Oleh: Ramadhan | Agustus 30, 2009

PENYIMPANGAN BUDAYA PADA REMAJA

DISUSUN OLEH : WANDA ARISTA (NIM. 07094)

PEMBIMBING : ERFANDI

A. PENGERTIAN BUDAYA

Budaya (sering juga disebut kebudayaan) adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1984: 9; dan 1986: 180). J.J. Honigmann dalam The World of Man (1959) membedakan adanya tiga gejala kebudayaan, yaitu ideas, activities, dan artifacts. Sejalan dengan hal tersebut Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan dapat digolongkan dalam tiga wujud. Pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan. Wujud pertama merupakan wujud ideal dari kebudayaan yang bersifat abstrak (tidak dapat diraba, dipegang, atau difoto), berada di alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan hidup. Kebudayaan ideal ini disebut pula tata kelakukan yang berfungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan, dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Para ahli antropologi dan sosiologi menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini dengan cultural system (sistem budaya) yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah adat atau adat istiadat (dalam bentuk jamak). Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan tersebut dinamakan sistem sosial (social system). Wujud kebudayaan ini dapat diobservasi, difoto, dan didokumentasi karena dalam sistem sosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi satu dengan yang lain. Sistem sosial merupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat konkret dalam bentuk perilaku dan bahasa. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia; bersifat paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat dilihat, diraba, dan difoto. Wujud kebudayaan yang ketiga ini disebut kebudayaan fisik (material culture).

Ketiga wujud kebudayaan dalam realitas kehidupan masyarakat tentu tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Ide-ide dan tindakan menghasilkan benda-benda yang merupakan kebudayaan fisik. Sebaliknya kebudayaan fisik membentuk lingkungan hidup tertentu yang dapat mempengaruhi tindakan dan cara berpikir masyarakat (Koentjaraningrat, 1984: 5-6; dan 1986: 186-188).

B. BUDAYA YANG ADA PADA MASYARAKAT

Di setiap unsur kebudayaan yang telah disebutkan beserta sub-subunsurnya dapat dipastikan mengandung nilai-nilai yang berguna bagi masyarakat pemiliknya. Kebergunaan itu terdapat misalnya dalam hal-hal sebagai berikut.

Ø Nilai budaya dan norma dalam kebudayaan tertentu tetap dianggap sebagai pemandu perilaku yang menentukan keberadaban, seperti kebajikan, kesantunan, dan keanggunan.

Walaupun kebudayaan mengalami perubahan dan perkembangan, namun jati diri suatu kebudayaan dapat lestari; artinya lestari yang dinamis, yaitu ciri-ciri pengenalnya secara keseluruhan tetap dimiliki, meskipun bentuk-bentuk ungkapan di dalamnya dapat mengalami perubahan (Sedyawati, 2008: 290). Oleh karena itu, pelestarian yang dilakukan pun juga merupakan pelestarian dinamis. Berkaitan dengan seni dan budaya daerah, upaya-upaya pelestarian dinamis yang dapat ditempuh antara lain:

Ø pembahasan dalam rangka penyadaran, khususnya tentang nilai-nilai budaya, norma, dan estetika.

Pada dasarnya perubahan dalam masyarakat disebabkan oleh adanya usaha pemenuhan kebutuhan dan sebagai makhluk yang memiliki akal dan pikiran, manusia akan mengerahkan segala daya dan usahanya untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Dalam melakukan perubahan perilaku (penyuluhan) pada suatu sistem sosial kita perlu mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dalam masyarakat baik yang terjadi maupun yang akan terjadi, kebutuhan nyata yang diinginkan masyarakat untuk dipenuhi (perubahan yang diinginkan masyarakat), sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat sehingga perubahan dapat berjalan tanpa masyarakat kehilangan jati diri (identitas) sehingga penyuluh dapat menentukan bagaimana dia akan memulai suatu perubahan.Dengan demikian, dalam melakukan penyuluhan pasti berkaitan dengan teori sosiologi.
Beberapa teori sosiologi yang dapat digunakan dalam penyuluhan antara lain:

1. Teori fungsional.

Suatu masyarakat manusia akan sejahtera, hidup harmonis dan nyaman jika fungsi masing- masing anggota masyarakat bersangkutan tidak lepas dari status, posisi dan peranannya yang telah disepakati bersama dan tidak menyimpang dari tatanan perilaku atau pranata sosial (social order) yang manusiawi dan bermartabat, sehingga gejala konflik atau kejadian konflik sosial tidak terjadi.

2. Teori konflik

Teori ini mengacu pada adanya pertentangan dalam diri individu yang disebabkan oleh adanya kesenjangan antara kebutuhan dan kenyataan, kesenjangan antara harapan dan kenyataan, kesenjangan distribusi kekuasaan, kesenjangan dalam hal berkeadilan dan kesenjangan dalam hal keterpercayaan sosial (social trust). Konflik bisa terjadi dalam diri individu maupun antar individu. Terkadang konflik diperlukan individu untuk mengetahui kualitas diri (sendiri atau orang lain). Konflik menimbulkan ketidaknyamanan hidup seseorang sebagai akibat dari ketidakmampuannya untuk berinteraksi, biasanya konflik mendorong individu untuk melakukan semacam pelampiasan (kompensasi) atas segala sesuatu yang dianggap salah pada dirinya yang terrefleksi pada perilaku yang tidak normal (menyimpang).

3. Teori interaksi sosial.

Interaksi sosial merupakan hubungan antar individu berdasarkan nilai-nilai umum atau perilaku yang dianut bersama.

4. Teori Perubahan Sosial.

Perubahan sosial mengacu pada kondisi masyarakat yang mulai meninggalkan nilai lama secara bertahap dan mulai menganut/mengadopsi nilai baru. Sebagai contoh, dahulu hubungan diluar nikah merupakan hal yang tabu tapi pada saat ini di beberapa kota besar asal suka sama suka hal tersebut dianggap biasa.

5. Teori sistem nilai, sistem sosial.

Masyarakat sebagai suatu sistem sosial, dimana setiap unit sosial yang sifatnya berkelanjutan, memiliki identitas tersendiri dan bisa dibedakan dengan unit sosial lainnya bisa dipandang sebagai sebuah sistem sosial. Artinya bahwa ada susunan skematis yang menjadi bagian dari unit tersebut yang memiliki hubungan ketergantungan antar bagian. Masyarakat memiliki batas yang berhubungan dengan lingkungan (secara fisik, teknis, dan sosial), yang memiliki proses eksternal dan internal. Loomis dalam Boyle (1981) menyatakan bahwa suatu sistem sosial merupakan komposisi pola interaksi anggotanya. Boyle (1981) mendefinisikan beberapa unsur dalam sistem sosial yaitu tujuan, norma, status peran, kekuatan, jenjang sosial, sangsi, fasilitas, dan daerah kekuasaan. Selain itu, terdapat proses yang terjadi dalam sistem tersebut yaitu komunikasi, pembuatan keputusan, pemeliharan batasan, keterkaitan sistem. Sistem nilai mengacu pada bagaimana anggota masyarakat menyesuaikan dirinya untuk bertingkah laku berdasarkan acuan.

6. Teori perilaku kolektif.

Perilaku kolektif (collective behavior) merupakan cara pandang, bersikap dan bertindak yang dianut dan diterapkan dalam masyarakat. Perilaku kolektif terjadi pada saat kebutuhan mereka tidak terpenuhi dan/atau harga diri mereka direndahkan oleh individu di luar sistem sosialnya. Bentuk perilaku kolektif bermacam macam mulai paling sopan, toleran dan sabar sampai pada paling keras, beringas dan anarkis. Perilaku kolektif umumnya ditunjukkan oleh masyarakat yang relatif homogen dan tertutup.

Masalah lain yang sering dihadapi oleh masyarakat adalah kerusakan alam dan masalah sosial yang berdampak negatif yaitu masyarakat manusia yang berciri lebih menyengsarakan dan jajaran pemerintah yang berciri: lebih banyak melakukan pengeluaran dana untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Berdasarkan analisa permasalahan kerusakan alam dan berbagai masalah sosial yang dihadapi saat ini, diketahui bahwa terdapat beberapa akar masalah dan melalui ilmu sosiologi dan ilmu penyuluhan pembangunan dapat diatasi, minimal dikurangi melalui usaha sebagai berikut:
1. Memudarnya peran gate keeper dalam masyarakat.

Dalam hal ini, penyuluh harus mengerti teori sistem sosial dimana dalam sistem sosial, masyarakat merupakan satu unit yang berbeda dengan yang lainnya dimana terdapat nilai atau norma yang tetap dipertahankan sebagai identitas masyarakat. Dalam hal ini, peran gate keeper dalam menjaga masyarakat masih diperlukan sebagai penyaring nilai yang boleh dan tidak boleh berkembang dalam masyarakat dan dalam mengendalikan Demonstration effect. Untuk itu, perlu penyadaran masyarakat tentang pentingnya peranan gate keeper tersebut sehingga masyarakat dapat mengakui kembali keberadaan gate keeper.
2. Konflik Kepentingan dan distribusi kekuasaan yang tidak seimbang. Dalam pemecahan masalah, penyuluh berkaitan dengan teori konflik, dimana konflik terjadi menimbulkan ketidaknyamanan hidup individu yang sering direfleksikan pada bentuk perilaku yang cenderung menyimpang seperti tindakan korupsi sebagai akibat dari adanya kesenjangan pemenuhan kebutuhan (antara yang diinginkan dan kenyataan) dimana pada saat seorang PNS panitia pengadaan golongan III sangat ingin memiliki mobil keluaran terbaru tapi kenyataannya gajinya tidak mencukupi untuk membeli mobil/mencicil maka pada saat seorang pengusaha yang ingin memenangkan lelang pengadaan memberikan iming-iming sebuah mobil bila perusahaannya menang pada tender tersebut, PNS tersebut berada dalam konflik dimana dia harus menjalankan tugasnya dengan baik dan keinginannya untuk memiliki mobil. Untuk mengantisipasi permasalahan ini (perilaku menyimpang yaitu korupsi) tidak menjadi budaya dalam masyarakat maka pengendaliannya dapat melalui diterapkannya hukuman sosial (dikucilkan) bahkan dengan hukuman penjara (tindak pidana korupsi).
Kemajuan dan kualitas sumberdaya manusia di satu negara umumnya dinilai dari tingkat kesejahteraan masyarakat, kualitas pelayanan publik, tegak-kokohnya supremasi hukum serta minimnya keberadaan masalah-masalah kriminal dan sosial. Disamping itu, di negara-negara maju diterapkan pula indikator demokrasi dan keterpercayaan sosial (social trust) dimana warga masyarakat tidak pernah merasa khawatir dibohongi ketika mereka berinteraksi dan berkomunikasi dengan siapa dan apa saja. Bila kondisi ini tidak terjadi, menunjukkan ada yang salah.
Berdasarkan analisa permasalahan di atas menunjukkan adanya perilaku menyimpang yang dilakukan masyarakat sebagai akibat dari:
1. Konflik kepentingan. Adanya konflik kepentingan yang menunjukkan pelaksanaan pendidikan dimana pemerintah lebih mementingkan pendidikan hanya sebagai perbaikan kognitif dan psikomotorik sehingga tidak memperhatikan perubahan afektif (sikap). Hal ini menyebabkan, memudarnya nilai kebaikan dalam masyarakat sehingga masyarakat tidak dapat membedakan perilaku yang seharusnya dilakukannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan pelajaran seperti budi pekerti di pendidikan formal, non formal dan informal.
2. Encernya perekat sosial dan perubahan sistem nilai menyebabkan solidaritas masyarakat rendah dan sulitnya individu mengendalikan ego yang dilihat dari kebohongan yang sering dilakukan oleh individu baik pada dirinya maupun pada orang lain sehingga berdampak pada kekahawatiran individu tersebut akan kebohongan yang dilakukan orang lain padanya (menurunnya keterpercayaan sosial). Hal yang dapat dilakukan adalah mengembangkan budaya menghormati dan mengembangkan kejujuran dalam masyarakat

Terdapat dua usaha yang dilakukan dalam penanganan masalah sosial yaitu pengobatan dan

pencegahan. Pengobatan dilakukan pada masalah sosial yang sudah terjadi melalui isolasi kasus, perlakuan psikologikal dan fisiologikal, perlakuan sosial/hukuman, supremasi hukum. Sedangkan upaya pencegahan dilakukan pada masalah sosial yang mungkin terjadi dengan cara mengembangkan keterpercayaan sosial, budaya, pola hidup/gaya hidup sederhana, dan pengakuan pada peran dan fungsi individu.Teori tersebut diatas dapat digunakan dalam usaha mengatasi dan mengantisipasi masalah sosial yang terjadi. Berikut ini adalah beberapa contoh penanganan masalah sosial dengan menggunakan teori sosiologi.
Salah satu tujuan utama kegiatan penyuluhan pembangunan dalam berbagai bidang (pembangunan) adalah agar sasaran penyuluhan selaku subyek mampu mengembangkan kesadarannya untuk mengubah perilakunya sedemikian rupa, sehingga mereka dapat menempatkan perubahan (yang positif) sebagai bagian dari kebutuhannya untuk hidup lebih sejahtera dan berkualitas. Bila penyuluhan tidak berhasil maka akan menimbulkan berbagai dampak yang tidak diinginkan, untuk itu perlu diidentifikasi kemungkinan penyebab dan akar masalahnya untuk dapat melakukan pencegahan bagi masalah yang mungkin terjadi.
Permasalahan yang terjadi yaitu ketidakberhasilan penyuluhan dalam rangka perubahan perilaku mengakibatkan kegagalan pembangunan yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat tidak tercapai dan masyarakat tidak berkualitas. Penyuluh harus dapat mengidentifikasi apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi dan bagaimana dia dapat mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan teori sosiologi yang bisa dijadikan alasan untuk melakukan perubahan didalam sistem sosial masyarakat bersangkutan.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, diketahui bahwa akar masalahnya antara lain:
1. Tidak berfungsinya peran perencana dan pelaksana perubahan perilaku berkaitan dengan ketidakmampuan perencana dan pelaksana untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat sehingga mengakibatkan pelaksanaan penyuluhan tidak optimal. Dalam hal ini penyuluh perlu memahami teori fungsional, dimana jika perencana atau pelaksana pembangunan tidak menjalankan fungsinya dengan baik akan menimbulkan konflik (timbulnya perilaku menyimpang). Untuk mengantisipasi masalah ini dapat dilakukan melalui pendidikan dan latihan bagi perencana dan pelaksana agar dapat melaksanakan peran dan fungsinya dengan baik serta dengan menyadarkan mereka tentang pentingnya posisi, peran dan fungsi mereka dalam pembangunan (memberi pengakuan).
2. Masyarakat tidak menyadari sumberdaya yang dimiliki sehingga masyarakat tidak yakin bahwa mereka mampu merubah tingkah lakunya. Berdasarkan hal tersebut yang dapat dilakukan adalah menyadarkan masyarakat bahwa mereka memiliki sumberdaya yang bila dimanfaatkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Proses penyadaran dapat dilakukan melalui penyelenggaraan pendidikan non formal dan pelaksanaan program pembangunan dengan pendekatan partisipatif.
3. Masyarakat cenderung mempertahankan nilai yang selama ini dianggap benar (value expressive dan ego defensif attitude). Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak mempercayai bahwa dengan merubah perilaku mereka dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam hal ini penyuluh berhadapan dengan perilaku kolektif dimana masyarakat sasaran cenderung untuk mempertahankan statusnya. Untuk itu, sebaiknya penyuluh dapat membangun kepercayaan masyarakat pada dirinya setelah itu melakukan penyadaran pada masyarakat bahwa dengan perubahan perilaku (biasanya berkaitan dengan penerapan inovasi), kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah melalui sistem latihan dan kunjungan (pendekatan kelompok dan pendekatan individu).

C. PENYEMPANGAN BUDAYA

Ø Sosialisasi sub kebudayaan yang menyimpang

Perilaku menyimpang terjadi pada masyarakat yang memiliki nilai-nilai sub kebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan/ pada umumnya. Contoh: Masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh, masalah etika dan estetika kurang diperhatikan, karena umumnya mereka sibuk dengan usaha memenuhi kebutuhan hidup yang pokok (makan), sering cekcok, mengeluarkan kata-kata kotor, buang sampah sembarangan dsb. Hal itu oleh masyarakat umum dianggap perilaku menyimpang.

Ø Penyimpangan sebagai Hasil Sosialisasi dari Nilai-Nilai Sub kebudayaan yang Menyimpang

Menurut Edwin H. Sutherland, perilaku menyimpang bersumber pada pergaulan-pergaulan yang berbeda. Pergaulan dengan teman tidak selalu positif. Hasil Yang negatif dapat menimbulkan perilaku yang menyimpang. Menurut Shaw dan Me. Kay, daerah-daerah yang tidak tidak teratur dan tidak ada organisasi yang baik. Akan cenderung melahirkan daerah kejahatan. Di daerah-daerah yang demikian, perilaku menyimpang (kejahatan) dianggap sebagai sesuatu yang wajar yang sudah tertanam dalam kepribadian masyarakat itu. Dengan demikian proses sosialisasi tersebut merupakan proses pembentukan nilai-nilai dari sub kebudayaan yang menyimpang.

Contoh di daerah lingkungan perampok terdapat nilai dan norma yang menyimpang dari kebudayaan masyarakat setempat. Nilai dan norma sosial itu sudah dihayati oleh anggota kelompok, sebagai proses sosialisasi yang wajar.

Ø Proses Belajar Perilaku yang menyimpang

Seseorang bisa belajar perilaku yang menyimpang melalui media buku-buku majalah, koran dan yang paling mudah adalah melalui TV, karena hampir setiap hari menayangkan acara yang bernuansa kejahatan. Bergaul dengan orang-orang yang menggunakan narkoba. Seseorang akan memperoleh pelajaran bagaimana cara mengkonsumsi narkoba dan dimana memperolehnya bagaimana cara mencuri, menjamret dan sebagainya.

D. AKIBAT DARI PENYIMPANGAN BUDAYA YANG TERJADI DI

MASYARAKAT

Dan akibat dari penyimpangan budaya tersebut diantaranya adalah :
1. GANGGUAN PSIKIATRIK ANAK-ANAK DAN REMAJA

Istilah adolescense atau masa remaja berasal dari kata adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescence, seperti yang digunakan saat ini, mencakup arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.
Masa remaja dibagi menjadi dua bagian, yaitu;
1. Remaja awal : 13-16/17 tahun
2. Remaja akhir: 16/17-18 tahun

Ciri-ciri masa remaja:

- Periode yang penting
– Periode peralihan
– Periode perubahan
– Usia bermasalah
– Masa mencari identitas
– Usia yang menimbulkan ketakutan
– Masa yang tidak realistik
– Ambang masa dewasa

Menurut tradisi, masa remaja adalah periode dari meningginya emosi, saat “badai dan tek anan”, namun hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa ini bersifat universal atau menonjol atau menetap seperti anggapan orang pada umumnya. Perubahan sosial yang penting dalam masa remaja meliputi:
– Meningkatnya pengaruh kelompok sebaya
– Pola perilaku sosial yang lebih matang
– Pengelompokan sosial baru dan nilai-nilai baru dalam pemilihan teman dan pemimpin
– Dukungan sosial

Minat yang paling penting dan paling universal remaja masa kini terbagi dalam tujuh kategori, yaitu:
– Minat rekreasi
– Minat pribadi dan sosial
– Minat pada pendidikan
– Minat pada pendidikan
– Minat pada pekerjaan
– Minat agama
– Minat pada simbol status

Perubahan pokok dalam moralitas selama masa remaja terdiri dari mengganti konsep-konsep moral khusus dengan konsep-konsep moral tentang benar dan salah yang bersifat umum; membangun kode moral berdasarkan pada prinsip-prinsip moral individual; dan mengendalikan perilaku melalui perkembangan hati nurani.

Hubungan antara remaja dengan anggota keluarga cenderung merosot pada awal masa remaja meskipun hubungan-hubungan ini seringkali membaik menjelang berakhirnya masa remaja, terutama hubungan remaja-remaja putri terhadap anggota keluarganya. Meskipun sebagian besar remaja ingin sekali memperbaiki kepribadian dengan harapan meningkatkan status mereka di dalam kelompok sosial, namun banyak kondisi yang mempengaruhi konsep diri berada di luar pengendalian mereka.

Bahaya psikologis utama dari masa remaja berkisar di sekitar kegagalan melaksanakan peralihan ke arah kematangan yang merupakan tugas perkembangan terpenting dari masa remaja. Bidang-bidang di mana ketidakmatangan disebabkan kegagalan melakukan peralihan ke perilaku yang lebih matang yang paling umum adalah perilaku sosial, seksual dan moral, dan ketidakmatangan dalam hubungan keluarga. Bila ketidakmatangan tampak jelas, maka dapat menimbulkan penolakan diri yang merusak penyesuaian pribadi dan sosial.

I. Landasan Teoritis Keperawatan Jiwa pada Remaja
Menurut Wilson dan Kneisl (1988), dua teori yang menjadi landasan utama untuk memahami tentang perkembangan remaja ialah teori perkembangan dan teori interaksi humanistik. Stuart dan Sundeen (1995) mengemukakan teori biologis, teori psikoanalitis, teori perkembangan intelektual, teori budaya, dan teori multidimensional.

A. Teori Perkembangan
Proses perkembangan identitas diri remaja memerlukan self image (citra diri) juga hubungan antar peran yang akan datang dengan pengalaman masa lalu. Untuk mendapatkan kesamaan dan kesinambungan, pada umumnya remaja harus mengulangi penyelesaian krisis masa lalu dengan mengintegrasikan elemen masa lalu dan membina identitas akhir.

Periode krisis yang perlu ditinjau kembali ialah :
1. Rasa percaya
Remaja perlu mencari ide dan objek untuk tempat melimpahkan rasa percaya (sense of trust). Konflik yang tidak terselesaikan pada tahap pertama ini membuat remaja merasa ditingglakan, biasanya dimanifestasikan melalui perilaku makan yang berlebihan, serta ucapan kasar dan bermusuhan.
2. Rasa otonomi
Remaja belajar bertindak dan membuat keputusan secara mandiri. Konflik masa lalu yang tidak terselesaikan membuat remaja takut mengikuti kegiatan yang akan membuat dia ragu akan kemampuannya.
3. Rasa inisiatif
Dimana anak tidak lagi mementingkan bagaimana berjalan, tetapi apa yang dapat dilakukan dengan kemampuan tersebut. Pada tahapan ini, mereka mengujicobakan apa yang mungkin dilakukan, dan bukan apa yang dapat dilakukan. Konflik masa ini akan terbawa pada saat remaja, yaitu ketidaksiapan untuk mengambil inisiatif.
4. Rasa industri.
Menuntut remaja untuk memilih karir yang tidak saja menjamin secara finansial, tetapi juga mmeberikan kepuasan karena penampilan kerja yang baik.

B. Teori Interaksi Humanistik
Perawat perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip interaksi humanistik dalam pengkajian dan asuhan keperawatan untuk mengembangkan hubungan rasa percaya dengan remaja. Perawat perlu memperhatikan dampak tahapan perkembangan, faktor sosial budaya, pengaruh keluarga, dan konflik psikodinamika yang dimanifestasikan melalui perilaku remaja.

II. Proses Keperawatan
Sebagaimana halnya dengan asuhan keperawatan jiwa pada anak, proses keperawatan juga diterapkan dalam asuhan keperawatan bagi remaja.

A. Pengkajian
Pengumpulan data tentang status kesehatan remaja meliputi observasi dan interpretasi pola perilaku, yang mencakup informasi sebagai berikut :
1. Pertumbuhan dan perkembangan
2. Keadaan biofisik (penyakit, kecelakaan)
3. Keadaan emosi (status mental, termasuk proses berpikir dan pikiran tentang bunuh diri atau membunuh orang lain)
4. Latar belakang sosial budaya, ekonomi, agama
5. Penampilan kegiatan kehidupan sehari-hari (rumah, sekolah)
6. Pola penyelesaian masalah (pertahanan ego seperti denial, acting out, menarik diri)
7. Pola interaksi (keluarga, teman sabaya)
8. Persepsi remaja tentang/dan kepuasan terhadap keadaan kesehatannya
9. Tujuan kesehatan remaja
10. Lingkungan (fisik, emosi, ekologi)
11. Sumber materi dan nara sumber yang tersedia bagi remaja (sahabat, sekolah dan keterlinatannya dalam kegiatan di masyarakat)

Data yang dikumpulkan mencakup semua aspek kehidupan remaja bik pada masa lalu maupun ekarang yang diperoleh dari remaja itu sendiri, keluarganya, atau orang lain. Permasalahan yang biasanya dihadapi oleh remaja berkaitan dengan citra diri, identitas diri, kemandirian, seksualitas, pera sosial dan perilaku seksual yang menimbulkan perilaku adaptif dan maladaptif.

Dalam berkomunikasi dengan remaja, perawat harus mengerti bahwa :
1. Perasaan dankonflik cenderung diekspresikan melalui perilaku kasar daripada secara verbal
2. Remaja mempunyai bahasa mereka sendiri
3. Kata-kata kotor sering diucapkan oleh remaja, terutama remaja yang sangat terganggu
4. Banyak data yang dapat diperoleh hanya dengan mengamati perilaku remaja, cara berpakaian, dan lingkungannya

Perawat yang mempelajari keterampilan ewawancarai dan menggunakan pesan nonverbal dapat memanfaatkan keterampilannya dalam berkomunikasi dengan remaja secara wajar. Dalam usahanya menyesuaikan diri dengan perubahan fisik yang pesat, remaja mengalami ketegangan karena konflik antara kebutuhan akan rasa tergantung dan keinginan untuk mandiri. Menurut para remaja bahwa kemandirian berarti melepaskan melepaskan diri dari kendali orang tua, tanpa menyadari bahwa kemandirian terjadi melalui suatu proses belajar yang terjadi secara bertahap.

B. Perencanaan dan Implementasi
Masalah utama yang biasa dialami remaja berkaitan dengan perilaku seksual, keinginan untuk bunuh diri, keinginan untuk lari dari rumah, perilaku antisosial, perilaku mengancam, keterlibatan dengan obat terlarang, hypochondriasis, masalah diit/makan, dan takut sekolah.

Untuk mencegah kesan remaja bahwa memihak kepada orangtuanya, maka sangat perlu diperhatikan perawat untuk melakukan kontak awal langsung dengan remaja. Pengetahuan perawat tentang perkembangan normal yang dialami remaja dangat dieprlukan utnuk dapat membedakan perilaku adaptif dan yang maladaptif. Mengidentifikasi respon maladaptif dan menentukan masalah berdasarkan perilaku remaja merupakan langkah pertama dalam merencanakan asuhan keperawatan. Perawat kemudian menentukan tujuan jangka pendek berdasarkan respons maladaptif dengan memperhatikan kekuatan yang dimiliki remaja, begitu pula tujuan jangka panjang.

Tinjauan terhadap rencana asuhan keperawatan perlu dilakukan secara berkala untuk memperbarui situasi, catatan perkembangan dan mempertimbangkan masalah baru. Sangat penting untuk mengkaji dan mengevaluasi proses keperawatan pada remaja. Implementasi kegiatan perawat meliputi :
1. Pendidikan pada remaja dan orang tua
Perawat adalah tenaga kesehatan yang paling tepat untuk memberikan informasi mengenai kesehatan berkaitan dengan penggunaan obat terlarang, masalah seks, pencegahan bunuh diri, dan tindakan kejahatan, begitu pula informasi mengenai fungsi emosi yang sehat. Dengan mengetahui perilaku remaja dan memahami konflik yang dialami mereka, orang tua, guru dan masyarakat akan lebih suportif dalam menghadapi remaja, bahkan dapat membantu mengembangkan fungsi mandiri remaja. Dengan meningkatkan kemandirian remaja dan mengurangi pertentangan kekuasaan antara remaja dan orang tua mereka, akan menimbulkan perubahan hubungan yang positif.
2. Terapi keluarga
Terapi keluarga khususnya diperlukan bagi remaja dengan gangguan kronis dalam interaksi keluarga yang mengakibatkan gangguan perkembangan pada remaja. Oleh karena itu perwat perlu mengkaji tingkat fungsi keluarga dan perbedaan yang terdapat didalamnya untuk menentukan cara terbaik bagi perawat berinteraksi dan membantu keluarga. Pertemuan pertama antara keluarga dengan terapis. Kemudian pertmuan selanjutnya, remaja dengan terapis. Pada akhirnya saat semua telah jelas, maka keluarga dipertemukan dengan remaja.
3. Terapi kelompok
Terapi kelompok memanfaatkan kecenderungan remaja untuk mendapat dukungan dari teman sebaya. Konflik antara keinginan untuk mandiri dan tetap tergantung, serta konflik berkaitan dengan tokoh otoriter.
4. Terapi individu
Terapi individu dilakukan oleh perawat spesialis jiwa yang berpengalaman dan mendapat pendidikan formal yang memadai. Terapi individu terdiri atas terapi perilaku dan terapi penghayatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan perawat ketika berkomunikasi dengan remaja antara lain penggunaan teknik berdiam diri, menjaga kerahasiaan, negativistic, resistens, berdebat, sikap menguji perawat, membawa teman untuk terapi, dan minta perhatian khusus.

Pendidikan Kesehatan
Perawat jiwa mempunyai posisi yang sangat penting untuk mendidik remaja., keluarga, dan masyaarakat. Informasai kesehatan dasar yang harus diberikan seperti obat-obatan terlarang, sex dan kontrasepsi, pencegahan bunuh diri, dan pencegahan kekerasan.Perawat dapat memberikan informasi tentang fungsi kesehatan emosional. Melalui pendidikan keluarga dan masyarakat tentang tingkah laku remaja yang normal dan dengan interpretasi yang mendasari konflik, orangtua, pengajar, dan anggota masyarakat lainnya disiapkan menjadi lebih baik untuk mendukung remaja dan mengembalikan fungsi kesehatan mandiri.

Komunikasi dengan Remaja
Ada beberapa point penting yang harus diperhatikan saat berkominikasi dengan remaja, yaitu:
1. Silence/diam
Diam atau mendengarkan seringkali efektif untuk orang dewasa tetapi menakutkan bagi remaja, terutama saat memulai treatment atau evaluasi. Kecemasan ini seringkali refleksi dari perasaaan remaja tentang empati dan identitas diri yang rendah. Secara singkat, diam dapat kreatif dan produktif ketika remaja menolak ditreatment, ketika remaja sanggup toleransi tanpa kecemasan, yang menindikasikan pertumbuhhan dalam rasa percaya diri dan menerima perasaannya.
2. Confidentiality/ kerahasiaan
Kerahasiaan ditekankan untuk beberapa, terutama untuk remaja yang takut bila perawat melaporkan ke orangtuanya. Berjanji untuk tidak mengatakan apapun kepada orangtua apabila tidak diizinkan, sejak perawat membutuhkan kontak dengan orangtua jika remaja menyatakan keinginan bunuh diri atau yang berhubungan denga pembunuhan, atau menggunakan obat terlarang.
3. Negativism
Perasaan negative seringkali diekspresikan remaja, terutama pada permulaan karena mereka takut akan dampak yang muncul dari treatment.
4. Resistance/Perlawanan
Seringkali remaja mulai menguji perawat untuk melihat apakah mereka menjadi figure authoritarian. Remaja yang suka melawan dapat menyangkal membutuhkan terapi atau pertolongan. Apabila remaja tampak cemas, sangat baik memberi dukungan dan simpati., tunjukkan bahwa perawat tertarik untuk mengetahui remaja dan kemudian berdiskusi saat kondisi netral atau stabil.
5. Arguing/Menentang
Remaja selalu menentang dan mereka jarang mengakui , mendengar pendapat orang. Apabila perawat mengakui memiliki area ketidaktahuan, sangat baik untuk remaja, dimana mereka takut membutuhkan untuk menjadi lebih biak.
6. Testing
Remaja mmebutuhkan dan menginginkan batas. Mereka bingung dan tidak dapat membuat batas untuk dirinya sendiri. Mereka mencoba melalui trial and error untuk menemukan konsep diri.
7. Dreams and artistic creations
Remaja seringkali kreatif dan sangat pandai belajar dari pelajaran mereka di tempat bekerja. Selama diskusinya relevan, dapat menjadi sumber yang baik untuk mengeksplorasi perasaan mereka.
8. Bringing friends
Remaja yang membawa teman ke pertemuan dapat menghindari terapi. Ada beberapa keuntungan sharing pengalaman denggan peer group, sejak kecemasannya berkurang.

Permintaan untuk lebih diperhatikan
Beberapa remaja dapat mengembangkan ketergantungan kepada terapis. Fokusnya untuk mengeksplorasi perasaan empati, deprivasi, dan incompleteness bahwa mereka bertangungjawab atas permintaan ini.

Orangtua Remaja
Jika kelompok atau treatment individu sangat selektif untuk remaja, perawta tetap harus mengomunikasikannya dengan keluarga. Orangtua tidak dapat membantu treatment jika mereka tidak mengerti dan tidak mengetahuinya. Perawt dapat bekerja dengan orangtua tanpa membuka rahasia.
Tidak semua orangtua membutuhkan treatment. Ini sangat menolong bagi orangtua yang memiliki treatment jika remaja mengatakan memikul peran yang tidak tepat di rumah.

C. Evaluasi
Dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, masalah remaja lebih sering dihdapai oleh perawat. Perawat harus waspada untuk tidak memihak baik pada remaja maupun orangtua. Remaja cenderung impulsive dan secara tidak disadarinya menghambat perkembangan terapi. Walaupun proses penyembuhan biasanya berjalan lambat, perawat perlu menyadari kemajuan yang dialami remaja, dan bahkan membantu remaja untuk meliaht perbaikan yang telah dicapai, tidak saja dalam perilaku tetapi juga secara menyeluruh. Apabila kriteria keberhasilan ditulis secara jelas dengan menggunakan istilah perubahan yang ingin dicapai, maka kriteria ini dapat dipakai untuk mengukur ekeftivitas intervensi keperawatan.

2. Defisit perhatian dan gangguan perilaku disruptif

a. Gangguan perilaku

Dicirikan dengan perilaku berulang, disruptif, dan kesengajaan untuk tidak patuh, termasuk melanggar norma dan peraturan sosial. Sebagian besar nak-anak dengan gangguan ini mengalami penyalahgunaan zat atau gangguan kepribadian antisosial setelah berusia 18 tahun. Contoh perilaku pada anak-anak dengan gangguan ini meliputi mencuri, berbohong, menggertak, melarikan diri, membolos, menyalahgunakan zat, melakukan pembakaran, bentuk vandalisme yang lain, jahat terhadap binatang, dan serangan fisik terhadap orang lain.

b. Gangguan penyimpangan oposisi

Gangguan ini merupakan bentuk gangguan perilaku yang lebih ringan, meliputi perilaku yang kurang ekstrim. Perilaku dalam gangguan ini tidak melanggar hak-hak orang lain sampai tingkat yang terlihat dalam gangguan perilaku. Perilaku dalam gangguan ini menunjukkan sikap menentang, seperti berargumentasi, kasar, marah, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan menggunakan minuman keras, zat terlarang, atau keduanya).

3. Gangguan penyalahgunaan zat
a. Gangguan ini banyak terjadi; diperkirakan 32% remaja menderita gangguan penyalahgunaan zat (Johnson, 1997). Angka penggunaan alkohol atau zat terlarang lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding perempuan. Risiko terbesar mengalami gangguan ini terjadi pada mereka yang berusia antara 15 sampai 24 tahun. Pada remaja, perubahan penggunaan zat menjadi ketergantungan zat terjadi lebih cepat; misalnya, pada remaja penggunaan zat dapat berkembang menjadi ketergantungan zat dalam waktu 2 tahun sedangkan pada orang dewasa membutuhkan waktu antara 15 sampai 20 tahun.

b. Tanda bahaya penyalahgunaan zat pada remaja, diantaranya adalah penurunan fungsi sosial dan akademik, perubahan dari fungsi sebelumnya, seperti perilaku menjadi agresif atau menarik diri dari interaksi keluarga, perubahan kepribadian dan toleransi yang rendah terhadap frustasi, berhubungan dengan remaja lain yang juga menggunakan zat, menyembunyikan atau berbohong tentang penggunaan zat.

Ø Etiologi Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja
Tidak ada penyebab tunggal dalam gangguan mental pada anak-anak dan remaja. Berbagai

situasi, termasuk faktor lingkungan berkombinasi secara kompleks. Yaitu :
Faktor lingkungan
a. Kemiskinan.

Perawatan pranatal yang tidak adekuat, nutrisi yang buruk, dan kurang terpenuhinya kebutuhan akibat pendapatan yang tidak mencukupi dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan dan perkembangan normal anak.

b. Tunawisma.

Anak-anak tunawisma memiliki berbagai kebutuhan kesehatan yang memengaruhi perkembangan emosi dan psikologi mereka. Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan angka penyakit ringan kanak-kanak, keterlambatan perkembangan dan masalah psikologis diantara anak tunawisma ini bila dibandingkan dengan sampel kontrol (Townsend, 1999).

c. Budaya keluarga.

Perilaku orang tua yang secara dramatis berbeda dengan budaya sekitar dapat mengakibatkan kurang diterimanya anak-anak oleh teman sebaya dan masalah psikologik.

Ø Penatalaksanaan Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja

1. Perawatan berbasis komunitas saat ini lebih banyak terdapat pada managed care.
a. Pencegahan primer melalui berbagai program sosial yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan anak. Contohnya adalah perawatan pranatal awal, program intervensi dini bagi orang tua dengan faktor resiko yang sudah diketahui dalam membesarkan anak, dan mengidentifikasi anak-anak yang berisiko untuk memberikan dukungan dan pendidikan kepada orang tua dari anak-anak ini.

b. Pencegahan sekunder dengan menemukan kasus secara dini pada anak-anak yang mengalami kesulitan di sekolah sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan. Metodenya meliputi konseling individu dengan program bimbingan sekolah dan rujukan kesehatan jiwa komunitas, layanan intervensi krisis bagi keluarga yang mengalami situasi traumatik, konseling kelompok di sekolah, dan konseling teman sebaya.

c. Dukungan terapeutik bagi anak-anak diberikan melalui psikoterapi individu, terapi bermain, dan program pendidikan khusus untuk anak-anak yang tidak mampu berpartisipasi dalam sistem sekolah yang normal. Metode pengobatan perilaku pada umumnya digunakan untuk membantu anak dalam mengembangkan metode koping yang lebih adaptif.

d. Terapi keluarga dan penyuluhan keluarga penting untuk membantu keluarga mendapatkan keterampilan dan bantuan yang diperlukan guna membuat perubahan yang dapat meningkatkan fungsi semua anggota keluarga.

Ø Tinjauan Proses Keperawatan Gangguan Psikiatrik pada Anak-anak dan Remaja

1. Pengkajian
a. Kaji kembali riwayat klien untuk adanya jhal-hal yang mencetuskan stressor atau data yang signifikan, antara lain riwayat keluarga, peristiwa-peristiwa hidup yang menimbulkan stres, hasil pemeriksaan kesehatan jiwa, riwayat masalah fisik dan psikologis serta pengobatannya.
b. Catat pola pertumbuhan dan perkembangan anak dan bandingkan dengan alat standar, seperti The Developmental Screening Test dan versi yang sudah direvisi (Wong, 1997).
c. Catat bukti pencapaian tugas perkembangan yang sesuai bagi anak atau remaja.
d. Lakukan pemeriksaan fisik pada anak atau remaja, catat data normal atau abnormal.
e. Kaji respon perilaku yang dapat mengindikasikan gangguan pada anak-anak atau remaja. Pastikan untuk mengkaji interaksi langsung, observasi permainan, dan interaksi dengan keluarga dan teman sebaya.
f. Identifikasi bukti gangguan kognitif.
g. Observasi adanya bukti-bukti gangguan mood.
h. Kaji kelebihan dan kelemahan sistem keluarga.

2. Diagnosis keperawatan
a. Analisis
b. Tetapkan diagnosis keperawatan bagi klien dan keluarga

3. Perencanaan dan identifikasi hasil
a. Bekerjasama dengan klien dan keluarga dalam menetapkan tujuan yang realistis
b. Tetapkan kriteria hasil yang diinginkan untuk klien, keluarga, atau keduanya.

4. Implementasi
a. Implementasi umum
· Bentuk rasa saling percaya
· Dengarkan secara aktif, tunjukkan perhatian dan dukungan
· Tingkatkan komunikasi yang jelas, jujur, dan langsung
· Tempatkan diri sebagai pihak yang netral, jangan memihak orang tua atau anak
· Dukung kelebihan klien dan keluarga
· Gunakan model kognitif untuk menjelaskan hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku
· Berpartisipasi dalam rencana pengobatan di unit rawat inap
· Perkuat secara positif perilaku yang dapat diterima
· Berpartisipasi dalam terapi bermain, biarkan anak mengekspresikan dirinya melalui permainan imajinatif
· Bekerjasama dengan keluarga klien, sekolah, dan tim kesehatan jiwa
· Anjurkan digunakannya kelompok pendukung masyarakat bagi klien dan keluarga
· Anjurkan pada keluarga tentang cara menjaga kesehatan emosi anak melalui penyuluhan klien dan keluarga

Penyuluhan keluarga dengan anak atau remaja yang menderita gangguan mental dapat dilakukan dengan memberikan informasi umum tentang gangguan tersebut, ajarkan pada orangtua tentang cara menjaga kesejahteraan emosi anak, dan beritahu orangtua tentang kelompok pendukung komunitas yang tersedia untuk masalah spesifik yang dialami anak atau keluarga.

b. Untuk anak atau remaja dengan gangguan perilaku atau gangguan penyimpangan oposisi
· Buat batasan-batasan yang tegas, jelas, dan konsisten tentang konsekuensi atas perilaku yang tidak dapat diterima
· Bantu orangtua menentukan dan mempertahankan batasan yang telah ditetapkan
· Berikan umpan balik positif atas perilaku yang baik
· Dorong klien mengekspresikan kemarahannya dengan sikap verbal yang tepat
· Gunakan latihan fisik dan aktivitas untuk membantu anak menyalurkan kelebihan energi yang muncul karena peningkatan ansietas atau kemarahan
· Catat tanda-tanda perburukan perilaku dan dan lakukan intervensi segera

c. Untuk anak atau remaja dengan gangguan penyalahgunaan zat
· Ajarkan pada klien dan keluarganya tentang zat-zat tersebut dan dampaknya terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis
· Anjurkan klien dan keluarganya untuk menghadiri kelompok swadaya, misalkan alcoholic anonymous
· Perkuat sikap penuh harapan bahwa klien dapat mencapai dan mempertahankan keadaan bersih tanpa penyalahgunaan
· Ajarkan tindakan koping untuk mengatasi perasaan dan situasi yang tidak nyaman

Selain itu perlu beberapa terapi lain diantaranya :

a. Terapi keluarga
Semua anggota keluarga perlu diikutsertakan dalam terapi keluarga. Orangtua perlu belajar secara bertahap tentang peran mereka dalam permasalahan yang dihadapi dan bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi pada anak dan keluarga. Biasanya cukup sulit bagi keluarga untuk menyadari bahwa keadaan dalam keluarga turut meninbulkan gangguan pada anak. Oleh karena itu perawat perlu berhati-hati dalam meningkatkan kesadaran keluarga.

5. Evaluasi hasil
Perawat menggunakan kriteria hasil berikut ini untuk menentukan efektivitas intervensi keperawatan yang dilakukan.
a. Klien dan keluarganya menunjukkan perbaikan keterampilan koping
b. Klien mengendalikan perilaku impulsifnya
c. Klien menunjukkan stabilitas mood yang normal
d. Klien berpartisipasi dalam program penyuluhan sesuai kemampuan
e. Klien dan keluarganya berpartisipasi dalam program pengobatan dan menerima rujukan komunitas
f. klien berinteraksi secara sosial dengan kelompok teman sebaya

Daftar Pustaka :

Ø Isaac, Ann. 2004. Panduan Belajar : Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. Jakarta: EGC.

Ø Hamid, Achir, 1999. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa pada Anak dan Remaja. Jakarta : Widya Medika.

Ø Koentjaraningrat, 1984. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Cetakan ke-11. Jakarta: Gramedia.

Ø Koentjaraningrat, 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan ke-6. Jakarta: Aksara Baru.

Ø Sedyawati, Edi. 2008. Keindonesiaan dalam Budaya: Buku 2 Dialog Budaya Nasional dan Etnik, Peranan Industri Budaya dan Media Massa, Warisan Budaya dan Pelestarian Dinamis. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: