Oleh: Ramadhan | Juni 2, 2009

FORMAT ASKEP KOMUNITAS

KLIK DI SINI (WORD DOCUMENT)

Oleh: Ramadhan | Juni 2, 2009

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

ini beberapa format laporan askep komunitas, meliputi format laporan askep komunitas, format laporan askep keluarga, format laporan askep gerontik dan format laporan kerja puskesmas.

KERANGKA LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Oleh: Ramadhan | Februari 9, 2009

JADWAL KULIAH SEMESTER GENAP

JADWAL KULIAH SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2008/2009

Oleh: Ramadhan | Januari 21, 2009

DOWNLOAD PRAKTIS

DAPATKAN FILE-FILE SOP / PROTAP TINDAKAN DI UGD DAN RAWAT INAP LENGKAP,

hanya dengan mengganti biaya ketik Rp.  50.000,-

MAU DOWNLOAD  FILE  SOP PUSKESMAS YANG LAIN…?

SEPERTI DAFTAR SOP BERIKUT INI :


SOP POLI GIGI :

1.      GANGREN PULPA

2.      GIGI TIRUAN LENGKAP

3.      GIGI TIRUAN SEBAGIAN

4.      GINGGIVITIS MARGINALIS AKUT KRONIS

5.      HIPEREMIA PULPA

6.      INFORMED CONSENT

7.      JACKET CROWN

8.      ODONTECTOMY

9.      TATALAKSANA ABSES GIGI

10.  PERIODONTITIS AKUT KRONIS

11.  PERSISTENSI

12.  IRITASI PULPA

13.  DENTO-ALVEOLAR ABSES

14.  PENGOPERASIAN KOMPRESOR

15.  STERILISATOR KERING

16.  PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN DENTAL UNIT

17.  PERSIAPAN PELAYANAN GIGI

18.  PENCABUTAN GIGI GERAHAM ATAS

19.  TAMBALAN AMALGAM

20.  PENGGUNAAN ULTRA SCALLER

21.  KRITERIA RUJUKAN TINDAKAN MEDIS GIGI

22.  PULPITIS

23.  MENERIMA PASIEN DI POLI GIGI

24.  TUMPATAN LIGHT CURE

SOP POLI KB

1.      PEMASANGAN IMPLAN

2.      PENCABUTAN IMPLAN

3.      PEMASANGAN COPPER T

4.      PENCABUTAN COPPER T

5.      PEMASANGAN IUD

6.      PELEPASAN IUD

7.      PEMBERIAN PIL KB

8.      PEMBERIAN SUNTIKAN KB

SOP LABORATORIUM

1.      PEMERIKSAAN WIDAL

2.      PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH

3.      PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN

4.      PEMERIKSAAN KEHAMILAN

5.      PEMERIKSAAN LED

6.      PEMERIKSAAN SPUTUM BTA

7.      PEMERIKSAAN URINE LENGKAP

8.      PENGAMBILAN DARAH VENA

SOP RAWAT JALAN

1.      Penangganan Astma Bronchiale

2.      Penangganan Gastritis Akut

3.      Ekstraksi kuku

4.      Menerima Pasien Baru

5.      Resusitasi jantung paru

6.      Hepatitis akut

7.      Tatalaksana Pioderma

8.      Bilas lambung

9.      Demam Tifoid

10.  Listrik Padam

11.  Penanganan Demam

12.  Penanganan hipertensi

13.  Orientasi Petugas Baru

14.  Injeksi Intra Muskular

15.  Melakukan Suntikan Subcutan

16.  Melakukan Suntikan Intravena

17.  Melakukan Suntikan Intracutan

18.  Penghisap Lendir Pasien Dewasa

19.  Memberikan Oksigen Pada Bayi

20.  Memasang Kateter

21.  Menukur tanda-tanda vital

22.  Pemeriksaan Fisik

23.  Pengukuran Tekanan Darah

24.  Penanganan Asma

25.  Penanganan Tubercolusis

26.  Roser plasty dan retraksi naegel

27.  Tatalaksana dyspepsia

28.  DLL

SOP PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR DAN VCT

1.      ALUR TBC PADA ANAK

2.      TATALAKSANA KUSTA

3.      TATALAKSANA TBC

4.      TATALAKSANA TBC ANAK

5.      TATALAKSANA TBC DEWASA KATEGORI I DAN II

6.      TATALAKSANA TBC DEWASA KATEGORI III DAN IV

7.      ADMINISTRASI IMS

8.      KONSELING VCT

9.      ENTRI DATA DAN PROCESSING

10.  MANAJER KASUS IMS

11.  PEMERIKSAAN IMS

12.  TERAPI DAN KONSELING IMS

SOP LOKET

1.      PENERIMAAN PENDAFTARAN

2.      PENGISIAN KARTU RAWAT JALAN

3.      PENGUKURAN SASARAN MUTU KARTU HILANG

4.      PENGEMBALIAN KARTU

5.      SOP LOKET PENDAFTARAN

SOP GIZI

1.      TATALAKSANA DIET

2.      DIET GIZI BURUK

3.      DIET DIABETES MELLITUS

4.      DIET HIPERTENSI

5.      DIET RENDAH PURIN

6.      FOOD MODEL

7.      MUTU KUNJUNGAN GIZI

8.      Pengukuran sasaran mutu meningkatkan berat badan balita gizi buruk

9.      PENGISIAN KARTU UP-Z

10.  ANAMNESE GIZI

11.  DIET KOMPLIKASI KEHAMILAN

12.  DIET BALITA GIZI KURANG

13.  DIET BALITA GIZI BURUK

14.  DIET ASAM URAT

SOP RUANG BERSALIN

1.      ANTEPARTUM

2.      PERSALINAN NORMAL

3.      PERDARAHAN PASCA PERSALINAN

4.      PENGISIAN SURAT KETERANGAN LAHIR

5.      PERAWATAN BAYI BARU LAHIR

6.      PERAWATAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH

7.      MENGGUNAKAN INKUBATOR

8.      BIMBINGAN MENYUSUI

9.      RUJUKAN NEONATUS DENGAN ASFIKSIA

10.  DENYUT JANTUNG JANIN

11.  KRITERIA RESIKO TINGGI

12.  PENAPISAN IBU BERSALIN

13.  PERSALINAN KURETASE

14.  PENGAWASAN PERDARAHAN NIFAS

15.  PENJAHITAN LUKA EPISIOTOMI

16.  PERTOLONGAN BAYI BARU LAHIR

17.  PLASENTA MANUAL

18.  PERTOLONGAN PERSALINAN NORMAL

SOP TATA USAHA

1.      IN HOUSE TRAINING DIK

2.      PENYIMPANAN DATA

3.      PERMINTAAN BARANG RUTIN

4.      PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

5.      PENGUKURAN SASARAN MUTU PEMELIHARAAN BARANG

6.      WAWANCARA

SOP KEBERSIHAN / CLEANING SERVICE

1.      MEMBERSIHKAN KACA JENDELA

2.      MEMBERSIHKAN ALAT KANTOR

3.      MEMBERSIHKAN KAMAR MANDI

4.      MEMBERSIHKAN HALAMAN

5.      MENGEPEL LANTAI

SOP TUGAS POKOK DAN WEWENANG PETUGAS

1.      KEPALA PUSKESMAS

2.      DOKTER FUNGSIONAL

3.      DOKTER GIGI FUNGSIONAL

4.      KA.BAG POLI DAN UGD 24 JAM

5.      KA.BAG POLI GIGI

6.      KA.BAG POLI GIZI

7.      URUSAN KEPEGAWAIAN

8.      URUSAN KAMAR OBAT

9.      KEPALA TATA USAHA

10.  BIDAN

11.  PERAWAT

12.  BIDAN DESA

13.  PERAWAT GIGI

14.  TIM PENGADAAN

15.  PETUGAS AMBULAN / DRIVER

16.  PETUGAS DAPUR

17.  PETUGAS LOKET

18.  DLL

SOP APOTEK

1.      ALUR PENERIMAAN DAN DISTRIBUSI OBAT

2.      PENGELOLAAN APOTIK

3.      OBAT RACIKAN

4.      GUDANG OBAT

5.      PENGELOLAAN OBAT

6.      PEMBUATAN OBAT PUYER

7.      PENGELOLAAN OBAT NARKOTIK DAN PSIKOTROPIKA

SOP KESELAMATAN DAN KESEHATAN KHUSUS

1.      EVAKUASI BENCANA GEMPA BUMI

2.      EVAKUASI KEBAKARAN

3.      EVAKUASI BENCANA BANJIR

4.      PENANGGULANGAN TUMPAHAN LIMBAH MEDIS

SEMUA FILE SOP bisa anda dapatkan dengan mengganti biaya ketik Rp. 200.000,-

Ada juga Standar Pelayanan Publik (SPP) Puskesmas, biaya Rp. 100.000,- (Contoh SPP, Klik DISINI)

atau FILE SOP + SPP biaya total Rp. 250.000,-

 

Silakan Hubungi : erfand75@gmail.com

Telp. 085755461118

Biaya di TRANSFER KE :

  • BANK MANDIRI No. Rekening 144-00-1154089-2 –>

    a/n ERPANDI. Kode atm bersama = 008

<br>
Oleh: Ramadhan | Agustus 29, 2008

USAHA KESEHATAN SEKOLAH

Di susun Oleh :

Puji Lestari

07.037 / 2A

PEMBIMBING : ERFANDI

A. Pengertian

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan bagian dari program kesehatan anak sekolah. Anak usia sekolah adalah anak yang berusia 6-21 tahun. Yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi menjadi 2 sub kelompok yakni pra remaja (6-9 tahun) dan remaja (10-19 tahun).

Program UKS adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan serta membentuk perilaku hidup bersih dan sehat anak usia sekolah yang berada disekolah dan Madrasah mulai tingkat SD hingga SLTA.

Usaha Kesehatan Sekolah dirintis sejak tahun 1956 melalui pilot project di Jakarta dan Bekasi yang merupakan kerjasama antara Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Dalam Negeri.

 

B. Dasar Kebijakan

Dasar kebijakan pelaksanaan usaha kesehatan sekolah adalah undang-undang nomor 4 tahun 1970 tentang pembinaan anak sekolah

 

C. Pola Pembinaan

Pembinaan kesehatan anak, dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :

1. Pembinaan bayi, balita dan anak pra sekolah (umur 0-6 tahun)

2. Pembinaan kesehatan anak usia sekolah ( umur 7-21 tahun) yang dibagi menjadi 3 kelompok

a. Pra Remaja (7-12 tahun)

b. Remaja (13-21 tahun)

c. Dewasa muda (19-21 tahun)

 

D. Alasan Perlunya Upaya Kesehatan Sekolah

1. Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawat terhadap masalah kesehatan.

2. Usia sekolah sangat peka untuk menanamkan pengertian dan kebiasaan hidup sehat.

3. Sekolah merupakan institusi masyarakat yang terorganisasi dengan baik.

4. Keadaan kesehatan anak sekolah akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dicapai.

5. Anak sekolah merupakan kelompok terbesar dari kelompok usia anak-anak yang menerapkan wajib belajar

 

E. Tujuan

· Tujuan Umum

Untuk meningkatkan kemampuan perilaku hidup bersih dan sehat, dan derajat kesehatan siswa serta menciptakan lingkungan yang sehat. Sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal

· Tujuan Khusus

Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan derajat kesehatan siswa yang mencakup

1. Memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan untuk melaksanakan prinsip hidup bersih dan sehat serta berpartisipasi aktif didalam usaha peningkatan kesehatan disekolah perguruan agama, dirumah tangga maupun dilingkungan masyarakat.

2. Sehat fisik, mental maupun sosial

3. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk penyalahgunaan NAPZA

 

F. Ruang Lingkup Kegiatan

Kegiatan utama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) disebut dengan TRIAS UKS, yang terdiri dari :

1. Pendidikan Kesehatan

2. Pelayanan Kesehatan

3. Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Yang Sehat

Dengan demikian Trias UKS merupakan perpaduan antara upaya pendidikan dengan upaya pelayanan kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan upaya pendidikan kesehatan yang dilaksanakan sesuai dengan kurikulum sekolah

 

G. Sasaran UKS

Sasaran pelayanan UKS adalah seluruh peserta didik dari tingkat pendidikan

1. Sekolah Taman Kanak-Kanak

2. Pendidikan Dasar

3. Pendidikan Menengah

4. Pendidikan Agama

5. Pendidikan Kejuruan

6. Pendidikan Khusus (SLB)

Untuk sekolah dasar usaha kesehatan sekolah diprioritaskan pada kelas I, III dan kelas VI alasannya adalah :

· Kelas I : Merupakan fase penyesuaian dalam lingkungan sekolah yang baru lepas dari pengawasan orang tua, kemungkinan kontak dengan berbagai penyebab penyakit lebih besar karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian tentang kesehatan

· Kelas III : Dilaksanakan dikelas 3 untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan UKS dikelas I dahulu dan langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan dalam program pembinaan UKS

· Kelas VI : Dalam rangka mempersiapkan kesekolah peserta didik kejenjang pendidikan selanjutnya, sehingga memerlukan pemeliharaan dan pemeriksaan kesehatan yang cukup.

Sasaran Pembinaan

  1. Peserta didik
  2. Pembina UKS (Teknis dan Non Teknis)
  3. Sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan
  4. Lingkungan sekolah

Kegiatan UKS

Nemir mengelompokkan Usaha Kesehatan Sekolah menjadi 3 kegiatan pokok : yaitu

1. Pendidikan kesehatan di sekolah (Health Education in School)

a. Kegiatan intrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan merupakan bagian dari kurikulum sekolah

b. Kegiatan ekstrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan dimasukkan dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka menanamkan perilaku sehat peserta didik

2. Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (School Health Service)

3. Lingkungan kehidupan sekolah yang sehat mencakup

a. Lingkungan fisik

b. Lingkungan psikis

c. Lingkungan sosial

 

H. Pengelolaan UKS

· Pelaksana UKS

Yang terlibat dalam pelaksanaan usaha kesehatan sekolah adalah :

a. Guru UKS

b. Peserta didik

c. Petugas kesehatan dari puskesmas

d. Masyarakat sekolah (BP3)

· Prinsip-Prinsip Pengelolaan

a. Mengikutsertakan peran serta aktif masyarakat sekolah

b. Kegiatan yang terintegrasi

c. Melaksanakan rujukan

d. Kolaborasi tim

· Kerjasama lintas sektor

Dalam kegiatan usaha kesehatan sekolah melibatkan berbagai departemen terkait sesuai dengan surat keputusan bersama diatas sebagai berikut :

- Departemen Kesehatan

- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

- Departemen Dalam Negeri

- Departemen Agama

 

I. Referensi

1. Depkes RI. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten / Kota. Http://BankData.depkes.go.id

2. Effendy, Nasrul. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC. 1998. Ed:2

Oleh: Ramadhan | Agustus 29, 2008

KADER KESEHATAN REMAJA

Disusun oleh:

IKA FITRI APRILIANTI

NIM O7.023

Pembimbing : ERFANDI

Hidup bersih, sehat, bahagia dan sejahtera lahir batin adalah dambaan setiap orang. Hidup berkecukupan materi bukan jaminan bagi seseorang bisa hidup sehat dan bahagia. Mereka yang kurang dari sisi materi juga bisa menikmati hidup sehat dan bahagia. Sebab, kesehatan terkait erat dengan perilaku atau budaya. Perubahan perilaku atau budaya membutuhkan edukasi yang terus menerus. Pemerintah sudah cukup lama mengampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), salah satunya adalah penggunaan air bersih baik untuk kebutuhan air minum, mandi, mencuci dan jamban.

Perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditekankan sejak dini, mulai sejak bayi, todler, prasekolah, sekolah hingga dewasa. Pada masa sekolah, fokus utama yang bisa menggerakkan perilaku hidup bersih dan sehat adalah dokter kecil (kader tiwisada) pada tingkat SD/MI, sedangkan pada tingkat SLTP disebut Kader Kesehatan Remaja.

KADER KESEHATAN REMAJA (KKR)

  1. Definisi

Istilah kader, umumnya menunjukkan pada pengertian kelompok elite atau inti sebagai bagian kelompok yang terpenting dan yang telah lulus dalam proses seleksi. Adapun pengertian kader yang lebih operasional adalah seseorang yang telah menyetujui dan meyakini kebenaran suatu tujuan dari suatu kelompok tertentu, kemudian secara terus menerus dan setia turut berjuang dalam proses pencapaian tujuan yang telah disetujui dan diyakini itu (Imawan Wahyudi, 2002:9).

  1. Definisi Kader Kesehatan

Bahwa dimana anggotanya berasal dari lingkungan setempat, dipilih oleh orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri dan bekerja sama secara sukarela. Secara umum istilah kader kesehatan yaitu kader-kader yang dipilih oleh lingkungan setempat untuk menjadi penyelenggara. Banyak para ahli mengemukakan mengenai pengertian tentang kader kesehatan antara lain:

L. A. Gunawan memberikan batasan tentang kader kesehatan: “kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehtan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat”.

Direktorat bina peran serta masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader:

Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela”.

  1. Definisi Remaja

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, berumur Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th. Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Sebaliknya jika usia remaja sudah dilewati tapi masih tergantung pada orang tua maka ia masih digolongkan dalam kelompok remaja.

Masa ini harus lebih diperhatikan oleh orang tua karena apabila tidak ditanggapi remaja dapat melakukan penyimpangan-penyimpangan moral dan etika yang dapat merusak dirinya sendiri. Dalam masa remaja sifat kesadaranya masih ENTROPY (keadaan dimana kesadaran manusia belum tersusun rapi) walaupun isinya sudah banyak (ilmu pengetahuan,perasaan, dan sebagainya).

Arti remaja sendiri adalah :

  1. individu yang brkembang dari saat pertama kali menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksualnya.
  2. individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
  3. terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Dalam perkembangan remaja pada saat ini,banyak remaja yang melakukan penyimpangan seperti sexs bebas,narkoba, dan sebagainya hal ini tentu membuat resah para orang tua.tak jarang banyak remaja yang melakukan tindakan-tindakan berbahaya karena telah terjerumus narkoba dan pergaulan bebas lainya,terkadang hanya demi narkoba remaja nekat melakukan tindak kriminal demi mendapat kan barang haram tersebut.

  1. Definisi Kader Kesehatan Remaja

Dokter Kecil dan kader Kesehatan Remaja adalah peserta didik yang dipilih guru guna ikut melaksanakan sebagian usaha pelayanan kesehatan terhadap diri sendiri, kelurga, teman peserta didik pada khususnya dan sekolah pada umumnya.

Kader Kesehatan Remaja atau Kader UKS (pada jenjang SLTP dan SLTA) adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri, teman, keluarga dan lingkungannya.

Kader kesehatan Remaja adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal dari murid kelas 1 dan 2 SLTP dan sederajat, murid kelas 1 dan 2 SMU/SMK atau sederajat yang telah mendaptkan pelatihan Kader Kesehatan Remaja. Kader Kesehatan Remaja juga diartikan kader yang memiliki pengetahuan tentang kesehatan remaja yang mau membantu bersama-sama memecahkan permasalah kesehatan khususnya pada remaja.

  1. Dasar Pembentukan KKR

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan pasal 17, dinyatakan bahwa kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak dan kesehatan anak dilakukan melalui peningkatan kesehatan anak dalam kandungan, masa bayi, masa balita, usia pra sekolah dan usia sekolah. Selanjutnya dalam pasal 45 dinyatakan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Di samping itu kesehatan sekolah juga diarahkan untuk memupuk kebiasaan hidup sehat agar memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat aktif berpartisipasi dalam usaha peningkatan kesehatan, baik di sekolah, rumah tangga maupun dalam lingkungan masyarakat.

Konsep hidup sehat yang tercermin pada perilaku sehat dalam lingkungan sehat perlu diperkenalkan seawal mungkin kepada generasi penerus dan selanjutnya dihayati dan diamalkan. Peserta didik bukanlah lagi semata-mata sebagai obyek pembangunan kesehatan melainkan sebagai subyek dan dengan demikian diharapkan mereka dapat berperan secara sadar dan bertanggung jawab dalam pembangunan kesehatan.

Anak sekolah tingkat SMP dan SMA atau sederajat memasuki usia remaja di mana periode ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik fisik, psikologis maupun intelektual. Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th. Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Sebaliknya jika usia remaja sudah dilewati tapi masih tergantung pada orang tua maka ia masih digolongkan dalam kelompok remaja.

  1. Pertimbangan Pembentukan KKR

Mengingat permasalahan yang ada pada remaja khususnya anak sekolah usia SMP dan SMA ataupun sederajat sangatlah komplek maka sangat perlu adanya program untuk melakukan pencegahan maupun penanggulangan secara dini yang melibatkan pihak sekolah dan kesehatan serta masayarakat.

Oleh sebab itu masa remaja merupakan tahap penting dalam siklus kehidupan manusia. Dikatakan penting karena merupakan peralihan dari masa anak yang sangat tergantung kepada orang lain ke masa dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab.

Di samping itu, masa ini juga mengandung resiko akibat suatu masa transisi yang selalu membawa cirri-ciri tertentu, yaitu kebimbangan, kebingu dan gejolak remaja seperti masalah seks, kejiwaan dan tingkah laku eksprimental ( selalu ingin mencoba).

Sehubungan dengan hal tersebut maka diperlukan suatu program yang mendukung tingkat perkembangan masa remaja yang baik. Bentuk programnya adalah Usaha Kesehatan Sekolah dengan salah satu kegiatannya yaitu pembentukan kader kesehatan remaja yang melibatkan sekolah dan kesehatan adalah pembentukan Dokter Kecil untuk tingkat SD/MI dan Kader Kesehatan Remaja untuk tingkat SLTP/Mts dan SLTA/MA.

  1. Tujuan Pembentukan KKR

Tujuan diadakannya pembentukan Dokter kecil/Kader Kesehatan Remaja adalah :

  1. Agar peserta didik dapat menolong dirinya sendiri dan orang lain untuk hidup sehat
  2. Agar peserta didik dapat membina teman-temannya dan berperan sebagai promotor dan motivator dalam menjalankan usaha kesehatan terhadap diri masing-masing.
  3. Agar peserta didik dapat membantu guru, keluarga dan masyarakat di sekolah dan di luar sekolah.
  1. Peran KKR

Peran dokter kecil/KKR dalam memelihara, membina, meningkatkan dan melestarikan kesehatan lingkungan sekolah sangat menentukan. Untuk itu pihak sekolah dalam menunjuk dan menetapkan siswa yang akan jadi dokter kecil/KKR haruslah siswa yang berprestasi disekolah, memiliki watak pemimpin, berperilaku sehat (PHBS), bertanggung jawab dan telah mendapat pelatihan dari petugas kesehatan(puskesmas). Karena nantinya dokter kecil/KKR tersebut akan bertindak,berbuat dan berperilaku sehat tampa menunggu perintah dari guru atau pihak sekolah dan juga akan menjadi contoh bagi peserta didik lainnya.

  1. Kriteria Kader Kesehatan Remaja

Kriteria kader kesehatan remaja sebagai berikut :

  1. Telah menduduki kelas 1 dan kelas 2 SLTP/SLTA sederajat
  2. Berprestasi baik di sekolah/kelas.
  3. Berwatak pemimpin dan bertanggung jawab.
  4. Bersih dan berprilaku sehat
  5. Bermoral baik dan suka menolong.
  6. Bertempat tinggal di rumah sehat.
  7. Di ijinkan orang tua.
  1. Pembinaan KKR

Dalam rangka menunjang peran kader kesehatan remaja tersebut perlu adanya pembinaan. Pembinaan kader kesehatan remaja dilakukan bersama lintas sektor tekait yaitu piahk kecamatan, pendodikan, puskesmas dan depag. Pembinaan KKR meliputi kegiatan penemuan dini, pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, dan pelatihan kader kesehatan remaja.

Dalam pelatihan kesehatan remaja siswa diberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sehat, berbagai penyakit menular, konsulatasi bibingan psikologis, P3K dan Narkoba.

  1. Hasil yang Ingin Dicapai Melalui KKR

Hasil yang ingin dicapai setelah terbentuknya kader kesehatn remaja yaitu para kader kesehatan remaja menjadi rujukan teman-temannya yang kebetulan ada masalah kesehatan, permasalahan yang sering timbul diantara remaja, maupun remaja dengan orang tuanya akan lebih banyak dicurahkan pada teman sebayanya. Dengan adanya kader kesehatan remaja yang merupakan temannya sendiri maka diharapkan permasalahan yang ada dapat dipecahkan dikalangan mereka sendiri.

  1. Peran Orang Tua KKR

Peran orang tua dokter kecil/KKR yang merupakan bagian dari masyarakat di luar lingkungan sekolah terhadap kemajuan sekolah merupakan hal yang sangat penting. Partisipasi (masyarakat) merupakan kesediaan untuk membantu keberhasilan program sesuai dengan kemampuan setiap orang tampa berarti mengorbankan dirinya ( Mubyarto, 1984). Sekolah sebagai tempat pendidikan (proses belajar mengajar) tidak akan dapat berjalan secara optimal kalau tidak didukung oleh orang tua siswa/dokter kecil/KKR.

Keterlibatan orang tua siswa/Dokter kecil/KKR merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam mewujudkan kesehatan lingkungan sekolah yang sehat. (Moeloek, 2001) bahwa masyarakat dan multisektor harus mampu memahami pembangunan berwawasan kesehatan. Peran orang tua sangat penting dalam mendidik dan menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada anaknya, sehingga anaknya akan dapat menerapkan kebiasaan tersebut di lingkungan sekolahnya.

  1. Peran Instansi Pemerintah

Dinas pendidikan merupakan gerbong terdepan yang akan menentukan berhasil atau tidaknya program UKS/lingkungan sekolah sehat Untuk itu adabeberapa kebijakan yang dapat dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan antara lain :

  1. Mensyaratkan setiap kepala sekolah yang akan di angkat harus memiliki kemampuan dibidang Publik Health. Ini dapat dilakukan melalui Fit and Proper Test bagi para kepala sekolah.
  2. Menempatkan petugas yang berlatar belakang pendidikan kesehatan lingkungan (Enviroment Health) untuk mengelola program Kesehatan lingkungan sekolah ditingkat Kabupaten.
  3. Training of Trainer tentang kesehatan lingkungan bagi guru pengelola UKS
  4. Mengajak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/NGO untuk lebih peduli terhadap kemajuan pendidikan kesehatan sekolah.

Instansi lain yang memiliki peranan penting adalah Dinas Kesehatan, Departemen Agama, dan Pemerintah Daerah. Dinas Kesehatan menjadikan program UKS sebagai program unggulan di Kabupaten Solok Selatan dengan menetapkan UKS sebagai Indikator kinerja Kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal (KWSPM) bidang kesehatan. Kegiatan membudayakan kebiasaan cuci tangan dengan air dan sabun setelah Buang Air Besar dan sebelum mengambil makanan. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan kegiatan stimulan penyediaan wastafel/tempat cuci tangan dan stimulan jamban sehingga diharapkan setiap sekolah termotivasi untuk menyediakan wastafel/tempat cuci tangan jamban di sekolah masing-masing.

Departemen Agama berperan untuk mensyaratkan setiap kepala sekolah yang akan di angkat harus memiliki kemampuan dibidang Publik Health. Ini dapat dilakukan melalui Fit and Proper Test bagi para kepala sekolah. Keterpaduan atau kerjasama antara sekolah agama dengan sarana ibadah (mesjid dan mushala) dalam pengembangan lingkungan sekolah sehat. Departemen Agama juga dapat menempatkan petugas yang berlatar belakang pendidikan kesehatan lingkungan di tingkat Kabupaten dan Training of Trainer tentang kesehatan lingkungan bagi guru pengelola UKS.

Peran Pemerintah Daerah dapat melahirkan kebijakan berupa Perda (Peraturan Daerah) tentang pembinaan dan pengembangan UKS/lingkungan sekolah sehat. Kebijakan satu pintu dalam pelaksanaan kegiatan UKS agar terlaksana koordinasi/keterpaduan lintas sektor dalam arus komunikasi dan informasi yang menyangkut UKS/lingkungan sekolah sehat.

REFERENSI

Departemen Kesehatan, R.I. 2003. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. Jakarta

Effendi, Nasrul Drs. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC

 

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS KELOMPOK KHUSUS

_KASUS 23_

  1. Analisa Data
No Masalah Keperawatan Etiologi Data yang mendukung
1. Penyalahgunaan Narkoba Kurang pengetahuan remaja tentang narkoba Diketahui terdapat:

  • 35 kasus siswa pengguna narkoba
  • 3 siswa diketahui sebagai pengedar
  • Tahun 2008, ada 5 siswa meninggal dunia karena overdosis
2. Tidak efektifnya kegiatan pelayanan kesehatan remaja
  1. Kurangnya kesadaran remaja tentang pentingnya hidup sehat
  1. KKR dan Saka Bhakti Husada tidak ada
  • Pembinaan mental remaja tidak dilakukan
  • Kegiatan UKS tidak ada
  • Kader kesehatan remaja dan Saka Bhakti Husada tidak berjalan
3. Terjadinya kenakalan remaja Kurangnya pengetahuan tentang tumbuh kembang dan masalah-masalah kenakalan remaja dan akibatnya Diketahui perilaku remaja antara lain:

  • merokok (69%),
  • minum-minuman
  • keras (54%)
  • pernah berkelahi (49%)
  • melakukan hubungan seksual (45%)
  • berjudi (45%)
  • penggunaan narkoba (40%)
4. Resiko penyebaran penyakit menular (HIV/AIDS) Adanya remaja yang positif HIV/AIDS diketahui terdapat remaja

  • yang sudah kecanduan obat (30%)
  • perilaku mengisolasi diri (30%)
  • positif HIV AIDS (10%).
  1. Scoring Masalah
No. Masalah kesehatan A B C D E F Sumber Daya Jumlah
G H I J K
1. Perilaku penyalahgunaan Narkoba 5 5 4 3 5 3 3 3 2 3 4 40
2. Tidak efektifnya kegiatan pelayanan kesehatan remaja 4 5 4 3 3 3 3 3 2 2 2 33
3. Terjadinya kenakalan remaja 4 4 4 3 5 3 3 3 2 2 3 36
4. Resiko penyebaran penyakit menular (HIV/AIDS) 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 4 34

Keterangan:

  1. sesuai dengan peran perawat
  2. jumlah yang beresiko
  3. besarnya resiko
  4. kemungkinan untu penkes
  5. sesuai dengan prasarana pemerintah
  6. minat masyarakat
  7. tempat
  8. waktu
  9. dana Sumber Daya
  10. peralatan
  11. orang
  1. Diagnosa Keperawatan Komunitas
    1. Perilaku penyalahgunaan narkoba berhubungan dengan kurang pengetahuan remaja tentang narkoba
    2. Terjadinya kenakalan remaja berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang tumbuh kembang dan masalah-masalah kenakalan remaja serta akibatnya
    3. Resiko penyebaran penyakit menular (HIV/AIDS) berhubungan dengan adanya remaja yang positif HIV/AIDS
    4. Tidak efektifnya kegiatan pelayanan kesehatan remaja berhubungan dengan kurangnya kesadaran remaja tentang pentingnya hidup sehat
  1. Rencana Tindakan Keperawatan (khusus untuk diagnosa perilaku penyalahgunaan narkoba)
No. Masalah Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Sasaran Intervensi Waktu dan tempat Metode Media
1. Perilaku penyalahgunaan narkoba B/d kurang pengetahuan remaja tentang narkoba Tujuan jangka panjang:Pengetahuan remaja tentang narkoba meningkat.Tujuan jangka pendek:

  • Remaja SMA X mampu:
    • Memahami tentang pengertian Narkoba, jenis-jenis Narkoba dan bentuk Narkoba.
    • Memahami dan mengerti tentang gejala/efek pemakaian Narkoba dan bahaya Narkoba Bagi Kesehatan.
    • Mengerti dan memahami bagaimana cara mencegah diri agar tidak terpengaruh untuk memakai Narkoba.
  • Remaja dapat menjelaskan tentang pengertian narkoba, jenis-jenis narkoba dan bentuk narkoba.
  • Remaja dapat menyebutkan gejala/ efek pemakaian narkoba dan bahaya narkoba bagi kesehatan.
  • Remaja dapat menyebutkan cara mencegah diri agar tidak terpengaruh untuk memakai narkoba.
Seluruh remaja SMA X Lakukan penyuluhan tentang narkoba, jenis-jenis narkoba, bentuk narkoba, gejala/efek pemakaian narkoba, bahaya narkoba bagi kesehatan, cara mencegah agar tidak terpengaruh untuk memakai narkoba. Sabtu, 31 Agustus 2009 jam 8.30 – selesai di rumah Pak Soehermanto) Ceramah dan Tanya jawab Leaflet, lembar balik.

« Newer Posts

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.