Oleh: Ramadhan | Oktober 2, 2009

Penuaan pada sistem sensori

TUGAS KEPERAWATAN GERONTIK

PENUAAN PADA SISTEM SENSORI”

Oleh :

Cholifatul Rodiyah

07.40.008

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN

2009-2010

Penuaan Pada Sistem Sensori

A.Pendahuluan

Manusia bergantung dari beragam stimulus sensori untuk memberi makna dan kesan pada kejadian yang telah terjadi pada lingkungan mereka

Beragam stimulus tersebut merupakan dasar dalam pembentukan persepsi yang datang dari banyak sumber melalui :

  • Indera penglihatan (visual)
  • Indera pendengaran (auditori)
  • Indera perabaan (taktil)
  • Indera penciuman (olfaktori)
  • Indera pengecap/rasa (gustatori)

Selain 5 panca indera, tubuh juga mempunyai indera yang lain, yaitu :

  1. Indera kinestetik yang memungkinkan seseorang menyadari posisi dan pergerakan bagian tubuh tanpa melihatnya.
  2. Indera stereognosis yang memungkinkan seseorang untuk mengenali ukuran, bentuk dan tekstur benda.

B. Definisi

Sensori adalah stimulus atau rangsang yang datang dari dalam maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui organ sensori ( panca indera). Stimulus yang bermakna memungkinkan seseorang untuk belajar, berfungsi secara sehat dan berkembang dengan normal.

Sedangkan persepsi adalah daya mengenal barang, kualitas atau hubungan serta perbedaan antar hal yang terjadi melalui proses mengamati, mengetahui dan mengartikan setelah mendapat rangsang melalui indera.

C. Fisiologi Terjadinya Sensori Normal

Penerimaan, persepsi dan reaksi adalah 3 komponen setiap pengalaman sensori. Dalam menjalankan fungsinya organ sensori berkaitan erat dengan sistem persyarafan yang berfungsi sebagai reseptor dan penghantar stimulus sehingga tercipta sebuah persepsi yang dapat menimbulkan reaksi dari individu.

D.Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi sensori

1. Usia

Bayi tidak bisa membedakan stimulus sensori karena jalur sarafnya belum matang. Sedangkan Lansia mengalami perubahan degeneratif pada organ sensori dan fungsi persyarafan sehingga mengalami penurunan ketajaman & lapang pandang, penurunan pendengaran, perubahan gustatori dan olfaktori, dll.

2. Medikasi

Beberapa antibiotika (mis: streptomisin, gentamisin) bersifat ototoksik dan secara permanen dapat merusak syaraf pendengaran.

Kloramfenikol dapat mengiritasi syaraf optik

Obat analgesik, narkotik, sedatif dan antidepresan dapat mengubah persepsi stimulus.

3. Lingkungan

Stimulus lingkungan yang terlalu berlebih (ramai/bising) dapat menimbulkan beban sensori yang berlebih, yang biasanya ditandai dengan kebingungan, disorientasi dan tidak mampu membuat keputusan.

Stimulus lingkungan yang terbatas (mis: isolasi) dapat mengarah pada deprivasi sensori. Sedangkan kualitas lingkungan yang buruk juga dapat memperparah keruakan sensori. Mis: penerangan yang buruk, lorong yang sempit.

4. Tingkat kenyamanan

Nyeri dan kelelahan mengubah cara seseorang berpersepsi dan bereaksi terhadap stimulus.

5. Penyakit yang diderita

Katarak dapat menyebabkan penurunan penglihatan dan infeksi pada telinga dapat menyebabkan gangguan pendengaran, dll.

6. Merokok

Penggunaan tembakau yang kronik dapat menyebabkan atrofi ujung2 saraf pengecap sehingga mengurangi persepsi rasa

7. Tindakan medis

Intubasi endotrakea menyebabkan kehilangan kemampuan

b

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

1. Gangguan Otak

• Kerusakan otak, keracunan, obat halusinogenik

2. Gangguan jiwa

• Keadaan emosi tertentu dapat mengakibatkan ilusi

• Psikosa dapat menyebabkan halusinasi

3. Pengaruh lingkungan sosiobudaya

• Mempengaruhi persepsi karena penilaian sosiobudaya yang berbeda.

F. Perubahan Sensori

  1. Defisit Sensori: suatu kerusakan dalam fungsi normal penerimaan. Klien tidak mampu menerima stimulus tertentu (mis: buta, tuli) atau stimulus menjadi distorsi (mis: penglihatan kabur karena katarak). Klien dengan defisit sensori dapat berperilaku dalam cara2 yang adaptif atau maladaptif
  2. Deprivasi sensori : Klien mengalami stimulasi yang tidak adekuat kualitas dan kuantitasnya seperti stimulus yang monoton atau tidak bermakna.

Terdapat tiga jenis deprivasi sensori, yaitu :

a. Kurangnya input sensori, mis: kehilangan penglihatan/pendengaran

b. Eliminasi perintah/makna dari input,mis: berada di lingkungan asing

c. Restriksi dari lingkungan, mis: tirah baring, lingkungan yang monoton.

3. Beban sensori yang berlebihan

- Suatu keadaan dimana seseorang menerima banyk stimulus sensori dan tidak dapat secara persepsual untuk menghiraukan stimulus tertentu atau secara selektif mengabaikan beberapa stimulus

- Stimulasi snsori yang berlebihan mencegah otak untuk berespon secara tepat atau mengabaikan stimulus tertentu

  • - Toleransi orang oleh beban sensori dapat bervariasi oleh tingkat kelelahan, sikap dan kesehatan emosiaonal dan fisik

G. Perubahan persepsi

1. Halusinasi

Pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun

2. Ilusi

Interpretasi atau penilaian yang salah tentang pencerapan yang sungguh terjadi pada panca indera, mis: bunyi angin didengarnya seperti dipanggil nama, bayangan daun dilihat seperti orang.

3. Depersonalisasi

Perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasa lagi, mis: pengalaman diluar tubuh/ OBE, salah satu bagian tubuhnya bukan kepunyaannya lagi.

4. Derealisasi

Perasaan aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai dengan kenyataan, mis: merasakan segala sesuatu seperti dalam mimpi.

5. Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi

Mis: anastesi, parastesi, gg penglihatan, perasaan nyeri, makropsia/mikropsia

6. Gangguan psikofisologik

Gejala atau gangguan pada bagian tubuh yang disebabkan oleh gangguan emosi, mis: pada kulit urtikaria, pada otot dan tulang LBP, pada pernafasan timbul sesak/asma, pada jantung terjadi palpitasi, pencernaan mual/muntah diare, perkemihan sering berkemih, mata berkunang2, telinga tinitus

7. Agnosia

Ketidakmampuan untuk mengenal dan mengartikan pencerapan sebagai akibat kerusakan otak.

H. Peran perawat dalam lingkup persepsi sensori

Peranan atau tingkah laku perawat yang diharapkan dan dinilai oleh masayarakat dalam memberikan pelayanan pada klien:

1. Sebagai pelaksana keperawatan (caregiver)

2.. Sebagai pendidik ( teacher )

3. Sebagai comunicator

4. Sebagai penasehat ( counselor )

5. Sebagai researcher

6. Sebagai pembela ( advocate )

7. Sebagai Manajer

I. Proses keperawatan dan perubahan persepsi sensori

1. Pengkajian

Hal-hal penting selama pengkajian dalam sistem sensori -persepsi:

• Kebiasaan promosi kesehatan, misal: kebiasaan membersihkan

mata/telinga, aktivitas rekreasi, kebiasaan dalam bekerja.

• Orang yang berisiko: lansia, jenis pekerjaan, gangguan jiwa.

• Kemampuan untukmelakukan perawatan diri

• Lingkungan, terkait dengan kondisi bahaya, mis: tangga, kran air

panas/dingin yang tidak bertanda, lantai yang licin, benda tajam

• Tingkat sosialisasi klien dan metode komunikasi

• Status mental, meliputi: penampilan dan perilaku fisik, kemampua n

kognitif dan stabilitas emosional

• Pemeriksaan fisik pada panca indera

2. Diagnosa Keperawatan

Contoh diagnosa keperawatan NANDA untuk perubahan sensori persepsi:

• Perubahan sensori/persepsi (penglihatan) b.d. Efek dari penuaan, efek dari operasi mata sementara

• Perubahan sensori/persepsi (auditori) b.d efek samping obat, lingkungan yang berisik

• Perubahan sensori/persepsi (kinestetik) b.d efek tirah baring

• Perubahan sensori/persepsi (gustatori) b.d efek samping kemotera pi

• Perubahan sensori/persepsi (halusinasi) pendengaran b.d menarik diri

• Defisit perawatan diri b.d kehilangan penglihatan, penurunan sensasi taktil

• Gangguan harga diri b.d kehilangan pendengaran

3. Perencanaan dan implementasi

• Rencana perawatan bergantung pada penilaian perawat tentang persepsi dan penerimaan klien

tentang perubahan yang etrjadi dalam dirinya.

• Prioritas perawatan harus diatur dengan mempertimbangkan mengenai luasnya perubahan sensori yang terjadi

• Tujuan perawatan klien yang mengalami perubahan sensori-persepsi:

– Klien memelihara fungsi indera yang ada saat ini

– Menyediakan stimulus yang bermakna di lingkungan

– Menyediakan lingkungan yang aman

– Mampu melakukan perawatan diri

– Klien dapat terlibat aktif dalam kegiatan sosial

– Tidak terjadi perubahan sensori yang semakin buruk

• Perawatan klien harus melibatkan peran aktif keluarga

J. Kiat dalam keperawatan

Nursing is caring

Nursing is believing in others

Nursing is respecting

Nursing is learning

Nursing is trusting

Nursing is believing in self

DAFTAR PUSTAKA

Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, Jakarta, 2000

Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, EGC, Jakarta, 1995

Keliat Budi Anna, dkk, Proses Keperawatan Jiwa, EGC, Jakarta, 1987

Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga Universitas Press, Surabaya, 1990

Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV. Sagung Seto, Jakarta, 2001.

Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997

Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, Jakarta, 1998
tugas gerontik 07.008.odt

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: