Oleh: Ramadhan | September 21, 2009

MASALAH MENTAL DAN PSIKIATRIK PADA LANSIA

Disusun Oleh :

PATRA RANA K

Nim : 07.20.035

Dosen Pembimbing :

Erfandi S.Kep Ns


A. Pendahuluan

Psikogeatri adalah cabang ilmu kedokteran yang memperhatikan pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan psikologi atau psikiatrik pada lanjut usia.

Sehubungan dengan meningkatnya populasi usia lanjut, perlu dimulai dipertimbangkanya adanya pelayanan psikogeratri di RS yag cukup besar. Tentang bagaimana kerjasama antar bidang psikogeratri dan geriatric dapat dilihat pada bab mengenai pelayanan kesehatan pada usia lanjut.

B. Pemeriksaan psikiatri pada usia lanjut

Penggalian riwayat psikiatrik dan pemeriksaan status mental pada penderita usia lanjut. Harus mengikuti format yang sama dengan berlaku pada dewasa muda. Karena tingginya privalensi gangguan kognitif perawat harus menentukan penederita harus mengerti sifat dan tujuan pemeriksaan. Jika penderita mengalami gangguan kognitif harus didapatkan dari keluarganya.

C. Riwayat psikiatrik

Bisa didapatkan alo atau oto anamnesis. Riwayat psikiatrik lengkap termasuk identifikasi awal, keluhat utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat pribadi atau dan keluarga. Penderita berusia di atas 65 tahun atau di atas 65 tahun sering mengeluh subyektif penurunan daya ingat.

D. Pemeriksaan Status Mental

Meliputi bagaimana penderita berpikir, merasakan bertingkahlaku selama pemeriksan. Keadaan umum penderita adalah termasuk penampilan, aktivitas, psikomotorik, sikap terhadap pemeriksaan. Keadan umum penderita termasuk penampilan, aktivitas, psikomotorik.

E. Penilaian Fungsi

Penderita lanjut usia harus diperiksa tentang kemampuan mereka untuk mempertahnkan kemandirian dan untuk melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari – hari. Seperti ke toilet, makan minum, berdandan.

F. Mood, Perasaan dan afek

Di Negara lain, bunuh diri adalah suatu penyebab utama kematian dari golongan usia lanjut. Perasaan kesepian, tidak berguna, tidak berdaya adalah masalah depresi. Kesepian merupakan merupakan alasan yang paling sering di kemukakan oleh kaum lanjut usia untuk bunuh diri. Pemeriksaan harus spesifik menanyakan tentang adanya pikiran bunuh diri, apakah klien merasa kehidupanya sudah tidak berharga lagi.

G. Gangguan Persepsi

Halusianasi dan ilusi pada usia lanjut merupakan fenomena yang disebabkan penurunan ketajaman sensorik. Pemeriksa harus mencatat apakah penderita mengalami kebingungan terhadap waktu dan tempat selama episode halusinasi.

Halusiansi dapat disebabkan oleh tumor otak.

H. Gangguan Visuospasial

Suatu penurunan kapasitas visuospasial adalah normal dengan lanjut usia. Membantu penderita untuk menggambar atau mencontoh mungkin membantu dalam penilaian pemeriksaan neuro psikologis.

I. Peoses Berpikir

Gangguan pada progresi pikiran adalah neologisme. Isi pikiran harus diperiksa adanya obsesi, preokupasi. Pemeriksaan harus menentukan apakah adanya waham dan harus dicari. Serta bagaimana waham tersebut mempengaruhi kehidupan.

J. Sensorum dan kognisi

Mempermasalahkan fungis dari indra tertentu, sedangkan kognisi mempermasalahkan informasi dan intelektual.

K. Kesadaran

Indikator terhadap pekanya perubahan fungsi otak adalah kesdaran. Adanya fluktuasi tingkat kesadaran, pada tingkat stupor atau somnolen.

L. Orientasi

G3 Orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang berhubungan dengan gangguan kognisi. G3 orientasi sering diketemukan pada gangguan kognitif dan gangguan kecemasan terutama pada periode stres fisik dan lingkungan. Pemeriksa harus menguji orientasi pada tempat dan minta untuk menggambar lokasi tersebut. Penderita yang tidak mengalami kelainan biasanya dapat mengingat angka maju dan mundur.

M. Daya Ingat

Dalam hal daya ingat jangka panjang, pendek dan segera. Tes yang diberikan dengan memberikan klien 6 dijit angka dan penderita di iminta untuk mengulangi maju dan mundur.

N. Fungsi Intelektual, konsentrasi dan kecerdasan.

Sejumah fungsi intelektual mungkin diajukan untuk menilai pengetahuan umum. Penderita dapat diberikan soal matematik seperti pengurangan seperti 100 – 7 atau sebagainya. Pengetahuan umum adalah yang berhubungan dengan kecerdasan penderita dengan misalnya menanyakan kota besar di indonesia.

O. Membaca dan menulis

Untuk mengetahui penderita mempunyai defisit bicara khusus. Pemeriksa dapat meminta membaca dengan keras atau menulis sederhana untuk mengetahui adanya defisit atau kelainan.

P. Pertimbangan

Kapasitas untuk bertindak sesuai dengan bebagai situasi. Sebagaian besar dari tata cara pelaksanaa tes harus dimengerti pula oleh mereka yang berkecimpung, karena pada orang dengan usia lanjut terdapat hubungan yang sangat erat antara hubungan, hub psikologig dan sosial. Pemeriksaan di atas biasanya dimasukan dalam assesment geriatri.

Beberapa masalah di bidang psikogeratri

  1. Kesepian

Kesepian, biasanya dialami oleh seorang lanjut usia pada saat meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat, atau :

o Pensiun

o Anak sibuk

o Tak punya aktivitas

o Terisolasi sosial

o Tak ada teman bicara

  1. Duka Cita

Periode duka cita merupakan suatu periode yang rawan bagi seorang lanjut usia. Mennggalnya pasngan hidup. Seorang teman dekat atau hewan yang disayangi.

  1. Depresi

Menurut kriteria baku yang dekeluarkan oleh DSM-III R

Perasaan tertekan hampir sepanjang hari.

BB turun secara nyata atau tidak.

Depresi merupakan suatu gangguan keadaan tonus perasaan yang secara umum ditandai oleh rasa kesedihan, apatis, pesimisme, dan kesepian yang mengganggu aktivitas sosial dalam sehari-hari. Depresi biasanya terjadi pada saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, sebagian besar diantara kita pernah merasa sedih atau jengkel, kehidupan yang penuh masalah, kekecewaan, kehilangan dan frustasi yang dengan mudah menimbulkan ketidakbahagiaan dan keputusasaan. Namun secara umum perasaan demikian itu cukup normal dan merupakan reaksi sehat yang berlangsung cukup singkat dan mudah dihalau (Gred Wilkinson, 1995).

Depresi dan Lanjut Usia sebagai tahap akhir siklus perkembangan manusia. Masa dimana semua orang berharap akan menjalani hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang. Pada kenyataanya tidak semua lanjut usia mendapatkannya. Berbagai persoalan hidup yang menimpa lanjut usia sepanjang hayatnya seperti : kemiskinan, kegagalan yang beruntun, stress yang berkepanjangan, ataupun konflik dengan keluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki keturunan yang bisa merawatnya dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi hidup seperti ini dapat memicu terjadinya depresi. Tidak adanya media bagi lanjut usia untuk mencurahkan segala perasaan dan kegundahannya merupakan kondisi yang akan mempertahankan depresinya, karena dia akan terus menekan segala bentuk perasaan negatifnya ke alam bawah sadar (Rice philip I, 1994).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat depresi adalah gangguan mental yang umum terjadi di antara populasi. Diperkirakan 121 juta manusia di muka bumi ini menderita depresi. Dari jumlah itu 5,8 persen laki-laki dan 9,5 persen perempuan, dan hanya sekitar 30 persen penderita depresi yang benar-benar mendapatkan pengobatan yang cukup, sekalipun telah tersedia teknologi pengobatan depresi yang efektif. Ironisnya, mereka yang menderita depresi berada dalam usia produktif, yakni cenderung terjadi pada usia kurang dari 45 tahun. Tidaklah mengherankan, bila diperkirakan 60 persen dari seluruh kejadian bunuh diri terkait dengan depresi (Ahmad Djojosugito, 2002).

Depresi dialami oleh 80 persen mereka yang berupaya atau melakukan bunuh diri pada penduduk yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa. Bunuh diri adalah suatu pilihan untuk mengakhiri ketidakberdayaan, keputusasaan dan kemarahan diri akibat gangguan mood. Angka bunuh diri meningkat tiga kali lipat pada populasi remaja (usia 15 sampai 24) karena terdapat peningkatan insiden depresi pada populasi ini. Pria yang berusia lebih dari 64 tahun memiliki angka bunuh diri 38/100.000 dibandingkan dengan angka 17/100.000 untuk semua pria di Amerika Serikat (Roy, 2000).

Menurut sebuah penelitian di Amerika, hampir 10 juta orang Amerika menderita Depresi dari semua kelompok usia, kelas sosial ekonomi, ras dan budaya. Angka depresi meningkat secara drastis diantara lansia yang berada di institusi, dengan sekitar 50 persen sampai 75 persen penghuni perawatan jangka panjang memiliki gejala depresi ringan sampai sedang. Dari jumlah itu, angka yang signifikan dari orang dewasa yang tidak terganggu secara kognitif (10 sampai 20 persen) mengalami gejala-gejala yang cukup parah untuk memenuhi kriteria diagnostik depresi klinis. Oleh karena itu, depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang disignifikan merupakan gangguan psikiatri yang paling banyak terjadi pada lansia, tetapi untungnya dapat diobati dan kembali sehat (Hermana, 2006).

Selain itu prevalensi depresi pada lansia di dunia berkisar 8-15 persen dan hasil meta analisis dari laporan-laporan negara di dunia mendapatkan prevalensi rata-rata depresi pada lansia adalah 13,5 persen dengan perbandingan wanita-pria 14,1 : 8,6. Adapun prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di RS dan panti perawatan sebesar 30-45 persen. Perempuan lebih banyak menderita depresi (Chaplin dan Prabova Royanti, 1998).

Depresi pada lansia seringkali lambat terdeteksi karena gambaran klinisnya tidak khas. Depresi pada lansia lebih banyak tampil dalam keluhan somatis, seperti: kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan berat badan dan sebagainya. Depresi pada lansia juga tampil dalam bentuk pikiran agitatif, ansietas, atau penurunan fungsi kognitif. Sejumlah faktor pencetus depresi pada lansia, antara lain faktor biologik, psikologik, stress kronis, penggunaan obat. Faktor biologik misalnya faktor genetik, perubahan struktural otak, faktor resiko vaskuler, kelemahan fisik, sedangkan faktor psikologik pencetus depresi pada lansia, yaitu tipe kepribadian, relasi, interpersonal (Frank J. Bruno, 1997).

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan di Desa Satahi Nauli Terdapat 80 KK yang mempunyai lansia yang tinggal bersama mereka.

Q. Penatalaksanaan

Menurut Suryo, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam terapi depresi pada lansia yaitu perubahan faal oleh proses menua, status medik atau komorbiditas penyakit fisik, status fungsional, interaksi antar obat, efektivitas dan efek samping obat serta dukungan sosial. “Penatalaksanaan depresi pada lansia mencakup terapi biologik dan psikososial,” katanya.

Terapi biologik lain dengan pemberian obat antidepresan, terapi kejang listrik (ECT), terapi sulih hormon dan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Sementara terapi psikosial bertujuan mengatasi masalah psikoedukatif, yaitu mengatasi kepribadian maladaptif, distorsi pola berpikir, mekanisme koping yang tidak efektif, hambatan relasi interpersonal. Terapi ini juga dilakukan untuk mengatasi masalah sosiokultural, seperti keterbatasan dukungan dari keluarga , kendala terkait faktor kultural, perubahan peran sosial.

Pada tahun 2025 jumlah lansia di Indonesia diperkirakan meningkat 4 kali lipat. Masalah kesehatan lansia kian menonjol sementara upaya pelayanan kesehatan bagi lansia masih terbatas kuantitas dan kualitasnya. Menjadi tua berarti mengalami beragam perubahan baik fisik dan psikososial sejalan bertambahnya umur. “Menua merupakan bagian dari proses kehidupan yang tidak bisa diingkari, namun kualitas hidup harus diupayakan tetap terjaga sehingga dapat sehat, aktif dan mandiri, katanya.

Daftar Pustaka

1. Kaplan HI, Saddock BJ and Greb. Geriatri. Sinopso Psokiatri Vol VI. Alih bahasa : Wijaya K. Bina Rupa Aksara : Jakarta

2. Direktorat Kesehatan Jiwa. Pedoman pengelolaan jiwa dan diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Dep Kes RI

3. Gunadi H. 2000. Problematik usia lanjut diitnjau dari kesehatan Jiwa. Jiwa.Jakarta : Erlangga
Gerontik Patra.doc

About these ads

Responses

  1. ada judul riset “upaya dukungan sosial dalam mengatasi masalah kognitif pada lansia”klo ada krm k e-mail saya.trim’s


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: