Oleh: Ramadhan | Agustus 29, 2008

KADER KESEHATAN REMAJA

Disusun oleh:

IKA FITRI APRILIANTI

NIM O7.023

Pembimbing : ERFANDI

Hidup bersih, sehat, bahagia dan sejahtera lahir batin adalah dambaan setiap orang. Hidup berkecukupan materi bukan jaminan bagi seseorang bisa hidup sehat dan bahagia. Mereka yang kurang dari sisi materi juga bisa menikmati hidup sehat dan bahagia. Sebab, kesehatan terkait erat dengan perilaku atau budaya. Perubahan perilaku atau budaya membutuhkan edukasi yang terus menerus. Pemerintah sudah cukup lama mengampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), salah satunya adalah penggunaan air bersih baik untuk kebutuhan air minum, mandi, mencuci dan jamban.

Perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditekankan sejak dini, mulai sejak bayi, todler, prasekolah, sekolah hingga dewasa. Pada masa sekolah, fokus utama yang bisa menggerakkan perilaku hidup bersih dan sehat adalah dokter kecil (kader tiwisada) pada tingkat SD/MI, sedangkan pada tingkat SLTP disebut Kader Kesehatan Remaja.

KADER KESEHATAN REMAJA (KKR)

  1. Definisi

Istilah kader, umumnya menunjukkan pada pengertian kelompok elite atau inti sebagai bagian kelompok yang terpenting dan yang telah lulus dalam proses seleksi. Adapun pengertian kader yang lebih operasional adalah seseorang yang telah menyetujui dan meyakini kebenaran suatu tujuan dari suatu kelompok tertentu, kemudian secara terus menerus dan setia turut berjuang dalam proses pencapaian tujuan yang telah disetujui dan diyakini itu (Imawan Wahyudi, 2002:9).

  1. Definisi Kader Kesehatan

Bahwa dimana anggotanya berasal dari lingkungan setempat, dipilih oleh orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri dan bekerja sama secara sukarela. Secara umum istilah kader kesehatan yaitu kader-kader yang dipilih oleh lingkungan setempat untuk menjadi penyelenggara. Banyak para ahli mengemukakan mengenai pengertian tentang kader kesehatan antara lain:

L. A. Gunawan memberikan batasan tentang kader kesehatan: “kader kesehatan dinamakan juga promotor kesehtan desa (prokes) adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan masyarakat”.

Direktorat bina peran serta masyarakat Depkes RI memberikan batasan kader:

Kader adalah warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditinjau oleh masyarakat dan dapat bekerja secara sukarela”.

  1. Definisi Remaja

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, berumur Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th. Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Sebaliknya jika usia remaja sudah dilewati tapi masih tergantung pada orang tua maka ia masih digolongkan dalam kelompok remaja.

Masa ini harus lebih diperhatikan oleh orang tua karena apabila tidak ditanggapi remaja dapat melakukan penyimpangan-penyimpangan moral dan etika yang dapat merusak dirinya sendiri. Dalam masa remaja sifat kesadaranya masih ENTROPY (keadaan dimana kesadaran manusia belum tersusun rapi) walaupun isinya sudah banyak (ilmu pengetahuan,perasaan, dan sebagainya).

Arti remaja sendiri adalah :

  1. individu yang brkembang dari saat pertama kali menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksualnya.
  2. individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
  3. terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Dalam perkembangan remaja pada saat ini,banyak remaja yang melakukan penyimpangan seperti sexs bebas,narkoba, dan sebagainya hal ini tentu membuat resah para orang tua.tak jarang banyak remaja yang melakukan tindakan-tindakan berbahaya karena telah terjerumus narkoba dan pergaulan bebas lainya,terkadang hanya demi narkoba remaja nekat melakukan tindak kriminal demi mendapat kan barang haram tersebut.

  1. Definisi Kader Kesehatan Remaja

Dokter Kecil dan kader Kesehatan Remaja adalah peserta didik yang dipilih guru guna ikut melaksanakan sebagian usaha pelayanan kesehatan terhadap diri sendiri, kelurga, teman peserta didik pada khususnya dan sekolah pada umumnya.

Kader Kesehatan Remaja atau Kader UKS (pada jenjang SLTP dan SLTA) adalah siswa yang memenuhi kriteria dan telah terlatih untuk ikut melaksanakan sebagian usaha pemeliharaan dan peningkatan kesehatan terhadap diri sendiri, teman, keluarga dan lingkungannya.

Kader kesehatan Remaja adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal dari murid kelas 1 dan 2 SLTP dan sederajat, murid kelas 1 dan 2 SMU/SMK atau sederajat yang telah mendaptkan pelatihan Kader Kesehatan Remaja. Kader Kesehatan Remaja juga diartikan kader yang memiliki pengetahuan tentang kesehatan remaja yang mau membantu bersama-sama memecahkan permasalah kesehatan khususnya pada remaja.

  1. Dasar Pembentukan KKR

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan pasal 17, dinyatakan bahwa kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak dan kesehatan anak dilakukan melalui peningkatan kesehatan anak dalam kandungan, masa bayi, masa balita, usia pra sekolah dan usia sekolah. Selanjutnya dalam pasal 45 dinyatakan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Di samping itu kesehatan sekolah juga diarahkan untuk memupuk kebiasaan hidup sehat agar memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat aktif berpartisipasi dalam usaha peningkatan kesehatan, baik di sekolah, rumah tangga maupun dalam lingkungan masyarakat.

Konsep hidup sehat yang tercermin pada perilaku sehat dalam lingkungan sehat perlu diperkenalkan seawal mungkin kepada generasi penerus dan selanjutnya dihayati dan diamalkan. Peserta didik bukanlah lagi semata-mata sebagai obyek pembangunan kesehatan melainkan sebagai subyek dan dengan demikian diharapkan mereka dapat berperan secara sadar dan bertanggung jawab dalam pembangunan kesehatan.

Anak sekolah tingkat SMP dan SMA atau sederajat memasuki usia remaja di mana periode ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik fisik, psikologis maupun intelektual. Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 s/d 24 th. Namun jika pada usia remaja sudah menikah maka ia sudah tergolong dalam kelompok dewasa. Sebaliknya jika usia remaja sudah dilewati tapi masih tergantung pada orang tua maka ia masih digolongkan dalam kelompok remaja.

  1. Pertimbangan Pembentukan KKR

Mengingat permasalahan yang ada pada remaja khususnya anak sekolah usia SMP dan SMA ataupun sederajat sangatlah komplek maka sangat perlu adanya program untuk melakukan pencegahan maupun penanggulangan secara dini yang melibatkan pihak sekolah dan kesehatan serta masayarakat.

Oleh sebab itu masa remaja merupakan tahap penting dalam siklus kehidupan manusia. Dikatakan penting karena merupakan peralihan dari masa anak yang sangat tergantung kepada orang lain ke masa dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab.

Di samping itu, masa ini juga mengandung resiko akibat suatu masa transisi yang selalu membawa cirri-ciri tertentu, yaitu kebimbangan, kebingu dan gejolak remaja seperti masalah seks, kejiwaan dan tingkah laku eksprimental ( selalu ingin mencoba).

Sehubungan dengan hal tersebut maka diperlukan suatu program yang mendukung tingkat perkembangan masa remaja yang baik. Bentuk programnya adalah Usaha Kesehatan Sekolah dengan salah satu kegiatannya yaitu pembentukan kader kesehatan remaja yang melibatkan sekolah dan kesehatan adalah pembentukan Dokter Kecil untuk tingkat SD/MI dan Kader Kesehatan Remaja untuk tingkat SLTP/Mts dan SLTA/MA.

  1. Tujuan Pembentukan KKR

Tujuan diadakannya pembentukan Dokter kecil/Kader Kesehatan Remaja adalah :

  1. Agar peserta didik dapat menolong dirinya sendiri dan orang lain untuk hidup sehat
  2. Agar peserta didik dapat membina teman-temannya dan berperan sebagai promotor dan motivator dalam menjalankan usaha kesehatan terhadap diri masing-masing.
  3. Agar peserta didik dapat membantu guru, keluarga dan masyarakat di sekolah dan di luar sekolah.
  1. Peran KKR

Peran dokter kecil/KKR dalam memelihara, membina, meningkatkan dan melestarikan kesehatan lingkungan sekolah sangat menentukan. Untuk itu pihak sekolah dalam menunjuk dan menetapkan siswa yang akan jadi dokter kecil/KKR haruslah siswa yang berprestasi disekolah, memiliki watak pemimpin, berperilaku sehat (PHBS), bertanggung jawab dan telah mendapat pelatihan dari petugas kesehatan(puskesmas). Karena nantinya dokter kecil/KKR tersebut akan bertindak,berbuat dan berperilaku sehat tampa menunggu perintah dari guru atau pihak sekolah dan juga akan menjadi contoh bagi peserta didik lainnya.

  1. Kriteria Kader Kesehatan Remaja

Kriteria kader kesehatan remaja sebagai berikut :

  1. Telah menduduki kelas 1 dan kelas 2 SLTP/SLTA sederajat
  2. Berprestasi baik di sekolah/kelas.
  3. Berwatak pemimpin dan bertanggung jawab.
  4. Bersih dan berprilaku sehat
  5. Bermoral baik dan suka menolong.
  6. Bertempat tinggal di rumah sehat.
  7. Di ijinkan orang tua.
  1. Pembinaan KKR

Dalam rangka menunjang peran kader kesehatan remaja tersebut perlu adanya pembinaan. Pembinaan kader kesehatan remaja dilakukan bersama lintas sektor tekait yaitu piahk kecamatan, pendodikan, puskesmas dan depag. Pembinaan KKR meliputi kegiatan penemuan dini, pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, dan pelatihan kader kesehatan remaja.

Dalam pelatihan kesehatan remaja siswa diberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sehat, berbagai penyakit menular, konsulatasi bibingan psikologis, P3K dan Narkoba.

  1. Hasil yang Ingin Dicapai Melalui KKR

Hasil yang ingin dicapai setelah terbentuknya kader kesehatn remaja yaitu para kader kesehatan remaja menjadi rujukan teman-temannya yang kebetulan ada masalah kesehatan, permasalahan yang sering timbul diantara remaja, maupun remaja dengan orang tuanya akan lebih banyak dicurahkan pada teman sebayanya. Dengan adanya kader kesehatan remaja yang merupakan temannya sendiri maka diharapkan permasalahan yang ada dapat dipecahkan dikalangan mereka sendiri.

  1. Peran Orang Tua KKR

Peran orang tua dokter kecil/KKR yang merupakan bagian dari masyarakat di luar lingkungan sekolah terhadap kemajuan sekolah merupakan hal yang sangat penting. Partisipasi (masyarakat) merupakan kesediaan untuk membantu keberhasilan program sesuai dengan kemampuan setiap orang tampa berarti mengorbankan dirinya ( Mubyarto, 1984). Sekolah sebagai tempat pendidikan (proses belajar mengajar) tidak akan dapat berjalan secara optimal kalau tidak didukung oleh orang tua siswa/dokter kecil/KKR.

Keterlibatan orang tua siswa/Dokter kecil/KKR merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam mewujudkan kesehatan lingkungan sekolah yang sehat. (Moeloek, 2001) bahwa masyarakat dan multisektor harus mampu memahami pembangunan berwawasan kesehatan. Peran orang tua sangat penting dalam mendidik dan menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada anaknya, sehingga anaknya akan dapat menerapkan kebiasaan tersebut di lingkungan sekolahnya.

  1. Peran Instansi Pemerintah

Dinas pendidikan merupakan gerbong terdepan yang akan menentukan berhasil atau tidaknya program UKS/lingkungan sekolah sehat Untuk itu adabeberapa kebijakan yang dapat dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan antara lain :

  1. Mensyaratkan setiap kepala sekolah yang akan di angkat harus memiliki kemampuan dibidang Publik Health. Ini dapat dilakukan melalui Fit and Proper Test bagi para kepala sekolah.
  2. Menempatkan petugas yang berlatar belakang pendidikan kesehatan lingkungan (Enviroment Health) untuk mengelola program Kesehatan lingkungan sekolah ditingkat Kabupaten.
  3. Training of Trainer tentang kesehatan lingkungan bagi guru pengelola UKS
  4. Mengajak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/NGO untuk lebih peduli terhadap kemajuan pendidikan kesehatan sekolah.

Instansi lain yang memiliki peranan penting adalah Dinas Kesehatan, Departemen Agama, dan Pemerintah Daerah. Dinas Kesehatan menjadikan program UKS sebagai program unggulan di Kabupaten Solok Selatan dengan menetapkan UKS sebagai Indikator kinerja Kewenangan Wajib Standar Pelayanan Minimal (KWSPM) bidang kesehatan. Kegiatan membudayakan kebiasaan cuci tangan dengan air dan sabun setelah Buang Air Besar dan sebelum mengambil makanan. Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan kegiatan stimulan penyediaan wastafel/tempat cuci tangan dan stimulan jamban sehingga diharapkan setiap sekolah termotivasi untuk menyediakan wastafel/tempat cuci tangan jamban di sekolah masing-masing.

Departemen Agama berperan untuk mensyaratkan setiap kepala sekolah yang akan di angkat harus memiliki kemampuan dibidang Publik Health. Ini dapat dilakukan melalui Fit and Proper Test bagi para kepala sekolah. Keterpaduan atau kerjasama antara sekolah agama dengan sarana ibadah (mesjid dan mushala) dalam pengembangan lingkungan sekolah sehat. Departemen Agama juga dapat menempatkan petugas yang berlatar belakang pendidikan kesehatan lingkungan di tingkat Kabupaten dan Training of Trainer tentang kesehatan lingkungan bagi guru pengelola UKS.

Peran Pemerintah Daerah dapat melahirkan kebijakan berupa Perda (Peraturan Daerah) tentang pembinaan dan pengembangan UKS/lingkungan sekolah sehat. Kebijakan satu pintu dalam pelaksanaan kegiatan UKS agar terlaksana koordinasi/keterpaduan lintas sektor dalam arus komunikasi dan informasi yang menyangkut UKS/lingkungan sekolah sehat.

REFERENSI

Departemen Kesehatan, R.I. 2003. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. Jakarta

Effendi, Nasrul Drs. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC

 

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS KELOMPOK KHUSUS

_KASUS 23_

  1. Analisa Data
No Masalah Keperawatan Etiologi Data yang mendukung
1. Penyalahgunaan Narkoba Kurang pengetahuan remaja tentang narkoba Diketahui terdapat:

  • 35 kasus siswa pengguna narkoba
  • 3 siswa diketahui sebagai pengedar
  • Tahun 2008, ada 5 siswa meninggal dunia karena overdosis
2. Tidak efektifnya kegiatan pelayanan kesehatan remaja
  1. Kurangnya kesadaran remaja tentang pentingnya hidup sehat
  1. KKR dan Saka Bhakti Husada tidak ada
  • Pembinaan mental remaja tidak dilakukan
  • Kegiatan UKS tidak ada
  • Kader kesehatan remaja dan Saka Bhakti Husada tidak berjalan
3. Terjadinya kenakalan remaja Kurangnya pengetahuan tentang tumbuh kembang dan masalah-masalah kenakalan remaja dan akibatnya Diketahui perilaku remaja antara lain:

  • merokok (69%),
  • minum-minuman
  • keras (54%)
  • pernah berkelahi (49%)
  • melakukan hubungan seksual (45%)
  • berjudi (45%)
  • penggunaan narkoba (40%)
4. Resiko penyebaran penyakit menular (HIV/AIDS) Adanya remaja yang positif HIV/AIDS diketahui terdapat remaja

  • yang sudah kecanduan obat (30%)
  • perilaku mengisolasi diri (30%)
  • positif HIV AIDS (10%).
  1. Scoring Masalah
No. Masalah kesehatan A B C D E F Sumber Daya Jumlah
G H I J K
1. Perilaku penyalahgunaan Narkoba 5 5 4 3 5 3 3 3 2 3 4 40
2. Tidak efektifnya kegiatan pelayanan kesehatan remaja 4 5 4 3 3 3 3 3 2 2 2 33
3. Terjadinya kenakalan remaja 4 4 4 3 5 3 3 3 2 2 3 36
4. Resiko penyebaran penyakit menular (HIV/AIDS) 3 3 3 3 4 3 3 3 2 3 4 34

Keterangan:

  1. sesuai dengan peran perawat
  2. jumlah yang beresiko
  3. besarnya resiko
  4. kemungkinan untu penkes
  5. sesuai dengan prasarana pemerintah
  6. minat masyarakat
  7. tempat
  8. waktu
  9. dana Sumber Daya
  10. peralatan
  11. orang
  1. Diagnosa Keperawatan Komunitas
    1. Perilaku penyalahgunaan narkoba berhubungan dengan kurang pengetahuan remaja tentang narkoba
    2. Terjadinya kenakalan remaja berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang tumbuh kembang dan masalah-masalah kenakalan remaja serta akibatnya
    3. Resiko penyebaran penyakit menular (HIV/AIDS) berhubungan dengan adanya remaja yang positif HIV/AIDS
    4. Tidak efektifnya kegiatan pelayanan kesehatan remaja berhubungan dengan kurangnya kesadaran remaja tentang pentingnya hidup sehat
  1. Rencana Tindakan Keperawatan (khusus untuk diagnosa perilaku penyalahgunaan narkoba)
No. Masalah Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Sasaran Intervensi Waktu dan tempat Metode Media
1. Perilaku penyalahgunaan narkoba B/d kurang pengetahuan remaja tentang narkoba Tujuan jangka panjang:Pengetahuan remaja tentang narkoba meningkat.Tujuan jangka pendek:

  • Remaja SMA X mampu:
    • Memahami tentang pengertian Narkoba, jenis-jenis Narkoba dan bentuk Narkoba.
    • Memahami dan mengerti tentang gejala/efek pemakaian Narkoba dan bahaya Narkoba Bagi Kesehatan.
    • Mengerti dan memahami bagaimana cara mencegah diri agar tidak terpengaruh untuk memakai Narkoba.
  • Remaja dapat menjelaskan tentang pengertian narkoba, jenis-jenis narkoba dan bentuk narkoba.
  • Remaja dapat menyebutkan gejala/ efek pemakaian narkoba dan bahaya narkoba bagi kesehatan.
  • Remaja dapat menyebutkan cara mencegah diri agar tidak terpengaruh untuk memakai narkoba.
Seluruh remaja SMA X Lakukan penyuluhan tentang narkoba, jenis-jenis narkoba, bentuk narkoba, gejala/efek pemakaian narkoba, bahaya narkoba bagi kesehatan, cara mencegah agar tidak terpengaruh untuk memakai narkoba. Sabtu, 31 Agustus 2009 jam 8.30 – selesai di rumah Pak Soehermanto) Ceramah dan Tanya jawab Leaflet, lembar balik.
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: