Oleh: Ramadhan | Agustus 30, 2009

Gizi buruk sebagai penyebab dasar kematian bayi dan anak balita

oleh : DWI LESTARI

NIM : 07061

PEMBIMBING : ERFANDI

Berat badan lahir kurang, sebagai cerminan keadaan gizi yang buruk sejak dalam kandungan.

Seorang bayi dikatakan lahir dengan berat badan rendah (BBLR) apa bila pada saat lahir berat badan kurang dari 2500 gram. Bayi dengan BBLR menunjukkan kecenderungan untuk lebih mudah menderita berbagai penyakit infeksi dan hal itu merupakan penyebab tingginya tingkat kematian pada kelompok ini. Karena berat badan lahir yang rendah itu erat kaitannya dengan kesakitan (morbiditas) dan angaka kematian (mortalitas) bayi, serta pengaruh buruk dari keadaan gizi tersebut pada usia selanjutnya, maka keadaan BBLR dalam suatu daerah akan merupakan ukuran bagi penilaian terhadap tingkat kesehatan masyarakat.

Ukuran badan seorang bayi ditentukan oleh beberapa faktor seperti:

· Ukuran badan ibu

· Keadaan gizi

· Adanya penyakit terutama penyakit infeksi yang diderita ibu semasa hamil.

Uraian itu menunjukkan bahwa BBLR adalah cerminan dari buruknya gizi ibu, terutama semasa hamil, sehingga perkembangan janin tidak dapat berlangsung dengan sempurna.

Untuk mengurangi kejadian BBLR perlu sekali dilakukan pemeriksaan kesehatan semasa hamil secara teratur dan terus menerus disamping dapat pula dikertahui apakah pertambahan berat badan ibu semasa hamil berlangsung dengan baik ataukah tidak. Dalam keadaan normal selama masa kehamilan berat badan ibu rata-rata akann bertambah sebanyak 12,5 kg. Akan tetapi sering terjadi kenaikan berat badan ibu selama kehamilan berkisar antara 7,5 kg sampai 10 kilogram.

Dari berbagai penelitian terbukti bahwa kurangnya kenaikan berat badan ibu semasa hamil itu dikarenakan konsumsi zat gizi terutama kalori yang rendah sehingga tidak memungkinkan tersediannya cadangan zat gizi dalam tubuh ibu. Disamping itu semasa hamil sering ibu masih harus bekerja di ladang sampai tiba waktunya untuk melahirkan. Penelitian yang dilakukan oleh WHO menunjukkan jika semasa hamil konsumsi kalri oleh ibu setiap hari kurang dari 1800 kalori, maka kejadian BBLR akan menjadi lebih tinggi, Jumlah bayi dengan BBLR di negara kita dewasa ini adalah sekitar 14% dari jumlah kelahiran hidup. BBLR membawa akibat bagi bayi berupa :

  1. Daya tahan terhadap infeksi rendah.
  2. Pertumbuhan dan perkembangan tubuh lebih lamban.
  3. Tingkat kematian lebih tinggi dibanding bayi yang lahir dengan berat badan cukup.

Dengan kata lain bayi yang lahir dengan BBLR sejak awal kehidupannya telah mengalami hambatan pertumbuhan, baik pertumbuhan fisik maupunpertumbuahn mental. Dan karena pertumbuhan fisik berkaitan dengan pertumbuhan otak, BBLR juga akan membawa akibat tidak dapat berkembangnya potensi intelegensi anak secara optimal.

Oleh karena itu pemeliharaan gizi anak bukan dimulai setelah bayi lahir, melainkan harus dimulai semenjak bayi masih dalam kandungan . Pemeliharaan gizi ibu semasa hamil bukan saja akan berguna untuk ibu seperti menghindari terjadinya kesulitan semasa hamil dan waktu melahirkan, akan tetapi juga membawa manfaat bagi bayi. Bayi yang lahir dari ibu yang gizinya baik selain dapat tumbuh dan berkembang dengan baik juga akan mendapat ASI dalam jumlah yang cukup karena produksi ASI oleh ibu juga dipengaruhi oleh keadaan gizi ibu semasa hami.

Perkembangan pertumbuhan janin semasa dalam kandungan dapat diamati melalui pemantauan pertambahan berat badan ibu . Dewasa ini Departemen Kesehatan sedangn mengembangkan penggunaan Kartu Menuju Sehat untuk ibu hamil (KMS-ibu hamil) sebagai upaya pemeliharaan gizi bayi sebelum lahir.

HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA TINGKAT GIZI DAN TERJADINYA PENYAKIT INFEKSI

1. Pengaruh Penyakit Infeksi terhadap tingkat gizi

Penyakit infeksi dan tingkat gizi anak masih sering dianggap sebagi dua hal yang terpisah. Sebenarnnya anatara dua faktor yang sama-sama menentukan kesehatan anak ini terdapat hubungan timbal balik yang sangat erat dan saling mempengarui.

Hadirnya penyakit infeksi dalam tubuh anak akan membawa pengaruh terhadap gizi anak. Sebagai reaksi pertama akibat infeksi adalah menurunnya nafsu makan nak sehingga anak menolak makan yang diberikan ibunya, Penolakan terhadap makanan berarti berkurangnya pemasukan zat gizi kedalam tubuh anak. Keadaan akan berangsur memburuk jika infeksi itu disertai dengan muntah yang mengakibatkan hilangnya zat gizi. Kehilangan zat gizi dan cairan akan menjadi semakin banyak apabila anak juga menderita diare. Keadaan yang buruk itu sering masih perburuk oleh adanya pembatasan makan yang tidak jarang dilakukan para orang tua mereka sendiri. Kehilangan nafsu malan, adanya muntah dan diare dengan sangat cepaty akan mengubah tingkat gizi anak ke arah gizi buruk..

Adanya infeksi mengakibatkan terjadinya penghancuraen jaringan tubuh, baik oleh bibit-bibit penyakit itu sendiri maupun penghancuran untuk memperoleh protein yang diperlukan untuk pertahanan tubuh. Uraian di atas itu menunjukkan bahwa setiap penyakit infeksi kan memperburuk taraf gizi. Akan tetapi sebaliknya taraf gizi yang buruk akibat infeksi itu akan memperlemah kemampuan anak untuk melawan infeksi. Karena keadaan gizi yang buruk, maka kuman-kuman yang dalam keadaan gizi baik sebetulnya tidak berbahaya, dapat membawa akibat yang fatal berupa kematian.

Selain infeksi oleh kuman dan virus, infeksi juga dapat berupa masuknya parasit ke dalam tubuh seperti cacing ascaris, cacing tambang, cacing pita dan sebagainya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Jawa Barat tampak bahwa kenaikan persentase anak yang menderita infeksi cacing juga diikuti oleh bertambahnya anak yang menderita gizi buruk. Juga penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa lebih dari separuh penderita campak yang meninggal juga menderita gizi buruk. Lebih-lebih lagi jika penyakit campak dibarengi dengan diare, bukan saja akan terjadi gangguan pencernaan, akan tetapi kemampuan usus menyerap makanan juga menurun, yang tentu saja akan mempercepat terjadinya gizi buruk pada penderita.

  1. Pengaruh tingkat Gizi terhadap Penyakit Infeksi

Dalam keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap penyakit infeksi. Jika keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap serangan infeksi menjadi turun. Oleh karena itu, setiap bentuk gangguan gizi sekalipun dengan gejala defisiensi yang ringan merupakan pertanda awal dari terganggunya kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi.

Penelitian yang dilakukkan di berbagai negara menunjukkan bahwa kematian bayi akan menjadi lebih tinggi jika jumlah anak penderita gizi buruk meningkat. Demikian juga halnya dengan infeksi protozoa, pada anak-anak yang tingkat gizinya buruk akan jauh lebih parah dibandingkan dengan anak yang gizinya baik.

Gizi buruk mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap produksi zat badan anti di dalam tubuh. Penurunan produksi zat badan anti tertentu akan mengakibatkan mudahnya bibit penyakiut masuk ke dalam dinding usus. Dinding usus dapat mengalami kemunduran dan dapat juga menggangguprosuksi berbagai enzim untuk pencernaan makanan . Makanan tidak dapat tercerna dengan baik dan ini berarti penyerapan zat gizi akan mengalami gangguan, sehingga dapat memperburuk keadaan gizi.

Antara keadaan gizi buruk dan penyakit diare terhadap hubungan yang sangat erat, sungguhpun sulit untuk mengatakan apakah terjadi gizi buruk akibat adanya diare ataukah ataukah kejadian diare adalah disebabkan keadaan gizi buruk. Diare merupakan suatu gejala penyakit yang dapat terjadi karena berbagai sebab, seperti salah makan, makanan yang basi atau busuk seperti sering terjadi pada pemberian susu botol yang telah basi, disamping akibat infeksi . Memburuknya tingkat gizi pada penderita diare seperti telah diuraikan pada bagian yang lain, selain disebabkan hilangnnya cairan tubuh , juga karena menurunnya nafsu makan, serta kebiasaan menghentikan pemberian makanan selama diare , Mengingat tingginya angka kematian akibat diare dan gizi buruk, maka penanganan penderita harus dilakukan dengan cermat. Disamping pengembalian cairan yang hilang, pemberian makanan pun harus seksama sehingga memungkinkan tercapainya kembali berat badan anak.

  1. Peranan Pendidikan Gizi Bagi Ibu sebagai Upaya untik menurunkan Angka Kematian Bayi dan Anak Balita

Sebagian besar kejadian gizi buruk dapat dihindari apabila ibu mempunyai cukup pengetahuan tentang cara memelihara gizi dan mengatur makanan anak. Akan tetapi pandangan yang semata-mata menghubungkan kejadian gizi buruk dengan tingkat penghasilan keluarga, menyebabkan pendidikan gizi bai ibu seakan-akan tidak bernanfaat.

Memburuknya gizi anak dapat saja terjadi akbat ketidaktahuan ibnu mengenahi tata cara pemberian ASI kepada anaknya. Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap banyak ibu untuk tidak menyusui bayi mereka, padahal makanan pengganti yang bergizi tinggi, jauh dari jangkauan kemampuan ekonomi mereka. Pengaruh buruk itu kian hari kian jauh menjalar ke arah pedesaan dan dapat dibuktikan dengan semakin berkurangnya jumlah ibu yang menyusui bayi mereka dari tahun ke tahun. Keadaan ini juga membawa pengaruh buruk terhadap tingkat gizi bayi, Hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi apabila ibu cukup mengetahui kelebihan ASI sebagi makanan bagi bayi dan bahaya yang mungkin timbul akibat pegganti ASI dengan makanan buatan lain.

Penelitian di berbagi daerah di indonesia menunjukkan bahwa lebih dari separuh ibu menyusui bayi mereka hanya dari satu buah dada saja. Akibatnya jumlahh ASI yang didapat ioleh bayi hanya setengah dari jumlah yang disediakan oleh ibu.

Didesa masih banyak ibu yang melarang anaknnya makan ikan , telur ataupun buah-buahan, padahal makanan seperti itu justru sangat diperlukan oleh anak.

Penghentian pemberian ASI atau penyapihan sering dilakukan tanpa persiapan lebih dulu. Akibatnya anak belum siap untuk menerima makanan pegganti ASI. Anak menolak untuk makan makanan yang diberikan ibunya. Akibatnya keadaan gizi anak akan memburuk karena tidak memperoleh berbagai zat gizi dalam keadaan cukup.

Hal yang dikemukakan di atas itu sebenarnya merupakan hal kecil yang dapat diatasi hanya dengan memberi pendidikan dan pengertian kepada ibu tentang masalah itu . Akan tetapi jika para ibu berhasil diberi pengertian, maka sejumlah kasus kurang gizi, mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat dapat dihindari. Dan berarti jumlah bayi dan anak akan terselamatkan dari ancaman kematian.

MASALAH GIZI DALAM KAITANNYA DENGAN PEJAMU, Agens dan lingkungan.

Suatu penyakit timbul karena tidak seimbangnya berbagai faktor, baik dari sumber penyakit (Agens), Pejamu (Host) dan lingkungan (environment). Hal itu disebut juga dengan istilah penyebab majemuk (multiple causation of diseases) sebagai lawan dari penyebab tunggal (single caution). Beberapa contoh mengenai agens, penjamu dan lingkungan akan diuraikan di bawah ini.

Sumber Penyakit (Agens)

Faktor sumber penyakit dapat dibagi menjadi delapan unsur, yaiut unsur gizim kimia dari luar, kimia dari dalam, faktor faali/fisiologis, genetik psikis, tenaga dan kekuatan fisik, dan biologi/parasit.

Pejamu (Host)

Faktor-faktor pejamu yang mempengaruhi kondisi manusia hingga menimbulkan penyakit, terdiri atas faktor genetis, umur, jenis kelamin, kelompok etnik, fisiologis, imunologik, kebiasaan seseorang (kebersihan, makanan, kontak perorangan, pekerjaan, rekreasi, pemanfaatan pelayanan kesehatan). Faktor penjamu yang cukup berpengaruh pada penyakit dalam timbulnya penyakit, khususnya dinegara yang sedang berkembang adalah kebiasaan buruk, seperti membuang sampah dan kotoran tidak pada tempatnya, tabu, cara penyimpanan makanan yang kurang baik, higienerumah tangga (jendela atau ventilasi, pekarangan) yang kurang mendapat perhatian.

Lingkungan (environment)

Faktor lingkungan dapat dibagi dalam tiga unsur utama, yaitu :

  1. Lingkungan Fisik, seperti cuaca atau iklim, tanah, dan air.
  2. Lingkungan biologis :
  1. Kependudukan : Kepadatan penduduk,
  2. Tumbuh-tumbuhan : sumber makanan yang dapat mempengaruhi sumber penyakit.
  3. Hewan : sumber makanan, juga dapat sebagai tempat munculnya sunber penyakit

Lingkungan ekonomi sosial

DAFtar pustaka

Moehji, Sjahmien. 1988. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita.Jakarta : Bhratara Karya Aksara

Supariasa, Nyoman, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: