda (2) akibat gejala sisa penyakit yang pernah diderita sebelumnya (3) penyakit akibat kebiasaan-kebiasaan tertentu di masa lalu (misalnya kebiasaan merokok, minum alkohol dan sebagainya) dan (4) penyakit-penyakit yang mudah terjadi akibat usia lanjut. Penyakit-penyakit paru yang diderita kelompok usia lanjut juga mengikuti pola penyebab atau kejadian tersebut (Mangunegoro, 1992.)

Pada kesempatan ini akan diuraikan mengenai gangguan sistem respirasi pada usia lanjut, meliputi aspek enatomik-fisiologik, aspek epidemiologik, serta aspek klinik.

Perubahan Anatomik-Fisiologik Sistem Pernafasan

Pada usia lanjut terjadi perubahan-perubahan anatomik yang mengenai hampir seluruh susunan anatomik tubuh, dan perubahan fungsi sel, jaringan atau organ yang bersangkutan.

  1. Perubahan Anatomik Sistem Pernafasan

Yang mengalami perubahan adalah :

  1. Dinding dada : tulang-tulang mengalami osteoporosis, tulang-tulang rawan mengalami osifikasi, terjadi perubahan bentuk dan ukuran dada. Sudut epigastrik relatif mengecil dan volume rongga dada mengecil.
  2. Otot-otot pernafasan : mengalami kelemahan akibat atrofi.
  3. Saluran nafas : akibat kelemahan otot, berkurangnya jaringan elastis cincin bronkus dan alveoli menyebabkan lumen bronkus mengecil. Cincin-cincin tulang rawan bronkus mengalami perkapuran (Widjayakusumah, 1992; Bahar, 1990).
  4. Struktur jaringan parenkim paru : bronkiolus, duktus alveolaris dan alveolus membesar secara progresif, terjadi emfisema senilis (Bahar, 1992). Struktur kolagen dan elastin dinding saluran nafas perifer kualitasnya mengurang sehingga menyebabkan elastisitas jaringan parenkim paru mengurang. Penurunan elastisitas jaringan parenkim paru pada usia lanjut dapat karena menurunnya tegangan permukaan akibat pengurangan daerah permukaan alveolus (Taylor et al, 1989; Levinzky, 1995; Bahar, 1990).
  1. Perubahan-perubahan fisiologik sistem pulmonal

Perubahan fisiologik fungsi) pada sistem pernafasan yang terjadi antara lain :

  1. Gerak pernafasan : adanya perubahan bentuk, ukuran dada, maupun volume rongga dada akan merubah mekanika pernafasan, amplitudo pernafasan menjadi dangkal, timbul keluhan sesak nafas. Kelemahan otot pernafasan menimbulkan menimbulkan penurunan kekuatan gerak nafas, lebih–lebih apabila terdapat deformitas rangka dada akibat penuaan (Bahar, 1990)
  2. Distribusi gas. Perubahan strukturanatomik salurannafas akan menimbulkan penumpukan udara dalam alveolus (air trapping) ataupun gangguan pendistribusian udara nafas dalam cabang-cabang bronkus.
  3. Volume dan kapasitas paru menurun. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor: (1) kelemahan otot nafas, (2) elastisitas jaringan parenkim paru menurun, (3) resistensi saluran nafas (menurun sedikit). Secara umum dikatakan bahwa pada usia lanjut terjadi pengurangan ventilasi paru (Bahar, 1990; Widjajahkusumah, 1992).
  4. Gangguan transport gas.

Pada usia lanjut terjadi penurunan PaO2 secara bertahap, yang penyebabnya terutama disebabkan oleh ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (Mangunegoro, 1992). Selain itu diketahui bahwa pengambilan O2 oleh darah dari alveoli (difusi) dan transport O2 ke oleh jaringan-jaringan berkurang, terutama terjadi pada saat melakukan olah raga. Penurunan pengambilan O2 maksimal disebabkan antara lain karena : (1) berbagai perubahan pada jaringan paru yang menghambat difusi gas, dan (2) karena berkurangnya aliran darah ke paru akibat turunnya curah jantung (Widyakusumah, 1992).

  1. Gangguan perubahan ventilais paru.

Pada usia lanjut terjadi pengaturan ventilasi paru, akibat adanya penurunan kepekaan kemoreseptor perifer, kemoreseptor sentral ataupun pusat-pusat pernafasan dimedulla oblongata dan pons terhadap rangsangan berupa penurunan PaO2, peninggianPaCO2, perubahan pH darah arteri dan sebagainya (Bahar, 1990).

Faktor-Faktor Yang Memperburuk Fungsi Sistem Pulmonal

Selai penurunan fungsi paru akibat proses penuaan, terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk fungsi paru (Silverman dan Speizer, 1996: Tim Pneumobil Indonesia, 1994). Faktor-faktor yag memperburuk fungsi paru antara lain :

  1. Faktor merokok

Merokok akan memperburuk fungsi paru, yaitu terjadi penyempitan saluran nafas. Pada tingkat awal, saluran nafas akan mengalami obstruksi dan terjadi penurunan nilai VEP1 yang besarnya tergantung pada beratnya penyakit paru tadi. Pada tingkat lanjut dapat terjadi obstruksi yang iereversibel, timbul penyakit baru obstruktif menahun (PPOM) (Silverman dan Speizer, 1996; Burrows, 1990).

  1. Obesitas

Kelebihan berat badan dapat memperburuk fungsi paru seseorang. Pada obesitas, biasanya terjadi penimbunan lemak pada leher, dada, dan dinding perut yang akan mengganggu compliance dinding dada, berakibat penurunan volume paru atau terjadi keterbatasan gerakan pernafasan (restriksi) dan timbul gangguan fungsi paru tipe restriktif (Taylor et al, 1989; Levinxky, 1995.

  1. Imobilitas

Imobilitas akan menimbulkan kekakuan atau keterbatasan gerak saat otot-otot berkontraksi, sehingga kapasitas vital paksa atau volume paru akan “relatif” berkurang. Imobilitas karena kelelahan otot-otot pernafasan pada usia lanjut dapat memperburuk fungsi paru (ventilasi paru). Faktor-faktor lain yang menimbulkan imobilitas (paru), misalnya efusi pleura, pneumotoraks, tumor paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992). Perbaikan fungsi paru dapat dilakukan dengan menjalankan olahraga secara intensif (Rahmatullah, 1993).

  1. Operasi

Tidak semua operasi (pembedahan) mempengaruhi faal paru. Dari pengalaman para ahli diketahui bahwa yang pasti memberikan pengaruh faal paru adalah : (1) pembedahan toraks (jantung dan paru); (2) pembedahan abdomen bagian atas; dan (3) anestesi atau jenis obat anestesi tertentu. Perubahan fungsi paru yang timbul, meliputi perubahan proses ventilasi, distribusi gas, difusi gas serta perfusi darah kapiler paru. Adanya perubahan patofisiologik paru pasca bedah mudah menimbulkan komplikasi paru : atelektasis, infeksi atau sepsis dan selanjutnya mudah terjadi kematian karena timbulnya gagal nafas (Rahmatullah, 1997).

Patogenesis Penyakit Paru Pada Usia Lanjut

Mekanisme timbulnya penyakit yang menyertai usia lanjut dapat dijelaskan atau dapat dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan-perubahan tersebut adalah :

  1. Perubahan anatomik-fisiologik

Dengan adanya perubahan anatomik-fisiologik sistem pernafasan ditambah adanya faktor-faktor lainnya dapat memudahkan timbulnya beberapa macam penyakit paru : bronkitis kronis, emfisema paru, PPOM, TB paru, kanker paru dan sebagainya (Mangunegoro, 1992; Davies, 1985; Widjayakusumah, 1992; Rahmatullah, 1994; Suwondo, 1990 a, 1990 b; Yusuf, 1990).

  1. Perubahan daya tahan tubuh

Pada usia lanjut terjadi penurunan daya tahan tubuh, antara lain karena melemahnya fungsi limfosit B dan T (Subowo, 1993; Roosdjojo dkk, 1988), sehingga penderita rentan terhadap kuman-kuman patogen, virus, protozoa, bakteri atau jamur (Haryanto dan Nelwan, 1990).

  1. Perubahan metabolik tubuh

Pada orang usia lanjut sering terjadi perubahan metabolik tubuh, dan paru dapat ikut mengalami perubahan. Penyebab tersering adalah penyakit-penyakit metabolik yang bersifat sistemik : diabetes mellitus, uremia, artritis rematoid dan sebagainya. Faktor usia peranannya tidak jelas, tetapi lamanya menderita penyakit sistematik mempunyai andil untuk timbulnya kelainan paru tadi (Davies, 1988).

  1. Perubahan respons terhadap obat

Pada orang usia lanjut, bisa terjadi bahwa penggunaan obat-obat tertentu akan memberikan respons atau perubahan pada paru dan saluran nafas, yang mungkin perubahan-perubahan tadi tidak terjadi pada usia muda. Contoh, yaitu penyakit paru akibat idiosinkrasi terhadap obat yang sedang digunakan dalam pengobatan penyakit yang sedang dideritanya, yang mana proses tadi jarang terjadi pada usia muda (Davies, 1985).

  1. Perubahan degeneratif

Perubahan degeneratif merupakan perubahan yang tidak dapat dielakkan terjadinya pada individu-individu yang mengalami proses penuaan. Penyakit paru yang timbul akibat proses (perubahan) degeneratif tadi, misalnya terjadinya bronkitis kronis, emfisema paru, penyakit paru obstruktif menahun, karsinoma paru yang terjadinya pada usia lanjut dan sebagainya (Davies, 1985).

Pencegahan Penyakit Paru Pada Usia Lanjut

Proses penuaan pada seseorang tidak bisa dihindari. Perubahan struktur anatomik maupun fisiologik alami juga tidak dapat dihindari. Pencegahan terhadap timbulnya penyakit-penyakit paru pada usia lanjut dilakukan pada prinsipnya dengan meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan memperbaiki keadaan gizi, menghilangkan hal-hal yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, misalnya menghentikan kebiasaan merokok, minum alkohol dan sebagainya.

Pencegahan terhadap timbulnya beberapa macam penyakit dilakukan dengan cara yang lazim.

  1. Usaha pencegahan infeksi paru / saluran nafas

Usaha untuk mencegahnya dilakukan dengan jalan menghambat, mengurangi atau meniadakan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya infeksi. Hal positif yang dapat dilakukan misalnya dengan melakukan vaksinasi dengan vaksin pneumokok untuk menghindari timbulnya pneumoni, tetapi sayangnya pada usia lanjut vaksinasi ini kurang berefek (Mangunegoro, 1992).

  1. Usaha mencegah timbulnya TB baru

Yang bisa dilakukan ialah menghindari kontak person dengan penderita TB paru atau menghindari cara-cara penularan lainnya

  1. Usaha pencegahan timbulnya PPOM atau karsinoma paru

Sejak usia muda, bagi orang-orang yang beresiko tinggi terhadap timbulnya kelainan paru (PPOM dan karsinoma paru), perlu dilakukan pemantauan secara berkala : (1) pemeriksaan foto rontgen toraks, dan (2) pemeriksaan faal paru, paling tidak setahun sekali. Sangat dianjurkan bagi mereka yang beresiko tinggi tadi (perokok berat dan laki-laki) menghindari atau segera berhenti merokok (Mangunegoro, 1992).

Kesimpulan

Pada usia lanjut terjadi perubahan anatomik-fisiologik paru dan saluran nafas, antara lain berupa pengurangan elastic recoil paru, kecepatan arus ekspirasi, tekanan oksigen arteri serta respons pusat reflek pernafasan terhadap rangsangan oksigen arteri atau hiperkapnia. Hal-hal tersebut berpengaruh pada mekanisme pertahanan tubuh terhadap timbulnya penyakit paru.

Penyakit paru yang sering ditemukan pada usia lanjut adalah infeksi saluran nafas akut bagian bawah (khususnya pneumoni), tuber-kulosis paru, PPOM dan karsinoma paru.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk pencegahan terhadap timbulnya infeksi pernafasan akut bagian bawah (pneumoni), tuberkulosis paru, PPOM dan karsinoma paru pada usia lanjut.

Untuk mencegah melanjutnya penurunan fungsi paru, antara lain dapat diatasi dengan melakukan olahraga atau latihan fisik yang teratur, selain meningkatkan taraf kesehatan usia lanjut. Laju penurunan fungsi paru dapat diketahui dengan pemeriksaan faal paru secara berkala.

Daftar Pustaka

Darmojo, Budhi R, dkk, 2000. Geriatri Ilmu Kesehatan Edisi 2. FKUL : Jakarta

Nugroho, Wahyudi, 2000. Keperawatan Gerontik Edisi 2. EGC : Jakarta

TUGAS KEPERAWATAN PROFESIONAL

Falsafah dan Paradigma Keperawatan Dalam Praktek Keperawatan

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1

1. ANAS SAIFUDDIN (08.053)

2. ELIZA NOVITA P A W (08.064)

3. NINA AGUSTIN A. (08.082)

4. PUJI LESTARI (08.083)

PEMBIMBING : ERFANDI S,Kep. Ns

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN

2008-2009

Falsafah dan Paradigma Keperawatan Dalam Praktik Keperawatan

DEFINISI

- Falsafah Keperawatan

Merupakan pandangan dasar tentang hakekat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktik keperawatan. Hakekat manusia yang dimaksud disini adalah manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, sosial dan spiritual, sedangkan esensinya adalah falsafah keperawatan yang meliputi :

  1. Memandang bahwa pasien sebagai manusia yang utuh (holistik) yang harus dipenuhi segala kebutuhannya baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang diberikan secara komprehensif dan tidak bisa dilakukan secara sepihak atau sebagian dari kebutuhannya.
  2. Bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan harus secara langsung dengan memperhatikan aspek kemanusiaan.
  3. Setiap orang berhak mendapatkan perawatan tanpa memandang perbedaan suku, kepercayaan, status sosial, agama dan ekonomi.
  4. Pelayanan keperawatan tersebut merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan mengingat perawat bekerja dalam lingkup tim kesehatan bukan sendiri-sendiri.
  5. Pasien adalah mitra yang selalu aktif dalam pelayanan kesehatan, bukan seorang penerima jasa yang pasif.

- Paradigma Keperawatan

Menurut Masterman (1970) yang mendefinisikan paradigma sebagai pandangan fundamental tentang persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan.

Menurut Poerwanto (1997) mengartikan paradigma sebagai suatu perangkat bantuan yang memiliki nilai tinggi dan sangat menentukan bagi penggunanya untuk dapat memiliki pola dan cara pandang dasar khas dalam melihat, memikirkan, memberi makna, menyikapi dan memilih tindakan mengenai suatu kenyataan atau fenomena kehidupan manusia.

Keperawatan sebagai ilmu juga memiliki paradigma sendiri dan sampai saat ini paradigma keperawatan masih berdasarkan 4 komponen yang diataranya manusia, keperwatan, kesehatan dalam rentang sehat sakit dan lingkungan. Sebagai disipin ilmu, keperawatan akan selalu berkembang untuk mencapai profesi yang mandiri seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan sehingga paradigma keperawatan akan terus berkembang.

- Praktik Keperawatan

Menurut Persatuan Perawat Nasional Indonesia, praktek keperawatan adalah tindakan pemberian asuhan keperawatan profesional baik secara mandiri maupun kolaborasi, yang disesuaikan denagn lingkup wewenang dan tanggung jawabnya berdasarkan ilmu keperawatan.

Praktik Keperawatan Profesional mempunayi ciri-ciri sebagai berikut :

1. Otonomi dalam pekerjaan

2. Bertanggung jawab dan bertanggung gugat

3. Pengambilan keputusan yang mandiri

4. Kolaborasi dengan disiplin lain

5. Pemberian pembelaan (advocacy)

6. Memfasilitasi kepentingan pasien atau klien

B. KLASIFIKASI

Di bawah ini adalah pandangan beberapa ahli tentang perkembangan paradigma keperawatan diantaranya :

  • Johnson

Memandang manusia sebagai sistem perilaku yang terdiri dari 2 sistem mayor yaitu biologi dan perilaku yang merupakan fokus pelayanan keperawatan dengan tujuan primernya.

  • King

Memandang manusia sebagai sistem terbuka yang sosial, rasional, perasa, pengontrol, bertujuan, bereaksi dan berorientasi pada waktu.

  • Leininger

Memandang manusia sebagai kepedulian akan kemampuan dalam mempengaruhi minat atau rasa hormat terhadap kebutuhan orang lain, kesehatan dan mempertahankan hidup.

  • Levine

Memandang kehidupan manusia selalu beriteraksi dengan lingkungannya dan menyesuaikan diri terhadap perubahan.

  • Newman

Memandang manusia sebagai total person seperti sistem klien yang terdiri dari bio psiko sosial, kultural dan saling berkembang.

  • Orem

Memandang manusia sebagai gabungan dari komponen fisik, psikologis, interpersonal dan sosial dalam memenuhi kebutuhan perwatan diri sendiri melalui belajar dari perilaku.

  • Roger

Memandang manusia secara keseluruhan secara terus-menerus terjadi pertukaran energi dengan lingkungannya.

  • Roy

Memandang manusia sebagai makhluk biopsikososial yang merupakan dasar bagi kehidupan yang baik.

  • Watson

Manusia membutuhkan proses kepedulian dalam mempertahankan kesehatan atau meninggal dengan damai dan merupakan mekanisme personal, internal dan mental spiritual untuk kesembuhan diri sendiri.

Banyak ahli yang membahas tentang beberapa konsep keperawatan, diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Florence Nightingale (1895)

Keperawatan adalah suatu proses menempatkan pasien dalam kondisi paling baik untuk beraktifitas.

  • Martha Roger (1970)

Keperawatan adalah pengetahuan yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, keperawatan dan rehabilitasi penderita sakit serta penyandang cacat.

  • King (1971)

Keperawatan ialah proses aksi dan interaksi, untuk membantu individu dari berbagai kelompok umur dan memenuhi kebutuhannya dan menangani status kesehatan mereka pada saat tertentu dalam suatu siklus kehidupan.

  • Dorothea Orem (1971)

Perawatan ialah pelayanan yang bersifat manusiawi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan manusia untuk merawat diri, kesembuhan dari penyakit atau cidera dan penanggulangan komplikasinya sehingga dapat menunjang kehidupan.

  • Callista Roy (1976)

Keperawatan merupakan disiplin ilmu yang berorientasi kepada praktik keperawatan berdasarkan ilmu keperawatan yang ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada klien.

  • V. Handerson (1978)

Perawatan adalah upaya membantu individu baik yang sehat maupun sakit untuk menggunakan kekuatan, keinginan dan pengetahuan yang dimilikinya sehimgga individu tersebut mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari, sembuh dari penyakit, atau meninggal dunia dengan tenang. Tenaga perawat berperan menolong individu agar tidak menggantungkan diri pada bantuan orang lain dalam waktu secepat mungkin.

  • Menurut Lokakarya Keperawatan (1983)

Perawatan adalah pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio, psiko, sos, spirit yang menyeluruh ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.

Pelayanan keperawatan, diberikan akibat adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan untuk melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari. Kegiatan dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama (PHC) sesuai dengan wewenang tanggung jawab dan kode etik profesi keperawatan.

Dari berbagai definisi yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa keperawatan merupakan satu bentuk pelayanan/asuhan yang bersifat humanistik, profesional dan holistik berdasarkan ilmu dan kiat, memiliki standart asuhan dan menggunakan kode etik, serta dilandasi oleh profesionalisme yang mandiri dan atau kolaborasi.

C. KOMPONEN DAN PERKEMBANGAN PARADIGMA KEPERAWATAN

Dalam memahami komponen dan perkembangan teori keperawatan tetap berpedoman pada paradigma keperawatan, mengingat paradigma merupakan cara pandang dari sebuah ilmu dan keperawatan adalah ilmu yang didasari atas teori-teori yang ada. Dalam perkembanganya, teori keperawatan dapat bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

D. SISTEM PRAKTIK KEPERAWATAN

Dalam sistem ini mencakup beberapa hal yaitu antara lain :

  • Ilmu Keperawatan

Dalam prakteknya ilmu ini menggunakan pendekatan ilmiah untuk penyelesaian masalah yang ditujukan untuk menolong, memelihara dan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar.

  • Pelayanan Keperawatan

Menurut Handerson (1980) pelayanan keperawatan atau Nursing services adalah upaya untuk membantu individu baik sakit maupun sehat dari lahir sampai meninggal dunia dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan kemampuan yang dimilki sehingga individu tersebut dapat secara optimal melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

  • Asuhan Keperawatan
  1. Proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien atua pasien diberbagai tantanan pelayanan kesehatan.
  2. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidak keperawatan sebagai profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistik dan berdasarkan pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.
  3. Merupakan inti pelayanan / praktik keperawatan yang berupaya untuk :
    1. Membantu mencapai kebutuhan dasar melalui bentuk-bentuk keperawatan.
    2. Menggunakan ilmu kiat keperawatan dalam setiap tindakan.
    3. Memanfaatkan potensi dari berbagai sumber
      • Tujuan
  1. Membantu individu untuk mandiri
  2. Mengajak individu atau masyarakat berpatisipasi dalam bidang kesehatan
  3. Membantu individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara optimal agar tidak tergantung pada orla dalam memelihara kesehatannya
  4. Membantu individu memperoleh derajat kesehatan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ali, Zaidin. 2002. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta : Widya Medika.
  • Hidayat, A Aziz Alimul. 2002. Pengantar Kosep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Oleh: Ramadhan | Oktober 4, 2009

TREN DAN ISSUE LEGAL DALAM KEPERAWATAN PROFESIONAL

Di Susun Oleh:
Eka Ari Kiswanto 2 A (08.40.009)
karisma alif 2 A (08.40.018)
yeni 2 A (08.40.048)
hadori 2 a (o8.40.013)

pembimbing:
ERFANDY Skep,ners
TREN DAN ISSUE LEGAL DALAM KEPERAWATAN PROFESIONAL

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Keperawatan sebagai profesi dituntut untuk mengembangkan keilmuannya sebagai wujud kepeduliannya dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia baik dalam tingkatan preklinik maupun klinik. Untuk dapat mengembangkan keilmuannya maka keperawatan dituntut untuk peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya setiap saat.
Keperawatan medikal bedah sebagai cabang ilmu keperawatan juga tidak terlepas dari adanya berbagai perubahan tersebut, seperti teknologi alat kesehatan, variasi jenis penyakit dan teknik intervensi keperawatan. Adanya berbagai perubahan yang terjadi akan menimbulkan berbagai trend dan isu yang menuntut peningkatan pelayanan asuhan keperawatan.
Berdasarkan fenomena diatas, penulis tertarik untuk membahas Trend dan Isu Keperawatan Medikal Bedah serta Implikasinya terhadap Perawat di Indonesia.

1.2 Tujuan
Mengidentifikasi trend dalam keperawatan medikal bedah di Indonesia
Mengidentifikasi isu dalam keperawatan medikal bedah di Indonesia
Mengetahui implikasi trend dan isu keperawatan medikal bedah terhadap perawat di Indonesia

1.3 Manfaat
Meningkatkan pemahaman perawat terhadap perkembangan trend dan isu keperawatan medikal bedah di Indonesia
Sebagai dasar dalam mengembangkan ilmu keperawatan medikal bedah
Mengetahui keterkaitan keperawatan medikal bedah dengan trend dan isu yang berkembang dalam bidang kesehatan
Sebagai landasan dalam melakukan penelitian baik klinik dan preklinik

BAB II
PEMBAHASAN

ISU ASPEK LEGAL

Telenursing akan berkaitan dengan isu aspek legal, peraturan etik dan kerahasiaan pasien sama seperti telehealth secara keseluruhan. Di banyak negara, dan di beberapa negara bagian di Amerika Serikat khususnya praktek telenursing dilarang (perawat yang online sebagai koordinator harus memiliki lisensi di setiap resindesi negara bagian dan pasien yang menerima telecare harus bersifat lokal) guna menghindari malpraktek perawat antar negara bagian. Isu legal aspek seperti akontabilitas dan malprakatek, dsb dalam kaitan telenursing masih dalam perdebatan dan sulit pemecahannya.

Dalam memberikan asuhan keperawatan secara jarak jauh maka diperlukan kebijakan umum kesehatan (terintegrasi) yang mengatur praktek, SOP/standar operasi prosedur, etik dan profesionalisme, keamanan, kerahasiaan pasien dan jaminan informasi yang diberikan. Kegiatan telenursing mesti terintegrasi dengan startegi dan kebijakan pengembangan praktek keperawatan, penyediaan pelayanan asuhan keperawatan, dan sistem pendidikan dan pelatihan keperawatan yang menggunakan model informasi kesehatan/berbasis internet.

Perawat memiliki komitmen menyeluruh tentang perlunya mempertahankan privasi dan kerahasiaan pasien sesuai kode etik keperawatan. Beberapa hal terkait dengan isu ini, yang secara fundamental mesti dilakukan dalam penerapan tehnologi dalam bidang kesehatan dalam merawat pasien adalah :

  1. Jaminan kerahasiaan dan jaminan pelayanan dari informasi kesehatan yang diberikan harus tetap terjaga
  2. Pasien yang mendapatkan intervensi melalui telehealth harus diinformasikan potensial resiko (seperti keterbatasan jaminan kerahasiaan informasi, melalui internet atau telepon) dan keuntungannya
  3. Diseminasi data pasien seperti identifikasi pasien (suara, gambar) dapat dikontrol dengan membuat informed consent (pernyataan persetujuan) lewat email
  4. Individu yang menyalahgunakan kerahasiaan, keamanan dan peraturan dan penyalah gunaan informasi dapat dikenakan hukuman/legal aspek.

2.1 Trend Keperawatan Medikal Bedah dan Implikasinya di Indonesia
Perkembangan trend keperawatan medikal bedah di Indonesia terjadi dalam berbagai bidang yang meliputi:
A.Definisi
a. Telenursing (Pelayanan Asuhan Keperawatan Jarak Jauh)

Menurut Martono, telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya penggunaan tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Keuntungan dari teknologi ini yaitu mengurangi biaya kesehatan, jangkauan tanpa batas akan layanan kesehatan, mengurangi kunjungan dan masa hari rawat, meningkatkan pelayanan pasien sakit kronis, mengembangkan model pendidikan keperawatan berbasis multimedia (Britton, Keehner, Still & Walden 1999). Tetapi sistem ini justru akan mengurangi intensitas interaksi antara perawat dan klien dalam menjalin hubungan terapieutik sehingga konsep perawatan secara holistik akan sedikit tersentuh oleh ners. Sistem ini baru diterapkan dibeberapa rumah sakit di Indonesia, seperti di Rumah Sakit Internasional. Hal ini disebabkan karena kurang meratanya penguasaan teknik informasi oleh tenaga keperawatan serta sarana prasarana yang masih belum memadai.
b.Definisi :

b.1. Telenursing (pelayanan Asuhan keperawatan jarak jauh) adalah penggunaan tehnologi komunikasi dalam keperawatan untuk memenuhi asuhan keperawatan kepada klien. Yang menggunakan saluran elektromagnetik (gelombang magnetik, radio dan optik) dalam menstransmisikan signal komunikasi suara, data dan video. Atau dapat pula di definisikan sebagai komunikasi jarak jauh, menggunakan transmisi elektrik dan optik, antar manusia dan atau komputer 4)
b.2 Telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) adalah upaya penggunaan tehnologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth, dan beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non-medis, seperti telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring. 5)
b.3. Telenursing is defined as the practice of nursing over distance using telecommunications technology (National Council of State Boards of Nursing). 6)
b.4. Telenursing diartikan sebagai pemakaian telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan keperawatan jarak-jauh. Aplikasinya saat ini, menggunakan teknologi satelit untuk menyiarkan konsultasi antara fasilitas-fasilitas kesehatan di dua negara dan memakai peralatan video conference (bagian integral dari telemedicine atau telehealth)7)

B.Bagaimana aplikasi dan keuntungan telenursing

Aplikasi telenursing tersedia di rumah, rumah sakit, melalui telenursing centre dan melalui unit mobile. Telepon triage dan home care saat ini merupakan aplikasi yang tumbuh yang paling cepat. Perawat home care menggunakan sistem yang memberikan ijin untuk melakukan monitoring parameter fisiologi di rumah, seperti tekanan darah, glukosa darah, pernapasan, dan menimbang berat badan, via internet. Melalui sistem video interaktif, pasien menghubungi perawat bertugas dan menyusun suatu konsultasi melalui video untuk menunjukkan permasalahan yang dihadapi; sebagai contoh, bagaimana cara mengganti balutan luka, memberi suntikan hormon insulin atau mendiskusikan peningkatan nafas pendek (sesak nafas). Hal ini sangat membantu orang dewasa dan anak-anak dengan kondisi-kondisi kronis dan macam-macam penyakit yang melemahkan, terutama sekali mereka yang mempunyai cardiopulmonary diseases.

Telenursing membantu pasien dan keluarganya untuk berpartisipasi aktif dalam perawatan, terutama sekali untuk self management pada penyakit kronis. Hal itu memungkinkan perawat untuk menyediakan informasi secara akurat dan tepat waktu dan memberikan dukungan secara langsung (online). Kesinambungan pelayanan ditingkatkan dengan memberi kesempatan kontak yang sering antara penyedia pelayanan kesehatan dan pasien dan keluarga-keluarga merek

Telenursing saat ini semakin berkembang pesat di banyak negara, terkait dengan beberapa faktor seperti mahalnya biaya pelayanan kesehatan, banyak kasus penyakit kronik dan lansia, sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, rural, dan daerah yang penyebaran pelayanan kesehatan belum merata. Dan keuntungannya, telenursing dapat menjadi jalan keluar kurangnya jumlah perawat (terutama di negara maju), mengurangi jarak tempuh, menghemat waktu tempuh menuju pelayanan kesehatan, mengurangi jumlah hari rawat dan jumlah pasien di RS, serta menghambat infeksi nosokomial. 5)

Sama seperti telemedicine yang saat ini berkembang sangat luas yang telah diaplikasikan di Amerika, Yunani, Israel, Jepang, Italia, Denmark , Belanda, Norwegia, Jordania dan India bahkan Malaysia. 7). Telenursing telah lama diaplikasikan di Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Inggris. Di Amerika Serikat sendiri ANA (American Nurses Association) dalam dialog nasional telemedicine/telehealth Agustus 1999, telah menganjurkan pengembangan analisa komprehensif penggunaaan telehealth/telemedicine termasuk didalamnya telenursing.

Di Amerika Serikat 36% peningkatan kebutuhan perawat home care dalam 7 tahun mendatang, dapat ditanggulangi oleh telenursing. Sedangkan di Inggris sendiri 15% pasien yang dirawat di rumah (home care) dilaporkan memerlukan tehnologi telekomunikasi, dan sejumlah studi di Eropa memperlihatkan sejumlah besar pasien mendapatkan pelayanan telekomunikasi di rumah dengan telenursing 4). Pasien tirah baring, pasien dengan penyakit kronik seperti COPD/PPOM, DM, gagal jantung kongestif, cacat bawaan, penyakit degeneratif persyarafan (Parkinson, Alzheimer, Amyothropic lateral sclerosis) dll, yang dirawat di rumah dapat berkunjung dan dirawat secara rutin oleh perawat melalui videoconference, internet, videophone, dsb. Atau pasien post op yang memerlukan perawatan luka, ostomi, dan pasien keterbelakangan mental. Yang dalam keadaan normal seorang perawat home care hanya dapat berkunjung maksimal 5 – 7 pasien perhari, maka dengan menggunakan telenursing dapat ditingkatkan menjadi 12 – 16 pasien seharinya 5).

Telenursing dapat mengurangi biaya perawatan, mengurangi hari rawat di RS, peningkatan jumlah cakupan pelayanan keperawatan dalam jumlah yang lebih luas dan merata, dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan di rumah (home care). Aplikasi telenursing di Denmark pada perawat yang bekerja di poliklinik (OPD – outpatient) yang mempertahankan kontak dengan pasien melalui telepon, maka jumlah kunjungan ke RS, dan hari rawat berkurang setengahnya. Di Islandia, dengan penduduk yang terpencar, pelayanan asuhan keperawatan berbasis telepon dapat mensuport ibu yang kelelahan dan stress merawat bayinya. Dan beberapa program telenursing dapat membantu mengurangi hipertensi pada ibu bersalin dengan eklamsia. Bahkan di Irlandia utara telenursing untuk perawatan luka diabetik telah menjadi alternatif pelayanan keperawatan untuk pasien penderita diabetik ulcer. 4)

Aplikasi telenursing juga dapat diterapkan dalam model hotline/call centre yang dikelola organisasi keperawatan, untuk melakukan triage pasien, dengan memberikan informasi dan konseling dalam mengatur kunjungan RS dan mengurangi kedatangan pasien di ruang gawat darurat. Telenursing juga dapat digunakan dalam aktifitas penyuluhan kesehatan, telekonsultasi keperawatan, pemeriksaan hasil lab dan uji diagnostik, dan membantu dokter dalam mengimplementasikan protokol penanganan medis.8.)

Telenursing melalui telepon triage dan home care merupakan bentuk aplikasi yang berkembang pesat saat ini. Dalam perawatan pasien di rumah, maka perawat dapat memonitor tanda-tanda vital pasien seperti tekanan darah, gula darah, berat badan, peak flow pernapasan pasien melalui internet. Dengan melakukan video conference, pasien dapat berkonsultasi dalam perawatan luka, injeksi insulin dan penatalaksanaan sesak napas.
Pada akhirnya telenursing dapat meningkatkan partisipasi aktif pasien dan keluarga, terutama dalam manajemen pribadi penyakit kronik. Dapat memberikan pelayanan akurat, cepat dan dukungan online, perawatan yang berkelanjutan dan kontak antara perawat dan pasien yang tidak terbatas.

Menurut Britton, Keehner, Still & Walden 1999 ada beberapa keuntungan telenursing adalah yaitu :
1. Efektif dan efisiensi dari sisi biaya kesehatan, pasien dan keluarga dapat mengurangi kunjungan ke pelayanan kesehatan (dokter praktek, ruang gawat darurat, RS dan nursing home)
2. Dengan sumber daya minimal dapat meningkatkan cakupan dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas geografis
3. Telenursing dapat mengurangi jumlah kunjungan dan masa hari rawat di RS
4. Dapat meningkatkan pelayanan untuk pasien kronis, tanpa memerlukan biaya dan meningkatkan pemanfaatan tehnologi
5. Dapat dimanfaatkan dalam bidang pendidikan keperawatan (model distance learning) dan perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Telenursing dapat pula digunakan dalam pembelajaran di kampus, video conference, pembelajaran online dan multimedia distance learning. Ketrampilan klinik keperawatan dapat dipelajari dan dipraktekkan melalui model simulasi lewat secara interaktif.

KEUNTUNGAN

Telenursing dapat mengurangi biaya perawatan, mengurangi hari rawat di RS, peningkatan jumlah cakupan pelayanan keperawatan dalam jumlah yang lebih luas dan merata, dan meningkatkan mutu pelayanan perawatan di rumah (home care).

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

a. Trend Keperawatan Medikal Bedal Bedah dan Dampaknya di Indonesia.
Beberapa trend yang terjadi dalam Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia, diantaranya adalah: telenursing, Prinsip Moisture Balance dalam Perawatan Luka, Pencegahan HIV-AIDS pada Remaja dengan Peer Group, Program sertifikasi perawat keahlian khusus, Hospice Home Care, One Day Care, Klinik HIV, Klinik Rawat Luka, Berdirinya organisasi profesi keperawatan kekhususan, Pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam Lingkup Keperawatan Medikal Bedah. Disadari bahwa semua trend tersebut belum seutuhnya diterapkan dalam pelayanan keperawatan di seluruh Indonesia.
b. Isu dalam Keperawatan Medikal Bedah dan Dampaknya di Indonesia
Beberapa isue yang berkembang dalam Keperawatan Medikal Bedah di Indonesia, antara lain: Pemakaian tap water (air keran) dan betadine yang diencerkan pada luka, Belum ada dokumentasi keperawatan yang baku sehingga setiap institusi rumah sakit mengunakan versi atau modelnya sendiri-sendiri, Prosedur rawat luka adalah kewenangan dokter, Euthanasia: suatu issue kontemporer dalam keperawatan, Pengaturan sistem tenaga kesehatan, Lulusan D3 Keperawatan lebih banyak terserap di Rumah sakit pemerintah dibandingkan S1, dan Peran dan tanggung jawab yang belum ditetapkan sesuai dengan jenjang pendidikan sehingga implikasi di rs antara DIII, S1 dan Spesialis belum jelas terlihat.
3.2 Saran
a. Seluruh perawat agar meningkatkan pemahamannya terhadap berbagai trend dan isu keperawatan medikal bedah di Indonesia sehingga dapat dikembeangkan dalam tatanan layanan keperawatan.
b. Diharapkan agar perawat bisa menindaklanjuti trend dan isu tersebut melalui kegiatan riset sebagai dasar untuk pengembangan Evidence Based Nursing Practice di Lingkungan Rumah Sakit dalam Lingkup Keperawatan Medikal Bedah.

Daftar Pustaka

Ditjen PPM dan PPL Depkes RI (2008). Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia . http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf, diakses Selasa, 23 september 2008, pukul 11.00 WIB

Dian Roslan Hidayat S.Kep M.KesDirektur Utama Intan Nursing Center Garut.TREN DAN ISU MUTAKHIR PRAKTEK PERAWAT,diakses Selasa, 23 september 2008, pukul 11.00 WIB

Dr. Erik Tapan MHA,Telenursing ,diakses Selasa, 23 september 2008, pukul 11.00 WIB

Britton, Keehner, Still & Walden 1999

The Telecommunications Reform Act of 1996 charged

(http://www.anmc.org.au/docs/May_06_Guideline_on_Telenursing.pdf).

http://www.icn.ch/matters_telenursing. htm; http://www.akpermadiun.ac.id/index.php?link=berita_dtl.php&id=42)

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

Aktivitas pada lansia

Tinjauan Lanjut usia akan dikaji tentang pengertian lanjut usia dan

kebutuhan-kebutuhan hidup orang lanjut usia.

2.1.1 Pengertian Lanjut Usia

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam

mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi

Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu

aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998). Secara biologis

penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara

terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin

rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini

disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta

sistem organ. Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa

kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang

sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara

negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat

Dari aspek sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial

sendiri. Di negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah

kaum muda. Hal ini dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan keputuan serta luasnya hubungan sosial

yang semakin menurun. Akan tetapi di Indonesia penduduk lanjut usia

menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda

(Suara Pembaharuan 14 Maret 1997)

Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua

adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya.

Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua

dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial

sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa

kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia tua dialami

dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia lanjut yang mampu melihat

arti penting usia tua dalam konteks eksistensi manusia, yaitu sebagai masa hidup yang memberi mereka kesempatan-kesempatan untuk tumbuh berkembang dan

bertekad berbakti . Ada juga lanjut usia yang memandang usia tua dengan sikap-

sikap yang berkisar antara kepasrahan yang pasif dan pemberontakan , penolakan,

dan keputusasaan. Lansia ini menjadi terkunci dalam diri mereka sendiri dan

dengan demikian semakin cepat proses kemerosotan jasmani dan mental mereka

sendiri.

Disamping itu untuk mendefinisikan lanjut usia dapat ditinjau dari

pendekatan kronologis. Menurut Supardjo (1982) usia kronologis merupakan usia

seseorang ditinjau dari hitungan umur dalam angka. Dari berbagai aspek

pengelompokan lanjut usia yang paling mudah digunakan adalah usia kronologis,

karena batasan usia ini mudah untuk diimplementasikan, karena informasi tentang usia hampir selalu tersedia pada berbagai sumber data kependudukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu :

Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun,

lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.

Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang

yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas,

tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan

pokok bagi kehidupannya sehari-hari. Saparinah ( 1983) berpendapat bahwa pada

usia 55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang mencapai tahap

praenisium pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan

tubuh/kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul

perubahan-perubahan dalam hidupnya. Demikian juga batasan lanjut usia yang

tercantum dalam Undang-Undang No.4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan adala

mereka yang berusia 56 tahun ke atas. Dengan demikian dalam undang-undan

tersebut menyatakan bahwa lanjut usia adalah yang berumur 56 tahun ke atas.

Namun demikian masih terdapat perbedaan dalam menetapkan batasan

usia seseorang untuk dapat dikelompokkan ke dalam penduduk lanjut usia. Dalam

penelitan ini digunakan batasan umur 56 tahun untuk menyatakan orang lanjut

usia

2.1.2 Kebutuhan Hidup Orang Lanjut Usia

Setiap orang memiliki kebutuhan hidup. Orang lanjut usia juga memiliki

kebutuhan hidup yang sama agar dapat hidup sejahtera.. Kebutuhan hidup orang lanjut usia antara lain kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan

kesehatan secara rutin, perumahan yang sehat dan kondisi rumah yang tentram

dan aman, kebutuhan-kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan semua orang

dalam segala usia, sehingga mereka mempunyai banyak teman yang dapat diajak

berkomunikasi, membagi pengalaman, memberikan pengarahan untuk kehidupan

yang baik. Kebutuhan tersebut diperlukan oleh lanjut usia agar dapat mandiri.

Kebutuhan tersebut sejalan dengan pendapat Maslow dalam Koswara (1991) yang

menyatakan bahwa kebutuhan manusia meliputi (1) Kebutuhan fisik

(physiological needs) adalah kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan,

sandang, papan, seks dan sebagainya. (2) Kebutuhan ketentraman (safety needs)

adalah kebutuhan akan rasa keamanan dan ketentraman, baik lahiriah maupun batiniah seperti kebutuhan akan jaminan hari tua, kebebasan, kemandirian dan

sebagainya (3) Kebutuhan sosial (social needs) adalah kebutuhan untuk

bermasyarakat atau berkomunikasi dengan manusia lain melalui paguyuban,

organisasi profesi, kesenian, olah raga, kesamaan hobby dan sebagainya (4)

Kebutuhan harga diri (esteem needs) adalah kebutuhan akan harga diri untuk

diakui akan keberadaannya, dan (5) Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization

needs) adalah kebutuhan untuk mengungkapkan kemampuan fisik, rohani maupun

daya pikir berdasar pengalamannya masing-masing, bersemangat untuk hidup,

dan berperan dalam kehidupan.

Sejak awal kehidupan sampai berusia lanjut setiap orang memiliki

kebutuhan psikologis dasar (Setiati,2000). Kebutuhan tersebut diantaranya orang

lanjut usia membutuhkan rasa nyaman bagi dirinya sendiri, serta rasa nyaman terhadap lingkungan yang ada. Tingkat pemenuhan kebutuhan tersebut tergantung

pada diri orang lanjut usia, keluarga dan lingkungannya . Jika kebutuhan-

kebutuhan tersebut tidak terpenuhi akan timbul masalah-masalah dalam

kehidupan orang lanjut usia yang akan menurunkan kemandiriannya

2.2 Faktor Kesehatan

Faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia.

Faktor kesehatan fisik meliputi kondisi fisik lanjut usia dan daya tahan fisik

terhadap serangan penyakit. Faktor kesehatan psikis meliputi penyesuaian

terhadap kondisi lanjut usia

2.2.1 Kesehatan Fisik

Faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia.

Keadaan fisik merupakan faktor utama dari kegelisahan manusia. Kekuatan fisik,

pancaindera, potensi dan kapasitas intelektual mulai menurun pada tahap-tahap

tertentu ( Prasetyo,1998). Dengan demikian orang lanjut usia harus menyesuaikan

diri kembali dengan ketidak berdayaannya. Kemunduran fisik ditandai dengan

beberapa serangan penyakit seperti gangguan pada sirkulasi darah, persendian,

sistem pernafasan, neurologik, metabolik, neoplasma dan mental. Sehingga

keluhan yang sering terjadi adalah mudah letih, mudah lupa, gangguan saluran

pencernaan, saluran kencing, fungsi indra dan menurunnya konsentrasi. Hal ini

sesuai dengan pendapat Joseph J. Gallo (1998) mengatakan untuk menkaji fisik

pada orang lanjut usia harus dipertimbangkan keberadaannya seperti menurunnya pendengaran, penglihatan, gerakan yang terbatas, dan waktu respon yang lamban.

Pada umumnya pada masa lanjut usia ini orang mengalami penurunan

fungsi kognitif dan psikomotorik. Menurut Zainudin (2002) fungsi kognitif

meliputi proses belajar, persepsi pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain

yang menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia menjadi semakin lambat.

Fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan

kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat bahwa lanjut usia

kurang cekatan.

2.2.2 Kesehatan Psikis

Dengan menurunnya berbagai kondisi dalam diri orang lanjut usia secara

otomatis akan timbul kemunduran kemampuan psikis. Salah satu penyebab

menurunnya kesehatan psikis adalah menurunnya pendengaran. Dengan

menurunnya fungsi dan kemampuan pendengaran bagi orang lanjut usia maka

banyak dari mereka yang gagal dalam menangkap isi pembicaraan orang lain

sehingga mudah menimbulkan perasaan tersinggung, tidak dihargai dan kurang

percaya diri.

Menurunnya kondisi psikis ditandai dengan menurunnya fungsi kognitif.

Zainudin (2002). Lebih lanjut dikatakan dengan adanya penurunan fungsi kognitif

dan psiko motorik pada diri orang lanjut usia maka akan timbul beberapa

kepribadian lanjut usia sebagai berikut : (1) Tipe kepribadian Konstruktif, pada

tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua (2)

Tipe Kepribadian Mandiri , pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post

power syndrom, apabila pada masa lanjut usia tidak diisi dengan kegiatan yang memberikan otonomi pada dirinya (3) Tipe Kepribadian Tergantung , pada tipe ini

sangat dipengaruhi kehidupan keluarga . Apabila kehidupan keluarga harmonis

maka pada masa lanjut usia tidak akan timbul gejolak. Akan tetapi jika pasangan

hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana apalagi

jika terus terbawa arus kedukaan (4) Tipe Kepribadian Bermusuhan, pada tipe ini

setelah memasuki masa lanjut usia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya.

Banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama

sehingga menyebabkan kondisi ekonomi rusak (5) Tipe Kepribadian Kritik Diri,

tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang

lain atau cenderung membuat susah dirinya

2.3 Faktor Ekonomi

Pada umumnya para lanjut usia adalah pensiunan atau mereka yang kurang

produktif lagi. Secara ekonomis keadaan lanjut usia dapat digolongkan menjadi 3

(tiga) yaitu golongan mantap, kurang mantap dan rawan (Trimarjono, 1997).

Golongan mantap adalah para lanjut usia yang berpendidikan tinggi, sempat

menikmati kedudukan/jabatan baik. Mapan pada usia produktif, sehingga pada

usia lanjut dapat mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Pada golongan

kurang mantap lanjut usia kurang berhasil mencapai kedudukan yang tinggi ,

tetapi sempat mengadakan investasi pada anak-anaknya, misalnya mengantar

anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi, sehingga kelak akan dibantu oleh

anak-anaknya. Sedangkan golongan rawan yaitu lanjut usia yang tidak mampu

memberikan bekal yang cukup kepada anaknya sehingga ketika purna tugas datang akan mendatangkan kecemasan karena terancam kesejahteraan

Pemenuhan kebutuhan ekonomi dapat ditinjau dari pendapatan lanjut usia dan

kesempatan kerja.

2.3.1. Pendapatan

Pendapatan orang lanjut usia berasal dari berbagai sumber. Bagi mereka

yang dulunya bekerja , mendapat penghasilan dari dana pensiun. Bagi lanjut usia

yang sampai saat ini bekerja mendapat penghasilan dari gaji atau upah. Selain itu

sumber keuangan yang lain adalah keuntungan, bisnis, sewa, investasi, sokongan

dari pemerintah atau swasta, atau dari anak, kawan dan keluarga (Kartari, 1993 ;

Yulmardi, 1995).

Upah/gaji sebagai imbalan dari hasil kerja para lanjut usia tidaklah tinggi.

Data hasil Sensus Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) tahun 1996 memperlihatkan

bahwa upah yang diterima orang lanjut usia antara Rp.50.000,- sampai dengan Rp.

300.000,- per bulan (Wirakartakusuma,2000). Di perkotaan upah/gaji para lanjut

usia yang bekerja relatif lebih tinggi daripada di perdesaan. Namun hal ini tidak

berarti lanjut usia perkotaan lebih sejahtera daripada lanjut usia perdesaan.

Adanya upah lanjut usia yang sangat minim jika tidak ditunjang dengan dukungan

finansial dari pihak lain baik anggota keluarga maupun orang lain tidak dapat

berharap bahwa lanjut usia tersebut akan hidup dalam kondisi yang

menguntungkan.

Tingkat pendidikan lanjut usia pada umumnya sangat rendah. Hal ini

berpengaruh terhadap produktivitas kerja sehingga pendapatan yang diperoleh juga semakin kecil. Menurut Sedarmayanti (2001) pekerjaan yang disertai dengan

pendidikan dan keterampilan akan mendorong kemajuan setiap usaha. Dengan

kemajuan maka akan meningkatkan pendapatan, baik pendapatan individu,

kelompok maupun pendapatan Nasional. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sumber

utama kinerja yang efektif yang mempengaruhi individu adalah kelemahan

intelektual, kelemahan psikologis, kelemahan fisik . Jadi jika lanjut usia dengan

kondisi yang serba menurun bekerja sudah tidak efektif lagi ditinjau dari proses

dan hasilnya.

2.3.2 Kesempatan Kerja

Bekerja adalah suatu kegiatan jasmani atau rohani yang menghasilkan

sesuatu (Sumarjo, 1997). Bekerja sering dikaitkan dengan penghasilan dan

penghasilan sering dikaitkan dengan kebutuhan manusia. Untuk itu agar dapat

tetap hidup manusia harus bekerja. Dengan bekerja orang akan dapat memberi

makan dirinya dan keluarganya, dapat membeli sesuatu, dapat memenuhi

kebutuhannya yang lain

Saat ini ternyata diantara lanjut usia banyak yang tidak bekerja. Tingkat

pengangguran lanjut usia relatif tinggi di daerah perkotaan, yaitu 2,2%. Dengan

makin sempitnya kesempatan kerja maka kecenderungan pengangguran lanjut

usia akan semakin banyak . Partisipasi angkatan kerja makin tinggi di perdesaan

daripada di kota. Lanjut usia yang masih bekerja sebagian besar terserap dalam

bidang pertanian. Di perkotaan lebih banyak yang bekerja di sektor perdagangan

yaitu 38,4% sedangkan yang bekerja disektor pertanian 27,0% , sisanya berada disektor jasa 17,3%, industri 9,3% angkutan 3,3%, bangunan 2,8% dan sektor

lainnya relatif kecil 1%.

Seringkali mereka menemukan kenyataan bahwa sangat sedikit kesempatan

kerja yang tersedia bagi mereka, walaupun mereka ingin bekerja dan sanggup

untuk melakukan pekerjaan tersebut, karena pendidikan yang dimiliki lanjut usia

tidak lagi terarah pada pasar tenaga kerja tidak dimasukkan dalam kebijakan –

kebijakan pendidikan yang berkelanjutan. Pembinaan ketrampilan dan pelatihan

yang dilakukan terus-menerus hanya berlaku bagi orang-orang muda . Hal inilah

yang menyebabkan sulitnya lanjut usia bersaing di pasaran kerja, sehingga banyak

orang lanjut usia yang tidak bekerja meskipun tenaganya masih kuat dan mereka

masih berkeinginan untuk bekerja.

Ada beberapa kondisi yang membatasi kesempatan kerja bagi pekerja

lanjut usia ( Hurlock, 1994) : (1) Wajib Pensiun, pemerintah dan sebagian besar

industri/perusahaan mewajibkan pekerja pada usia tertentu untuk pensiun. Mereka

tidak mau lagi merekrut pekerja yang mendekati usia wajib pensiun, karena

waktu, tenaga dan biaya untuk melatih mereka sebelum bekerja relatif mahal (2)

Jika personalia perusahaan dijabat orang yang lebih muda, maka para lanjut usia

sulit mendapatkan pekerjaan (3) Sikap sosial . Kepercayaan bahwa pekerja yang

sudah tua mudah kena kecelakaan, karena kerja lamban, perlu dilatih agar

menggunakan teknik-teknik modern merupakan penghalang utama bagi

perusahaan untuk mempekerjakan orang lanjut usia (4) Fluktuasi dalam Daur

Usaha. Jika kondisi usaha suram maka lanjut usia yang pertama kali harus diberhentikan dan kemudian digantikan orang yang lebih muda apabila kondisi

usaha sudah membaik.

2.4 Faktor Hubungan Sosial

Faktor hubungan sosial meliputi hubungan sosial antara orang lanjut usia

dengan keluarga, teman sebaya/ usia lebih muda, dan masyarakat. Dalam

hubungan ini dikaji berbagai bentuk kegiatan yang diikuti lanjut usia dalam

kehidupan sehari-hari.

2.4.1 Sosialisasi Pada Masa Lanjut Usia

Sosialisasi lanjut usia mengalami kemunduran setelah terjadinya

pemutusan hubungan kerja atau tibanya saat pensiun. Teman-teman sekerja yang

biasanya menjadi curahan segala masalah sudah tidak dapat dijumpai setiap hari.

Lebih-lebih lagi ketika teman sebaya/sekampung sudah lebih dahulu

meninggalkannya. Sosialisasi yang dapat dilakukan adalah dengan keluarga dan

masyarakat yang relatif berusia muda .

Pada umumnya hubungan sosial yang dilakukan para lanjut usia adalah

karena mereka mengacu pada teori pertukaran sosial. Dalam teori pertukaran

sosial sumber kebahagiaan manusia umumnya berasal dari hubungan sosial.

Hubungan ini mendatangkan kepuasan yang timbul dari perilaku orang lain.

Pekerjaan yang dilakukan seorang diripun dapat menimbulkan kebahagiaan

seperti halnya membaca buku, membuat karya seni, dan sebagainya, karena

pengalaman-pengalaman tadi dapat dikomunikasikan dengan orang lain.

Menurut Sri Tresnaningtyas Gulardi (1999) ada dua syarat yang harus

dipenuhi bagi perilaku yang menjurus pada pertukaran sosial : (1) Perilaku

tersebut berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat dicapai melalui

interaksi dengan orang lain (2) Perilaku harus bertujuan untuk memperoleh

sarana bagi pencapaian tujuan. Tujuan yang hendak dicapai dapat berupa imbalan

intrinsik, yaitu imbalan dari hubungan itu sendiri, atau dapat berupa imbalan

ekstrinsik, yang berfungsi sebagai alat bagi suatu imbalan lain dan tidak

merupakan imbalan bagi hubungan itu sendiri. Jadi pada umumnya kebahagiaan

dan penderitaan manusia ditentukan oleh perilaku orang lain. Sama halnya pada

tindakan manusia yang mendatangkan kesenangan disatu pihak dan ketidak

senangan di pihak lain.

Lebih lanjut dikatakan oleh Soerjono Soekamto ( 1997) bahwa interaksi

sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu : (1)

Adanya kontak sosial. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini kontak

sosial dapat dilakukan melalui, surat, telepon radio dan sebagainya. (2) Adanya

komunikasi. Berkomunikasi adalah suatu proses yang setiap hari dilakukan . Akan

tetapi komunikasi bukanlah suatu hal yang mudah. Sebagai contoh salah paham

merupakan hasil dari komunikasi yang tidak efektif dan sering terjadi.

Berkomunikasi dengan orang lanjut usia merupakan hal lebih sulit lagi. Hal ini

disebabkan lanjut usia memiliki ciri yang khusus dalam perkembangan usianya.

Ada dua sumber utama yang menyebabkan kesulitan berkomunikasi dengan lanjut

usia, yaitu penyebab fisik dan penyebab psikis. Penyebab fisik, pendengaran

lanjut usia menjadi berkurang sehingga orang lanjut usia sering tidak mendengarkan apa yang dibicarakan. Secara psikis, orang lanjut usia merasa

mulai kehilangan kekuasaan sehingga ia menjadi seorang yang lebih sensitif ,

mudah tersinggung sehingga sering menimbulkan kesalah pahaman. Simulasi

yang bersifat simultif/merangsang lanjut usia untuk berpikir, dan kemampuan

berpikir lanjut usia akan tetap aktif dan terarah.

2.4.2. Tradisi di Indonesia

Di Indonesia umumnya memasuki usia lanjut tidak perlu dirisaukan.

Mereka cukup aman karena anak atau saudara-saudara yang lainnya masih

merupakan jaminan yang baik bagi orang tuanya. Anak berkewajiban menyantuni

orang tua yang sudah tidak dapat mengurus dirinya sendiri. Nilai ini masih

berlaku, memang anak wajib memberikan kasih sayangnya kepada orang tua

sebagaimana mereka dapatkan ketika mereka masih kecil.. Para usia lanjut

mempunyai peranan yang menonjol sebagai seorang yang “dituakan”, bijak dan

berpengalaman, pembuat keputusan , dan kaya pengetahuan. Mereka sering

berperan sebagai model bagi generasi muda, walaupun sebetulnya banyak diantara

mereka tidak mempunyai pendidikan formal

Pengalaman hidup lanjut usia merupakan pewaris nilai-nilai sosal budaya

sehingga dapat menjadi panutan bagi kesinambungan kehidupan bermasyarakat

dan berbudaya. Walaupun sangat sulit untuk mengukur berapa besar produktivitas

budaya yang dimiliki orang lanjut usia, tetapi produktivitas tersebut dapat

dirasakan manfaatnya oleh para generasi penerus mereka (Yasa, 1999). Salah satu

produktivitas budaya yang dimiliki lanjut usia adalah sikap suka memberi .

Memberi adalah suatu bentuk komunikasi manusia. Dengan hubungan itu manusia

memberikan arti kepada dirinya, dan juga kepada sesamanya (Sumarjo,1997).

Dasar perbuatan memberi adalah cinta kasih , perhatian, pengenalan, dan simpati

terhadap sesama. Itu berarti seseorang perduli kepada orang lain dan ingin

menolong orang lain untuk mengembangkan dirinya. Lanjut usia dapat memberi

kepada orang lain/generasi muda dalam wujud pengetahuan, pikiran, tenaga

perbuatan, selain memberikan apa yang dimiliki

2.4.3 Pola Tempat Tinggal

Secara umum lanjut usia cenderung tinggal bersama dengan anaknya yang

telah menikah (Rudkin, 1993). Tingginya penduduk lanjut usia yang tinggal

dengan anaknya menunjukkan masih kuatnya norma bahwa kehidupan orang tua

merupakan tanggungjawab anak-anaknya. Survey yang dilakukan oleh Lembaga

Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD FEUI, 1993) terhadap

400 penduduk usia 60-69 tahun, yang terdiri dari 329 pria dan 71 wanita,

menunjukkan bahwa hanya sedikit penduduk lanjut usia yang tinggal sendiri

(1,5%), diikuti oleh yang tinggal dengan anak (3,3%), tinggal dengan menantu

(5,0%), tinggal dengan suami/istri dan anak (29,8%), tinggal dengan suami,istri

dan menantu (19,5%), dan penduduk lanjut usia yang tinggal dengan pasangannya

ada 18,8%.

Hasil temuan Yulmardi (1995) juga menunjukkan bahwa masyarakat

lanjut usia di Sumatera , khususnya di pinggiran kota Jambi sebagian besar tinggal

dalam keluarga luas. Menurut Rudkin (1993) penduduk lanjut usia yang hidup sendiri secara umum memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibanding

dengan lanjut usia yang tinggal dengan keluarganya

2.4.4 Dukungan Keluarga dan Masyarakat

Bagi lanjut usia, keluarga merupakan sumber kepuasaan. Data awal yang

diambil oleh peneliti terhadap lanjut usia berusia 50, 60 dan 70 tahun di kelurahan

Jambangan menyatakan bahwa mereka ingin tinggal di tengah-tengah keluarga.

Mereka tidak ingin tinggal di Panti Werdha. Para lanjut usia merasa bahwa

kehidupan mereka sudah lengkap, yaitu sebagai orang tua dan juga sebagai kakek,

dan nenek. Mereka dapat berperan dengan berbagai gaya, yaitu gaya formal, gaya

bermain, gaya pengganti orang tua, gaya bijak, gaya orang luar, dimana setiap

gaya membawa keuntungan dan kerugian masing-masing . Akan tetapi keluarga

dapat menjadi frustasi bagi orang lanjut usia. Hal ini terjadi jika ada hambatan

komunikasi antara lanjut usia dengan anak atau cucu dimana perbedaan faktor

generasi memegang peranan

Sistem pendukung lanjut usia ada tiga komponen menurut Joseph. J Gallo

( 1998 ), yaitu jaringan-jaringan informal, system pendukung formal dan

dukungan-dukungan semiformal. Jaringan pendukung informal meliputi keluarga

dan kawan-kawan. Sistem pendukung formal meliputi tim keamanan sosial

setempat, program-program medikasi dan kesejahteraan sosial. Dukungan-

dukungan semiformal meliputi bantuan-bantuan dan interaksi yang disediakan

oleh organisasi lingkungan sekitar seperti perkumpulan pengajian, gereja, atau

perkumpulan warga lansia setempat.

Sumber-sumber dukungan-dukungan informal biasanya dipilih oleh lanjut

usia sendiri. Seringkali berdasar pada hubungan yang telah terjalin sekian lama.

Sistem pendukung formal terdiri dari program Keamanan Sosial, badan medis,

dan Yayasan Sosial. Program ini berperan penting dalam ekonomi serta

kesejahteraan sosial lanjut usia, khususnya dalam gerakan masyarakat industri,

dimana anak-anak bergerak menjauh dari orangtua mereka. Kelompok-kelompok

pendukung semiformal, seperti kelompok-kelompok pengajian, kelompok-

kelompok gereja, organisasi lingkungan sekitar, klub-klub dan pusat perkumpulan

warga senior setempat merupakan sumber-sumber dukungan sosial yang penting

bagi lanjut usia.

Lanjut usia harus mengambil langkah awal untuk mengikuti sumber-

sumber dukungan di atas. Dorongan, semangat atau bantuan dari anggota-anggota

keluarga, masyarakat, sangat dibutuhkan oleh lanjut usia. Jenis-jenis bantuan

informal, formal, dan semiformal apa sajakah yang tersedia bagi lanjut usia yang

terkait pada masa lampaunya.

2.5. Kemandirian

Ketergantungan lanjut usia terjadi ketika mereka mengalami menurunnya

fungsi luhur /pikun atau mengidap berbagai penyakit . Ketergantungan lanjut usia

yang tinggal di perkotaan akan dibebankan kepada anak, terutama anak wanita

(Herwanto 2002). Anak wanita pada umumnya sangat diharapkan untuk dapat

membantu atau merawat mereka ketika orang sudah lanjut usia. Anak wanita

sesuai dengan citra dirinya yang memiliki sikap kelembutan, ketelatenan dan tidak

adanya unsur “sungkan” untuk minta dilayani. Tekanan terjadi apabila lanjut usia tidak memiliki anak atau anak pergi urbanisasi ke kota . Mereka

mengharapkan bantuan dari kerabat dekat, kerabat jauh, dan kemudian yang

terakhir adalah panti werdha Lanjut usia yang mempunyai tingkat kemandirian tertinggi adalah

pasangan lanjut usia yang secara fisik kesehatannya cukup prima . Dari aspek

sosial ekonomi dapat dikatakan jika cukup memadai dalam memenuhi segala

macam kebutuhan hidup, baik lanjut usia yang memiliki anak maupun yang tidak

memiliki anak. Tingginya tingkat kemandirian mereka diantaranya karena orang

lanjut usia telah terbiasa menyelesaikan pekerjaan di rumah tangga yang berkaitan

dengan pemenuhan hayat hidupnya

Kemandirian orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas kesehatan mental.

Ditinjau dari kualitas kesehatan mental, dapat dikemukakan hasil kelompok ahli

dari WHO pada tahun 1959 ( Hardywinoto :1999) yang menyatakan bahwa

mental yang sehat / mental health mempunyai cirri-ciri sebagai berikut : (1) Dapat

menyesuaikan diri dengan secara konstruktif dengan kenyataan/realitas, walau

realitas tadi buruk (2) Memperoleh kepuasan dari perjuangannya (3) Merasa lebih

puas untuk memberi daripada menerima (4) Secara relatif bebas dari rasa tegang

dan cemas (5) Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling

memuaskan (6) Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pelajaran untuk hari

depan (7) Menjuruskan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan

konstruktif (8) Mempunyai daya kasih sayang yang besar

Selain itu kemandirian bagi orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas

hidup. Kualitas hidup orang lanjut usia dapat dinilai dari kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) menurut

Setiati (2000) ada 2 yaitu AKS standar dan AKS instrumental. AKS standar

meliputi kemampuan merawat diri seperti makan, berpakaian, buang air

besar/kecil,dan mandi. Sedangkan AKS instrumental meliputi aktivitas yang

komplek seperti memasak, mencuci, menggunakan telepon, dan menggunakan

uang.

Salah satu kriteria orang mandiri adalah dapat mengaktualisasikan dirinya

(self actualized ) tidak menggantungkan kepuasan-kepuasan utama pada

lingkungan dan kepada orang lain. Mereka lebih tergantung pada potensi-potensi

mereka sendiri bagi perkembangan dan kelangsungan pertumbuhannya. Adapun

kriteria orang yang mandiri menurut Koswara (1991) adalah mempunyai (1)

kemantapan relatif terhadap pukulan-pukulan, goncangan-goncangan atau frustasi

(2) kemampuan mempertahankan ketenangan jiwa (3) kadar arah yang tinggi (4)

agen yang merdeka (6) aktif dan (5) bertanggung jawab. Lanjut usia yang mandiri

dapat menghindari diri dari penghormatan, status, prestise dan popularitas

kepuasan yang berasal dari luar diri mereka anggap kurang penting dibandingkan

dengan pertumbuhan diri.

Poerwadi mengartikan mandiri adalah dimana seseorang dapat mengurusi

dirinya sendiri (2001 : 34). Ini berarti bahwa jika seseorang sudah menyatakan

dirinya siap mandiri berarti dirinya ingin sesedikit mungkin minta pertolongan

atau tergantung kepada orang lain. Mandiri bagi orang lanjut usia berarti jika

mereka menyatakan hidupnya nyaman-nyaman saja walaupun jauh dari anak

cucu

DAFTAR PUSTAKA

Ancok, D., 1997. Teknik Penyusunan Skala Pengukuran. Pusat Penelitian

Kependudukan. UGM. Yogyakarta.

Andin, H.T., 1996. Telaah Teoritis dan Empirik Difusi Inovasi Pertanian. Staf

Peneliti pada Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. FAE.

(Vol. 1). Juli 1996.

Astrid, S.., 1973. Komunikasi Teori dan Praktek (Jilid 1). Cipta. Jakarta.

Azwar, S., 2000. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar Offset.

Yogyakarta.

Azwar, S., 2002. Reliablitas dan Validitas. Pustaka Pelajar Offset. Yogyakarta.

Azwardi, D., 2001. Kajian Tingkat Teknologi Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus

Carpio) Pada Sentra Benih Ikan Di Sumatera Barat. Thesis, Pasca Sarjana

UGM. Yogyakarta.

Deptan, 1995. Bunga Rampai Informasi Pertanian. Deptan. Jakarta.

______, 2001. Penyuluhan Pertanian. Yayasan Pengembangan Sinar Tani. Jakarta.

______, 2001. Pembangunan Pertanian Modern. Yayasan Pengembangan Sinar Tani.

Jakarta.

Feder, G. Richard, E.J, and David, Z., 1981. Adoption of Agricultural Innovation in

Develompment Countriens. The Word Bank Washington OC.., USA.

Gipson, L.James., 1997. Organization Behavior, Structure, Processes Irwin

Chapter5. Motivasi, Contens, Theories and Application. Chicago.

Gujarati, 1997. Ekonometrika Dasar Terjemahan Sumarno Zain. Erlangga. Jakarta.

Gunawan, M., 1988. Adoption and Bias of New Agricultural Innovation in Jawa

Barat. Indonesia. PhD. Dissertation. University of Minnesota.

Nuraini, 1977. Penyuluhan Pertanian. Sekretaris Penataran Purna Sarjana

Penyuluhan Pertanian. UGM. Yogyakarta.

Pratikno dan Priono, 1978. Komunikasi Pembangunan. Alumni.Bandung.

Rasyaf, M., 2001. Beternak Ayam pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ray. G.L., 1998. Manajement dan Komunikasi Penyuluhan. Naya Prokash. India.

Reksohadiprojo, S., 1982. Teori dan Rerilaku Organisasi Perusahaan. BFEE. UGM.

Yogyakarta.

Rogers. E.M. and Gwin P.H., 1971. Communication Of Inovation a Cross Cultural

Approach. Free Press New York.

__________, 1981. Communication of Innovation A Cross Cultural Approach; Free

Press. New York.

Rogers, E.M., 1983. Diffusion of Innovation. Third Edition. The Free Press. New

York.

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

Kebijakan dalam Kesehatan dan Keperawatan

MAKALAH ILMU KEPERAWATAN
PROFESIONAL

KEBIJAKAN DALAM KESEHATAN
DAN
KEPERAWATAN

Disusun Sebagai Bahan Penyelesaian
Tugas Mata Kuliah
Ilmu Keperawatan Profesional
Semester Tiga Tingkat Dua
Program Studi DIII Keperawatan

Disusun Oleh :

Danik Afriani (08.40.060)
Eko Wahyu Pradana (08.40.063)
Maulidiyah Cahyani (08.40.077)
Siti Rohma (08.40.090)

Pembimbing:

ERFANDI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KABUPATEN MALANG
2009


KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah Tuhan Semesta Alam, yang amat jelas bukti kebenaranNya, Maha Tinggi KemulianNya dan Maha Agung KedudukanNya yang telah melimpahkan rahmat dan KaruniaNya kepada kita semua sehingga Makalah yang berjudul “Kebijakan Dalam Kesehatan Dan Keperawatan” ini dapat selesai dengan baik.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian Makalah ini. Sedikit yang dapat kami sampaikan, diantara mereka adalah :
1. Kedua orang tua yang telah memberi dukungan baik moril maupun materiil yang dapat menjadikan suatu pendorong semangat bagi kami dalam menyelesaikan Makalah ini.
2. Segenap Dosen Prodi DIII Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kabupaten Malang, khususnya Dosen Mata Kuliah Ilmu Keperawatan Profesional dan semua timnya, yang telah memberikan modal materi dalam pembahasan Makalah ini.
3. Teman – teman mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kabupaten Malang, khususnya tingkat dua B, yang telah memberikan support dalam menyelesaikan Makalah ini.

Pada awalnya Makalah ini kami buat berjuta harapan agar nantinya Makalah ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Maka dari itulah, pada akhirnya Makalah ini kami selesaikan, kami sadar Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik mengenai isi dalam pembahasan maupun dari segi sistematika penulisannya. Untuk itu kami selalu mengharapkan suatu kritik dan saran yang dapat menjadikan bahan pertimbangan untuk memperbaiki Makalah ini.

Kepanjen, 3 Oktober 2009

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Definisi

Konsep kebijakan publik sehat didasarkan pada prinsip pelayanan kesehatan primer dalam mencapai tujuan sehat untuk semua dan kebijakan promosi kesehatan.
Prinsip kebijakan promosi kesehatan mencakup kebijakan multisektoral, ekologik, tanggung jawab dalam meningkatkan pilihan promosi kesehatan, melibatkan berbagai bidang, berhubungan dengan pelayanan kesehatan dan peran serta masyarakat.
Menurut Hancock (1985) kebijakan publik sehat didasarkan pada pendekatan multisektoral, keterlibatan masyarakat, teknologi yang memadai yang ketiganya merupakan komponen pendekatan pelayanan kesehatan primer dari WHO. Hancock juga menjelaskan bahwa kebijakan publik sehat ditujukan untuk menciptakan komunitas yang sehat, menggunakan pendekatan teknologi kesehatan yang memadai, bersifat menyeluruh dan berorientasi masa depan.
Menurut Pederson et.al (1988) mengungkapkan bahwa kebijakan publik sehat berfokus pada isu pemerataan kesehatan. Elemen kunci kebijakan publik sehat menfokuskan pada determinan kesehatan yang membentuk kesehatan, mencari investasi yang dapat meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan, menetapkan strategi yang dapat meningkatkan pemerataan dan memperkecil jarak dalam status kesehatan dan mengalokasikan sumber yang ada di masyarakat berdasarkan elemen tersebut. Kebijakan publik sehat sebagai kebijakan publik untuk sehat dengan memandang kesehatan dalam konteks ekologi yang luas ( Pederson et.al, 1988 ).
Menurut Kickbucsh (1992) menyatakan bahwa kebijakan publik sehat di bangun atas konsep proaktif kesehatan yang mengubah ”prioritas kebijakan untuk melakukan upaya yang menunjang kesehatan yang benar – benar diperlukan”.
Diperlukan pengetahuan tentang dampak kebijakan terhadap kesehatan baik yang positif maupun negatif. Proses kebijakan dan pengukuran kesehatan yang dibutuhkan untuk memberi pengarahan pada pengembangan kebijakan publik sehat ( Kickbucsh, 1992 ).
Kebijakan publik sehat merupakan penilaian yang terkait dengan pencegahan primer. Tantangan perubahan terletak pada komunitas di tingkat lokal. Ada dorongan yang kuat dari kesehatan masyarakat untuk masuk ke dalam kebijakan ( institute of medicine, 1988; Stoto, Abel & Dievler, 1996 ).
Dengan demikian, para profesional kesehatan masyarakat di harapkan bekerja sama dengan pengambilan kebijakan politis dalam kesehatan masyarakat. Gerakan kota dan komunitas sehat memperjuangkan terwujudnya kebijakan kesehatan baru yang berfokus pada promosi kesehatan dan konsisten dengan harapan kesehatan masyarakat meningkat.
Sistem pelayanan kesehatan
Sistem pelayanan kesehatan meliputi antara lain sistem pemberian asuhan keperawatan yang diberikan secara terus menerus sejak pertama kali pasien mengalami masalah kesehatan sampai kepada ketika status kesehatan pasien dinyatakan pulih kembali. Proses untuk memberikan pelayanan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu aksesibilitas terhadap pelayanan, kualitas pemberian pelayanan, dan sistem pembayaran yang ditetapkan.
Para perawat yang berada pada posisi kepemimpinan memiliki tanggung jawab yang luas dalam arena pelayanan kesehatan. Hal ini karena lingkungan pelayanan kesehatan saat ini memberikan banyak peluang untuk perawat memperoleh status professionalnya dengan secara proaktif berespon terhadap kebutuhan perubahan dan harapan masyarakat.
Organisasi kesehatan ditetapkan disetiap tatanan pelayanan dan bertujuan untuk membantu mengorganisasikan berbagai kegiatan yang mengarah pada pencapaian tujuan insititusi dimana struktur organisasinya diterapkan. Fungsi organisasi pelayanan kesehatan ini adalah selain untuk mengakomodasi berbagai kegiatan, namun juga untuk mengorganisasikan para pelaku organisasi didalamnya termasuk tenaga keperawatan agar bekerja secara sinergis mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Rocchiccioli & Tilbury, 1998).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Klasifikasi

Kebijakan kesehatan untuk kota dan komunitas sehat terklasifikasi pada lima area kegiatan yang interdependen sesuai urutan prioritas sebagai berikut :
Membangun kebijakan publik sehat di semua sektor dan tingkat.
Menciptakan lingkungan yang mendukung sehingga mempermudah pencapaian kondisi sehat.
Memperkuat pemberdayaan masyarakat dalam menolong diri sendiri dan dalam memberikan dukungan sosial.
Mengembangkan ketrampilan personal agar semua orang bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya sendiri.
Mengorientasikan kembali pelayanan kesehatan melalui promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Prinsip kebijakan promosi kesehatan mencakup kebijakan multisektoral, ekologik, tanggung jawab dalam meningkatkan pilihan promosi kesehatan, melibatkan berbagai bidang, berhubungan dengan pelayanan kesehatan dan peran serta masyarakat.
WHO (1992) menetapkan tiga kategori kebijakan publik sehat : Kebijakan yang berkenaan dengan promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan ketentuan pelayanan kesehatan, sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan serta lingkungan yang didalamnya termasuk perkembangan industri, transportasi dan perumahan.

B. Pelayanan Medis Prima

Departemen Kesehatan pada tahun 1999 mengeluarkan kebijakan mengenai pelayanan prima untuk mengantisipasi masalah dan tantangan di bidang pelayanan kesehatan. Di bidang perumahsakitan pelayanan kepada pasien berdasarkan standar keahlian untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasien, sehingga pasien dapat memperoleh kepuasan yang akhirnya dapat meningkatkan kepercayaan kepada rumah sakit. Melalui pelayanan prima rumah sakit diharapkan akan menghasilkan keunggulan kompetentif ( competentif advantage ) melalui pelayanan yang bermutu, efisien, inovatif dan menghasilkan customer responsiveness.
Pelayanan kesehatan, memiliki tiga fungsi yang saling berkaitan, saling berpengaruh dan saling bergantungan, yaitu fungsi sosial (fungsi untuk memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat pengguna pelayanan kesehatan ), fungsi teknis kesehatan (fungsi untuk memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat pemberi pelayanan kesehatan) dan fungsi ekonomi (fungsi untuk memenuhi harapan dan kebutuhan institusi pelayanan kesehatan). Ketiga fungsi tersebut ditanggung jawab oleh tiga pilar utama pelayanan kesehatan yaitu, masyarakat (yang dalam prakteknya dilaksanakan bersama antara pemerintah dan masyarakat), tenaga teknis kesehatan (yang dilaksanakan oleh tenaga profesional kesehatan) dan tenaga administrasi atau manajemen kesehatan (manajemen atau adminstrator kesehatan).

BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN

Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan kebutuhan derajat masyarakat (consumer satisfaction), melalui pelayanan yang efektif oleh pemberi pelayanan yang memuaskan harapan dan kebutuhan pemberi pelayanan (provider satisfaction), pada institusi pelayanan yang diselenggarakan secara efisien (institutional satisfaction). Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesehatan yang serasi, selaras dan seimbang, merupakan paduan dari kepuasan tiga pihak, dan ini merupakan pelayanan kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care).
Oleh karena itu, ketika terjadi banyak perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan maka para pemimpin perawat harus berpartisipasi secara aktif dan proaktif untuk mencari jalan bagaimana mempengaruhi pengambil keputusan dalam sistem pelayanan kesehatan dan membuat untuk didengar suaranya oleh mereka. Para pemimpin perawat memiliki kapasitas kekuatan untuk mempengaruhi kebijakan publik sepanjang mereka memiliki berbagai potensi kepemimpinan.

DAFTAR PUSTAKA :

  1. Sistem pelayanan kesehatan 2005, Elly Nurachmah, Prof Dra DNSc (FIK UI).
  2. Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Pelayanan Kesehatan Menyongsong AFTA 2003, Oleh Prof Dr dr HM Ahmad Djojosugito SpB SpBO MHA FICS (Dirjen Yanmed Depkes & Kessos).
  3. T. Anderson Elizabeth, 2006, Buku Ajar Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik, Edisi 3, Jakarta: EGC.
  4. Priharjo Robert, 2008, Konsep dan Perspektif Praktik keperwatan profesional, , Jakarta : EGC
Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

TUNAWISMA PADA LANSIA

DISUSUN OLEH : MASRUROH ( 07.40.030 )

PEMBIMBING : ERFANDY

tunawisma pada lansia.doc

  1. Pengertian Tunawisma pada lansia

Tunawisma pada lansia adalah orang atau lansia yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagai pembatas wilayah dan milik pribadi, tunawisma sering menggunakan lembaran kardus, lembaran seng atau aluminium, lembaran plastik, selimut, kereta dorong pasar swalayan, atau tenda sesuai dengan keadaan geografis dan negara tempat tunawisma berada.Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seringkali hidup dari belas kasihan orang lain atau bekerja sebagai pemulung.

Gelandangan adalah istilah dengan konotasi negatif yang ditujukan kepada orang-orang dan lansia yang mengalami keadaan tunawisma.

Adapun secara spesifik ciri-ciri tunawisma pada lansia yaitu sebagai berikut:
• Para tunawisma  lansia tidak mempunyai pekerjaan
• Kondisi pisik para Tunawisma lansia tidak sehat.
• Para Tunawisma lansia biasanya mencari-cari barang atau makanan disembarang tempat demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
• Para Tunawisma  lansia hidup bebas tidak bergantung kepada orang lain ataupun keluarganya.

Tunawisma pada lansia di bagi menjadi tiga, yaitu:
• Tunawisma biasa, yaitu mereka mempunyai pekerjaan namun tidak mempunyai tempat tinggal tetap.
• Tunakarya, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai tempat tinggal tetap.
• Tunakarya cacat, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai tempat tinggal, juga mempunyai kekurangan jasmani dan rohani:

  1. Faktor-faktor yang mengakibatkan munculnya Tunawisma pada lansia

Ada berbagai alasan yang menjadikan seseorang atau lansia memilih untuk menjalani hidupnya sebagai seorang Tunawisma. Mulai dari permasalahan psikologis, kerenggangan hubungan dengan orang tua, atau keinginan untuk hidup bebas. Namun alasan yang terbanyak dan paling umum adalah kegagalan para perantau dalam mencari pekerjaan.

Cerita-cerita di kampung halaman tentang kesuksesan perantau kerap menjadi buaian bagi putra daerah untuk turut meramaikan persaingan di kota besar.

Beberapa di antaranya memang berhasil, namun kebanyakan dari para perantau kurang menyadari bahwa keterampilan yang mumpuni adalah modal utama dalam perantauan. Sehingga mereka yang gagal dalam merengkuh impiannya, melanjutkan hidupnya sebagai tunawisma karena malu bila pulang ke kampung halaman.

Masalah kependudukan di Indonesia pada umumnya telah lama membawa masalah lanjutan, yaitu penyediaan lapangan pekerjaan. Dan bila kita meninjau keadaan dewasa ini, pemerataan lapangan pekerjaan di Indonesia masih kurang. Sehingga kota besar pada umumnya mempunyai lapangan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih besar daripada kota-kota kecil.

Hal inilah yang menjadi penyebab keengganan tunawisma untuk kembali ke daerahnya selain karena perasaan malu karena berpikir bahwa daerahnya memiliki lapangan pekerjaan yang lebih sempit daripada tempat dimana mereka tinggal sekarang. Mereka memutuskan untuk tetap meminta-minta, mengamen, memulung, dan berjualan seadanya hingga pekerjaan yang lebih baik menjemput mereka.

Selain itu, masalah yang sampai saat ini belum teratasi yaitu kemiskinan yang sangat mempengaruhi munculnya tunawisma pada lansia. Permasalahan yang sangat dirasakan oleh kaum miskin yaitu permasalahan sosial ekonomi mereka, yakni karena mereka tidak mempunyai ekonomi yang cukup mereka tidak bisa membeli rumah sehingga mereka memutuskan untuk menjadi tunawisma (gelandangan)

  1. Dampak dari Tunawisma pada lansia

Salah satu penyebab mengapa tunawisma pada lansia di Permasalahkan yaitu karena kebanyakan Para tunawisma tinggal di permukiman kumuh dan liar, menempati zona-zona publik yang sebetulnya melanggar hukum, biasanya dengan mengontrak petak-petak di daerah kumuh di pusat kota atau mendiami stren-stren kali sebagai pemukim liar.

Selain itu adanya para tunawisma pun, pemandangan indah suatu kota menjadi terganggu dan tidak tertib. Hal tersebut berhubungan dengan pekerjaan para tunawisma seperti, menjadi pengemis, pemulung sampah, pengamen, dan lian-lain sehingga sangat mengganggu kesejahteraan suatu kota tersebut.

  1. Penanganan yang dilakukan terhadap Tunawisma pada lansia

Permasalahan tunawisma pada lansia sampai saat ini merupakan masalah yang tidak habis-habis, karena berkaitan satu sama lain dengan aspe-aspek kehidupan. Namun pemerintah juga tidak habis-habisnya berupaya untuk menanggulanginya. Dengan berupaya menemukan motivasi melalui persuasi dan edukasi terhadap tunawisma supaya mereka mengenal potensi yang ada pada dirinya, sehingga tumbuh keinginan dan berusaha untuk hidup lebih baik.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) selama ini cenderung kurang menyentuh stakeholdernya, atau pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan dalam peraturan. Salah satu contoh penanganan Mengenai tunawisma pada lansia yang dilakukan oleh pemda DKI Jakarta pada tahun 2007 yaitu telah membuat Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum.

Perda yang merupakan revisi dari Perda No. 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum ini antara lain berisi larangan penduduk untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan, pengelap mobil, maupun menjadi orang yang menyuruh orang lain melakukan aktivitas itu.

Perda ini secara langsung memberikan dampak besar bagi kaum tunawisma mengingat para Tunawisma belum dikenai mekanisme mengenai pelangsungan hidup mereka. Mekanisme yang mungkin agak baik adalah dibangunnya Panti Sosial penampung para tunawisma (gelandangan). Namun sekali lagi, efektifitasnya dirasa kurang karena Panti Sosial ini sebenarnya belum menyentuh permasalahan yang sebenarnya dari para tunawisma lansia, yaitu keengganan untuk kembali ke kampung halaman. Sehingga yang terjadi di dalam praktek pembinaan sosial ini adalah para tunawisma yang keluar masuk panti sosial

Penanganan terhadap kaum Tunawisma pun di atur dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 34 Ayat (1) yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara” sebenarnya menjamin nasib kaum ini. Namun Undang-Undang belum dapat terlaksanakan di seluruh lapisan masyarakat, dikarenaka bahwa kebijakan pemerintah selama ini hanyalah kebijakan yang menyentuh dunia perkotaan secara makroskopis dan bukan mikroskopis. Pemerintah daerah cenderung menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak memberikan mekanisme lanjutan kepada para stakeholder sehingga terkesan demi menjadikan sesuatu lebih baik, mereka mengorbankan hak-hak individu orang lain

Adapun dalam sebuah penelitian cara penanggulangan terhadap tunawisma pada lansia  diterapkan dalam beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Karena tunawisma biasanya tidak mempunyai tempat tinggal, maka suatu hal yang esensial bila mereka ditanggulangi dengan memotivasi mereka untuk bersama-sama dikumpulkan dalam duatu tempat, seperti asrama atau panti sosial. Tujuan dalam tahap ini yaitu untuk berusaha memasuki atau mengenal aktivitas atau kehidupan para Tunawisma.
b. Tahap Penyesuaian diri
Setelah para tunawisma dikumpulkan , kemudian mereka harus belajar menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru, dimana berlaku aturan-aturan khusus.
c. Tahapan pendidikan yang berkelenjutan
Setelah beberap para tunawisma dalam lingkungan tersebut diadakan evaluasi mengenai potensi mereka untuk belajar dengan maksud supaya mendapatkan pendidikan yang lebih layak.

Selain itu, dibawah ini terdapat solusi dalam menangani Tunawisma yaitu:
– Tugas pemerintah untuk menangani masalah perkotaan pada umumnya dan tunawisma pada khususnya adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak di kota-kota kecil.
– Rencana pembangunan pemerintah seharusnya mengedepankan pembangunan secara merata sehingga tidak timbul “gunung dan lembah” di negara, pembangunan hendaknya dilakukan dengan pola “dari desa ke kota” dan bukan sebaliknya. Sehingga, masing-masing putra daerah akan membangun daerahnya sendiri dan mensejahterakan hidupnya.
– Melakukan Pembinaan kepada para Tunawisma dapat dilakukan melalui panti dan non panti, tetapi pembina harus mengetahui asal usul daerahnya serta identifikasi penyebab yang mengakibatkan mereka menjadi penyandang masalah sosial itu.
– Kalau para Tunawisma disebabkan faktor ekonomi atau pendapatan yang kurang memadai, mereka bisa diberi bekal berupa pelatihan sesuai potensi yang ada padanya, di samping bantuan modal usaha.
– Mengembalikan para tunawisma ke kampung mereka masing-masing.
– Pemerintah atau masyarakat mengadakan Program Pendidikan non formal bagi para tunawisma, sehingga dengan cara ini Para Tunawisma mendapatkan pengetahuan.

Dengan mekanisme yang lebih menyentuh permasalahan dasar para Tunawisma tersebut diharapkan masalah tunawisma di kota besar dapat teratasi tanpa menciderai hak-hak individu mereka dan malah dapat membawa para gelandangan kepada kehidupan yang lebih baik.

Namun, mekanisme di atas merupakan tindakan jangka panjang dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat terealisasi, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antar generasi kepemerintahan agar hal tersebut dapat terwujud dan pada akhirnya kesejahteraan bangsa dapat lebih mudah dicapai

  1. Kendala dalam penanganan Tunawisma Pada Lansia.

Kendala-kendala yang menyulitkan upaya penanganan gelandangan adalah:
1. Alokasi dana untuk penanganan Tunawisma relatif kecil.
2. Upaya penanganan terhadap Tunawisma seringkali hanya berhenti pada pendekatan punitif-represif.
3. Upaya penanganan sering tidak didukung oleh kebijakan Pemerintah Daerah.
4. Kurangnya partisipasi dan perhatian dari pemerintah.
5. belum teratasinya kemiskinan

DAFTAR PUSTAKA

http://www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2008-apriyantit-9457&PHPSESSID=c93183f95319426ec15e64c509cc07ca. 25 mei 2009.

http://www.hupelita.com/baca.php?id=13773. 28 Mei 2009.

http://m.infoanda.com/readnewsasia.php. 26 September 2009.

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

DEMENSIA PADA LANSIA

TUGAS KEPERAWATAN GERONTOLOGI

DEMENSIA PADA LANSIA”

Di Bimbing Oleh: Ervandy, S. Kep.Ns

Disusun Oleh:

Nama :miswaroh

Tingkat :IIIA

NIM:0704032

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

KABUPATEN MALANG

Tahun Akademik 2009-2010

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Demensia

Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.

Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara abnormal.Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit otak degeneratif yang progresif. Daya ingatan, pemikiran, tingkah laku dan emosi terjejas bila mengalami demensia. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai latarbelakang pendidikan mahupun kebudayaan. Walaupun tidak terdapat sebarang rawatan untuk demensia, namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi.

Epidemiologi

Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 – 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 –1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau sekitar 3 – 4 juta orang.

Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.

Klasifikasi

  • Menurut Umur:
  1. Demensia senilis (>65th)
  2. Demensia prasenilis (<65th)
  • Menurut perjalanan penyakit:
  1. Reversibel
  2. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
  • Menurut kerusakan struktur otak
    Tipe Alzheimer
  1. Tipe non-Alzheimer
  2. Demensia vaskular
  3. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)
  4. Demensia Lobus frontal-temporal
  5. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)
  6. Morbus Parkinson
  7. Morbus Huntington
  8. Morbus Pick
  9. Morbus Jakob-Creutzfeldt
  10. Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker
  11. Prion disease
  12. Palsi Supranuklear progresif
  13. Multiple sklerosis
  14. Neurosifilis
  15. Tipe campuran
  • Menurut sifat klinis:
  1. Demensia proprius
  2. Pseudo-demensia

Etiologi Demensia

Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima. Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain.

Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.

Gejala Klinis

Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe Alzheimer dan Vaskuler.

  1. Demensia Alzheimer

Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat, dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. Kematian sel-sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. Hal ini disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti, Wahan (curiga, sampai menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran atau penglihatan, agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan dan gangguan aktifitas psikomotor, berkelana.

Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :

  • Stadium I

Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. “Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami

  • Stadium II

Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara lain,

  • Disorientasi
  • gangguan bahasa (afasia)
  • penderita mudah bingung
  • penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.
  • Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,”

.Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala klinisnya antara lain:

  • Penderita menjadi vegetatif
  • tidak bergerak dan membisu
  • daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri
  • tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil
  • kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain
  • kematian terjadi akibat infeksi atau trauma
  1. Demensia Vaskuler

Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. “Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,”. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler.

Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya:

  1. Kelainan sebagai penyebab Demensia :
  • penyakit degenaratif
  • penyakit serebrovaskuler
  • keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO
  • trauma otak
  • infeksi (Aids, ensefalitis, sifilis)
  • Hidrosefaulus normotensif
  • Tumor primer atau metastasis
  • Autoimun, vaskulitif
  • Multiple sclerosis
  • Toksik
  • kelainan lain : Epilepsi, stress mental, heat stroke, whipple disease
  1. Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensi
  1. Gangguan psiatrik :
  • Depresi
  • Anxietas
  • Psikosis
  1. Obat-obatan :
  • Psikofarmaka
  • Antiaritmia
  • Antihipertensi
  1. Antikonvulsan
  • Digitalis
  1. Gangguan nutrisi :
  • Defisiensi B6 (Pelagra)
  • Defisiensi B12
  • Defisiensi asam folat
  • Marchiava-bignami disease
  1. Gangguan metabolisme :
  • Hiper/hipotiroidi
  • Hiperkalsemia
  • Hiper/hiponatremia
  • Hiopoglikemia
  • Hiperlipidemia
  • Hipercapnia
  • Gagal ginjal
  • Sindromk Cushing
  • Addison’s disesse
  • Hippotituitaria
  • Efek remote penyakit kanker

Tanda dan Gejala Demensia

Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari.. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.

Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.

Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.

Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.

Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal (Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998).

Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb:

  1. Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
  2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada
  3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali
  4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
  5. Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah

Diagnosis

Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:

  • Pembedaan antara delirium dan demensia
  • Bagian otak yang terkena
  • Penyebab yang potensial reversibel
  • Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
  • Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
  • Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
  • Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
  • Pencitraan otak amat penting CT atau MRI

Peran Keluarga

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.

Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.

Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak akan pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia.

Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.

Tingkah Laku Lansia

Pada suatu waktu Lansia dengan demensia dapat terbangun dari tidur malamnya dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk ditenangkan. Untuk mangatasi hal ini keluarga perlu membuat Lansia rileks dan aman. Yakinkan bahwa mereka berada di tempat yang aman dan bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Duduklah bersama dalam jarak yang dekat, genggam tangan Lansia, tunjukkan sikap dewasa dan menenangkan. Berikan minuman hangat untuk menenangkan dan bantu lansia untuk tidur kembali.

Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka dapat saja menyalakan kompor dan meninggalkannya begitu saja. Mereka juga merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat atau mungkin mengalami kecelakaan. Memakai pakaian yang tidak sesuai kondisi atau menggunakan pakaian berlapis-lapis pada suhu yang panas.

Seperti layaknya anak kecil terkadang Lansia dengan demensia bertanya sesuatu yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang sama disampaikan. Menciptakan lingkungan yang aman seperti tidak menaruh benda tajam sembarang tempat, menaruh kunci kendaraan ditempat yang tidak diketahui oleh Lansia, memberikan pengaman tambahan pada pintu dan jendela untuk menghindari Lansia kabur adalah hal yang dapat dilakukan keluarga yang merawat Lansia dengan demensia di rumahnya.

Pencegahan & Perawatan Demensia

Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak,
seperti :

  1. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan
  2. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.
  3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
    • Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
    • Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi
  4. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA

Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur diatas 60 tahun dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500.000 penduduk indonesia mengalami demensia dengan berbagai penyebab, yang salah satu diantaranya adalah alzeimer.
Berdasarkan hasil pengkajian pada daerah paska bencana alam tsunami ternyata ditemukan kasus lansia dengan alzeimer.

Pengkajian

Demensia adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir tanpa adanya penurunan fungsi kesadaran. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, diperoleh data bahwa demensia sering terjadi pada usia lanjut yang telah berumur di atas 60 tahun. Sampai saat ini diperkirakan sekitar 500.000 penderita demensia di indonesia.

Tanda dan Gejala

  1. Kesukaran dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari
  2. Pelupa
  3. Sering mengulang kata-kata
  4. Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan
  5. Cepat marah dan sulit di atur.
  6. Kehilangan daya ingat
  7. kesulitan belajar dan mengingat informasi baru
  8. kurang konsentrasi
  9. kurang kebersihan diri
  10. Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
  11. Mudah terangsang
  12. Tremor
  13. Kurang koordinasi gerakan.

Cara melakukan pengkajian

  1. Membina hubunga saling percaya dengan klien lansia

Untuk melakukan pengkajian pada lansia dengan demensia, pertama-tama saudara harus membina hubungan saling percaya dengan pasien lansia.
Untuk dapat membina hubungan saling percaya, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti: selamat pagi / siang / sore / malam atau sesuai dengan konteks agama pasien.
  2. Perkenalkan nama saudara (nama panggilan) saudara, termasuk menyampaikan bahwa saudara adalah perawat yang akan merawat pasien.
  3. Tanyakan pula nama pasien dan nama panggilan kesukaannya.
  4. Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang akan dilakukan.
  5. Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa lama aktivitas tersebut.
  6. Bersikap empati dengan cara:
    • Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri sentuhan dan menunjukkan perhatian
    • Bicara lambat, sederhana dan beri waktu klien untuk berpikir dan menjawab
    • Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik
    • Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien.
  1. Gunakan kalimat yang singkat, jelas, sederhana dan mudah dimengerti (hindari penggunaan kata atau kalimat jargon)
  2. Bicara lambat , ucapkan kata atau kalimat yang jelas dan jika betranya tunggu respon pasien
  3. Tanya satu pertanyaan setiap kali bertanya dan ulang pertanyaan dengan kata-kata yang sama.
  4. Volume suara ditingkatkan jika ada gangguan pendengaran, jika volume ditingkatkan, nada harus direndahkan.
  5. Sikap komunikasi verbal disertai dengan non verbal yang baik
  6. Sikap berkomunikasi harus berhadapan, pertahankan kontak mata, relaks dan terbuka
  7. Ciptakan lingkungan yang terapeutik pada saat berkomunikasi dengan klien:
    • Tidak berisik atau ribut
    • Ruangan nyaman, cahaya dan ventilasi cukup
    • Jarak disesuaikan, untuk meminalkan gangguan.

Mengkaji pasien lansia dengan demensia Untuk mengkaji pasien lansia dengan demensia, saudara dapat menggunakan tehnik mengobservasi prilaku pasien dan wawancara langsung kepada pasien dan keluarganya. Observasi yang saudara lakukan terutama untuk mengkaji data objective demensia. Ketika mengobservasi prilaku pasien untuk tanda-tanda seperti:

  • Kurang konsentrasi
  • Kurang kebersihan diri
  • Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
  • Tidak mengenal waktu, tempat dan orang
  • Tremor
  • Kurang kordinasi gerak
  • Aktiftas terbatas
  • Sering mengulang kata-kata.

Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu dikaji oleh perawat : apakah lansia mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan afek yang labil, datar atau tidak sesuai.
Bila data tersebut saudara peroleh, data subjective didapatkan melalui wawancara:

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan pada saat pengkajian, maka ditetapkan diagnosa keperawatan:

  1. Gangguan Proses Pikir
  2. Risiko Cedera: jatuh

Tindakan Keperawatan

Diagnosa I “Lansia depresi dengan gangguan proses pikir; pikun/pelupa.”

  • Tindakan keperawatan untuk pasien:
    Tujuan agar pasien mampu:
    a. Mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan temapat
    b. Meklakukan aktiftas sehari-hari secara optimal.
    Tindakan

    1. Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya tempat tidur, lemari, pakaian dll.
    2. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan jam besar, kalender yang mempunyai lembar perhari dengan tulisan besar.
    3. Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota keluarga terdekat
    4. Beri kesempatan kepada klien untuk mengenal dimana dia berada.
    5. Berikan pujian jika pasien bila pasien dapat menjawab dengan benar.
    6. Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari
    7. Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya.
    8. Bantu pasien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilihnya
    9. Beri pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
    10. Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
    11. Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari.
  • Tindakan untuk keluarga
    Tujuan
  • Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat
  • Menyediakan saran yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas
  • Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari.

Tindakan

  1. Diskusikan dengan keluarga cara-cara mengorientasikan waktu, orang dan tempat pada pasien
  2. Anjurkan keluarga untuk menyediakan jam besar, kalender dengan tulisan besar
  3. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang pernah dimiliki pasien
  4. Bantu keluarga memilih kemampuan yang dilakukan pasien saat ini.
  5. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan terhadap kemampauan yang masih dimiliki oleh pasien
  6. Anjurkan keluarga untuk memantu lansia melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
  7. Anjurkan keluarga untuk memantau kegiatan sehari-hari pasien sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
  8. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih dimiliki pasien
  9. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
  10. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.

Diagnosa IILansia demensia dengan risiko cedera”

  • Tindakan pada pasien.

Tujuan

  1. Pasien terhindar dari cedera
  2. Pasien mampu mengontrol aktifitas yang dapat mencegah cedera.

Tindakan

  1. Jelaskan faktor-faktor risiko yang dapa menimbulkan cedera dengan bahasa yang sederhana
  2. Ajarkan cara-cara untuk mencegah cedera: bila jatuh jangan panik tetapi berteriak minta tolong
  3. Berikan pujian terhadap kemampuan pasien menyebutkan cara-cara mencegah cedera.

Tindakan untuk keluarga

Tujuan: Keluarga mampu:

  1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien
  2. Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera

Tindakan

  1. Diskusikan dengan keluarga faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien
  2. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman seperti: lantai rumah tidak licin, jauhkan benda-benda tajam dari jangkauan pasien, berikan penerangan yang cukup, lampu tetap menyala di siang hari, beri alat pegangan dan awasi jika pasien merokok, tutup steker dan alat listrik lainnya dengan plester, hindarkan alat-alat listrik lainnya dari jangkauan klien, sediakan tempat tidur yang rendah
  3. Menganjurkan keluarga agar selalu menemani pasien di rumah serta memantau aktivitas harian yang dilakukan

Evaluasi

Untuk mengukur keberhasilan asuhan keperawatan yang saudara lakukan, dapat dilakukan dengan menilai kemampuan klien dan keluarga:
1. Gangguan proses pikir: bingung

Kemampuan pasien:

  1. Mampu menyebutkan hari, tanggal dan tahun sekarang dengan benar
  2. Mampu menyebutkan nama orang yang dikenal
  3. Mampu menyebutkan tempat dimana pasien berada saat ini
  4. Mampu melakukan kegiatan harian sesuai jadual
  5. Mampu mengungkapkan perasaannya setelah melakukan kegiatan

Kemampuan keluarga

  1. Mampu membantu pasien mengenal waktu temapt dan orang
  2. Menyediakan kalender yang mempunyai lembaran perhari dengan tulisan besar dan jam besar
  3. Membantu pasien melaksanakan kegiatan harian sesuai jadual yang telah dibuat
  4. Memberikan pujian setiap kali pasien mampu melaksanakan kegiatan harian

2.Risiko cedera

Kemampuan pasien:

  1. Menyebutkan dengan bahasa sederhana faktor-faktor yang menimbulkan cedera
  2. Menggunakan cara yang tepat untuk mencegah cedera
  3. Mengontrol aktivitas sesuai kemampuan

Kemampuan keluarga

  1. Keluarga dapat mengungkapkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan cedera pada pasien
  2. Menyediakan pengaman di dalam rumah
  3. Menjauhkan alat-alat listrik dari jangkauan pasien
  4. Selalu menemani pasien di rumah
  5. Memantau kegiatan harian yang dilakukan pasien

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999

Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002

Oleh: Ramadhan | Oktober 3, 2009

PENUAAN PADA SISTEM PERKEMIHAN

PENUAAN SISTEM PERKEMIHAN

DI SUSUN OLEH:

DOHIRIYAH ALMUSOFFA

II A/07.015

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN

2008-2009

PENUAAN SISTEM PERKEMIHAN

  1. PENGERTIAN

Penuaan sistem perkemihan atau dalam bahasa medis disebut juga inkontenensia urine atau orang awam menyebut dengan beser adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau sosial.Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses).

  1. ETIOLOGI

Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet. Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses, maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein.

Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya. Nah, obat-obatan ini bisa sebagai ‘biang keladi’ mengompol pada orang-orang tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat. Golongan obat yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis adrenergic alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil dalam IU. Kafein dan alcohol juga berperan dalam terjadinya mengompol. Selain hal-hal yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

  1. KLASIFIKASI

Inkontenensia urine diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1. Inkontenensia urine akut

Penanganan IU akut pada usia lanjut berbeda tergantung kondisi yang dialami pasien. Penyebab IU akut antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet.

IU akut juga bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai se­bab. Misalnya gangguan metabolik, se­perti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi de­ngan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika seperti kafein. Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor pe­nyebab produksi urin meningkat dan ha­­rus dilakukan terapi medis yang sesuai.

Gangguan kemampuan ke toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan terapi nonfarmakologik atau farmakologik yang tepat.

  1. Inkontenensia urine persisiten

Mengompol juga ada yang bersifat me­netap dan tidak terkait dengan penyakit akut, disebut IU persisten. stress, urgensi, overflow, dan gangguan fungsional adalah faktor penyebabnya. Tipe stress didefinisikan sebagai keluarnya urin involunter tatkala terdapat peningkatan tekanan intraabdomen, seperti batuk, tertawa, olahraga, dan lain-lain. Sedangkan urgensi adalah keluarnya urin akibat ketidakmampuan menunda berkemih tatkala timbul sensasi keinginan untuk berkemih.. Overflow adalah keluarnya urin akibat kekuatan mekanik pada kandung kemih yang overdidtensi atau factor lain yang berfek pada retensi urin dan fungsi sfingter.

  1. PATOFISIOLOGI

Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:
• Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin. Bisa juga disebabkan oleh kelainan di sekeliling daerah saluran kencing.
• Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih.
• Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebihan.

Inkontinensia urine dapat timbul akibat hiperrefleksia detrusor pada lesi suprapons dan suprasakral. Ini sering dihubungkan dengan frekuensi dan bila jaras sensorik masih utuh, akan timbul sensasi urgensi. Lesi LMN dihubungkan dengan kelemahan sfingter yang dapat bermanifestasi sebagai stress inkontinens dan ketidakmampuan dari kontraksi detrusor yang mengakibatkan retensi kronik dengan overflow Ada beberapa pembagian inkontinensia urin, tetapi pada umumnya dikelompokkan menjadi 4:

1. Urinary stress incontinence

2. Urge incontinence

3. Total incontinence

4. Overflow incontinence

Stress urinary incontinence terjadi apabila urin secara tidak terkontrol keluar akibat peningkatan tekanan di dalam perut. Dalam hal ini, tekanan di dalam kandung kencing menjadi lebih besar daripada tekanan pada urethra. Gejalanya antara lain kencing sewaktu batuk, mengedan, tertawa, bersin, berlari, atau hal lain yang meningkatkan tekanan pada rongga perut. Pengobatan dapat dilakukan secara tanpa operasi(misalnya dengan Kegel exercises, dan beberapa jenis obat-obatan), maupun secara operasi (cara yang lebih sering dipakai).

Urge incontinence timbul pada keadaan otot detrusor yang tidak stabil, di mana otot ini bereaksi secara berlebihan. Gejalanya antara lain perasaan ingin kencing yang mendadak, kencing berulang kali, kencing malam hari, dan inkontinensia. Pengobatannya dilakukan dengan pemberian obat-obatan dan beberapa latihan. *Total incontinence, di mana kencing mengalir ke luar sepanjang waktu dan pada segala posisi tubuh, biasanya disebabkan oleh adanya fistula (saluran abnormal yang menghubungkan suatu organ dalam tubuh ke organ lain atau ke luar tubuh), misalnya fistula vesikovaginalis (terbentuk saluran antara kandung kencing dengan vagina) dan/atau fistula urethrovaginalis (saluran antara urethra dengan vagina). Bila ini dijumpai,dapat ditangani dengan tindakan operasi.

Overflow incontinence adalah urin yang mengalir keluar akibat isinya yang sudah terlalu banyak di dalam kandung kencing akibat otot detrusor yang lemah.Biasanya hal ini dijumpai pada gangguan saraf akibat penyakit diabetes, cedera pada sumsum tulang belakang, atau saluran kencing yang tersumbat. Gejalanya berupa rasa tidak puas setelah kencing (merasa urin masih tersisa di dalam kandung kencing), urin yang keluar sedikit dan pancarannya lemah. Pengobatannya diarahkan pada sumber penyebabnya.

  1. PENATALAKSANAAN

Sejauh ini, penatalaksanaan inkontinensia urine terdiri atas tiga kategori utama, yaitu terapi nonfarmakologis (intervensi perilaku), farmakologis, dan pembedahan. Terapi farmakologis umumnya memakai obat-obatan dengan efektivitas dan efek samping berbeda. Strategi pengelolaan optimal amat bergantung pada pasien, tipe inkontinensia, dan manfaat tiap intervensi, serta ketepatan identifikasi penyebab inkontinensia urine. Terapi yang sebaiknya pertama kali dipilih adalah terapi nonfarmakologis sebelum menetapkan menggunakan terapi farmakologis atau terapi pembedahan.Teknik ini hanya sedikit mengandung risiko pada pasien dan bermanfaat menurunkan frekuensi inkontinensia urine. Terapi utama dalam kelompok terapi non farmakologis dikenal sebagai Behavioral Therapies, yaitu berbagai intervensi yang diajarkan kepada pasien untuk memodifikasi perilaku kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih. Di sini termasuk:

• Pengaturan diet dan menghindari makanan/minuman yang mempengaruhi pola berkemih (seperti cafein, alkohol).

• Program latihan berkemih yaitu latihan penguatan otot dasar panggul (pelvic floor axercise, latihan fungsi kandung kemih (blandder training) dan program katerisasi intermitten.

• Latihan otot dasar panggul menggunakan biofeedback.

• Latihan otot dasar panggul menggunakan vaginal weight cone therapy. Selain behavioral therapies, dikenal pula intervensi lain, yaitu dan pemanfaatan berbagai alat bantu terapi inkontinensia.

Kombinasi antara terapi medikamentosa dan intervensi non farmakologis memberikan hasil pemulihan inkontinensia lebih baik. Penyulit terapi non farmakologis adalah perlunya kooperasi pasien untuk bekerjasama. Bila kerjasama tak terjalin, maka terapi tak akan berhasil. Oleh karenanya, diperlukan kecermatan dan ketelatenan tenaga medis dan paramedis untuk meyakinkan pasien dengan memberikan informasi yang benar dan mendampingi serta mengevaluasi secara teratur, sampai pemulihan maksimal tercapai.

Latihan Otot Dasar Panggul ( Plevic Floor Exercise )/ Kegel Exercise Latihan otot dasar panggul yaitu latihan dalam bentuk seri untuk membangun kembali kekuatan otot dasar panggul. Otot dasar panggul tak dapat dilihat dari luar, sehingga sulit untuk menilai kontraksinya secara langsung. Oleh karena itu, latihannya perlu benar-benar dipelajari, agar otot yang dilatih adalah otot yang tepat dan benar. Keberhasilan akan dicapai bila:

1. Pastikan bahwa pengertian pasien sama dengan yang anda maksud

2. Latihan dilakukan tepat pada otot dan cara yang benar

3. Lakukan secara teratur, beberapa kali per hari

4. Praktekkan secara langsung pada setiap saat dimana fungsi otot tersebut diperlukan

5. Latihan terus, tiada hari tanpa latihan Sebagian pasien, sulit mengerjakan latihan ini. Mereka mengasosiasikan kontraksi otot dasar panggul sebagai gerakan mengejan dengan konsentrasi pada otot dasar panggul. Hal ini salah, dan akan menimbulkan inkontinensia lebih parah lagi. Ada lagi yang mengartikannya sebagai gerakan mendekatkan kedua bokong, mengencangkan otot paha dan saling menekankan kedua lutut di sisi tengah. Gerakan ini takakan menghasilkan penguatan otot dasar panggul, melainkan menghasilkan bokong yang bagus dan paha yang kuat.

Program Latihan Dasar Kontraksi otot dasar panggul dilakukan dengan:

a. Cepat : Kontraksi-relaks-kontraksi-relaks-dst

b. Lambat : Tahan kontraksi 3-4 detik, dengan hitungan kontraksi 2-3-4-relaks, istirahat-2-3-4, kontraksi-2-3-4 relaks-istirahat-dst. Latihan seri gerakan cepat disusul dengan gerakan lambat dengan frekuensi sama banyak. Misalnya, 5 kali kontraksi cepat, 5 kali kontraksi lambat. Latihan ini pun dikerjakan pada berbagai posisi, yaitu sambil berbaring, sambil duduk, sambil merangkak, berdiri, jongkok, dll. Harus dirasakan bahwa pada posisi apapun otot yang berkontraksi adalah otot dasar panggul. Jangan harapkan keberhasilan akan segera muncul, karena otot dasar panggul dan otot sfingter yang lemah, serta tak biasa dilatih, cenderung cepat lelah. Bila keadaan letih (fatig) tercapai, maka inkontinensia akan lebih sering terjadi. Oleh karena itu perlu dicari titik kelelahan pada setiap individu. Caranya, dilakukan dengan “trial and error”. Lakukan kontraksi dengan frekuensi tertentu cepat dan lambat, misalnya 4 kali atau 5 kali atau 6 kali dan tentukan frekuensi sebelum mencapai titik lelah dan otot menjadi lemah. Yang terakhir ini dapat dites dengan melakukan digital vaginal self asessment (vaginal toucher) yaitu, memasukkan dua jari tangan setelah dilumuri jelly, ke dalam vagina. Coba buka kedua jari arah antero-posterior dan minta pasien melawan gerakan tersebut dengan mengkontraksikan otot dasar panggul. Pada jari pemeriksaan akan terasa tekanan, ini berarti kekuatan otot positif, sekaligus dinilai, kekuatan tersebut lemah, sedang, atau kuat. Dapat diajarkan kepada pasien agar dia mampu melakukan sendiri digital vaginal self asessment.. Bila fasilitas memenuhi, kekuatan otot dasar panggul dapat diukur dengan suatu alat tertentu. Awali latihan dengan frekuensi latihan kecil, yaitu 3, 4 dan 5 kali kontraksi setiap seri. Frekuensi kontraksi ini disebut dosis kontraksi dasar. Lakukan pada dosis awal, 10 seri perhari, sehingga bila kontraksi dasar adalah 4 kali, maka perhari dilakukan kontraksi 4 cepat, 4 lambat, 10 kali = 80 kali kontraksi per hari. Ingat, tiada hari tanpa latihan. Dosis kontraksi dasar ditingkatkan setiap minggu, dengan menambahkan frekuensi kontraksi 1 atau 2, tergantung kemajuan. Lakukan semua dengan perlahan, tak perlu cepat-cepat. Pada akhir minggu ke IV, sebaiknya telah dicapai 200 kontraksi perhari. Pada awalnya, latihan terasa berat, tetapi kemudian akan terbiasa dan terasa ringan. Sebagai parameter keberhasilan, dapat dipakai:

• Stop test

• Frekuensi miksi perhari

• Volume vaginal assessment

Bladder Training Adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kencing yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik (UMN atau LMN), dapat dilakukan dengan pemeriksaan refleks-refleks:

1. Refleks otomatik Refleks melalui saraf parasimpatis S2-3 dansimpatis T12-L1,2, yang bergabung menjadi n.pelvikus. Tes untuk mengetahui refleks ini adalah tes air es (ice water test). Test positif menunjukkan tipe UMN sedangkan bila negatif (arefleksia) berarti tipe LMN.

2. Refleks somatic Refleks melalui n.pudendalis S2-4. Tesnya berupa tes sfingter ani eksternus dan tes refleks bulbokarvernosus. Jika tes-tes tersebut positif berarti tipe UMN, sedangkan bila negatif berarti LMN atau tipe UMN fase syok spinal Langkah-langkah Bladder Training: 1. Tentukan dahulu tipe kandung kencing neurogeniknya apakah UMN atau LMN 2. Rangsangan setiap waktu miksi

3. Kateterisasi:

a. Pemasangan indwelling cathether (IDC)=dauer cathether IDC dapat dipasang dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping). Dengan pemakaian kateter menetap ini, banyak terjadi infeksi atau sepsis. Karena itu kateterisasi untuk bladder training adalah kateterisasi berkala. Bila dipilh IDC, maka yang dipilih adala penutupan berkala oleh karena IDC yang kontinu tidal fisiologis dimana kandung kencing yang selalu kosong akan mengakibatkan kehilangan potensi sensasi miksi serta terjadinya atrofi serta penurunan tonus otot kk

b. Kateterisasi berkala Keuntungan kateterisasi berkala antara lain: o Mencegah terjadinya tekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang mengakibatkan aliran darah ke mukosa kandung kencing dipertahankan seoptimal mungkin o Kandung kencing dapat terisi dan dikosongkan secara berkala seakan-akan berfungsi normal o Bila dilakukan secara dini pada penderita cedera medula spinalis, maka penderita dapat melewati masa syok spinal secara fisiologis sehingga feedback ke medula spinalis tetap terpelihara o Teknik yang mudah dan penderita tidak terganggu kegiatan sehari-harinya

Latihan Otot Dasar Panggul dengan Biofeedback Biofeedback sering dimanfaatkan untuk membantu pasien mengenali ketepatan otot dasar panggul yang akan dilatih. Caranya adalah dengan menempatkan vaginal perineometer dan dapat dimonitor melalui suara atau tampak kontraksi otot di kaca monitor. Pada penelitian, dibuktikan oleh Shepherd bahwa kombinasi latihan otot dasar panggul dengan biofeedback, meningkatkan keberhasilan penatalaksanaan inkontinensia (91 persen) dibandingkan kelompok kontrol tanpa biofeedback (55 persen). Penyempurnaan biofeedback saat ini, dapat sekaligus memonitor kontraksi dan relaksasi otot dasar panggul dan otot abdomen. Bahkan biofeedback dapat digunakan di rumah, untuk latihan pasien inkontinensia.

Latihan Otot Dasar Panggul Menggunakan Vaginal Weight Cone Therapy Vaginal weight cone therapy adalah alat pemberat dengan berat antara 20 gr – 70 gr yang dimasukkan ke dalam vagina. Pasien diminta berdiri, berjalan normal, selama 15 menit dan harus menegangkan otot dasar panggul agar beban tersebut tidak jatuh. Dimulai dengan beban ringan dan kemudian ditingkatkan latihan dilakukan dua kali perhari. Latihan dievaluasi dibandingkan dengan pemulihan inkontinensianya. Tentu saja pada saat menstruasi, latihan ini jangan dilakukan. Electrical stimulation (ES) Terapi stimulasi listrik untuk inkontinensia mulai diperkenalkan pada masa kini, terutama untuk multiple lower urinary tract disorders. Stimulasi ditujukan kepada syaraf sacral otonomik atau syaraf somatik yang secara spesifik. Hasil terapi tergantung dari utuh tidaknya jaras syaraf antara sacral cord dan otot dasar panggul. Secara umum manfaat ES cukup baik, namun masih perlu penelitian lebih lanjut.

Alat Bantu Terapi Inkontinensia Banyak alat yang dirancang untuk membantu mengatasi inkontinensia, antara lain:

• Urinary Control Pad.

• Continence Shield.

• Urethral Occlusion Insert.

• Bladder Neck Prothesis.

• Vaginal Pessaries.

• Penile Cuffs and Clamps.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999
  2. Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.